
"Sayang kita makan siang di luar ya, kau terlihat sangat kelelahan." Ucap Fahmi menatap istrinya.
"Baiklah Mas, sekalian aku juga ingin membeli sesuatu." Sahut Melati yang tengah mengeringkan rambutnya.
Mereka pun bersiap-siap untuk pergi ke suatu restoran terdekat. Tak disangka ternyata mereka bertemu dengan seorang wanita yang sangat Melati tidak sukai dan teman suaminya.
"Hai Mas, kau di sini?" Tanya Luna antusias tanpa mempedulikan kehadiran Melati.
"Iya Nona." Jawab Fahmi datar dan beralih menatap sahabatnya. "Angga kau di sini juga." Sapa nya pada Angga.
"Iya Fahmi, kau tahu kan tidak mungkin membiarkan Nona Luna sendirian pergi berlibur seperti ini." Sahut Angga tersenyum. Ia juga tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada sang istri sahabatnya.
Yang dibalas senyum ramah dari Melati.
"Mas sepertinya semua meja sudah penuh. Kau duduklah di sini." Ajak Luna.
Fahmi melirik wanita yang digandengnya. Ia mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah." Pasrah Fahmi.
Sebenarnya suasana di antara mereka benar-benar canggung, namun Luna yang dengan tidak tahu malunya berceloteh pada Fahmi hingga membuat yang lain jengah. Namun Fahmi hanya menanggapinya singkat dan Melati pun tak mempedulikannya.
Justru ia sedikit penasaran dengan sahabat suaminya Angga. Bukan karena apa, ia pikir ia bisa meminta bantuan pada Angga jika terjadi sesuatu antara Luna dan Mas Fahmi.
Tak lama makanan pun datang, Luna dengan antusiasnya ingin menyuapi Fahmi dengan makannya namun dengan cepat Melati terlebih dahulu melakukannya. Hal itu benar-benar membuatnya geram dan malu. Malu? Bukankah sedari tadi memang anda tidak tahu malu nona.
Dasar wanita sialan, dia pikir dia siapa? Seharusnya kau tahu dimana tempatmu. Umpatnya dalam hati dan membuang pandangan ke arah lain.
Sedangkan Angga yang melihat semuanya, hanya mampu menggeleng dan memijit pelipisnya. Bisa-bisanya anda sangat tidak tahu malu Nona.
Sebenarnya Melati tidak enak dengan yang lain, namun apa mau dikata. Hal ini lebih baik daripada membiarkan si ular melata itu berbuat sesuka hati. Ia bahkan dengan berani, melemparkan senyum sinis pada Luna. Terang saja, hal itu membuat Luna membulatkan matanya.
Cih.
***
"Mas kita harus pulang sekarang." Ujar Melati menghampiri suaminya yang tengah menonton TV.
"Tapi kenapa sayang? Bukankah masih sore? Kita bisa pulang esok pagi." Jawab Fahmi menoleh sekilas.
"Bunda menelpon tadi, Aisyah sudah dari tadi siang menangis terus dan tubuhnya pun panas." Ungkap Melati cemas.
Sontak Fahmi pun berdiri dan menghampiri istrinya. "Bagaimana bisa? Ya sudah kita pulang sekarang." Titahnya.
"Iya Mas."
Mereka membereskan barang-barang mereka dan bergegas pergi menuju ke kediaman orang tua Fahmi.
"Assalamu'alaikum," ucap Fahmi dan Melati memasuki rumah.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Ayah Fahmi. Anak dan menantunya itu tampak ingin mencium punggung tangannya dengan senang hati Tuan Faris mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Maaf Yah, putriku pasti sangat merepotkan kalian." Ujar Fahmi merasa bersalah.
"Tidak Nak, justru seharusnya Ayah yang meminta maaf karena Aisyah yang terus menangis hingga membuat kalian harus pulang seperti ini." Sanggah sang Ayah mertua.
"Tidak apa-apa Yah." Jawab Melati sopan. Ia ingin langsung menemui anaknya namun masih tidak enak dan rikuh pada sang mertua. Ia menyenggol lengan suaminya.
"Oh ya Yah, boleh aku langsung menemui putriku." Tutur Fahmi halus.
"Tentu Nak boleh silahkan saja. Putrimu ada di lantai atas." Tuan Faris dengan ramah memberikan jalan pada keduanya.
"Terimakasih Yah." Pungkas Melati.
"Iya Nak." Sahut Ayah mertuanya.
Melati dan Fahmi pun berjalan menuju tempat yang telah ditunjukkan oleh Ayah Faris.
"Sayang kau duluan saja ya. Ada sesuatu harus aku bicarakan dengan Ayahku." Titah Fahmi pada istrinya.
"Iya Mas," Jawab Melati.
Dengan sopan Melati menghampiri sang Ibu mertua yang tengah menenangkan cucunya.
"Assalamu'alaikum Bunda." Ucap Melati pada sang Ibu mertua.
"Eh Nak, kau di sini rupanya." Sahutnya dan tersenyum ramah.
"Iya Bun, maaf yah putriku pasti sangat merepotkan Bunda." Timpal Melati merasa bersalah.
Melati pun segera menyusui putrinya dan menenangkannya dengan menepuk-nepuk bagian belakang putrinya.
"Nak bagaimana dengan liburanmu?" Tanya Mita memperhatikan keduanya.
"Sangat menyenangkan Bunda, maaf kami tidak sempat membawakan apapun. Kami terlalu mendadak pulang kemari."
"Tidak apa sayang, justru Bunda lah yang seharusnya minta maaf karena sudah mengacaukan kebersamaan kalian." Lirihnya.
"Tidak Bunda jangan berucap seperti itu." Melati duduk di samping sang Ibu mertua dan menggenggam tangannya.
"Tapi ini adalah liburan pertama kalian setelah sekian lama. Nak maafkan putra Bunda yah, kehidupanmu yang sekarang pastilah sangat berat untukmu." Cicit Mita merasa bersalah.
"Tidak Bunda, semuanya baik-baik saja."
"Nak jujurlah pada Bunda. Bagaimana perasaanmu dahulu? Menikah dengan pria beristri bahkan punya anak, dan sekarang meski kau sudah menjadi satu-satunya hidupmu pun berubah Nak. Coba ceritakan Nak. Anggaplah Bunda ini Bundamu sayang." Pinta Mita memelas.
Melati menghembuskan nafasnya. Sebenarnya jika mengingat semuanya ia pun merasa sedih. "Tentu awalnya aku sangat terguncang Bun, namun aku juga tak tahu harus berbuat apa. Hanya bersedih dan meratapi semuanya pun juga tidak baik untukku.
Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menerima semuanya, dan mengadaptasikan diriku ke dalam kehidupan yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Semuanya begitu tiba-tiba terjadi.
Namun lamat laun aku dapat menerima semuanya Bunda, karena dibalik itu semua terjadi. Aku sekarang begitu bersyukur karena mendapatkan suami seperti Mas Fahmi. Ia begitu perhatian dan sabar menghadapi aku.
Dan kebahagiaan kami lengkap dengan kehadiran Farah dan sekarang ada Aish ini. Meski kehidupan kami sekarang berbeda, namun kami tak mempedulikan itu Bunda. Karena kami menerima semuanya." Terang Melati panjang lebar.
__ADS_1
Mita tersenyum lega, awalnya memang ia merasa shock dan sangat marah dengan putranya. Namun dibalik itu semua, ia mendapatkan menantu seperti Melati. Menantu yang selama ini ia idamkan.
"Terimakasih sayang, kau telah menerima putra Bunda dan Farah." Ujarnya dengan mata yang mengembun. Dan memeluk menantunya.
"Iya Bunda. Oh ya dimana Farah Bunda?"
"Dia sedang bersama aunty-nya Humaira."
"Putri-putriku pasti merepotkan ya Bunda?"
"Tidak Nak, justru Bunda senang mereka berada di sini. Suasana rumah ini menjadi ramai dan putri-putrimu itu sangat menggemaskan."
Melati mengangguk dan tersenyum. Mereka bercengkrama dengan ria seputar kehidupan mereka.
Tanpa mereka ketahui, Fahmi ternyata memperhatikan keduanya sedari tadi. Ia begitu bahagia melihat baik istri dan Ibunya sangat dekat dan tersenyum bahagia seperti itu.
Tak lama bel rumah tersebut berbunyi dan dengan segera Fahmi membukakan pintu tersebut. Nampaklah putrinya dengan sang adik.
"Hei putri Ayah, kau darimana sayang?" Tanya nya dengan menggendong Farah.
"Jalan-jalan Ayah, bahkan aunty juga membelikan aku banyak mainan lihat." Tunjuknya pada kantung belanjaan mereka.
"Wah aunty-mu baik sekali ya sayang." Puji Fahmi pada adiknya dan membawa putrinya duduk di sofa ruangan tersebut. Dari belakang juga terlihat Melati dan Ibunya menghampiri mereka.
"Bunda." Panggil Farah senang dan segera menghampiri Bunda-nya.
"Hai sayang, kau pulang juga ya akhirnya." Jawab Melati dan dengan gemas mencium kedua pipi anaknya.
"Iya Bunda, kau tahu aunty mengajakku jalan-jalan dan membelikanku banyak mainan." Ungkap Farah dengan antusias.
"Terimakasih Mai." Ucapnya pada sang adik ipar sekaligus sahabatnya.
"Sama-sama Mel." Jawab Maira.
"Oh ya, kalian makan malam sekalian di sini saja yah." Pinta Mita.
Melati melirik suaminya, Mas Fahmi menanggapinya dengan anggukan.
"Baiklah Bunda,"
"Syukurlah sayang."
"Bagaimana kita memasak bersama Mel, Bunda tahu masakan Melati begitu enak. Aku ingin belajar darimu Mel." Timpal Maira.
"Benarkah?" Tanya Mita.
"Iya Bunda, ya sudah ayo Mel." Humaira menarik tangan Melati.
"Mereka benar-benar begitu dekat." Ucap Mita pada putranya.
"Dari dahulu mereka kan memang sahabat Bunda." Jawab Fahmi tersenyum dan bermain-main dengan putrinya Farah.
__ADS_1