Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
Membuatku Sesak


__ADS_3

Alif membuka pintu kamar Melati dengan nampan berisi bubur di tangannya. Ia menghampiri adiknya yang terlihat masih sangat lemah itu. Juga melihat Melati yang masih sembab bahwa ia menangis untuk kesekian kalinya saat ditinggal Alif.


Alif menghela nafas dan berusaha menampilkan senyumnya. Ia duduk di tepi ranjang milik Melati.


"Makan dulu ya.." tutur lembutnya.


Melati tersenyum kecil dan mengangguk. Alif terlebih dahulu memberikan minum pada adiknya lalu mulai mengaduk buburnya. Ia tak ingin meniup makanan tersebut karena itu tak baik untuk kesehatan adiknya.


Dirasa sudah menghangat, ia pun mulai menyuapi Melati. Dengan telaten ia menyeka sisa makanan yang nangkring di sudut kanan bibir Melati.


Melati yang memang merasa sangat lapar dan rasa bubur itu pun lumayan enak, tak segan-segan ia menghabiskannya. Alif yang melihatnya pun tersenyum senang.


Ceklek. Pintu kamar Melati terbuka dan menampakkan Ikhsan. Melati langsung membuang pandangannya dari wajah sang Ayah.


Sedang Ikhsan tentu hatinya merasa sakit. Ia menghela nafas panjang. Dan menghampiri putri tercintanya.


"Nak bagaimana keadaan kamu sekarang?" Tanya lembut Ikhsan.


Melati masih diam tak menanggapi. Lalu Alif pun berinisiatif menjawab.


"Alhamdulillah sekarang Melati sudah cukup mendingan Yah."


Ikhsan menoleh pada Alif, ia tersenyum. Ikhsan ingin menyentuh putrinya namun ia justru beringsut menjauh.


"Kak Alif aku sedang ingin sendiri. Katakan pada tuan ini kalau kehadirannya membuat aku sesak."


Deg. Mendengar penuturan putrinya membuat Ikhsan semakin tenggelam dalam rasa kekecewaan dan penyesalan. Demikian Alif ia tak menyangka bahwa adiknya dapat berkata seperti itu.


Ikhsan menyembunyikan wajahnya, mengusap sudut matanya. Ia memandang Alif sekejap lalu tersenyum dan melenggang pergi dari kamar Melati. Alif menjadi merasa tak enak pada Ayahnya.


Alif menatap tak percaya pada adiknya. "Dek-"


Melati memotong pembicaraan Kakaknya "Kalau Kakak mau membahas tentang orang-orang itu (Ayah dan Ibu sambungnya) lebih baik Kakak juga pergi dari sini." Tegasnya.


Alif semakin dibuat tak percaya pada Melati. Ia ingin sekali menghukum sifat adiknya ini yang tiba-tiba menjadi sekeras batu.


Melati memandang tajam ke arah Alif. "Kenapa Kakak diam?, Orang tua seperti itu saja masih dihormati!"

__ADS_1


Alif membelalakkan matanya. "Melati kamu-!" Ia menurunkan tangannya kembali yang tadinya ingin ia layangkan pada wajah Melati.


"Apa kenapa tidak jadi?!," Tantang Melati.


Nafas Alif naik turun dibuatnya. Cukup sabar ia menghadapi sikap adiknya ini. Ia lebih memilih untuk pergi daripada membuat susana menjadi tambah tegang.


"Hiks, hiks, hiks, kenapa tidak ada yang mau mengerti aku?, Kenapa semua orang menjauh. Cukup aku kehilangan Bunda, tapi kenapa Ayah dan Kak Alif juga menjauhi aku. Kenapa Yah?!, Kenapa Ayah harus menikah sama Tante itu?!, Aku bener-bener benci sama kalian semua!!......Aaaaaaaaaaaaa!" Melati meluapkan semuanya di depan bayangannya sendiri yang berasal dari pantulan cerminnya. Ia membuang semua yang ada di meja, bahkan kacanya pun retak dan pecahan kacanya tercecer di mana-mana.


Melati terus mengamuk mengambil benda apapun lalu membantingnya. Tentu saja semua orang yang ada di rumah itu mendengar kekacauan yang di buat Melati. Mereka berbondong-bondong menuju kamar Melati.


Mereka terbelalak melihat keadaan Melati. Kamar yang tadinya rapi kini layaknya kapal pecah. Melati sendiri tengah menangis tersedu-sedu, keadaan tubuhnya juga sangat berantakan serta kakinya terluka karena tak sengaja menginjak pecahan kaca.


"Sayang, Melati cukup Nak." Tutur lembut Ikhsan mendekati Melati.


Melati sama sekali tak menggubris perkataan Ayahnya. Mina yang melihatnya segera merobek pakaian yang dikenakannya lalu berusaha mendekati Melati untuk memperban luka di kakinya.


"Jangan sentuh aku!" Bentak Melati yang membuat Mina terkejut. Alif yang mengerti maksud Mina lalu mengambil alih kain yang tadi di robek Mina. Ia yang membalut luka Melati.


Alif menggendong Melati lalu membaringkannya di ranjang milik Melati. Melati yang memang masih lemas ia langsung menarik selimutnya dan memejamkan matanya membelakangi semua orang yang berada di kamarnya.


Mina membereskan kamar milik putri sambungnya begitu juga Alif dan Ikhsan. Melati yang melihatnya berdecih. Ia yakin bahwa Mina hanyalah tengah mencari muka.


***


Mina terus saja menggenggam erat tangan sang suami. Ia juga memberi senyum terbaiknya untuk menenangkannya.


Tak lama Alif pun datang namun tak bersama dengan Melati. Ia menghampiri keduanya.


"Maaf Yah, biar Alif aja yang membawakan makanan buat Melati.." Ujar Alif menyesal. Ia masih belum bisa membujuk adiknya.


Ikhsan tersenyum meski ia sangat kecewa. Namun ia masih tetap memaklumi sikap Melati. Begitu juga Mina.


"Iya Kak, ngga papa. Kalo kamu mau di sini atau di mana?" Tanya Ikhsan.


"Aku temenin Melati aja Yah..."


Mina mengambilkan makanan untuk Alif dan Melati di nampan. Lalu ia pun memberikannya.

__ADS_1


"Makasih." Ujar Alif datar dan pergi menuju lantai atas.


Sedang Mina membalasnya dengan senyuman. Ia menatap wajah sendu suaminya. Ia menggenggam lembut punggung tangan Ikhsan.


"Pelan-pelan aja Mas." Tuturnya lembut disertai senyuman.


"Iya makasih yah Dek."


Mina mulai melayani suaminya seperti yang dilakukan oleh istri pada umumnya. Mereka hanya makan berdua di sana.


Ikhsan mengingat bagaimana hangatnya suasana rumah saat bersama Sharah. Sungguh ia merindukan kebersamaan seperti dahulu. Ia mulai menitikkan air matanya.


Mina yang melihatnya juga merasa sedih. Namun ia harus tetap memberi suaminya semangat. Ia memegang kedua bahu Ikhsan. Lalu tersenyum sangat lembut.


"Ayo.." Lirihnya sembari menyodorkan sesendok makanan yang telah ia saji.


Ikhsan tersenyum dan menerima suapan Mina.


***


Ceklek. Alif membuka pintu kamar adiknya yang tengah bermain ponselnya.


"Dek, ayo makan dulu.." Melati menoleh dan mengangguk.


Alif duduk di sofa di kamar itu dan menaruh nampannya di atas meja. Melati pun menghampiri Alif.


"Makasih ya Kak, aku jadi sering ngerepotin Kakak." Titah Melati tak enak hati.


Alif tersenyum dan mengacak-acak rambut panjang Melati. "Engga sama sekali kok kalo buat Adikku tercantik."


Melati terkekeh mendengarnya, pasalnya baru kali ini Kakaknya memujinya cantik. Yah meskipun ia memang gadis yang cantik.


"Ya udah gih makan." Alif menyodorkan piringnya di hadapan Melati.


"Makasih yah Kak."


Mereka berdua makan dengan sunyi. Sesekali Alif melihat Melati yang mengusap sudut matanya kasar. Alif tahu ia pasti merindukan suasana seperti dahulu. Namun ia berpura-pura tak melihatnya. Saat ini Melati terlalu lelah memikirkan keadaan yang tak diinginkan ini. Alif lebih memilih bungkam.

__ADS_1


Setelah selesai Melati melirik meja belajarnya. Ia baru mengingat bahwa besok masih ada tugas. Selama ini ia tak terlalu fokus dengan pendidikannya.


Besok waktunya untuk mengumpulkan materi-materi yang selama ia pelajari selama hampir satu tahun di kelas sembilan. Ia belum mempersiapkan semuanya. Ia melirik Kakaknya.


__ADS_2