Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 37


__ADS_3

Ceklek. Pintu terbuka, dan nampaklah Melati dengan wajah yang basah karena telah mengambil wudhunya. Ia memandang kedua sahabatnya.


"Kalian cepatlah ambil air ambil wudhu, sebentar lagi waktu Subuh akan habis." Ujarnya. Lalu ia bergantian menatap Mina.


"Ibu kembalilah ke kamar Ibu, Husein tidak terbiasa terbangun dengan sendirinya jika untuk sholat Subuh."


"Nak..-"


"Ibu kumohon" Pinta Melati pada Mina dengan wajah memelas.


Mina menghela nafasnya, "Baiklah Nak.." Mina menuruti pinta Melati.


Sedangkan kedua sahabatnya masih mematung di tempatnya semula. Melati memandang keduanya, "Apakah kalian tidak mendengarkan aku, waktu Subuh akan segera habis. Cepatlah kalian ambil air wudhu."


"Mel-" Panggil Aaz. Namun disambut tatapan tajam dari Melati. Mereka menelan salivanya kasar. Aaz dan Maira menuruti permintaan sahabatnya itu.


Tanpa menunggu kedua sahabatnya Melati langsung melaksanakan kewajibannya sendiri. Lalu dengan cepat ia berlalu dari kamar tersebut. Memang dari awal ia berniat untuk menghindari semua orang. Ia ingin menyendiri saat ini. Dipandanginya pemandangan alam yang menyejukkan, dan dihirupnya udara dengan puas-puas dan sejenak untuk memejamkan matanya.


Air matanya kembali menetes mengingat kejadian semalam. Semilir angin menerpa wajahnya menjadi saksi kepiluanya saat ini. Tak sanggup ia menahan beban berat di hatinya, bahunya terguncang karena isakannya.


Perlahan tapi pasti Melati merasakan harum menusuk hidungnya, sejenak ia sedikit merasakan kelegaannya. Ia mendongakkan wajahnya dan menutup matanya menikmati harum yang seakan kian mendekat. Lembutnya sentuhan di bahunya membuatnya menoleh ke arah samping.


Matanya terpaku melihat kehadiran orang tersebut. Orang itu menatapnya dalam dan sedikit menarik kedu sudutnya bibirnya tulus. Lalu mencium lembut kening milik Melati. Ia membawa Melati ke pelukannya. Melati semakin terisak memeluk erat tubuh yang dirindukannya itu.


Melati merasa sangat nyaman saat ini. Namun rengkuhan yang ia dapat terasa sangat semu. Perlahan tanpa melepas pelukan itu terasa kian menipis dan harum yang sedari tadi memabukkan bagi Melati menjauh. Tubuh Melati sedikit oleng secara tiba-tiba seakan pegangannya pergi tiba-tiba.


Ia mengedarkan pandangannya dan tak mendapati apapun. Ia beranjak dan mencari-cari kehadiran Bundanya tadi. Yah, yang Melati rasakan kehadirannya adalah Bundanya Sarah. Baru saja Melati merasakan kedamaian dan kesejukan namun semua itu hanya sekejap. Ia kembali dalam kesendiriannya.


Air matanya kembali meluruh dan semakin terisak kencang. Dirasakannya sentuhan lembut di bahunya, sangat nyata namun ia tak merasakan kenyamanan seperti tadi. Segera ia mendongakkan wajahnya dan melihat wajah Ibu sambungnya.


Tubunya melemah, seseorang yang ia harapkan tidak kembali datang padanya. Mina melihat keadaan putrinya langsung merengkuh tubuh yang kini tengah rapuh itu. Dibelainya lembut kepala serta punggung Melati. Melati mengeratkan pelukannya dan menangis sejadi-jadinya.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihat mereka. Ikhsan memegang dadanya yang lambat laun merasakan sakit yang luar biasa. Ia bertumpu dengan tangannya untuk menopang tubuhnya. Dan satu tangannya menutup kedua matanya. Dadanya begitu sesak saat ini.

__ADS_1


Bau harum yang pernah menjadi candunya dulu kini ia merasakannya kembali. Ikhsan mengangkat wajahnya dan memejamkan matanya, dirasakan sesuatu yang melingkar di perutnya. Ia segera membalikkan badannya dan nampaklah wanita yang selalu ada di hatinya.


Dengan segera Ikhsan tumpahkan air matanya di bahu itu. Ia tahu perbuatannya dahulu pasti sangat melukai hatinya. Bahkan ia pergi sebelum Ikhsan memberitahunya. Selama ini Ikhsan sendiri selalu berharap untuk bertemu dengannya dalam mimpinya. Namun apa mau dikata jika harapannya tidak pernah terjadi.


Hanya dengan kenangan dan hayalan ia mengulang semuanya. Ia habiskan waktu luangnya untuk mengenang kembali masa-masa indah itulah selama ini. Dan rasa penyesalan yang ada hatinya tentunya.


Perlahan tapi pasti kenyamanan yang saat ini Ikhsan rasakan kian menghilang. Apa yang ada dihadapannya kini saat ini hanyalah semilir angin kesunyian.


***


Flasback.


Entah kenapa tiba-tiba Fahmi merasa kepalanya sangat pusing dan berat. Sekujur tubuhnya tiba-tiba saja memanas, pandangannya buram. Hasrat yang berada dalam dirinya begitu menggebu.


Saat ini ia melihat sang sekretaris tengah berdiri di hadapannya. Ia menatapnya dengan penuh gairah apalagi gadis di depannya kini hanya memakai pakaian dalamnya saja. Pria berusia 32 tahun itu menghampirinya.


Rayn sang asisten yang melihatnya begitu terkejut dan khawatir mendapati atasannya seperti itu. Segera saja ia mendorong jauh sang sekretaris.


Keringat mengucur deras di wajah Luna. Bagaimana bisa rencananya gagal seperti ini. Rayn membawa Fahmi menuju kamar mandi di ruangan pribadi itu untuk mengurangi sedikit rasa sakit yang melanda atasannya.


"Hallo Rayn ada apa?" Tanya Sasa pada Rayn.


"Maaf Nyonya mengganggu waktunya, saya ingin menjelaskan keadaan Tuan Fahmi saat ini. Tuan Fahmi sedang berada dalam pengaruh obat kuat. Ada seseorang yang sengaja menebaknya." Ucap Fahmi memberitahu.


"APA?!" Suara Sasa begitu lantang karena terkejut hingga Rayn sempat menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Benar Nyonya, saat ini saya mohon anda datanglah kemari."


"Tapi akan membutuhkan waktu yang lama karena saat ini saya sedang tidak ada di rumah." Rayn terkejut mendengarnya.


"Tapi bagaimana dengan keadaan Tuan Fahmi Nyonya?"


"Begini saja, kau bawalah Fahmi ke rumah mertuaku. Karena jarak antara rumah mertuaku dengan tempatku saat ini tidak begitu jauh. Dan juga jarak perusahaan dengan rumah mertuaku dekat." Pungkas Sasa memberi saran.

__ADS_1


Rayn menghembuskan nafasnya kasar. "Baiklah Nyonya, saya akan segera kesana."


Lalu terdengar suara sambungan telepon tersebut putus. Rayn melihat keadaan Tuannya itu prihatin. Diambilnya dasinya sendiri untuk mengikat Fahmi.


Dalam perjalanan, Rayn berusaha untuk menghindari Fahmi yang semakin dilanda gairah untuk menyalurkan hasratnya. Untung saja keadaan jalan yang ia lintasi sepi. Hingga membuatnya mudah untuk melaju dengan kecepatan tinggi.


Syukurlah ia melihat Sasa istri Tuannya tengah menunggu Fahmi. Sasa segera menghampiri mobil yang membawa suaminya itu.


"Sayang!" Sasa langsung membuka pintu mobil tersebut dan membawa suaminya ke dalam rumah.


"Rayn bantu aku." Titahnya pada asisten suaminya yang dibalas anggukan.


Begitu sampai di ruang tamu Sasa segera melepas ikatan di tangan suaminya. Fahmi yang dikuasai oleh syahwatnya segera menyerang Sasa. Rayn yang melihatnya segera berpaling dan berlalu dari rumah itu.


Ditengah Fahmi yang tengah mencumbu Sasa, dering telepon di saku Sasa membuat perhatiannya teralih.


Ia langsung mengangkatnya dan membiarkan Fahmi berbuat semaunya.


".....,"


"Iya betul ini saya sendiri."


".....,"


"APA?!" Sasa begitu terkejut mendengarnya dan raut wajahnya menjadi khawatir.


".....,"


"Baiklah saya akan segera kesana."


Sasa memutuskan sambungan teleponnya, pikirannya hanya tertuju pada satu tempat. Ia segera merapihkan bajunya dan berusaha lepas dari cengkraman suaminya.


Entah dari siapa ia mendapatkan telepon, hingga membuat ia berpaling dari suaminya. Bahkan lebih mementingkan urusan pribadinya.

__ADS_1


Fahmi berusaha mengejar istrinya, namun Sasa langsung menutup pintunya. Sayup-sayup Fahmi mendengar suara-suara orang berdialog. Yang dapat dipastikan bahwa suara itu berasal dari televisi.


Ia melangkahkan kakinya berat dan nampaklah seorang gadis cantik tengah fokus pada laptopnya. Tanpa basa-basi ia menghampiri gadis muda itu.


__ADS_2