Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 68


__ADS_3

Kesunyian menyambut kedatangan Fahmi. Dahinya mengernyit heran tak melihat dua bidadari yang membuat hidupnya lebih berwarna akhir-akhir ini.


"Mel, Aisyah..!" Panggil Fahmi, ia menggeledah rumahnya mencari istri serta anaknya. Nahas, ia sama sekali tak menemukan keberadaan mereka.


Matanya tertegun menatap sebuah surat yang berada di atas nakas kamarnya. Dengan ragu ia raih benda tersebut.


Untuk Mas Fahmi suamiku..


Maaf Mas jika hari ini aku membuatmu terluka dengan keputusanku.


Aku sudah mengatakan keinginanku berkali-kali, bahwa aku tak akan mungkin menjalani pernikahan poligami seperti ini.


Bahkan memang seharusnya dari awal aku tak hadir dalam pernikahan kalian.


Jujur Mas aku sudah mulai tertarik padamu bahkan rasa cinta juga telah tumbuh.


Namun aku tahu bahwa baik aku atau dirimu tak mampu memupuk dan merawatnya.


Meski telah hadir buah hati diantara kita.


Aku juga tak akan melarangmu untuk bertemu dengan Aisyah, karena bagaimanapun juga dia tetaplah darah dagingmu.


Untuk sementara jangan dulu memikirkan tentang keberadaanku ya Mas, berbahagialah dengan Mbak Sasa.


Aku juga mohon tanda tangani surat perceraian kita.


Jika sampai pada waktunya nanti aku akan mempertemukanmu dengan Aisyah.


Sampaikan salam ku pada semuanya termasuk Mbak Sasa.


Dari Calon mantan istrimu.


Deg. Air mata Fahmi tak mampu lagi ia bendung. Bagaimana musibah datang silih berganti dalam waktu sehari. Tidak cukupkah ia kehilangan wanita yang dahulu ia cintai bahkan anak yang selama ini ia rawat dan berikan kasih sayang ternyata bukan darah dagingnya.


Dan sekarang, baru saja ia ingin memulai kehidupan baru dengan istri keduanya serta anak kandungnya mereka malah pergi meninggalkannya.


Kedamaian tak lagi berpihak, sakit datang menyapa, dibalut oleh luka yang seakan tak bertepi. Mengapa? Mengapa ia harus mengalami ini semua.


Tubuhnya semakin lemas menatap sebuah Map yang sudah ia ketahui bahwa itu adalah surat perceraian yang telah disiapkan jauh-jauh hari oleh Melati.


"Melati.., Aisyah.." Isaknya pilu. Tidak, dia tidak boleh lemah sekarang. Menyesal sudah tiada gunanya, waktunya bergerak cepat menggapai masa depannya.


***

__ADS_1


"Nak kenapa kau kemari hanya sendirian? Dimana suamimu?" Tanya Ikhsan dengan dahi mengernyit melihat putrinya yang pulang dengan Aisyah tanpa suami. Bahkan Melati terlihat membawa koper.


Melati menggeleng lemah, wajahnya telah dibanjiri peluh dan air mata. Mina yang dapat membaca raut kesedihan di mata sang anak sambung segera menghampiri dan merengkuh tubuh itu.


"Ibu..!!" Ikhsan tertegun menatap putrinya yang terisak di pelukan sang istri. Dengan cepat ia mengambil alih cucunya yang berada di gendongan Melati.


Mina tak langsung bertanya atau mengajak Melati berbicara. Ia salurkan ketenangan dengan membelai sayang punggung Melati. Ikhsan memilih untuk menenangkan cucunya yang juga sedang menangis.


Cukup lama Melati menumpahkan air matanya di pangkuan sang Ibu sambung ia pun mulai tenang. Secara perlahan ia angkat tubuhnya dan menatap wajah Mina.


"Bu apa keputusanku salah?" Tanya dengan nada yang masih bergetar.


Mina menggeleng kecil, sebenarnya ia ragu ingin menjawab apa.


"Bu aku hanya ingin hidup bahagia tanpa gelisah dan resah. Dengan meninggalkannya aku tidak salah kan Bu?" Lanjutnya melihat Mina yang hanya terdiam.


"Nak apa tidak bisa kau pikirkan lagi keputusanmu?" Mengusap rambut yang dibalut hijab itu.


Melati menggeleng lemah, "Entahlah Bu,"


"Nak bagaimanapun saat ini statusmu masih istri dari Fahmi Al-Farizi. Tidak baik bagi seorang istri pergi tanpa izin suami."


"Bu aku dan Mas Fahmi tak jarang membahas tentang pernikahan kami, tetapi sampai saat ini ia sama sekali tak memberikan keputusan apapun."


"Nak cobalah untuk sekali lagi saja, berbicara dengan kepala dingin. Jangan membuat keputusan yang diambil dalam keadaan marah, atau kau akan menyesalinya nanti. Apalagi sekarang sudah ada seorang makhluk yang hadir di antara kalian. Tidakkah kau memikirkan dia?"


Ting tong...,


Sontak keduanya menoleh dan Mina tersenyum pada Melati, "Biar Ibu saja yang membukakan pintunya."


Melati mengangguk.


Fahmi tersenyum lega tatkala melihat pintu yang bergerak. Dengan sopan ia mengucapkan salam seraya berbungkuk sedikit.


"Assalamu'alaikum,"


Mina tersenyum, "Wa'alaikumsalam."


"Maaf Bu, apa Melatinya ada?"


"Iya Nak, ayo silahkan masuk." Ujar Mina mempersilahkan sang menantu untuk masuk ke kediamannya.


Melati terkejut melihat kehadiran suaminya, ia benar-benar merasa sangat gugup sekarang. Bahkan untuk menatapnya ia tidak memiliki keberanian.

__ADS_1


"Bu aku akan ke dapur sebentar ya." Pamitnya ingin beranjak.


"Tidak Nak, biar Ibu saja. Kau duduklah dengan suamimu." Pungkasnya halus dan meninggalkan pasangan suami-istri tersebut.


Fahmi menatap intens wajah Melati. "Mel," panggilnya lembut.


Melati mendongakkan wajahnya dan dengan cepat ia memalingkan wajahnya kembali.


Suaminya itu terlihat menarik nafas panjang. "Bisa kita berbicara?"


"Berbicara untuk apa? Bukankah semuanya sudah jelas."


"Mel kumohon,"


"Baiklah." Pasrah Melati, mereka berdua berjalan menuju kamar yang dahulunya milik Melati.


Melati memandang ke arah jendela dan membelakangi suaminya. Fahmi dengan perlahan mendekat dan memegang kedua bahu Melati, ia ingin Melati menghadap ke arahnya.


"Kenapa kau memutuskan keputusan seperti itu?" Tanya Fahmi menatap dalam manik mata Melati.


"Kenapa? Kau tanya kenapa? Bukankah dari awal pernikahan kita telah membahas ini. Bahkan aku juga pernah mengatakan niatku dari awal kan?" Sergah Melati tak menatap wajah lelaki yang masih menjadi suaminya.


Fahmi mendesah, ia mengajak Melati agar duduk di salah satu sofa di ruangan itu.


"Aku telah menceraikan Sasa." Ungkapnya lirih.


Melati membelalakkan matanya dan tangannya terangkat untuk menutup mulutnya.


"T-tapi bagaimana mungkin. Bukankah dia seseorang yang telah mendampingimu selama ini? Bahkan sudah ada Farah di antara kalian? Apa m-maksudmu dengan menceraikannya Mas?"


"Kau ingin hidup bersamamu dan putri kita-" Ucapan Fahmi terhenti mendengar nada tinggi dari istrinya.


"Apa?! Apa kau sama sekali tak punya hati. Bagaimana mungkin kau memilih untuk bersama seorang wanita yang bahkan baru sesaat bersamamu, dan melupakan seseorang wanita yang selama ini mendampingimu?


Sungguh kenapa ada seorang lelaki sepertimu? Dan asal kau tahu saja, aku bukanlah wanita bodoh yang akan mendampingi seorang lelaki yang dengan mudahnya berpaling.


Jika kau meninggalkan Mbak Sasa dan memilihku, bisa saja bukan suatu saat kau akan meninggalkan aku demi seorang wanita yang lebih dariku!!" Sergah Melati berapi-api.


"Melati-"


"Cukup Mas!"


"Melati kumohon dengarkan aku dulu!"

__ADS_1


"Apa lagi yang harus aku dengar ha?! Ingat ya sampai kapan pun kau tak akan pernah mau bersanding dengan pria sepertimu lagi!"


Fahmi yang sedari tadi berusaha menahan diri, sekarang kesabarannya telah terkikis. Ia berdiri menarik lengan Melati dan membaluti merah delima itu dengan miliknya.


__ADS_2