
Langsung saja Melati menggendong Husein dan menaruhnya di pangkuannya. Tak peduli ia tengah letih atau tidak, yang pasti saat ini Husein sangatlah menggemaskan. Dan rasa lelahnya seakan menghilang ketika Melati berusaha mengajak Husein bermain, Husein menanggapinya dengan mengoceh entah apa yang membuat Melati tertawa dan menciumi Husein.
Kebisingan antara Melati dan Husein terdengar oleh Mina. Tadinya Mina tengah menyetrika pakaian. Karena mendengar Husein menangis ia menghampiri putranya itu dan menjaga Husein sebentar. Namun ia mengingat tengah meninggalkan setrika yang belum ia matikan. Makanya dengan tergesa-gesa ia melihat dan untung belum terjadi hal yang tidak di inginkan.
Melihat pemandangan di ruang keluarga membuat Mina tersenyum haru. Bagaimana Melati menjaga Husein dan bermain dengannya. Pikirnya sama halnya yang tidak bisa menerimanya di rumah ini, maka hal itu pun terjadi dengan putranya. Namun ternyata pikirannya salah. Ia mengusap embun di sudut matanya dan kembali mengerjakan pekerjaannya.
Karena rasa letihnya masih ada, Melati membaringkan tubuhnya sembari bermain dengan Husein di sampingnya. Namun lama kelamaan mulutnya terus menguap, dan ia tertidur dengan sendirinya.
Ia tak bergeming ketika Husein dengan jailnya menoel-noel pipinya. Dan pipinya bagaikan squisy oleh Husein. Husein tertawa sendiri karenanya. Lalu matanya menoleh pada tas milik Melati.
Entah karena penasaran atau apa ia mendekati tas itu dan sleting tas yang lumayan kecil, berisi alat-alat tulis milik Melati. Husein mengambil beberapa spidol dan pulpen di tas itu.
Karena ia belum mengerti apa benda itu, tak sengaja ia membuka spidol itu dengan mulutnya. Karena otomatis spidolnya mencoret tangannya ia sedikit terkejut. Namun tiba-tiba pandangannya beralih pada wajah Melati. Seakan memiliki akal jail ia tertawa karena akan melakukan apa yang tengah ia pikirkan.
Adik sambung itu mencoret-coret wajah Melati, lalu tertawa yang ketika orang melihatnya pasti akan merasa sangat gemas dengan Husein. Ia terus melakukan kegiatannya sampai Ayahnya pulang dengan wajah yang letih juga seperti Melati saat pulang ke rumah.
Wajahnya menghangat ketika melihat wajah bahagia putra bungsunya. Namun ada yang membuatnya heran, yaitu Melati yang tertidur bahkan masih menggunakan seragamnya. Dan seketika ia khawatir saat melihat wajah Melati yang tercoret-coret tak jelas karena ulah Husein.
Sebenarnya itu sangat lucu, namun melihat bagaimana sikap Melati pada Ibu Husein membuatnya takut Melati akan marah pada Husein maupun Ibunya. Ketika ia menghampiri keduanya tiba-tiba Melati melenguh dari tidurnya.
Tidur bersama Husein tak membuatnya terlalu nyenyak. Ia membuka matanya dan nampaklah Husein yang tengah tertawa menatap wajahnya. Sontak hal itu membuat Melati gemas dan langsung memeluk Husein dan menciuminya. Husein benar-benar geli karena perlakuan Melati membuatnya tertawa tiada henti.
Ikhsan menghangat melihat kedekatan putra putrinya yang beda ibu itu. Lalu ia pun bergabung dan mengejutkan Melati.
"Eh Ayah, sudah pulang?" Tanya nya dan langsung mencium punggung tangan Ikhsan.
__ADS_1
"Iya sayang,.." ucap Ikhsan menahan tawanya melihat wajah Melati.
"Yah kenapa?, Kok mukanya seperti itu. Jika ingin tertawa ya silahkan.."
"Ebuaha..buahaha..." Ikhsan tertawa begitu kerasnya dan hal itu di dengar oleh Alif yang baru saja pulang.
Melati tertawa karena tingkah menggemaskan Husein. Padahal ia sendiri tidak tahu bahwa Ayah dan adiknya itu tengah menertawakan dirinya karena keadaan wajahnya.
Alif menghampiri sumber suara. Dan alangkah terkejutnya melihat keberadaan Ayah, serta kedua adiknya tengah tertawa bersama. Lalu ia pun melihat wajah Melati membuat tawanya pecah.
Tentu saja suara tawa Alif membuat ketiga orang di ruangan itu menoleh. Kini tinggal Alif sendiri yang tertawa. Alif menghentikan tawanya.
Lalu ia beralih mengambil ponsel di sakunya dan membuka kamera Selfi. Ia menghampiri Melati dan menunjukkan bagaimana wajah Melati.
Seketika Melati membulat matanya dan langsung melihat Husein.
"Ini ya rasakan, kau harus menerima hukumanmu," Melati tertawa bersama dengan Husein. Begitu juga Ikhsan dan Alif.
Tanpa mereka sadari ada seorang wanita yang memperhatikan mereka. Air matanya mengalir deras sedari tadi, ingin rasanya bergabung dalam kebahagiaan mereka. Namun mengingat bagaimana pandangan dari salah satu diantara mereka membuatnya mengurungkan keinginannya.
Tapi setidaknya ia merasa sedikit bahagia. Karena putra yang lahir dari rahimnya diterima baik oleh seluruh keluarga ini. Ia hanya perlu bersabar dan menunggu waktu untuk mewujudkan keinginannya. Dan terus berikhtiar mendapatkan hati sang anak sambung.
***
Seluruh anggota keluarga Ikhsan telah berkumpul di sini. Suasana malam itu sungguh berbeda, karena Melati dan Husein terus menempel bak perangko. Husein bahkan duduk di pangkuan Melati.
__ADS_1
Saat mereka mengambil makanan masing-masing, Melati bertitah yang membuat Mina terkejut.
"Bu apa Husein sudah makan tadi, jika belum biar saya yang menyuapinya."
Apa?, Dia memanggilku Ibu?. Ya Allah betapa bahagianya hamba. Tetaplah seperti ini Nak. Meski sikapmu masih dingin, namun Ibu yakin secara perlahan-lahan kau pasti berubah?. Batin Mina senang.
Sementara Melati sebenarnya secara tidak sadar memanggilnya Ibu. Ia hanya memikirkan Husein. Sama sekali tak ada niatan untuk mengubah sikapnya pada Ibu Sambungnya ini.
"Sudah tadi Nak, saat ini kau makanlah dulu. Biar Husein Ibu yang jaga." Tutur Mina lembut.
Melati menoleh sebentar dan menyerahkan Husein padanya. Lalu mengambil makanannya sendiri. Ikhsan yang melihat sedikit perubahan pada Melati ia tersenyum pada Mina. Ia yakin dengan segala kesabaran dan usaha Mina pasti akan membuahkan hasil.
Setelah selesai, Melati langsung bermain dengan Husein. Alif juga ikut bergabung di ruang keluarga itu. Mereka juga menyalakan tv. Namun Alif masih terus fokus pada Laptopnya. Di sekolah ia jarang menulis. Ia lebih senang mengcopy atau nge-print materi.
***
Di sekolah
Melihat tempat duduknya di isi oleh orang lain membuat Melati terheran. Dan juga kenapa kedua teman Melati yaitu Elisa dan Rosé tak melarangnya. Ia mendekati mereka.
"Eh Sinta, maaf kenapa ya kamu duduk di tempat saya?" Tanya heran Melati, ia juga melirik satu persatu teman-temannya.
"Dia mulai hari ini duduk sama Aaz Mel, loe silahkan pindah kemanapun loe mau." Jawab Elisa dingin.
"Apa?, Tapi kenapa El. Bukankah saya memang sudah biasa di sini?" Lagi-lagi Melati di buat heran dan bahkan terkejut dengan sikap temannya.
__ADS_1
"Ya gapapa dong Mel. Lagian kan masih ada yang kosong. Noh Maira sendirian kan. Lo duduk aja di sana. Dan juga kan dari dulu loe pengin duduk di depan." Ucap Rosé menimpali.
Melati benar-benar terkejut mendengarnya. Teman-temannya seakan mengusirnya dan tak ingin lagi berteman dengannya. Apa karena kemarin mereka melihat ia pergi bersama Maira hingga mereka berpikir dirinya sudah berpaling.