Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 20


__ADS_3

"Sudah lama?" Tanya Melati dengan membuka pintu mobilnya dan menaruh belanjaannya di kursi penumpang.


"Lumayan,.."


Lalu mereka pun lanjut pergi ke sebuah restoran. Siang ini mereka belum menyantap makanan apapun.


Tanpa disangka ternyata Azein Kakak Aaz berada di restoran yang sama. Ia tengah sendirian di sana sambil membuka gawainya. Entah tengah menunggu seseorang atau memang ingin makan di luar sendiri.


Melihat tak ada meja yang kosong, Melati pun berniat mencari restoran yang lain. Ia melirik Aaz yang tengah melihat seseorang. Bahkan melamun.


"Az, kita cari restoran yang lain saja yah. Kau lihat semua sudah penuh." Ucap Melati menepuk bahu Aaz.


"Eh iya Mel (menoleh pada Melati), em kita ke situ aja yah. Itu Kakakku tahu." Menunjuk seorang lelaki yang tengah bermain dengan ponselnya sendiri.


"Oh ya?, Em tapi Az.."


"Tidak ada tapi-tapian, Mel aku sudah tidak bisa menahan laparku lagi jika kita mencari tempat lain. Please." Ujar Aaz menunjukan puppy eyes nya.


Melati yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Jika sudah seperti ini sudah tentu ia tak dapat menolak keinginan Aaz.


"Iya, iya, kita kesana.." Melati menuruti saja keinginan Aaz yang menarik tangannya.


"Assalamu'alaikum Kak." Ucap Aaz saat melihat Azein yang berada dihadapannya. Dengan tentunya tanpa melepas tangan Melati yang sedari tadi ia pegang.


"Wa'alaikumsalam," Azein mendongakkan wajahnya, dan terpampanglah dua wanita cantik yang salah satu darinya ia kenal. "Loh Az, ternyata kamu toh. Ada apa?"


"Ish, sudah pasti lah aku ingin bergabung denganmu. Kau lihat di sekitarmu sudah penuh.


Sontak Azein pun mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat itu. Benar yang dikatakan Aaz, semua meja telah terisi penuh. Lalu Azein pun tersenyum menatap adiknya itu.


"Ya sudah, silahkan duduk tuan putri."


Aaz pun tersenyum dan mengajak Melati duduk di sampingnya. Yang dimana posisi Melati berhadapan langsung dengan Azein. Susana menjadi canggung saat itu juga. Sialnya Aaz juga hanya terdiam sedari tadi. Ia ingin melihat bagaimana interaksi antara sahabat dan kakaknya itu.


"Ehm, Az apa kau tidak ingin memesan makanan?" Tanya Melati memecah keheningan saat itu.

__ADS_1


Aaz tersenyum, hampir saja ia melupakan hal yang membuatnya ada di tempat itu. Azein pun melirik gadis di depannya. Wajahnya memang asing baginya, namun untuk suara sepertinya ia pernah mendengarnya. Tapi dimana.


Azein tak memikirkannya lagi, ia langsung saja mengangkat tangannya ketika melihat salah satu pelayan datang ke arah meja lain. Sontak membuat pelayan tersebut datang menghampiri meja mereka.


"Kalian ingin pesan apa?" Tanya Azein menatap kedua wanita di hadapannya.


"Dingin-dingin seperti ini sepertinya aku menginginkan nasi goreng Kak. Dan kau Melati?" Jawab Aaz, lalu melirik gadis disampingnya.


"Aku samakan saja denganmu Az. Beserta minumannya." Melati tersenyum pada Aaz.


Gadis yang tak pemilih, menarik. Gumam Azein menatap Melati dalam hati. Seketika ia menyadari pikirannya, dan langsung memalingkan wajahnya serta menggelengkan kepalanya. Lalu ia pun beralih menatap pelayan di sampingnya dan memesan makanan yang ia inginkan.


Tak lama pesanan pun datang, dan mereka meletakkan ponselnya masing-masing. Karena sedari mereka menunggu pesanan datang mereka hanya bermain ponsel tanpa ada yang berbicara.


"Ehm," Azein berdehem menatap Melati. Ia sempat melirik gadis di hadapannya. Melihat ada noda di sudut bibir kanan Melati.


Entah mungkin karena nervous atau apa, Melati tak tenang dalam menyantap makanannya. Lain halnya dengan sahabat di sampingnya yang dengan santai melahap miliknya bahkan ia sambil bermain ponsel.


Melati mengehentikan aktivitasnya memandang aneh Azein. Ia juga melirik Aaz.


Tatapan Melati dan Azein bertemu, lalu dengan cepat Melati memutus pandangannya. Ia kembali menyendok makanannya.


Namun Melati yang tak mengerti kode Azein pun hanya terdiam. Ia bahkan mengacuhkannya. Azein menghembuskan nafasnya pelan. Ia pun merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.


"Ehm," Azein berdehem untuk kesekian kalinya. Ia pun membuka layar ponselnya dan membuka kamera. Kemudian menyerahkan ponselnya pada wajah Melati.


Melati tersentak dan langsung saja ia mengusap sudut bibirnya. Ia begitu malu dengan keadaan sekarang. Sedangkan sahabat di sampingnya cuek bebek. Disela-sela menikmati makanannya ia malah asyik bergelut dengan sosial medianya.


Dan untuk Azein sendiri ia hanya menggeleng melihat gadis di hadapannya. Namun lama ia memperhatikan wajah malu Melati membuat kedua sudut bibirnya terangkat keatas. Baginya wajah merona Melati sangatlah lucu dan cantik. Melati yang merasa diperhatikan menjadi salah tingkah.


Ia juga menatap kesal ke arah Aaz. Entah kenapa disaat seperti ini, sahabatnya sama sekali tak bersuara. Harusnya ia mencairkan keadaan sekarang ini. Melati hanya bisa menunduk dan melanjutkan menyantap makanannya. Azein yang melihatnya hanya bisa menahan senyumnya. Ia juga menikmati pertunjukan di depannya secara langsung.


Syukurlah dering telepon milik Melati menyelamatkan suasana canggung di hatinya. Ia pun bernafas lega dan dengan segera mengangkat teleponnya.


"Hallo Assalamu'alaikum.."

__ADS_1


"........"


"Maaf Kak, aku lagi makan siang dengan temanku Kak. Sebentar lagi aku pulang kok Kak."


"......."


"Iya Maaf, setelah ini aku tidak akan kemana-mana lagi Kak. Aku akan langsung pulang."


"......."


"Iya Kak tenang saja. Assalamu'alaikum"


"........"


Lalu Melati pun memutuskan sambungan teleponnya. Ia pun beralih menatap sahabatnya. Kebetulan Aaz juga sudah selesai menghabiskan makanannya. Melati bersyukur dalam hati. Satu meja dengan Kakak sahabatnya membuat jantunganya berdegup kencang.


"Az, setelah ini kita langsung pulang kan?, Kakakku sudah menghawatirkan aku" ucap Melati.


"Iya Mel, duduk sebentar dahulu ya. Makanannya masuk dulu ke perut kita"


Melati pun mengiyakan perkataan Aaz. Lalu bergegas pulang menuju rumahnya.


"Assalamu'alaikum.." Ucapnya saat memasuki rumahnya.


"Wa'alaikumsalam.." jawab sang Ibu sambung yang kebetulan tengah bermain bersama putranya.


"Baru pulang Kak?" Tanya nya tersenyum pada Melati.


"Iya Bu, soalnya sempat mampir ke Mal. Lihat." Melati mencium punggung tangan Mina dan menunjukkan bawaannya. Lalu meletakkannya di sofa ruangan itu dan menghampiri Husein.


"Hei boy, how are you?" Melati mengacak gemas rambut Husein.


"Kaa..k rambutku jadi berantakan." Husein menghempaskan tangan Melati kesal. Melati tentu sangat senang melihat wajah kesal Husein.


"Kha...," Lalu pergi meninggalkan begitu saja Husein, sedangkan Mina yang melihatnya sungguh senang. Meski berbeda rahim mereka sangat akur. Dan ia sendiri sudah diterima baik oleh keluarga ini.

__ADS_1


Sepertinya ada satu hal yang dilupakan Melati, tapi apa Melati tak mengetahuinya. Ia memilih untuk membersihkan dirinya dan barulah ia ingat tatkala membuka lemarinya. Jumlah pakaiannya yang sedikit membuatnya sadar bahwa harusnya ia pulang menuju apartemen Kakaknya. Terlintas Lulu dan Asyifa di benaknya saat itu.


Ia menepuk jidatnya dan menggelengkan kepalanya. Segera saja ia bersiap-siap menuju apartemen Kakaknya. Melati juga sebenarnya sangat rindu dengan Asyifa. Ia mencari Kakaknya dan tentunya setelah berpamitan pada kedua orang tuanya.


__ADS_2