
"Udahlah lagian ga usah kita peduliin dia lagi. Emang dia yang dasarnya munafik. Dulu aja dia mau di ajak nge-bully dan nge-hina orang lain yang bahkan berhijab. Tapi liat sekarang dia malah jadi bagian dari mereka." Kesal Elisa menggebu-gebu.
Sedangkan Aaz hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua temannya. Teman berhijrah kok malah tidak didukung. Justru membencinya.
"Ehm, maaf tapi guys. Emang kalo diliat-liat apa sih yang salah dari penampilan Melati yang sekarang?" Tanya Aaz ragu. Ia sendiri juga sebenarnya agak gedeg dengan keduanya.
"Loe nanya apa yang salah Az?!" Rosé melempar kembali pertanyaan pada Aaz dengan nada tinggi namun masih tak terlalu didengar oleh sekitarnya. Sontak itu membuat Aaz terkejut.
"Loe gak liat gimana dia dulu. Kita semua ngebenci orang-orang sok suci kaya gitu. Buktinya lumayan kan guru BK manggil murid-murid yang kena kasus dan itu cewe yang berhijab.."Tegas Elisa.
"Tapi juga banyak juga yang ga pake hijab tapi dipanggil sama guru BK." Jawab Aaz beropini.
"Oh ya?, Tapi emang pantes ha?!, Mau gimana juga mereka cuma orang-orang munafik yang nutupin kebusukan mereka dengan hijab. Gue si ogah banget punya temen kaya gitu. Dih, sok sok kalem padahal nakalnya ngelebihin gue. Mending kita jujur apa adanya, gak munafik kaya mereka." Ujar Elisa menyombongkan dirinya.
"Gue bener-bener benci sama Melati."
Aaz yang mendengarnya pun menjadi sedikit terhasut. Tak bisa dipungkiri bahwa akalnya juga membenarkan perkataan Elisa. Lagian dia juga melihat bagaimana dulunya Melati bertingkah. Tapi tetap saja, ada pula hatinya yang mengatakan bahwa Melati tidaklah seperti itu. Melati hanya ingin mengubah dirinya, dan ia memulainya dari penampilannya.
Entahlah akal dan hatinya seakan bertarung meyakinkan dirinya tentang perubahan Melati. Ia lebih memilih diam dan menyantap menikmati pesanannya.
Begitu juga dengan Elisa dan Rosé, mereka memilih menyudahi pembicaraan mereka. Toh mereka juga seakan sudah tenaga mereka sudah terbakar hangus karena amarah yang mereka simpan untuk Melati. Hingga membuat mereka harus mengisinya ulang.
_____________
__ADS_1
Tanpa mereka sadari bahwa ada seseorang yang tengah menangis karena perbincangan mereka. Dia adalah Melati. Salah satu siswi yang duduk di belakang ketiga temannya tengah merekam semuanya. Dan ia mengirimkannya pada Melati.
"Hiks..hiks.. hiks.., saya gak pernah berniat sekalipun berubah pada kalian. Saya hanya ingin mengubah diri saya sendiri untuk menjadi lebih baik. Juga ingin memenuhi keinginan dari mendiang Bunda saya. Saya juga tak ingin kehilangan kalian. Kenapa kalian menyalah artikan perubahan ini." Ucapnya menangis tersedu-sedu.
________________________________________________
Note : alasan Melati menggunakan kata Saya karena teman-temannya selalu menggunakan kata-kata loe gue yang menurut Melati tidak sopan. Ia juga telah diberi peringatan oleh kedua orang tuanya agar tak menggunakan bahasa yang seperti itu. Ia bisa saja menggunakan Aku tapi melihat keadaan sekitarnya membuatnya aneh dalam berkata seperti itu.
__________________________________________________
Sedangkan Humaira sudah sedari tadi menenangkan Melati. Bahkan dari awal ketika Melati mendengarkan rekaman itu. Ia memeluk erat Maira.
Maira sangat tahu bagaimana persahabatan di antara Melati dan ketiga perempuan yang ada direkaman itu. Meski sikap mereka kadang dibenci namun mereka dibenci juga bersama-sama. Benar-benar sangat kompak.
Apalagi mereka sudah dekat dari bahkan saat baru masuk sekolah ini. Tentu kenangan-kenangan mereka sangatlah indah dan banyak pastinya. Sekarang mereka berada di detik-detik akhir berada di sekolah ini. Seharusnya mereka membuat kenangan indah untuk mengenang kembali masa-masa awal mereka bertemu.
Melati terus saja menangis hingga bek tanda masuk berbunyi. Sontak ia pun terkejut dan bingung ingin melakukan apa. Wajahnya sangat terlihat berantakan dan matanya sembab.
Maira memberinya saran untuk pergi saja dahulu ke kamar mandi dan mencuci mukanya setelah sekolah lumayan sepi. Tidak masalah jika terlambat untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Dan Melati pun mengiyakan perkataan Maira.
"Seandainya dihukum kau tidak akan sendirian." Ucap Maira meyakinkan Melati.
Melati mengangguk dan tersenyum padanya. "Makasih ya Ra." Ia sungguh bersyukur masih ada yang ingin berteman dengannya. Seketika ia teringat akan perkataan Kakaknya Alif tadi pagi saat masih di rumah.
__ADS_1
Jika kita meninggalkan sesuatu karena Allah, yakinlah bahwa Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Melati saat ini benar-benar merasakan kedamaian di dalam relung hatinya. Mengenal Maira lebih dekat membuatnya tentram. Karena memang mereka satu frekuensi. Meski memang Melati merasakan kenyamanan dengan teman-temannya dahulu, namun saat ini suasana dalam dirinya benar-benar berbeda. Sungguh sejuk dan tenang.
Benar saja, Melati dan Maira langsung mendapatkan tatapan tajam dari guru yang saat ini sedang melangsungkan kegiatan belajar mengajar. Melati masuk dan mengakui kesalahannya.
Kian Melati mendekat, membuat Bu guru itu sadar akan keadaan suasana hati Melati saat ini. Juga melihat matanya di balik kacamata milik Maira. Sengaja Maira meminjamkannya untuk menutupi mata sembab Melati.
Bu Edah atau guru yang saat ini tengah berdiri menatap Melati jelas melihat itu semua sebab jaraknya yang memang dekat. Ia memang seorang guru yang juga memiliki gelas sarjana lulusan psikologi. Jadi tidak sulit untuk mengetahui suasana hati seseorang. Bahkan ia sendiri sering dijadikan teman curhat oleh teman-teman satu profesinya.
Ia menghela nafas panjang dan akan memberi keduanya hukuman dengan mencari soal-soal yang membahas tentang pembahasan mapel hari ini. Minimal lima puluh soal harus mereka kerjakan dan harus benar semua.
Alasan Bu Edah memberi hukuman itu, karena ia tahu bahwa hukuman yang ia beri tidaklah terlalu berat untuk Melati. Toh kedua anak itu juga memiliki nilai tertinggi di sekolah itu.
Melati dan Maira tersenyum dan menyanggupi hukuman yang diberikan oleh gurunya itu. Dan mereka duduk di bangku masing-masing. Melati masih duduk di samping Aaz. Dan Aaz melempar wajah cemas padanya.
Ada apa. Itulah arti tatapannya pada Melati. Sebenarnya ia juga sangat menyesal akan hal yang telah terjadi tadi.
Sedangkan Melati hanya menggeleng dan tersenyum. Mereka pun akhirnya kembali fokus pada kegiatan yang sempat berhenti tadi. Terutama Melati dan Humaira, mereka bahkan sudah langsung diberi PR.
***
Dengan wajah letihnya Melati masuk ke rumahnya. Ketika ia fokus berjalan menuju kamarnya, tak sengaja ia mendengar suara anak kecil yang tengah rewel. Entah apa yang tengah ia bicarakan namun akan terdengar sangat menggemaskan.
__ADS_1
Melati menoleh dan tampaklah Husein yang tengah berbaring bermain-main sendiri. Karena Husein memang sangatlah lucu, membuatnya menghampiri Husein.
Ia sebenarnya heran, kenapa dia dibiarkan main sendiri. Bagaimana jika terjatuh dari sofa. Ya meskipun sofa itu cukup empuk dan luas. Namun kemungkinan untuk terjatuh dan terbentur benda lain bukankah bisa terjadi.