
Namun biar bagaimanapun ia sangat berterimakasih pada Tuan Besar itu. Karenanya membuat keinginannya terpenuhi.
Zahdan mendongakkan kepalanya. Ia menatap sendu manik Lulu. Meski ia berbuat kasar selama ini, namun dihatinya juga sebenarnya terselip rasa rindu saat Lulu yang masih selalu melayaninya. Siska sama sekali tak memperhatikan kebutuhannya. Mungkin juga sudah terselip rasa cinta untuk Lulu.
"Baiklah Nak apapun keinginanmu saat ini. Tapi sebelumnya obati dahulu ya lukamu. Riyan, cepat ambilkan kotak P3K di rumah ini!" Titah Mahendra pada Lulu dan asisten yang setia di belakangnya.
"Em tidak perlu Kek. Lukaku ini sudah cukup kering dan sudah tak terasa sakit lagi. Tidak apa Kek, aku akan mengobatinya lagi nanti." Ucap Lulu menolak halus.
"Kumohon jangan pergi Lulu." Zahdan baranjak dari duduknya dan menggenggam tangan Lulu.
Lulu menepis kasar tangan Zahdan. Ia sendiri sudah tidak sudi tubuhnya disentuh Zahdan. Mahendra yang melihat itu semua hanya menggelengkan kepalanya pada Zahdan.
"Rian kau cepat antar Lulu pergi dari sini." Ucap tegas Mahendra.
"Baik Tuan." Rian mengangguk patuh dan segera mengajak nona mudanya untuk mengikutinya. Dan akhirnya Lulu pun bisa pergi dengan tenang dari rumah itu.
***
Matahari menyelinap masuk ke sela-sela jendela kamar milik seorang wanita yang masih dibalut selimut. Alam telah bercengkrama sehingga membuat tidurnya terusik. Ia mengerjapkan matanya. Sudah menjadi kebiasaannya jika sedang kedatangan tamu bulannya ia akan lupa waktu untuk bangun. Apalagi semalaman ia menunggu seseorang hingga sangat larut namun tak kunjung pulang.
Dengan malas, Melati melangkahkan kakinya menuju bathroom. Dan bersiap-siap membuat sarapan. Namun apa mau dikata tak ada bahan untuk ia masak pagi itu.
Melati pergi menuju supermarket terdekat. Segala keperluan yang ia butuhkan telah ia dapat dari tempat itu. Entah kesialan atau kebetulan ia bertemu dengan lelaki yang menurutnya sangat menyebalakan.
Bugh. Belanjaannya terjatuh dan tercecer kemana-mana.
"Hei kalau jalan pakai mata dong!" Ujar Melati kesal dan menatap tajam lelaki yang menabraknya.
__ADS_1
"Hei, dimana-mana bahkan anak kecil saja tahu bahwa jalan itu menggunakan kaki." Balas telak Azein ia juga menyunggingkan senyum mengejek.
Melati semakin bersungut saja. Dengan dongkol ia memunguti kembali belanjaannya. Toh juga tidak ada yang rusak.
Melihatnya Azein menjadi merasa bersalah. Ia berjongkok dan membantu Melati. Melati hanya mengacuhkan apa yang dilakukan oleh Azein. Setelahnya dengan cepat ia pergi dari tempat itu.
Azein mencekal tangannya. Ia menatap intens Melati. Namun Melati melempar tajam tangan yang memegang tangannya.
"Biar aku antar, kau tak membawa kendaraan milikmu sendiri kan?" Tanya Azein.
Melati masih diam tak bergeming. Ia sangat malas meladeni pria di hadapannya ini. Azein terus menarik Melati hingga tiba di depan pintu mobilnya.
"Lepas, kau itu kenapa?, Apakah kau mendengar aku meminta bantuan padamu?" Ucap geram Melati.
"Apakah kau mengatakan kau menolak tawaranku?, Kau diam saja kan sedari tadi?!" Azein menatap menantang pada Melati lantaran Melati tak kunjung membuka suara. Ia hanya memandang tajam ke Azein.
Azein tersentak, ia baru mengingat pesan Ibunya tadi di rumah. Ia pun berusaha bersikap biasa saja. Terlambat Melati menyadari wajah gugup Azein, ia pun tersenyum kecil.
Azein merutuki kebodohannya. Entah kenapa setiap kali ia melihat Melati, ia tak mampu membiarkan pergi begitu saja. Ada saja yang ingin ia ributkan dengan Melati.
"Aku hanya,.., em, aku memang..,-" Azein masih belum bisa menemukan akal untuk masalah yang ia hadapi saat ini. Sungguh lebih baik ia memilih untuk menjawab pertanyaan dari kertas Ujiannya. Semua itu begitu mudah untuk Azein. Namun tidak dengan yang satu ini.
"Aku memang ingin membeli sesuatu. Namun aku tak tahu mereknya yang seperti apa." Azein menelan ludah kasar. Ia berharap alasannya ini tak konyol dan masuk akal.
Melati manautkan satu alisnya. Ia masih berusaha mencerna perkataan Azein.
"Lalu untuk apa kau membawaku kesini. Cari saja disana dan tanyakan pada pramuniaga yang ada di sana."
__ADS_1
"Em aku, aku hanya ingin bertanya padamu. Dan melihatmu yang sedang kesulitan saat ini ya kau harus menaruh dahulu belanjaanmu. Sekarang taruhlah dulu barang-barang di mobilku. Dan ikut aku untuk membantuku memilih barang-barang yang ingin aku beli."
"Kau ini sedang meminta tolong atau menyuruh. Dan siapa kau berani-beraninya menyuruhku?! Bahkan mungkin kau sendiri belum mengetahui namaku."
Azein tersentak lagi, benar juga apa yang dikatakan Melati. Ingin rasanya ia memarahi otaknya yang menyuruh ia untuk berbicara seperti tadi. Ia menghela nafas.
"Baiklah, nona bisakah kau menolongku untuk memilih bahan-bahan yang telah Ibuku pinta padaku?" Ucap Azein selembut mungkin.
Melati melihat arloji di tanganya. "Baiklah terserah kau saja."
Azein tersenyum dan mengambil alih belanjaan Melati. Ia meletakkannya di bagasi mobil miliknya. Kemudian mereka pun memasuki tempat belanja itu lagi. Seperti dugaan Melati Azein hanyalah pura-pura tak mengetahui seperti apa barang yang ingin ia beli. Buktinya saja Azein mencari bahan-bahan itu sendiri sedangkan dirinya sendiri hanya diminta untuk mengikuti kemanapun Azein pergi. Bahkan Azein sama sekali tak bertanya pendapat Azein.
"Tadi kau bilang tidak tahu, bahan yang ingin kau beli. Tapi sekarang?, Lihatlah kau bahkan tak bertanya atau berbicara padaku." Ucap Melati dengan nada merajuk.
"Eh," Azein menoleh ke sampingnya. Ia menyadari bahwa sedari tadi Melati diacuhkan. Ia mengusap tengkuknya dan tersenyum kikuk.
"Maaf aku tidak bertanya padamu karena ternyata sudah ada tulisannya di setiap bungkusnya. Kupikir hanya merek."
"Ternyata?, Tapi kau terlihat seakan sering kesini saja. Bahkan kau langsung tahu dimana letak barang yang kau ingin beli." Cerocos Melati dengan hati yang masih diselimuti rasa kesal.
Skatmat. Azein sudah tak mampu beralasan lagi. Ia juga merutuki kebodohannya yang mengacuhkan Melati.
"Atau jangan-jangan, kau hanya ingin mengerjai ku kan?!, Jawab?!" Melati menaikkan nada bicaranya namun ia tetap menahannya agar tidak mengganggu orang lain.
"Tentu saja tidak. Kenapa kau berpikiran seperti itu?"
"Daritadi kau mengacuhkan aku. Aku juga sudah sangat lelah. Kau kan tahu sebelumnya aku juga berbelanja."
__ADS_1
"Baiklah kau tunggu saja di mobil. Barang yang ingin kubeli juga tinggal sedikit. Tapi ingat jangan coba-coba kabur atau pulang sendiri. Aku yang akan mengantarmu sebagai permintaan maaf."