Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 16


__ADS_3

Benar saja, berbulan-bulan Bagas berperang dengan kondisinya sendiri ia pun bisa bangkit dari keterpurukannya. Ia pun menyadari kehadiran Siska selama ini.


Keluarganya sendiri yang sudah terlena dengan segala pesona Siska pun memintanya untuk segera menikahinya.


Sebenarnya jauh dilubuk hati Bagas masih tersimpan nama Mina disana. Kebersamaan di antara mereka tidaklah sebentar. Namun melihat bagaimana bahagianya Mina dengan suaminya yang tak sengaja ia lihat membuatnya geram. Ia juga yakin bahwa Mina memang sengaja mengkhianatinya.


Baiklah, Bagas akan menikahi Siska. Namun bukan karena cinta melainkan karena pelarian.


Siska yang mendapati keluarga Gunawan datang ke rumahnya untuk melamarnya pun merasa sangat senang. Akhirnya semua usaha yang ia lakukan mendapatkan hasil yang memuaskan. Menjadi nyonya Gunawan pun berhasil ia dapatkan.


Namun ada satu hal yang masih harus ia usahakan. Yaitu membuang nama Mina di kehidupan Bagas. Bagaimana pun juga ia sudah sangat mencintai Bagas. Ia tidak bisa hanya dijadikan pelarian seperti ini.


Dengan segala hasutan dan fitnah yang keluar dari mulutnya tentang Mina pun membuat Bagas percaya dan perlahan Bagas mencintainya.


Bahkan saat ini ia tengah mengandung buah cinta mereka. Kehidupan Siska benar-benar sangat membahagiakan saat ini. Mertua yang menyayanginya dan cinta dari suaminya. Serta kehidupan yang bergelimang harta.


***


Tak sengaja kedua pasangan itu pun melihat kerahnya. Dan mereka menghampiri Mina dan Ikhsan.


"Hai Na, apa kabar?," Sapa Siska berpura-pura ramah. Hatinya tersenyum senang melihat keadaan Mina yang bersama suaminya.


"Alhamdulillah baik Sis. Kamu sendiri bagaimana?" Tanya balik Mina tersenyum ramah.


"Aku juga baik, sangat baik malah." Senyum yang terpancar dari wajahnya benar-benar tak luntur sedari tadi.

__ADS_1


"Syukurlah aku turut senang mendengarnya. Apa ini keponakanku?" Mina mengelus lembut perut Siska yang membuncit.


"Tentu saja Na. Kau tahu bahkan anakku ini berjenis kelamin perempuan. Mas Bagas sangat menginginkan bayi perempuan." Ujar Siska memanasi Mina.


Bagas sedari tadi hanya terdiam melihat mantan tunangannya itu. Pandangan wajahnya tak bisa diartikan. Ada rasa kecewa, cinta, benci bahkan rindu menyatu menjadi satu.


Lalu ia melirik Siska istrinya, ia sengaja merangkul Siska untuk menunjukkan betapa bahagianya dia saat ini.


"Tentu saja sayang. Kau memang wanita terbaik. Dengan menjadi ibu kau telah menjadi wanita sempurna ditambah dengan keinginan suamimu yang kau kabulkan membuat aku semakin mencintaimu.." Bagas dengan sengaja mencium pucuk kepala Siska.


Mina yang melihat semuanya, sudut bibirnya terangkat. Ia juga merasa sangat senang karena pria dan wanita dihadapannya bahagia. Awalnya ia merasa sangat merasa bersalah karena menghianati mantan tunangannya, namun melihat keadaan saat ini membuatnya lega.


"Kau benar Kak, aku turut senang mendengarnya. Kehidupan kalian bahkan selalu dilimpahkan kebahagiaan."


Apa?, Bahkan ia sama sekali tak cemburu atau marah. Bahkan aku saja ingin mengguliti pria disampingnya itu. Batin Bagas benar-benar mendidih.


"Untuk itu saya tidak pernah menyatakan bahwa saya mencintai Mina secara langsung. Karena menurut saya mencintai seseorang itu dibuktikan dengan perbuatan dan doa agar cinta kami tidak luntur sedikit pun untuk menjalani segala ujian yang diberikan Sang Maha Kuasa dan yang paling penting kami berharap agar bisa membawa kami menuju Jannah-Nya." Ujar Ikhsan menjawab pertanyaan Siska dan menggenggam erat tangan Mina. Mina yang mendengarnya begitu terharu bahkan embun telah menganak sungai di pelupuk matanya.


Bagas yang melihat bagaimana wajah Mina benar-benar merasa sakit. Ia bahkan belum pernah melihat wajah bahagia yang disertai air mata Mina selama ini. Perlahan ia memalingkan wajahnya dan menurunkan tangannya dari bahu sang istri.


Siska yang melihat wajah sedih suaminya, membuat rasa benci untuk Mina dihatinya tambah menguap. Dapat ia lihat perasaan Bagas yang masih begitu dalam pada Mina. Bagaimana bisa Mina bisa sebahagia itu saat ini. Bahkan pria disampingnya saja terpaut usia yang cukup jauh.


Ikhsan melirik jam yang tertera di pergelangan tangannya. "Mohon maaf, kami harus secepatnya pulang karena putra putri kami telah menunggu cukup lama"


"Ouh iya, silahkan saja." Ujar Siska menyembunyikan perasaan dongkolnya.

__ADS_1


"Ya sudah kami pamit ya Sis, dan Kak" pamit Mina yang hanya dibalas senyuman oleh Siska. Sedangkan Bagas ia bahkan tak mau melihat Mina.


________________


Melati benar-benar terkejut dengan kejutan yang diberikan oleh keluarga dan temannya. Bagaimana tidak, 30 menit yang saat ia berada di sebuah toko buku ia mendapat pesan yang membuatnya kalang kabut.


Bahkan kecepatan yang ia gunakan ketika mengendarai mobilnya menuju rumahnya begitu tinggi. Tak peduli apakah membuat pengendara lain terganggu atau tidak.


Dor!.., itulah perkataan yang ia dengar saat membuka pintu. Ternyata ada keluarga dan teman-temannya yang tengah mengerjai dirinya. Mereka memberi kejutan untuknya di hari kelahirannya yang ke 21 tahun.


Air matanya mengalir deras saat itu juga. Ia bahkan tak mengingat bahwa hari ini ia ulang tahun. Itu karena dari beberapa hari yang lalu entah Kakak, Ayah dan teman-temannya selalu memberinya pekerjaan. Sungguh ia tak tahu bahwa ia tengah dikerjai.


Ia memberi potongan kue pertamanya untuk Ayahnya, lalu Alif Kakaknya dan yang ketiga Ibu sambungnya yaitu Mina.


Memang perlahan tapi pasti Melati sudah bisa berdamai dengan keadaan. Ayah maupun Kakaknya pun telah menceritakan segalanya. Awalnya ia berpikir bahwa Ayahnya hanya di jebak. Dan ini semua adalah akal bulus dari Mina.


Namun lambat laun ia juga tak pernah mendapat perlakuan tak pantas dari Mina. Ia juga bisa melihat ketulusan yang dipancarkan dari wajah Mina. Dan Ibu sambungnya tak pernah membeda-bedakan kasih sayang di antara mereka.


Dan untuk Husein, saat ini ia sudah mulai masuk ke sekolah dasar. Ia duduk di kelas satu. Anak itu semakin tampan saja, bahkan lebih tampan dia dari Kakaknya Alif. Ia juga dilimpahkan kasih sayang yang melimpah. Dari Ayah dan Ibunya serta kedua Kakak tirinya.


Sampai Melati duduk di bangku perkuliahan, kedua temannya yaitu Maira dan Aaz mereka selalu bersama. Mereka sama-sama duduk di semester tujuh. Untuk Melati ia usahakan untuk rampung menggarap skripsinya tidak sampai empat tahun. Ia ingin segera melanjutkan kuliahnya.


Selain kedatangan teman-teman serta keluarga besar. Keluarga Melati juga mengajak anak-anak dari panti asuhan. Mereka mengadakan pengajian untuk mendoakan Melati.


Dan untuk Elisa dan Rosé, mereka sudah berpisah sejak kelulusan SMP. Tak ada kabar sama sekali dari mereka. Namun kadang Melati juga melihat keberadaan keduanya, mereka tetap saja dingin dan bahkan membuang muka pada Melati.

__ADS_1


Sebenarnya Melati juga tidak pernah mau kehilangan mereka, segala cara ia gunakan untuk memperbaiki hubungan mereka. Namun tetap saja kedua teman dekatnya dulu itu, seakan menutup rapat pintu persahabatan diantara mereka.


__ADS_2