
Seminggu ini Melati terus berdiam diri di kamarnya. Setiap ada orang yang masuk Melati sama sekali tak menghiraukannya. Yang ia lakukan hanya tidur, makan dan shalat lalu melamun. Bahkan pandangan matanya kosong. Sibuk dengan pikirannya sendiri.
Ayah, Ibu, Kakak dan teman-temannya berusaha membujuknya. Namun Melati seakan menuli-kan pendengarannya. Keluarganya juga sangat sedih melihat Melati terpuruk. Keluarga dari Fahmi pun juga terkadang mengunjungi kediaman Ikhsan. Mereka menunggu jawaban Ikhsan, mereka juga melihat sendiri bagaimana keadaan Melati.
Saat ini Mina tengah menyiapkan makanan untuk Melati karena memang sudah jadwalnya makan siang. Ikhsan menghampirinya.
"Dek, biar Mas saja yang mengantarkan ini." Pinta Ikhsan pada Mina.
Mina tersenyum. "Tidak perlu Mas, sebenarnya aku juga ingin berbicara sesuatu dengannya."
"Itu saja yang selalu kau ucapkan Mina. Tetapi apa respon dari Melati, untuk sekedar menoleh saja dia enggan. Kau sendiri tengah mengandung anak kita Mina. Aku tahu kau lelah."
"Tidak Mas, kumohon hari ini saja yah." Ujar Mina memohon.
Ikhsan menghela nafasnya, ia mengangguk untuk menanggapi permintaan istrinya. "Baiklah terserah kau saja. Tetapi yang pasti kau jangan sampai melupakan kesehatanmu sendiri ya." Pasrahnya.
"Tentu Mas. Ya sudah aku pergi dahulu ya." Mina berlalu dari Ikhsan dengan membawa nampan di tangannya.
Ceklek. Wanita berkepala tiga itu melihat putrinya yang tengah berada di balkon. Hal ini memang sudah tak asing baginya. Karena memang setiap ia masuk memang hal inilah yang dilakukan oleh Melati.
"Sayang. Makan dahulu yah." Ucapnya lembut menaruh makanannya di meja. Lalu mendekat dan memegang lembut bahu putrinya.
Melati hanya mengangguk, ia mendudukkan dirinya di sofa. Mina sengaja membuatkannya makanan favoritnya. Namun tetap saja, apapun yang masuk ke dalam mulut Melati saat ini rasanya hambar. Tidak ada ***** sama sekali, ia makan hanya karena ingin menghargai Ibu sambungnya.
Mina memperhatikan Melati yang memakan masakan buatannya hingga habis. Lalu ia memberikan air minumnya pada Melati. Ada sesuatu hal yang selalu ingin ia katakan. Namun Melati sama sekali tak pernah memperhatikannya.
"Nak-",
"Bu, tidak lelahkah Ibu selalu seperti ini. Bu aku hanya ingin menyendiri dahulu. Aku tahu pasti Ibu maupun Ayah ingin membicarakan tentang pernikahanku dengan pria itu kan?, Bu kumohon mengertilah. Diriku sudah sangat lelah dengan semua ini. Tak pernah terlintas dalam pikiranku untuk melakukan ini dan itu setelah semua yang terjadi. Yang hanya aku inginkan saat ini hanyalah ketenangan." Ujar Melati memotong perkataan Mina.
"Tidak Nak. Ibu sama sekali tak pernah berniat untuk kau melakukan hal ini dan itu. Ibu hanya ingin mengatakan satu hal. Ibu mohon biarkan Ibu mengatakannya padamu Nak. Beri Ibu kesempatan untuk berbicara." Melas Mina.
"Iya, Ibu ingin mengatakan hal ini dan itu. Menceritakan hal yang pernah orang lain alami sama sepertiku. Lalu Ibu meyakinkan aku untuk menikah. Begitukah?, Bu kumohon hidupku telah hancur, dengan aku masuk kedalam hidupnya maka akan membuat hidupku semakin terpuruk. Kumohon mengertilah."
"Baiklah. Ibu tak akan menyinggung hal mengenai pernikahan atau tentang pria itu. Tapi saat ini Ibu mohon sebentar saja kau perhatikan Ibu Nak."
Melati menatap jengah Ibu sambungnya ini. Ia memandang ke arah lain. Mina membuang nafas kasar. Lalu pandangannya mengarah ke meja belajar putrinya.
Mina menghampiri meja tersebut dan mengambil beberapa alat tulis milik Melati. Melati sama sekali tak memperdulikan apa yang diperbuat oleh Mina. Langkah kaki Mina mendekati arah putrinya. Ia duduk di samping Melati.
"Melati perhatikan Ibu Nak." Ucap Mina memerintah. Namun Melati tak bergeming. Dengan paksa Mina mengarahkan wajah Melati pada kertas-kertas dan alat tulis yang tadi ia bawa. Melati menatap kesal Ibunya itu. Mina tak kalah sengit membalas tatapan Melati.
__ADS_1
Melati memejamkan matanya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ia mengalah, untuk hari ini ia akan mendengarkan Ibu sambungnya itu. Seorang wanita yang selama ini mengurusnya.
Mina memulai aksinya, ia menyisihkan satu kertas kosong dan menempatkan di sudut meja. Lalu ia mulai menggambar dengan kertas kedua. Entah apa yang ia gambar tetapi dari sketsa yang ia gambar mulai terlihat bagus. Tak lupa ia memberi warna dalam gambar tersebut.
Melati mulai bosan memperhatikan tingkah Ibunya. Ia memalingkan wajahnya.
"Melati jangan coba-coba untuk berpaling." Tegas Mina. Lalu ia melanjutkan kegiatannya. Melati mendengus kesal. Namun ia tetap menuruti perintah Mina.
Mina menaruh hasil gambarnya di samping kertas kosong, ia lalu mengambil kertas ketiga. Melati mengernyit karena Mina sengaja menumpahkan cat warna hitam. Namun Mina dengan pintarnya menambahkan warna lain hingga membuat kertas yang tadinya kotor menjadi sangat indah. Melati menatap takjub Mina.
Setelah Mina selesai menggambar ia kembali mengambil lagi kertas keempat. Melati menatap jengah Ibunya ini. "Bu jika kau ingin menggambar tak perlu kau tunjukkan padaku. Meski aku kagum padamu karena keahlianmu yang baru aku tahu ini namun aku tak menyukai karya lukis seperti ini."
Mina menatap tajam Melati, tetap perhatikan Ibu. Begitu arti pandangan matanya. Dengan lesu Melati menuruti Ibunya. Namun ia sudah merasa pegal, bagaimana tidak. Mina memintanya untuk memperhatikan Ibunya selama satu jam. Namun ia sendiri selalu berdiam diri dan duduk di balkon tidak merasa pegal sama sekali.
Wanita yang memiliki dua anak sambung itu kembali menggambar. Ia melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, yaitu dengan sengaja menumpahkan noda hitam di kertas yang telah ia siapkan. Namun yang membuatnya berbeda adalah ia tak menambahkan warna lain selain hitam. Mina tetap berusaha membuatnya indah meski yang ia tambahkan hanya warna hitam.
Mina kembali mengambil kertas, ini adalah kertas kelima. Ia hanya menumpahkan noda hitam dan membiarkannya. Ia menjejerkan semua kertas itu di meja. Menunjukkan semuanya pada Melati. Melati bernafas lega karena akhirnya sang Ibu berhenti. Ia menyenderkan tubuhnya ke dinding sofa.
"Melati dengarkan Ibu saat ini!" Tegas Mina memerintah.
"Baiklah." Jawab Melati lesu.
Melati mengangguk.
"Ini perumpamaan wanita yang masih memiliki harta berharganya."
Deg. Jantung Melati seakan berhenti. Ia menatap sendu manik Mina. Apakah Ibu sambungnya tengah menyindirnya.
"Kau jangan dulu berpikiran yang aneh-aneh Melati. Cukup dengarkan Ibu hingga selesai." Sebenarnya Mina sangat merasa bersalah, namun apa yang ia lakukan saat ini juga untuk putrinya.
"Lalu kau lihat yang ini!" Mina menunjuk gambar kedua. Gambar yang sangat indah, yang ia gambar dengan langkah-langkah menggambar seperti yang telah diajarkan oleh gurunya.
"Kau melihat bagaimana Ibu menggambarnya dari awal tadi?"
Melati mengangguk sebagai jawaban.
"Kau melihat Ibu membuat ini dengan menggunakan semua ini kan?" Menunjuk semua alat tulis. Dari pensil, penghampus, penggaris, pewarna dan lainnya.
Melati lagi-lagi mengangguk.
"Kertas menggambarkan wanita yang melepas kehormatannya dengan keinginannya. Dari mulai mencintai seorang pria, lalu menjalani hubungan dengan pria yang dicintainya, dan menikah dengan pria yang dicintainya hingga menyerahkan mahkotanya pada pria tersebut. Semua terjadi atas keinginannya hingga hidupnya pun menjadi sangat indah-"
__ADS_1
"Cukup Bu!" Melati mengangkat salah satu tangannya. Ia sudah sangat sakit hati mendengar penuturan Ibunya. Seakan ia hanyalah sebuah barang bekas yang sama sekali tak berguna dan berharga sedikitpun.
"Apa maksud Ibu dengan menjelaskan semua ini?!!" Ucap Melati dengan nada tinggi. Cukup sudah kesabarannya diuji. Air matanya juga telah meluruh.
"Melati bukankah Ibu sudah mengatakannya padamu untuk diam dahulu. Ibu belum selesai menjelaskan semuanya. Dengarkan Ibu sampai selesai." Mina menarik tangan Melati yang sudah berdiri untuk kembali duduk di sampingnya.
Dengan lemah Melati mengikuti perkataan Mina. Namun ia sudah sangat malas meladeni Ibunya itu.
"Sekarang lihat ini!" Mina menujuk kertas ketiga.
"Melati lihat ini!" Tegasnya sekali lagi. Dengan perasaan dongkolnya Melati memperhatikan yang ditunjukkan oleh Mina.
"Kau melihat bagaimana Ibu menggambarnya dari awal?" Melati mengangguk.
"Ini adalah seorang wanita yang hidupnya sudah kehilangan kemurniannya karena keadaan."
Deg. Lagi-lagi Melati merasakan jantungnya kembali berdetak. Ia menahan tangisnya, nafasnya mulai naik turun dengan tergesa.
"Namun ia memiliki banyak akal dan hati yang luas untuk membuat hidupnya berubah. Ia menambahkan warna dalam hidupnya. Dengan melakukan hal-hal yang membuat hidupnya kembali sempurna meski tak murni. Kau lihat sendirikan gambar ini sangat indah. Dan ketika orang lain melihatnya pasti akan sangat terpukau. Meski pada saat prosesnya terkadang orang memandangnya sebelah mata. Tapi lihatlah keteguhan hatinya, lihat semangat dalam dirinya. Pada akhirnya orang-orang akan bungkam dan yang ada hanya rasa bangga dsn takjub."
Melati memandang Ibunya, lalu memperhatikan kembali gambar yang ditunjukkan Mina. Ia mulai memikirkan apa yang telah Ibunya katakan itu. Ia menggambarkan seorang wanita yang telah digambarkan Ibunya.
"Sekarang lihat gambar ini." Menunjukan kertas keempat. Melati segera memperhatikan yang ditunjukkan Ibunya.
"Kau lihat bagaimana Ibu menggambarnya dari awal?" Mina melontarkan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.
"Ini adalah seorang wanita yang awalnya seperti kertas ketiga. Namun ia memutuskan untuk melakukan hal yang sama yaitu kembali menumpahkan warna hitam. Bentuknya memang indah namun yang akan memujinya hanyalah yang memang satu kaum dengannya."
"Kau tahu maksud Ibu kan Nak yang satu ini?"
Melati kembali mengangguk.
"Lalu kau lihat yang ini!" Menunjuk ke arah kertas terakhir.
"Lagi-lagi ini adalah wanita yang sama seperti sebelumnya. Namun setelah ini ia sama sekali tak berpikir untuk memberi warna apapun. Yang ia lakukan hanyalah membiarkan semuanya berjalan seperti itu. Tetap diam ditempatnya. Namun kau lihat sendirikan Nak, semakin lama dibiarkan maka akan semakin kotor oleh debu atau kotoran lain. Hal ini tak membuatnya indah, namun hanya membuatnya semakin kotor bahkan rusak dengan sendirinya."
Lagi-lagi Melati menggambarkan kehidupan wanita yang telah digambarkan oleh Mina. Ia mulai membandingkan dengan dirinya sendiri. Perlahan ia mulai sadar dengan apa yang ia lakukan.
Ia mengambil semua kertas yang berjejer rapi itu. Memperhatikannya satu-satu, dan membandingkan lagi dengan kehidupan dirinya. Mina tersenyum melihat putinya yang dengan serius menatap semua gambarnya. Setidaknya dengan ini ia berharap ada sedikit kemajuan dalam diri Melati.
Perlahan Mina meninggalkan Melati untuk merenungkan semuanya.
__ADS_1