
Melati dan Farah menghampiri Fahmi yang tengah bersandar pada mobilnya menunggu mereka. Fahmi tersenyum melihat Farah yang begitu senangnya bahkan berjalan saja sambil berjingkak kecil.
"Hai putri Ayah, bagaimana hari pertamamu?" Tanya nya dengan mengusap rambut Farah.
"Sanat senan Yah, tadi Ibu Guyu najayin Fala nani. Kaya gini, dua mata saya, hidung saya satu,.." (Sangat senang Yah, tadi Ibu Guru ngajarin Farah nyanyi. Kaya gini, dua mata saya, hidung saya satu). Memperagakan yang telah di ajarakan oleh Gurunya.
Fahmi terkekeh geli melihat tingkah putrinya. Dengan cepat ia menggendongnya dan membukakan pintu untuk Melati.
Melati yang sedari tadi hanya memperhatikan keduanya langsung masuk ke dalam mobil. Disusul Farah yang ingin duduk di pangkuannya.
Sepanjang perjalanan Farah tidak ada hentinya berbicara. Bahkan Fahmi dibuat pusing karena bingung harus mendengarkan celotehan putrinya atau musik yang telah ia nyalakan. Akhirnya ia memutuskan untuk mematikan musik tersebut dan fokus mendengarkan putrinya.
***
Para pembantu yang melihat Fahmi dengan putri serta istrinya turut merasakan kebahagiaan yang tengah melanda mereka. Jika biasanya mereka akan melihat wajah Fahmi yang begitu lelah dan letih namun tidak dengan hari ini. Senyumnya terus terukir bersamaan dengan wajah ceria Farah.
"Assalamu'alaikum..." Ucap mereka begitu memasuki rumah tersebut.
"Wa'alaikumsalam.." Jawab mereka serempak.
Fahmi menghela nafasnya tatkala memasuki kamarnya. Bukan hal yang jarang jika Fahmi pulang tak mendapati istrinya di rumah. Sasa selalu saja pulang dua bahkan sampai tiga jam setelah suaminya di rumah. Bahkan akhir-akhir ia bisa pulang sampai hari telah gelap.
Bukan Fahmi yang membiarkan istrinya berlaku demikian, hanya saja sudah sangat sering ia meminta agar istrinya berhenti untuk bekerja. Namun Sasa selalu saja memberinya alasan bosan jika berada di rumah.
Jika sudah seperti ini, ia harus memanggil salah satu pembantunya untuk menyiapkan air hangat dan lain-lain. Namun seketika ia teringat akan Melati, sebenarnya hatinya sedikit ragu untuk meminta bantuannya. Mungkin saja Melati akan berlaku seperti Sasa istri pertamanya.
__ADS_1
Namun ia juga ingin sekali merasakan untuk dilayani oleh istrinya. Ia selalu iri melihat Ayahnya yang dilayani dengan baik oleh Ibunya.
Tok tok tok. Ketuk Fahmi di depan kamar Melati.
Ceklek. Pintu terbuka dan nampaklah Melati yang dengan cantiknya dengan rambut yang dikucir. Ia memang suka mengucir rambutnya agar tak terlalu merasakan gerah saat berhijab.
Seketika Fahmi terpana melihat wajah Melati. Melati yang bingung dengan diamnya sikap Mas Fahmi terheran-heran. Ia belum menyadari bahwa ia sedang tak berhijab. Toh sudah menjadi kebiasaannya di rumah yang jarang memakai hijab.
"Maaf Mas, apa ada sesuatu yang kau butuhkan?"
"Eh, iya itu Melati. Maukah kau menyiapkan air hangat dan pakaian untukku. Kumohon aku sangat lelah hari ini." Jarak antara sekolah Farah dan Perusahaannya lumayan jauh. Hal itu juga membuatnya lelah ditambah lagi jarak dengan rumahnya.
"Tentu Mas," jawab kikuk Melati. Sebenarnya hatinya bertanya-tanya mengapa Fahmi tidak memintanya kepada istri pertamanya. Namun ia tak berani jika harus mengutarakan pertanyaannya pada suaminya.
Fahmi spontan menangkap Melati yang hampir saja jatuh. Keadaan kamar mandi yang basah membuat kakinya juga basah. Hingga saat ia keluar membuat lantai yang dipijaknya juga licin.
Hening dengan tiba-tiba datang menemani mereka. Hingga suara seseorang mengagetkan mereka karena begitu memekik pendengaran.
"Mas Fahmi!!" Serunya lantang, kedua tangannya mengepal. Matanya juga memerah menahan amarah.
Sontak Fahmi mengangkat pelan tubuh Melati dan menjauhkan tubuhnya. Begitupun Melati, ia terlihat sangat ketakutan dan tidak enak.
"Kau berani-beraninya kau masuk ke kamarku dan suamiku. Benar-benar wanita tidak tahu diuntung. Apa karena aku hanya bersikap diam hingga kau melunjak seperti ini. Dan apa ini, kau bahkan berpakaian seperti ini!!" Hardik Sasa dengan mencekal kuat pergelangan tangan Melati.
Melati terkejut dan memperhatikan penampilannya. Ia hanya menggunakan kaos panjang agak ketat dan celana panjang. Ia merutuki dirinya sendiri yang lupa dengan penampilannya. Bahkan ia tidak berhijab.
__ADS_1
"Sayang dia hanya membantuku untuk menyiapkan air hangat." Tutur lembut Mas Fahmi menenangkan istri pertamanya.
"Membantu?!, Apa maksudmu membantu?!, Dengan berpenampilan seperti ini, bahkan kau tadi memeluknya Mas!!" Sungut Sasa yang masih dilanda amarah yang memuncak.
"Maaf Mba, Mas Fahmi benar. Saya hanya membantunya untuk mempersiapkan air hangat." Melati meringis karena tangannya yang lumayan terasa sakit.
"Alah tidak usah beralasan. Segala keperluan Mas Fahmi itu biasanya dilakukan oleh pembantu jika aku tidak ada. Kau hanya mencari-cari kesempatan kan karena aku yang tidak ada di rumah!!" Bentak Sasa semakin berapi-api.
"Sayang sudahlah sayang. Aku tadi hanya membantunya agar tidak terjatuh." Ucap Fahmi halus dengan memegang kedua bahu Sasa.
"Tapi jika kejadian itu terus berulang, perasaan cinta bisa tumbuh di antara kalian. Dan kau akan berpaling dariku Mas!" Ujar Sasa dengan mata yang memerah bahkan mengembun.
"Tidak Sayang. Aku tak akan pernah berpaling darimu, kau tenang ya." Fahmi memeluk sayang Sasa. Perlahan cekalan tangan Sasa mengendur dan membalas pelukan suaminya.
Deg. Begitu perih yang Melati rasakan saat ini. Memang ia akui bahwa ia belum memiliki perasaan apapun pada Fahmi. Namun tetap saja Fahmi adalah suaminya, dan siapapun pasti sakit melihat suaminya bersama dengan wanita lain meski wanita itu adalah istrinya.
Namun apa haknya untuk melarang. Ia hanyalah nomor dua di sini. Dan memang seharusnya ia tak ada di antara pasangan suami istri di hadapannya. Perlahan, Melati melangkah dengan pelan menjauh dari mereka.
Sungguh saat ini ia ingin segera berada di bulan ke sembilan kandungannya. Agar dengan cepat ia pergi dari kehidupan Fahmi dan Sasa. Baru saja di hari pertama batinnya begitu tersiksa melihat semuanya.
Melati merosot terduduk lemas di balik pintu kamarnya. Isakan pilu terdengar dari mulutnya. Namun berusaha ia tahan dengan menutup mulutnya. Seketika ia teringat pada Ibu sambungnya yaitu Mina.
Ia baru menyadari bahwa dirinya juga bernasib sama dengan Ibu sambungnya. Menikah karena tanggung jawab, dan pelakunya sendiri sudah memiliki keluarga. Apakah ini semua adalah balasan dari semua perilaku tak baiknya pada Mina.
Sungguh perasaan menyesal kian mendera di hatinya. Bisa ia rasakan begitu sakitnya berada di posisi saat ini. Cukup lama Melati terisak, ia pun bangkit. Dengan gontai ia berjalan menuju kamar mandi. Ingin rasanya ia berendam dan sedikit merilekskan tubuh letihnya.
__ADS_1