
Fahmi melangkah masuk menuju perusahan tempatnya bekerja, beberapa orang memusatkan perhatiannya pada ketampanan Fahmi. Sebenarnya banyak pula yang mengidamkannya.
Namun mereka tak dapat mendekati Fahmi, mereka mengetahui bagaimana perasaan putri dari bos mereka. Tentu mereka lebih memilih mundur dari pada menantang tuan putri itu.
Hari ini mereka begitu terkejut, melihat wanita yang tengah menggandeng lengan Fahmi. Bahkan hampir setiap pria memandang ke arah wanita tersebut.
Bagaimana tidak, di saat wanita lain berusaha tampil cantik dengan balutan dress yang menggoda namun masih batas kewajaran. Wanita tersebut justru tampil begitu tertutup.
Polesan di wajahnya pun begitu sederhana namun menenangkan bagi siapapun yang memandangnya. Melihat semua pria yang menatap kagum istrinya, Fahmi semakin mempererat pegangan mereka.
Luna yang sedari tadi menunggu kedatangan Fahmi begitu senang mendapati Fahmi yang berada di hadapannya. Namun seketika ia merasa geram melihat Melati yang tengah tersenyum manis padanya.
Meski Melati bersikap ramah seperti itu, namun entah kenapa dalam pandangannya arti dari senyuman itu lebih condong ke arah mengejek. Ia lebih membuang muka saat itu.
"Sayang lihatlah, dia adalah Tuan Harry Yovindra. Atasan Mas di sini-" Ujar Fahmi memberitahu namun terpotong oleh perkataan Melati.
"Dan yang di sampingnya adalah putrinya. Wanita yang sangat tergila-gila padamu kan?" Kesal Melati namun masih memperlihatkan wajah yang sangat ramah.
Memang setiap karyawan yang memiliki pasangan, diperkenankan hadir untuk acara ini.
"I-iya sayang." Jawab Fahmi tergagap, "Baiklah ayo aku kenalkan kau dengannya." Lanjutnya mengajak Melati menghampiri sang atasan.
"Hallo Tuan.." Sapa Fahmi ramah.
Tuan Yovindra tersenyum dan mengangguk.
"Ini istriku, namanya Melati. Melati ini bosku, Tuan Yovindra namanya." Ucap Fahmi memperkenalkan istrinya. Melati yang ditunjuk pun tersenyum dan mengangguk. Serta menangkup kedua tangannya di depan dada.
"Wah kau pandai memilih istri ternyata Fahmi, seleramu benar-benar bagus." Puji Tuan Yovindra.
"Terimakasih Tuan."
Lagi-lagi Tuan Yovindra mengangguk, "Oh silahkan nikmati pestanya, saya harus menemui yang lain."
"Baik Tuan, silahkan." Pungkas Fahmi memberi jalan pada Tuannya.
Sedangkan Melati sesekali ia memperhatikan wajah Luna yang tak pernah menatapnya. Ia hanya tersenyum sinis, dan tak pernah melepaskan genggaman suaminya.
Tak berapa lama, Angga naik ke podium dan meminta perhatian dari semua yang hadir. Ia meminta semuanya untuk berdansa dengan pasangannya masing-masing.
Fahmi tentu tak mengikuti hal tersebut, lantaran istrinya tak akan ia biarkan untuk meliuk-liukkan badannya di hadapan banyak orang. Lagi pula ia juga melihat sepertinya, istrinya itu tidak enak badan.
Melihat lampu yang begitu terang serta musik yang menggema tak jelas di telinga Melati membuatnya pusing. Apalagi juga banyak minuman yang begitu asing di hidungnya. Tiba-tiba ia merasakan perut yang di aduk isinya begitu hebat. Ia memegang tangan suaminya.
"Mas.. a-aku," lirihnya. Fahmi yang melihat begitu panik, tanpa menunggu lama ia membawa istrinya menuju toilet. Dapat ia lihat wajah istrinya yang ingin sekali muntah.
"Hoekk.., hoeekk...," Tanpa jijik, Fahmi mengusap tengkuk istrinya dan memijitnya pelan.
Lima menit setelahnya, Melati sudah merasa mendingan. Ia menatap wajah Mas Fahmi sendu dan memeluknya.
"Sayang, kita pulang saja yah. Aku tidak ingin melihatmu seperti ini." Ajaknya memeluk erat tubuh istrinya.
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan pestanya Mas?"
"Kau lebih penting dari segalanya Mel, lagipula aku sudah sering menghadiri pesta seperti ini. Kau tidak perlu khawatir. Cukup dengarkan aku yah."
"Baiklah aku ikut kau saja." Pasrah Melati.
Fahmi menuntun istrinya pergi keluar dari pesta tersebut. Di tengah perjalanan menuju parkir, ponselnya berdering namun ia tak menghiraukannya. Yang terpenting saat ini adalah istrinya. Masa bodo dengan yang lain.
Ia membukakan pintu untuk istrinya, "Sayang hati-hati." Titahnya memegang kepala sang istri agar tidak terbentur oleh pintu. Kemudian memutari mobil tersebut dan duduk di kursi kemudi.
Tak butuh waktu yang lama untuk mereka sampai ke rumah. Fahmi memapah istrinya yang semakin terlihat lemah tak berdaya.
"Sayang kau tiduran dulu yah, biar aku buatkan minuman jahe hangat. Agar perutmu tak terlalu mual." Tuturnya membaringkan Melati di ranjang.
"Iya Mas, maaf merepotkanmu." Sahut Melati bersalah.
"Tidak apa-apa sayang, baik-baik yah." Tuturnya lembut dan mencium pucuk kepala sang istri.
Tak lama Melati berbaring, datanglah suaminya dengan secangkir teh jahe hangat. Ia pun duduk bersandar di dinding ranjang tersebut.
"Minumlah dulu sayang, pelan-pelan." Sembari menuntun istrinya untuk minum, Fahmi mengelus lembut perut rata istrinya. Membuat Melati begitu tenang.
"Terimakasih kasih sayang." Ucap Melati.
Fahmi mengangguk dan meletakkan gelas tersebut di atas nakas. Tatkala ia sibuk mengurus istrinya, ponsel di sakunya kembali berdering. Ternyata atasannya.
"Fahmi dimana kamu?" Tuan Yovindra langsung melontarkan pertanyaan begitu tahu panggilnya di angkat.
"Maaf Tuan, saya sedang berada di rumah. Istri saya tiba-tiba tidak enak badan." Jawab Fahmi jujur.
"Tapi Tuan istri saya..." Memandang istrinya. Melati yang ditatap seperti itu segera tersenyum, dan mengusap tangan suaminya.
"Pergilah Mas." Lirihnya tersenyum.
Fahmi menghembuskan nafasnya panjang, "Baiklah Tuan, saya akan segera ke sana."
"Baiklah cepat ya, aku menunggu."
Tuut, sambungan telepon terputus.
"Sayang kau benar-benar tidak apa? Kau sedang sakit sayang."
"Aku tidak apa-apa Mas, lagipula aku tidak sendirian di sini. Ada Bi Marni dan anak-anak." Jawab Melati meyakinkan suaminya.
"Benar kau tidak apa-apa?"
"Iya Mas, tidak apa-apa."
"Baiklah aku pergi ya, jika ada apa-apa cepat kabari aku."
"Iya Suamiku tertampan."
__ADS_1
Cup. Fahmi mendaratkan ciuman di kening istrinya dan berlalu dari kamar tersebut.
***
Luna menghampiri Fahmi begitu tahu Fahmi hanya sendirian. Ia tidak tahu saja, bahwa Fahmi sempat pulang tadi mengantar istrinya.
"Mas kau sendiri saja? Dimana istrimu?" Tanya Luna celingukan.
"Dia sedang berada di rumah. Tidak enak badan." Jawab Fahmi singkat.
Senyum terbit di wajah Luna, "Ouh begitu yah."
"Fahmi!" Seru Tuan Yovindra pada Fahmi.
"Saya permisi nona," pamit Fahmi pada Luna dan menghampiri atasannya.
"Menarik sekali, baiklah aku harus melakukan ini sekali lagi Mas. Sampai kapanpun aku tak dapat melepaskanmu begitu saja." Gumamnya tersenyum licik menatap Fahmi yang sedang bercengkrama dengan beberapa orang penting.
Luna pergi menuju ruang konsumsi. Ia menyiapkan sesuatu untuk seseorang. Wanita itu melihat sekelilingnya, ternyata sepi. Diam-diam ia mengambil sesuatu di dalam tasnya dan menuangkan sesuatu ke minuman yang tadi ia buat.
______________
Jangan lupa mampir yah ke karya Author yang lain. Judulnya 'Kau Bukan Untukku'
Hatinya telah merangkak untuk menggapai cintamu, pilihannya kau akan tetap menggenggam tanganku yang tidak sempurna ini atau mengulurkan tanganmu untuknya dan membuat hidupmu sempurna.
Aisyah
Diatas ****** masih ada ******.
Jihan
Deg, kenapa rasanya sakit sekali. Bukankah aku terbiasa
dikatakan seperti itu.
Yoga
Kumohon beri aku kesempatan, jangan buat aku gila dengan perpisahan ini
Ikfi
Aku menerimamu apa adanya Aish.
Kesempurnaan tidak untuk dicari,
Namun apa yang kita punyalah yang harus kita syukuri.
________
__ADS_1
Ditunggu ya ;)
Follow Ig; @nick_mlsft