
"Hehe maaf deh El,.." Ujar Melati meringis.
"Emang kamu cukup makan segitu tadi, gimana loe juga bantuin gue makan. Nih.." Menyerahkan salah satu bungkus makanannya.
"Emm, gimana ya El. Ya udah deh sini saya makan." Melati yang memang masih lapar terima saja pemberian Elisa.
"Thanks ya.." Lanjutnya sebelum memasukkan makanannya.
Sedang Elisa hanya mengangguk menanggapi, makanan yang ia kunyah masih penuh di dalam rongga mulutnya. Mereka kembali tak berbicara sampai makanan mereka habis.
"Eh, by the way loe kenapa dari tadi pagi murung aja?" Elisa membersihkan sampah-sampah yang ia kumpulkan tadi ke dalam plastik.
"Emm gimana ya, saya juga pengen ngejelasin ke kamunya. Tapi males kalo diinget-inget. Pokoknya saya jadi bad mood banget deh.." Jawab Melati sedih.
Elisa yang melihatnya jadi tak enak hati. Ia langsung saja mengalihkan pembicaraan mereka.
"Eh gue buang ini dulu ya." Menunjukkan sampah plastik di tangannya.
Melati tersenyum, "Iya El,.." Sebenarnya Melati juga tahu bahwa Elisa menghindari dirinya karena merasa canggung.
Elisa langsung saja pergi dari hadapan Melati. Ia pergi keluar. Sempat ragu ketika ia ingin masuk ke ruang kelasnya, namun beruntung bel tanda masuk berbunyi, jadi ia bisa menghilangkan kecanggungan diantaranya dengan Melati. Ia sendiri bukanlah tipe orang yang sering meminta maaf. Jadi begitulah, dia akan memberikan sesuatu hadiah sebagai ungkapan maaf tanpa mengatakan maaf.
________
Disuguhkan adegan romantis antara Ayah dan Ibu sambungnya, Melati benar-benar geram dibuatnya. Bagaimana tidak, ia baru saja pulang sekolah yang lelah akan pikirannya.
__ADS_1
Dimana sang Ayah tengah terbaring yang kepalanya ia taruh di paha Ibu Mina. Dan sesekali mereka bercanda ria di ruang keluarga itu.
Melati diam dan sengaja menghentakkan kakinya melewati pasangan suami istri itu. Ikhsan yang melihatnya segera bangun dan memanggil putrinya.
"Nak kamu sudah pulang?" Tanyanya yang sama sekali tak mendapat respon dari sang putri. Melati terus saja berjalan melangkah ke kamarnya tanpa memedulikan sang Ayah.
Ikhsan menghela nafas panjang, lalu Mina sang istri mengelus bahunya lembut. Ia memasang senyum terindahnya. Ikhsan menjadi sedikit lega dan membalas senyum sang istri. Ia juga menggenggam tangan yang berada di pundaknya dan mengecupnya singkat.
Alif yang juga baru sampai juga melihat keberadaan Ayah dan Ibu sambungnya. Ia tersenyum tipis dan mencium punggung kedua tangan pasangan suami istri itu. Lalu melenggang pergi menuju kamarnya.
Melati menghempaskan tubuhnya kasar ke atas ranjang miliknya. Ia juga membuang nafas kasar, memandang kosong langit-langit kamarnya. Cukup lama ia termenung, pikirannya juga entah sedang pergi kemana. Selalu saja berpindah-pindah.
Bayang demi bayangan seketika terlintas dalam benaknya. Tentang bagaimana kebersamaannya dengan sang Bunda, lalu tiba-tiba melompat ke tempat dimana Ayahnya memperkenalkan Ibu tiri, kembali lagi ke Bundanya. Terus saja berputar-putar, air matanya tak menetes. Mungkin sudah terlalu banyak yang telah ia keluarkan. Ia hanya lelah dengan semua ini. Hanya ketenangan yang ia inginkan saat ini. Perlahan ia mulai menutup matanya dan terlelap begitu saja.
Dalam seminggu ini, Melati menjadi pribadi yang lebih pendiam. Di sekolah maupun di rumah, teman dan Kakaknya yang berusaha mengajaknya berbicara sama sekali tak ditanggapi oleh Melati. Hanya sesekali ia menggeleng mendengar pertanyaan atau sapaan yang dituturkan oleh orang-orang di sekitarnya.
Entah apa yang Melati kini rasakan. Ia bak manusia tanpa jiwa. Raganya memang sangat utuh tak lecet sedikitpun. Kadang ia berpikir untuk apa ia menjalani hidup saat ini. Namun juga tak pernah terpikirkan olehnya untuk mengakhiri hidupnya.
Namun ada hal yang berbeda saat ini yang ia rasakan. Ia bahkan menutup matanya karena begitu menikmati keadaan saat ini, dan membuat orang-orang menatap aneh dirinya. Perlahan ia membuka matanya kembali dan fokus mendengarkan lantunan adzan yang dikumandangkan oleh seorang Muadzin.
Ia melangkahkan kakinya berbalik arah menuju sumber suara. Sebenarnya ia tadi sedang berada di dalam perjalanan pulang ke rumahnya setelah membeli beberapa perlengkapan dirinya di sebuah minimarket.
Dalam perjalanan ia begitu menikmati ketenangan di dalam hatinya. Senyumnya merekah sempurna. Seketika ia berpikir, setelah kejadian demi kejadian yang telah dia alami di hidupnya membuatnya lupa pada sang Maha Kuasa.
Ia terus mengeluh, terus merasa sakit, merasa sesak, merasa sendiri. Padahal ada tempat yang terbaik untuknya mencurahkan segala isi hatinya. Namun hatinya terus saja tertutupi oleh egonya sendiri. Selalu memikirkan bahwa tak ada lagi yang menyayanginya. Semua orang yang menjauhinya. Padahal ia sendiri yang tak mau membuka matanya lebar-lebar.
__ADS_1
Ia berdiri mematung sesaat sampai depan sebuah bangunan dimana tempat orang-orang beribadah. Banyak orang berlalu lalang memasuki Masjid di hadapannya. Melihat banyaknya orang yang menutup aurat, sedangkan ia. Sedari dulu Bundanya selalu memintanya hal demikian.
Seketika air matanya menetes karena sampai Bundanya tutup usia, ia masih belum bisa memenuhi permintaannya. Apa sulitnya menutup aurat, apa yang ia tunggu, kesiapan hati kah?, Apakan malaikat pencabut nyawa akan menunggunya siap dahulu begitu?.
Entahlah, mungkin Melati masih merasa gengsi pada teman-temannya yang memang kebanyakan tak menutup auratnya. Muncul sedikit rasa takut akan ditinggalkan oleh teman-temannya. Karena memang mengingat saat ini teman-temannya lah yang membuatnya masih bisa tersenyum
Tapi mengapa jika hal demikian memang terjadi, bukankah ketika ia mati juga hanya seorang diri. Keluarga, harta bahkan temannya tak akan ada yang bersedia menemaninya. Hanya amal dan perbuatan kita yang akan menentukan nasib bagaimana kehidupan setelahnya.
Lamunannya terhenti saat seseorang menepuk bahunya.
"Kenapa kamu teh masih disini?, Hayuk atuh masuk.." Ajak seorang wanita paruh baya dengan logat sundanya. Entah orang baru yang pindah atau memang sudah menetap di ibu kota ini sejak lama.
"Emm, i..iya Bu.." Melati mengangguk sopan, dan memundurkan langkahnya untuk mempersilahkan dahulu wanita yang mungkin sudah berkepala empat itu untuk memasuki Masjid.
Wanita itu tersenyum, lalu mendahului Melati. Sedang Melati terlebih dahulu pergi ke tempat wudhu. Sebenarnya ia merasa insecure dengan orang-orang di sekitarnya. Karena sejauh ini hanya ia yang masih belum membalut rambutnya dengan hijab. Bahkan ada yang memandangnya sinis. Namun ia tak memperdulikan hal itu. Toh yang pertama kali ia niatkan bukan untuk orang lain. Ia ingin menghadap pada Tuhannya.
***
Untuk pertama kalinya setelah insiden Ayahnya yang membawa Mina ke rumahnya lepas. Melati datang menghampiri keluarganya yang tengah duduk di ruang makan untuk makan malam.
Terang saja, hal itu membuat seluruh orang yang ada di sana terkejut. Pasalnya setiap hari ia selalu dibujuk oleh Kakaknya Alif tidak mau hingga Alif sendiri sudah sampai bosan membujuk dan mengajaknya.
Namun hari ini, ada apa dengan Melati. Ikhsan yang melihatnya juga sangat terkejut dan heran menatap Melati. Namun melihat aura wajah Melati yang tak seperti biasanya yang selalu memandangnya sinis dan benci kini berubah menjadi datar. Ikhsan sedikit menarik sudut bibirnya. Meski tak melihat senyum di wajah putrinya itu, setidaknya saat ini sudah mulai ada kemajuan. Putrinya tak lagi memandangnya sinis. Tak terlihat sorotan wajah kebencian itu lagi.
"Melati.." Panggilnya sangat lembut.
__ADS_1