Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 95 (END)


__ADS_3

"Bismillahirrahmanirrahim, aku menerima lamaranmu Kak Azein. Dan Insyaallah aku bersedia menjadi istrimu sepenuhnya." Ucap Humaira mantap namun masih gugup.


Semua yang mendengar pernyataan dari Humaira mengucapakan syukur. Kedua orang tuanya dan Kakaknya serta Melati yang juga hadir di kediaman Al-Farizi.


Kemarin malam, Ayah Faris meminta mereka untuk datang ke rumah mereka, lantaran keluarga Azein akan datang untuk melamar Humaira.


"Alhamdulillah," ucap mereka bersamaan.


"Akhirnya kita mendapatkan menantu ya Yah, cantik dan Sholehah pula." Ungkap Ibunya Azein pada suaminya.


"Iya Bun, semoga semua lancar ya." Sahut sang suami menggenggam tangannya dan menatap besannya


Faris dan Mita yang mendengarnya pun tersenyum, "Kami juga beruntung mendapatkan menantu seperti Nak Azein." Ujar Faris.


Di saat semua tengah bercakap-cakap untuk pernikahannya, Azein pamit undur diri sebentar untuk keluar. Sedari tadi ia menatap Melati yang tersenyum cerah, hatinya masih sedikit sesak melihatnya senyuman itu memiliki arti lain.


"Humaira maafkan aku, bukan maksudku untuk masih mencintai wanita lain saat ini. Namun yang namanya hati, tidak mudah untuk menghilangkan rasa itu. Jujur aku pun sudah mulai mencintaimu dan berharap cinta itu akan tumbuh lebih besar dari rasa cintaku pada Melati." Gumam Azein menatap pemandangan asri di samping rumah Humaira.


Tak lama, seseorang datang menepuk bahunya. Ia mengedarkan pandangannya kepada pemilik tangan yang menepuk bahunya itu. Ternyata Fahmi, calon Kakak iparnya.


"Sedang apa kau di sini?" Tanya Fahmi seraya duduk di samping Azein.


"Em tidak Mas, hanya sedang mencari udara segar saja." Jawab Azein tersenyum.


"Bukan karena tak ingin melihat istriku? Atau berat hati karena melamar adikku?" Fahmi menatap intens pria di sampingnya.


Azein gugup dibuatnya, namun ia berusaha menetralkan perasaannya. "Maaf Mas, bukan seperti itu."


"Sudahlah sob, aku tahu kau melakukan ini karena desakan dan tuntutan untuk menimang cuci dari orang tuamu bukan? Kebetulan karena akhir-akhir ini kau dekat dengan Maira hingga membuat mereka memilih Maira untuk menjadi menantu mereka."


Azein menghela nafasnya dan memandang lurus. "Aku memang tak menyangkalnya Mas, namun perasaanku pada Humaira pun kian tumbuh dan kuat. Meski aku akui belum sepenuhnya dapat menggeser posisi istrimu di hatiku namun aku yakin bahwa Humaira lah takdirku.


Tak mungkin juga kan, aku mengharapkan wanita yang sangat aku cintai. Sedangkan kemungkinan untuk memilikinya saja sudah sangat kecil." Terang Azein.


Fahmi mengangguk dan tersenyum, "Aku tahu, seberapa pun b**ng***nya aku. Aku tetaplah seorang Kakak yang menyayangi adiknya. Kuharap kau dapat membahagiakan adikku dan tidak menyakitinya." Harap Fahmi dengan penuh.


"Aku akan berusaha membahagiakan Humaira Kak. Aku tak pernah main-main dalam memilih keputusan. Kau tak perlu khawatir, aku akan menjaganya dengan sangat." Jawab Azein sungguh-sungguh.


Senyum pun terbit dari wajah Fahmi, dan ia menepuk bahu Azein. "Terimakasih Azein, kau benar-benar pria yang baik. Ayo kita masuk, mereka sedang membicarakan pernikahanmu." Ajaknya.


Azein mengangguk dan bersama-sama memasuki rumah tersebut.


Melati melihat keduanya yang baru saja masuk. "Kau darimana saja Mas?" Tanya Melati.


"Hanya keluar sebentar sayang. Kenapa?"


"Tidak apa-apa, hanya.." Melati tak melanjutkan kalimatnya karena malu, selain itu juga karena ada Azein di belakang suaminya.


"Rindu? Aku tahu kau pasti merindukanku. Ck, baru juga sebentar aku tinggal, bahkan tak sampai setengah jam."


"Tidak ada yang mengatakan rindu ya Mas, sudahlah sebaiknya kita masuk. Ayah dan Bunda sedang serius membicarakan tentang pernikahan Maira." Ajak Melati dengan wajah merona.


"Baiklah baik."


Azein menatap keduanya, " Setelah apa yang menimpamu kau memang berhak bahagia Melati. Meski bukan denganku, aku pun berharap dapat hidup dengan tenang bersama Humaira tanpa bayang-bayangmu." Gumamnya lirih dan menyusul mereka.

__ADS_1


***


Dua bulan kemudian


Melati menggandeng tangan suaminya menuju pelaminan. Hari ini ia begitu cantik dengan gamis brokat berwarna silver, suaminya pun tampak begitu tampan dengan warna jas yang senada dengan Melati.


Mereka memberi selamat pada pengantin baru yang sama-sama saling tersenyum bahagia.


Fahmi menyalami tangan Azein, "Kau jagalah adikku ya Azein dan semoga menjadi pernikahan yang sakinah mawadah dan warahmah." Harap Fahmi tulus.


Azein tersenyum menanggapi. "Aku akan berusaha menjaga dengan baik dan membuatnya bahagia Mas, terimakasih atas doanya."


Giliran Melati yang berhadapan dengan Azein. Ia menangkupkan tangannya di depan dada. "Semoga bahagia selalu ya Kak." Ucapnya tulus dan tersenyum.


"Iya Mel." Jawab Azein tersenyum. Dan Melati mengangguk.


Fahmi memeluk adiknya erat, seketika tangis Humaira pecah. Ia membalas erat pelukan sang Kakak.


"Jadilah istri yang baik dek, kau sudah menjadi seorang istri sekarang. Semua titah suamimu harus kau patuhi sekarang, selama itu masih dalam hal-hal yang baik. Suamimu adalah prioritasmu sekarang." Ujar Fahmi mengelus lembut punggung adiknya.


"Iya Kak, doakan aku selalu yah." Balas Maira dalam dekapan Kakaknya. Fahmi mengangguk dan mencium kening Maira lama. Lalu melepas pelukannya.


Melati tersenyum melihat keduanya dan ia pun memeluk sahabatnya sayang.


"Bahagia selalu ya Mai, semoga langgeng sampai akhir nafas kalian nanti." Tutur Melati.


"Iya Mel, makasih banyak yah."


Mereka berpelukan cukup lama, dan melepaskan saat Fahmi mengelus punggung istrinya.


Lalu mereka turun dan menghampiri tamu undangan yang lain. Tanpa Melati duga, ternyata Elisa juga hadir di sini dan sedang bersama dengan Aaz. Yang membuatnya terkejut ialah, sekarang Elisa sudah tampil berbeda, rambut yang biasa tergerai indah kini terbalut oleh hijab. Dengan perasan senang ia menghampiri kedua sahabatnya.


"Mas aku pergi sebentar yah." Pamitnya pada sang suami.


"Iya sayang, hati-hati jangan terlalu cepat jalannya. Ingat kau sedang hamil."


Melati mengangguk dan berjalan ke arah Elisa.


"Elisa," panggilnya lembut. Sang empu menoleh kepadanya.


"Eh Melati." Sahut Elisa tersenyum dan dengan mata berkaca-kaca ia memeluk erat tubuh Melati.


"Maafkan aku." Ucapnya lirih.


Melati memandang Aaz, sahabatnya itu melemparkan senyum bahagia. Tangannya pun terulur mengelus punggung Elisa.


"Aku sudah memaafkanmu dari dahulu El." Jawab Melati tulus.


"Kalian benar-benar sahabatku yang terbaik." Ujar Elisa memeluk Melati dan Aaz.


Mereka berbincang cukup lama, mengingat bagaimana mereka dulu dan Elisa yang berkali-kali mengucapakan kata maaf.


Lalu pandangan Melati beralih ke wajah Fahmi yang nampak agak murung namun berusaha ia tutupi dengan senyuman. Merasa aneh, Melati pun berniat menghampirinya.


"Maaf Az, El, aku harus pergi sebentar. Tak apa kan?"

__ADS_1


"Tentu Mel, pergilah." Jawab Aaz dan Elisa tersenyum mengangguk.


"Mas," panggil Melati lembut.


Fahmi menatap ke arahnya. "Iya Mel, ada apa? Apa kau lelah? Jika ia kita istirahat saja yah."


"Tidak Mas, mengapa kau terlihat murung?"


"A-aku tidak apa-apa. Mana mungkin aku murung di hari pernikahan adikku sendiri." Jawab Fahmi kikuk.


Namun Melati tak percaya begitu saja, ia pun menarik tangan suaminya dan membawanya menuju balkon hotel tersebut.


"Katakan suamiku! Apa yang membuatmu murung seperti itu?" Tanya nya setelah sampai.


"Sudah kukatakan aku tidak apa-apa sayang."


"Aku sudah mengenalmu hampir dua tahun Mas, kau tahu aku tak begitu bodoh hingga tak menyadari raut wajahmu."


Fahmi menghembuskan nafasnya kasar, "Baiklah, sebenarnya aku hanya merasa tak percaya diri."


Alis Melati terangkat satu. "Mengapa kau berpikiran seperti itu?" Tanya Melati heran.


Fahmi memandang ke arah jalanan kota. "Aku tak merasa percaya diri melihat pria seperti Azein dan Kakakmu. Aku sama sekali tak ada apa-apanya dibanding mereka. Orang-orang itu benar, aku sama sekali tak pantas bersanding denganmu.


Aku benar-benar merasa kerdil sekarang, kau wanita yang sangat baik. Dan tidak-" Melati menutup mulut suaminya dengan tangannya.


"Memang ada orang lain yang lebih tampan darimu. Memang ada orang lain yang lebih baik darimu. Memang ada yang lebih sempurna darimu. Memang ada orang lain yang lebih sholeh darimu.


Dan kau?, Apa yang kau katakan tadi?, Biarkan orang lain berbicara apa, biarkan orang lain menilai sesuka mereka, biarkan orang lain berkata apa. Namun jangan pernah kau hiraukan mereka. Satu hal yang harus kau lakukan. Camkan kata-kataku baik-baik.


Bukan tentang bagaimana cara menjadi yang terbaik, bukan tentang bagaimana menjadi sempurna, bukan tentang bagaimana menjadi pasangan serasi atau lainnya. Tapi tentang bagaimana kita menjalani semuanya. Meski orang mengatakan bahwa kita tak patut bersama.


Kita, aku dan kamu, adalah pemeran utama dalam kisah ini. Kau sendiri yang mengatakan itu dulu bukan? Biarlah Tuhan yang menilai. Dan yakinkan dirimu untuk mencari perhatian-Nya dengan menjalankan pernikahan ini dengan baik hingga menuju surga-Nya.


Kita yang menjalani, kita yang mempunyai hubungan, kita yang sama-sama tahu buruk dan baik masing-masing. Dan itu semua sudah diatur oleh Yang di atas. Dengan berbagai macam krikil yang harus kita injak dahulu untuk menuju sekarang, dengan macam-macam duri yang tiba-tiba muncul dan menancap di hati kita dahulu untuk menuju sekarang.


Dan kau tadi kau mengatakan apa?, Ada yang lebih baik darimu?, Memang benar, tapi bagiku tidak. Hanya kau By. Entah bagaimana caranya aku menggambarkan rasa cintaku padamu karena rasa itu selalu tumbuh setiap detiknya. Namun satu hal yang saat ini ada dalam benakku tentangmu yaitu.., kau meragukan kepercayaanku." Lirihnya di akhir kalimat.


"Tidak sayang, jangan berkata seperti itu. Aku sama sekali tak pernah meragukanmu. Aku sangat mempercayaimu dan mencintaiku, maafkan aku sayang." Fahmi merengkuh erat tubuh Melati.


"Mas berjanjilah kau tak akan pernah membandingkan dirimu dengan orang lain, dan jangan pernah tinggalkan aku!" Pintanya dengan sangat.


"Iya sayang aku berjanji. Karena aku sendiri pun tak mampu jauh-jauh darimu."


Fahmi menatap wajah istrinya yang telah berhias air mata. Dengan lembut ia hapus lelehan di pipi istrinya, make up nya memang sedikit luntur namun tetap saja kecantikannya tak dapat menguranginya.


Dengan perasaan cinta yang begitu dalam ia benamkan dan selami bibirnya di wajah sang istri. Melati mengeratkan pelukannya dan menanggapi sentuhan suaminya dengan perasaan yang sama.


Meski hari ini ada pengantin baru yang akan membuka lembaran baru mereka dengan kisah indah penuh warna. Namun keduanya juga tak mau kalah, mereka menuangkan kisah mereka dengan cara mereka sendiri.


..._____ TAMAT ___...


Author tidak menyangka dapat menyelesaikan novel ini, semua ini tidak terlepas dari dukungan kalian semua.


Terimakasih yang sudah mau berkenan membaca karya receh Author ini, dan juga yang memberikan dukungan untuk Author.

__ADS_1


Author sangat-sangat berterimakasih pada kalian semua🤗🤗.


__ADS_2