
"Kak Alif..!" Panggil Melati dari kejauhan. Mas Fahmi langsung menghentikan langkah Melati yang begitu cepat. Bagaimanapun ia juga khawatir dengan Melati juga anak yang tengah dikandung istrinya.
Pria yang namanya telah dipanggil pun langsung menoleh. Ia melihat adiknya yang tengah dirangkul mesra oleh suaminya. Sebenarnya ia masih agak gedeg dengan suami adiknya itu, namun keadaan sedang tak memungkinkan ia bertengkar.
"Melati.." Ia langsung berdiri memeluk tubuh adiknya. Sudah lama ia tak melihat adiknya dan ia merasakan rindu. Apalagi ia juga selalu merasa gelisah ketika memikirkan Melati. Ia merasa cemas dengan bagaimana perlakuan istri pertama dari suami adiknya itu.
"Kau baik-baik saja?" Tanya nya cemas.
Melati mengangguk dan tersenyum, sorot matanya langsung berpindah ke arah sebuah pintu ruangan di hadapannya.
"Kak Ayah-"
"Dia sedang menemani Bunda Mel." Ucap Alif memotong pembicaraan Melati.
"Aku harap Bunda dan adik kita selamat ya Kak." Tutur Melati.
Alif mengangguk.
Tak lama, mereka mendengar suara tangisan bayi. Mereka meyakini bahwa itu adalah adik mereka. Dengan haru Alif dan Melati saling berpelukan. Fahmi yang melihatnya turut merasakan kebahagiaan tersebut.
Dengan antusias mereka memasuki ruangan tersebut setelah mendengarkan instruksi dari Dokter. Mereka melihat wajah tampan bayi tersebut. Meski lelaki, namun wajah Mina lebih dominan.
"Wah tampannya,.." ucap Melati gemas dengan mendaratkan ciuman bertubi-tubi di pipi sang adik. Disusul Alif.
Kedua orang tua tersebut tersenyum melihat tingkah kedua anaknya. Lalu mata Ikhsan menangkap sosok di samping putrinya. Fahmi yang merasakan diperhatikan ia melemparkan senyum tulusnya dan sedikit menunduk.
Ikhsan dan Mina membalasnya dengan senyum tipis. Bagaimanapun mereka masih geram mengingat semua yang terjadi.
Sejenak, Fahmi melihat bagaimana pedulinya Ayah mertuanya pada Ibu mertuanya. Ia melihat wajah Melati, pikirannya terlintas saat-saat Melati yang juga akan melahirkan.
Jujur saja, selama ini ia sangat ingin sekali untuk mengelus lembut perut sang istri. Ingin juga merasakan pertumbuhan sang janin. Mereka bahkan sangat jarang melakukan kontak fisik. Bahkan yang tadi saja ia tidak menyadarinya.
__ADS_1
Namun ia tak berani, melihat Melati yang jika berada di dekatnya saja terkadang Melati menunjukkan wajah yang merasa bersalah. Tentu saja, yang ada di pikiran Melati saat itu adalah madunya.
"Oh ya Yah, di rumah Husein dengan siapa?" Tanya Melati.
"Dia sedang mengikuti acara kemah di sekolahnya. Biasalah anak Pramuka." Jawab santai Ayahnya.
Melati mengangguk, ia melirik ke arah jam di pergelangan tangannya. Ternyata sudah cukup lama mereka berada di situ. Seketika pikirannya melayang ke putri sambungnya, karena biasanya putrinya tak dapat tidur jika tanpa mendengarkan dongeng yang ia ceritakan.
Ia melirik ke arah suaminya. "Mas kita pulang sekarang yah, aku mengkhawatirkan Farah."
"Bukankah dia sudah ada Anggi dan Elisa, sudah kau tidak perlu khawatir seperti itu." Fahmi menanggapi dengan santai.
"Tapi aku tidak tenang Mas," masih dalam mode khawatir.
"Oh iya Yah, sedari tadi kita hanya mengobrol. Apa Ayah sudah tahu ingin memberi nama apa untuk adikku ini?" Suara dari Alif membuat Melati berpaling menatap ke arahnya.
"Oh ya Nak, kau benar. Ayah memang telah mempersiapkannya dengan Ibumu." Ikhsan mengambil alih anak yang baru lahir itu dari gendongan sang sulung.
"Ayah akan memberimu nama Aidan yang artinya pemuda yang penuh semangat. Dan Athalah sebagai rasa syukur atas karunia Allah. Kami berharap kau akan menjadi anak yang dapat menjalani semua yang Tuhan takdirkan untukmu dengan semangat. Namamu adalah Aidan Athalah." Ucapnya yakin kepada bayi yang digendongnya dan penuh haru.
Mereka semua merasakan kebahagiaan yang benar-benar sangat. Kedua bibir orang tua tersebut tiada henti mengucapkan rasa syukur terutama Ikhsan. Meski di usia yang bisa dibilang tak lagi muda, ia masih dikaruniai seorang putra.
Tak lama, Melati izin pamit untuk pulang ke rumah beserta suaminya. Sebenernya Ikhsan masih berat untuk kembali melepaskan putrinya, namun ia sadar saat ini suami dari putrinya lebih berhak.
Akhirnya dengan hati yang masih agak berat, ia mengizinkan Melati untuk kembali ke rumahnya. Ia juga meminta Melati dan seluruh keluarga mertuanya untuk menghadiri acara syukuran dan aqiqah yang akan dilaksanakan satu Minggu setelah lahiran.
Dengan senang hati Fahmi mengiyakan. Ia juga ingin mengenal lebih dekat dengan keluarga istrinya.
***
Benar saja, meski jam sudah menunjukkan pukul sepuluh putrinya masih belum menutup matanya untuk tertidur. Sebenernya bukan tentang masalah membacakan dongeng, namun belaian lembut dari Melati lah yang sedang diinginkan Farah.
__ADS_1
Dirinya sudah sangat nyaman dengan Bundanya.
"Sayang, bukankah tadi Ayah bilang kau harus tidur setelah jam sembilan. Tapi lihat, bahkan sekarang sudah jam sepuluh kau masih belum tertidur." Ucap Melati dengan membaringkan tubuhnya di samping sang putri sambung.
Farah langsung melingkarkan tangannya pada tubuh Bundanya. Dengan sangat erat seakan tak ingin melepaskannya. Bahkan Melati merasa agak sesak apalagi juga karena perutnya yang sudah terlihat membuncit.
"Sayang Bunda tidak akan melepaskanmu, jadi Bunda minta bisa Farah longgarkan sedikit pelukannya sayang." Titah Melati lembut.
"Apa Bunda sudah tidak menyayangiku." Sontak Farah melepaskan pelukannya dan membalikkan badannya.
Melati yang melihatnya menjadi merasa sangat bersalah. Ia langsung mendekap tubuh putrinya dari belakang.
"Tidak sayang, selamanya Bunda menyayangimu. Kau lihat sendiri kan sayang, dede bayi kadang suka menendang."
(Pada umumnya Bumil bisa merasakan gerakan janin saat usia kehamilan berkisar antara 16–22 minggu. Gerakan yang dihasilkan pun masih terasa lemah. Di minggu ke 16, pergerakan janin sudah mulai menguat. Mama biasanya akan merasakan sensasi geli di perut. Hal ini karena gerakan janin sudah mulai sering meski masih lemah.
Maaf yah kalau salah, Author memang hanya mendapat informasi tersebut dari situs web. Jadi tidak tahu secara rincinya)
Farah langsung membalikkan tubuhnya. Ia beranjak dan duduk di depan perut Bundanya. Dengan sayang ia mengelus perut yang terlihat buncit tersebut.
"Maaf yah Dek, tadi Kakak sempat menyakiti Dedek. Kakak janji setelah kamu lahir nanti Kakak akan selalu menjagamu." Ucapnya dengan suara cadelnya, tak lupa ia juga mengecup perut tersebut.
Melati terharu mendengarnya, ia langsung membawa Farah kepelukannya. Memang selama ini, ia selalu memimpikan suaminya untuk sekedar mengelus perutnya. Namun apa daya, ia tak memiliki keberanian untuk memintanya.
Dengan mendapat sentuhan lembut dari putri sambungnya membuat hatinya tersentuh.
"Terimakasih yah sayang."
"Iya Bunda." Balas Farah juga dengan memeluk erat tubuh Melati.
"Ya sudah sekarang tidur yah." Tutur Melati sembari mengambil salah satu buku dongeng.
__ADS_1
"Bunda aku tahu Bunda lelah. Aku hanya ingin memeluk Bunda seperti ini. Jadi Bunda tak usah membacakan aku dongeng malam ini."
Melati menaruh kembali buku yang tadi diambilnya ke tempat semula. Ia langsung menarik selimut agar anaknya itu tak merasakan dinginnya malam. Melati menepuk-nepuk punggung Farah dan bernyanyi kecil agar putrinya cepat tertidur.