Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 25


__ADS_3

Jika saja Melati menajamkan pendengarannya sudah tentu ia merasa aneh dengan penuturan Azein yang seakan posesif padanya. Tapi apalah daya yang ia pikirkan hanyalah rasa lelahnya dan ia pun tak menghiraukan Azein dan mendinginkannya.


"Nah kenapa tidak dari tadi saja. Sudahlah lakukan apa yang kau mau." Melati pergi meninggalkan Azein begitu saja. Sedangkan Azein hanya menggeleng dan melanjutkan kegiatannya.


Azein kembali dengan menenteng banyak belanjaan di tangannya. Ia pun kembali dan menaruhnya di mobil. Dilihatnya wajah pulas Melati. Cantiknya menjadi sangat natural seiring dengan lunturnya make up tipisnya. Yah, pantas saja hari mulai makin siang.


Cukup lama Azein memandangi wajah ayu Melati, namun seketika ia tersadar dan memakai sabuk pengamannya sendiri. Ia juga melihat ke samping, yang ternyata Melati masih belum memakai sabuk pengaman. Azein berinisiatif untuk memakaikannya.


Melati seperti merasa hembusan nafas yang menerpa wajahnya, ia sedikit terganggu karena hal itu. Ia pun membuka matanya dan nampaklah wajah tampan Azein yang begitu dekat. Kedutaan terkunci pada pandangan itu.


Hachim. Reflek Azein pun menjauh dari wajah Melati. Sebenarnya Melati hanya dibuat-buat saja bersin seperti itu. Keduanya menjadi canggung, sebenernya jauh dari lubuk hati keduanya. Mereka menikmati pemandangan di depan wajah mereka. Mereka juga sebenarnya saling mengagumi akan paras keduanya.


"Ke..kenapa.., kau sangat dekat denganku tadi?" Tanya Melati ragu dan malu juga.


"Em, itu karena kau sedang tertidur aku tak kuasa membangunkanmu untuk memasang sabuk pengaman itu." Melirik arah sabuk pengaman yang masih belum terpasang.


Melati mengikuti arah pandangan Azein, ia pun memasangnya sendiri dan mengehela nafas. Lalu membuang muka ke arah jendela mobil.


Azein mulai menghidupkan mesin mobilnya dan berlalu dari tempat itu. Ia melirik Melati yang tengah menatap keramaian kota.


"Ehm, bisa kau tunjukkan dimana rumahmu?"


Melati menoleh, baru ia tersadar bahwa arah menuju apartemennya salah. Mereka harus berbalik arah. Ia menatap ragu Azein, ia menjadi merasa tidak enak.


"Em, maaf Kak. Tapi kita harus putar balik, maaf aku tidak memberitahumu dari tadi." Melati menundukkan kepalanya dan meremas ujung bajunya.


Azein menoleh dan menghela nafas, tapi apa mau dikata ia sendiri yang menawarkan bahkan berjanji akan mengantar Melati. Namun hati kecilnya juga senang, dengan ini ia memiliki banyak waktu untuk mendekati Melati.


"Baiklah tunjukkan kemana arahnya.."


Sesuai permintaan Melati, Azein putar arah dan pergi menuju apartemen Melati.


***


Melati bersyukur ketika pulang ia mendapati Lulu sedang menggendong Asyifa. Ia sangat senang karena itu, semalaman ia mengkhawatirkan keduanya yang tak kunjung pulang.


"Kak, syukurlah kau sudah pulang. Apa kau tahu aku sangat mengkhawatirkanmu?, Kau darimana saja?, Kenapa kau tak menghubungiku jika tidak pulang?, Apa kau tahu aku sangat kesepian?.." Ucap Melati begitu sampai, dan langsung duduk di samping Lulu setelah menaruh belanjaannya.

__ADS_1


Lulu tersenyum dihujani pertanyaan bertubi-tubi itu. Ia sendiri merasa bersalah sebenarnya karena lupa untuk memberitahu Melati.


"Maaf Mel, ada sesuatu yang membuatku tak pulang kemarin. Tapi sekarang lihat, aku baik-baik saja."


Melati memeluk Lulu layaknya seorang adik. Perangai yang dimiliki oleh Lulu membuatnya nyaman. Ditambah lagi Asyifa. Dadi lubuk hati yang terdalam ia juga menginginkan Lulu menjadi Kakak Ipar sebenarnya.


"Oh ya, apa kau sudah makan?" Melati menatap Lulu dan Asyifa.


"Sudah tadi, kau sendiri pasti belum ya?"


"Hehe, iya Kak ya sudah aku pergi ya.."


Lulu mencegah Melati yang beranjak dari duduknya. "Biar Kakak saja ya yang membuatkan makanan untukmu."


"Tidak perlu Kak, lihatlah Asyifa dia sangat membutuhkanmu" Melati tersenyum dan berlalu dari Lulu.


Melati membuka bahan-bahan yang tadi dibelinya. Seketika ia terkejut dan menepuk jidatnya. Kenapa tadi ia tidak memperhatikan belanjaannya dengan Azein. Sekarang ia harus bagaimana, yang ada di depannya kini adalah belanjaan milik Azein.


Ia sendiri tidak memiliki nomor ponsel milik Azein. Semua bahan di hadapannya kini adalah bahan-bahan untuk membuat roti. Melati sendiri sebenarnya tidak bisa membuat adonan tepung dan telur itu.


Ia menjadi malu sendiri karena harus meminta bantuan pada Lulu. Tapi mau bagaimana lagi, jika dikembalikan ia tak tahu nomor ponsel Azein. Melati memutuskan untuk meminta bantuan saja pada Lulu. Melati berharap ia bertemu dengan Azein karena nanti ia akan mengganti semua.


"Iya Mel ada apa?" Tutur lembut Lulu.


"Em jadi, bisakah Kakak membantuku." Melati menyembunyikan wajahnya dan mengusap tengkuknya.


Lulu tersenyum, ia tahu maksud Melati. "Baiklah ayo.."


Melati dan Lulu bersama-sama pergi menuju dapur. Lulu tertegun melihat belanjaan Melati. Bahan-bahan yang ada di meja itu bukankah masih ada di lemari.


"Kau yang membeli ini semua Mel?"


"Iya Kak."


"Tapi bukankah itu semua masih ada di lemari?, Kau lihat." Lulu membuka salah satu lemari di sana, dan menunjukan semua bahan yang sama persis seperti yang Melati bawa.


"Sebenarnya kau ingin membuat apa?," Lanjut Lulu bertanya.

__ADS_1


"Em itu Kak. Sebenarnya belanjaanku tertukar, aku tak tahu bagaimana mengembalikannya karena aku tak memiliki nomor HP nya." Melati meringis dan mengusap tengkuknya.


Lulu tersenyum dan memilih bahan-bahan yang ia butuhkan, "Kau suka pancake?"


"Iya Kak," Melati mengangguk. Ia sendiri memfokuskan diri pada apa yang tengah dilakukan Lulu.


"Aku akan membuatnya untukmu."


Melati pun senang dan ia bisa belajar cara membuat pancake. Selama ia di rumah, jarang ia berada di dapur. Karena ada Mina ia masih canggung meski sekarang hubungan mereka sudah membaik.


***


Seminggu berlalu, Melati bertemu kembali dengan Azein di rumah Aaz. Baru ia ingat bahwa Azein dan Aaz adalah saudara.


Azein terus menatap Melati yang tengah membuat patung dari tanah liat. Melihat Melati yang tengah sendiri pun membuat Azein menghampirinya di samping rumahnya. Aaz tengah berada di rumah untuk sekedar mengambil cemilan.


"Ehm,"


Dari suaranya, Melati kenal siapa itu. Namun ia enggan untuk menoleh, ia tetap melanjutkan aktivitasnya.


"Kau sedang membuat apa?" Tanya Azein duduk di samping Melati.


Sontak Melati sedikit menggeser tubuhnya, menjaga jarak dengan Azein. "Apa kau tidak bisa melihat atau tidak tahu namanya?" Ucap Melati tanpa melihat ke arah Azein.


Azein tersenyum samar, "Baiklah, untuk apa kau membuatnya?"


Melati menatap wajah pria di sampingnya, mengendikkan kedua bahunya. Lalu melanjutkan kegiatannya.


"Jika kau tidak tahu, mengapa kau membuatnya?" Azein mengernyit menatap heran Melati.


"Aaz yang memintanya."


Azein mengangkat kedua alisnya. Lalu pikirannya beralih pada kamar Aaz. Aaz memang suka mengoleksi kerajinan dari tanah liat. Ia pun mengangguk dan menatap Melati.


"Boleh aku membantumu?" Tanya Azein.


"Silahkan saja. Lihat!, Itu punya Aaz selesaikanlah." Mengangkat dagunya ke arah tanah liat yang belum sepenuhnya jadi.

__ADS_1


"Dibuat seperti apa?" Azein mendekati yang dimaksud Melati. Dan mencuil tanah liat yang berada di ember kecil.


"Ikuti saja aku!"


__ADS_2