
Melati mengerjapkan matanya, cahaya yang terang cukup mengusik mata yang masih tertutup. Tampaklah beberapa orang melihatnya khawatir.
Matanya beralih pada keadaannya sendiri. Bajunya telah berganti dan sangat wangi. Tidak seperti saat terakhir di tempat itu. Sangat bau dan benda-benda menjijikan pun menempel di hampir seluruh tubuhnya.
Pikirannya kembali melayang ke tempat kejadian itu. Sungguh ia tak mengerti mengapa ia harus melalui hal seperti itu. Ia juga memikirkan bagaimana kelanjutannya setelah ini. Baru saja ia mendapatkan angin segar dari sang Ibu, sekarang ia harus menelan pil pahit lagi.
Akankah ia sanggup untuk melalui ini semua. Bahkan mungkin kedepannya akan lebih parah. Tatapan matanya kosong entah kemana. Hingga ia sendiri tak sadar orang-orang di dekatnya yang tengah mengkhawatirkannya.
"Nak." Panggil Ikhsan lembut, tak lupa sentuhan lembut mendarat di pucuk kepala Melati.
Melati menoleh dan hanya diam. Rasanya berat sekali untuk sekedar membuka mulut. Orang-orang terdekat Melati yang melihatnya begitu sedih. Mereka juga tak mengira bahwa semua ini akan terjadi.
"Nak." Ucap Ikhsan sekali lagi.
"Yah kumohon. Tinggalkanlah aku sendiri di sini." Sela Melati.
"Tapi Nak-"
"Yah please. Beri aku ruang sedikit saja." Ujar Melati dengan tatapan memohon.
Semua yang hadir hanya bisa menghela nafas mereka. Hak yang ditakutkan nyata terjadi saat ini. Pasrah, itulah yang mereka lakukan. Mereka semua meninggalkan Melati di kamar sendirian.
***
Benar saja, selama dua hari ini ia mengurung di kamarnya. Bahkan dibujuk untuk sekedar menyuapkan nasi saja ia enggan. Melati kembali murung.
Entah bagaimana lagi caranya agar ia terbujuk. Setiap kali ditemui mereka mendapati Melati dengan pandangan kosong. Ia sama sekali tak menanggapi orang lain datang menemuinya.
Akhirnya Mina memutuskan untuk menunggu Melati. Ia ingin mengetahui seberapa lamakah Melati duduk berdiam diri.
Di ruangan tersebut mereka hanya ditemani oleh kesunyian. Melati sibuk dengan pikirannya. Dan Mina sibuk memperhatikan Melati.
Tiga jam lamanya Mina menunggu Melati. Melati memang menyadari kehadiran Mina, namun ia sama sekali tak menghiraukannya.
Lambat laun entah mungkin karena Melati yang risih dengan keberadaan Ibunya, ia pun menoleh. Dilihatnya Mina yang tengah menatapnya datar namun sedikit mengantuk.
__ADS_1
Melati hanya bisa menghela dan menyerah. Ia menghampiri Ibunya dan duduk di sampingnya.
Mina memperhatikan Melati yang berjalan ke arahnya. Namun ia tak membuka suara sama sekali. Ia ingin mengetahui apa yang akan Melati lakukan.
Lagi-lagi Melati menghembuskan nafasnya. "Bu.."
"Iya Nak." Jawab Mina lembut.
Hiks... hiks... hiks..., Melati menghambur ke pelukan Mina. Wanita itu menangis tersedu-sedu. Cukup lama ia menahan semuanya dan tak menunjukkan kepada siapapun. Dibalik diamnya itu, ia sendiri sudah sangat lelah.
Ingin rasanya ia mengakhiri semuanya. Mina mengusap lembut punggung Melati, menyalurkan kasih sayang dan kekuatan untuk putrinya itu.
Cukup lama Melati terisak, ia pun mendongakkan wajahnya. Mina membelai wajah yang kusut itu. Tak lupa ia mengusap air mata yang masih membasahi pipi tersebut.
"Bagaimana perasaanmu saat ini Sayang?" Tanya Mina halus.
Melati menggeleng. Mina meraih dagu Melati agar menatap wajahnya.
"Aku benar-benar tak ingin menjalani apapun Bu. Semuanya begitu berat untukku. Entah kenapa aku merasa dunia ini tak adil buatku.
Ibu tahu sendiri bahwa itu bukan sepenuhnya kesalahanku. Namun kenapa orang-orang menyudutkanku Bu?, Aku pun tak pernah menginginkan hal ini terjadi. Bahkan sama sekali tak pernah ada dalam benakku." Terang Melati lemah bahkan matanya mulai menganak sungai.
"Nak bagaimana rasanya ketika di usiamu saat ini mengerjakan latihan matematika 1+1 ?"
Melati menatap Ibunya malas. Sudah tentu sangat mudah ia menjawab pertanyaan tersebut.
"Bu kumohon jangan tanyakan latihan soal untuk anak TK, aku sudah kuliah Bu." Rasanya Melati sungguh tak berguna duduk di bangku kuliah dengan menerima pertanyaan seperti itu.
"Kau tahu bahwa itu soalan untuk anak TK. Namun bagi anak TK yang baru mengenal maka akan sangat sulit bagi mereka."
Melati mengernyit heran mendengar penuturan Ibunya. Ia sama sekali tak mengerti dengan maksud Ibu sambungnya. Ia menatap intens wajah Mina.
"Pernahkah kau merasa ingin putus asa saat mendapatkan tugas dari dosenmu?"
Melati mengangguk.
__ADS_1
"Kau bisa merasakan perbedaan saat mendapat tugas dari guru TK mu dulu dengan dosenmu sekarang?"
"Tentu saja Bu. Kenapa kau tanyakan hal itu. Kumohon Bu, aku tak pandai dalam hal teka-teki. Bisakah Ibu to the poin saja?" Gundah Melati tak sabaran.
Mina membuang nafasnya perlahan. "Nak, di dunia pendidikan maka seseorang akan mendapatkan tugas yang berbeda-beda sesuai dengan tingkatannya. Begitu juga dengan kehidupan manusia.
Kau merasa bahwa ujian yang saat ini kau tempuh tak mampu untuk kau lewati. Tuhan memberimu ujian seperti ini karena mungkin memang tingkat keimananmu yang kian meninggi dan kau merasa ingin putus asa?,
Nak kesabaran itu tidak ada batasannya-"
"Tetapi kesabaran manusia ada batasannya Bu. Apalagi aku hanya manusia biasa." Sela Melati memotong pembicaraan Mina.
"Kamu tahu Nak, apa arti dari nguyahi segara?" Lagi-lagi Mina melontarkan pertanyaan yang membuat Melati jengah.
"Itu adalah pribahasa dari Jawa Nak. Kamu tahu bagaimana bisa orang menabur garam di air laut yang tawar agar asin?" Tambahnya.
"Tentu saja itu hal yang mustahil Bu. Kita tahu seberapa luas lautan itu." Ungkap Melati.
"Nah lautan itu digambarkan untuk orang yang memiliki kesabaran seluas itu. Seberapapun mereka diberi garam atau ujian, sebagian kecil memang terasa asin. Namun itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan luasnya hati mereka."
"Nak mungkin Tuhan memberimu ujian ini, karena kau mungkin sudah pantas untuk menjalani ujian ini. Mungkin Tuhan ingin mengangkat derajatmu.
Sayang dengan adanya ujian ini, gerakanlah hatimu untuk mencari perhatian-Nya."
"Bu aku masih tak berhenti untuk menjalankan kewajiban-Nya. Aku masih sangat sadar dengan semua perintah-Nya. Namun bagiamana caraku untuk menghadapi orang-orang di luaran sana Bu?, Rasanya aku tidak sanggup. Belum juga aku menjadi istri Mas Fahmi, tapi MEREKA?, Aku dihina dan dicaci, bahkan tubuhku tak luput mereka lempari dengan benda-benda menjijikan." Ucap Melati dengan pipi yang menghangat karena air mata.
Mina menarik anak perempuannya itu kepelukannya. Ia sangat tahu dengan yang dirasakan Melati saat ini.
"Nak tak perlu pedulikan dengan apa yang orang lain nilai dari diri kita. Tetaplah pada pendirian kita dari awal. Kita hidup untuk siapa, kita lakukan ini semua untuk siapa, dan kita percaya pada kita.
Sekarang Ibu tanya sama kamu. Apakah semua yang kau lakukan itu semata-mata agar orang lain menilaimu baik?"
Melati menggeleng lemah dengan tubuh yang masih didekap erat oleh Mina.
"Tidak kan Nak?, Jika benar-benar kau melakukan itu, bukankah hal itu termasuk syirik kecil?"
__ADS_1
Perlahan tubuh Melati terdiam. Ia terus mencermati kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Ibunya.