
Seketika pikiranku melayang ke anak pertamaku. Apakah ini semua adalah karma kerena aku yang sangat kejam padanya. Aku semakin terpuruk saja, besar kemungkinan jika aku mengatakan segalanya Mas Fahmi akan menceraikan aku.
Tidak, jangan sampai itu terjadi. Jujur saja semua fasilitas yang telah Mas Fahmi berikan padaku telah membuatku nyaman. Dan aku tak ingin kehilangan itu semua. Dan aku juga telah mencintai Mas Fahmi.
Aku berusaha untuk mencari akal agar pernikahan ini tidak berakhir. Hingga ketika Mas Fahmi kecelakaan dan mengalami koma selama setengah tahun, aku berfikir untuk membual tentang kehamilanku. Aku mengaku kepada mertuaku bahwa aku telah hamil selama tiga bulan.
Mertuaku begitu senang mendengar aku hamil, namun karena keadaan yang membuat mereka harus mengurus putra mereka jadi kedua orang tua Mas Fahmi tak terlalu memperhatikan perkembangan janin bohonganku.
Maksudnya, seperti menemaniku cek kandungan dan mengelus perutku. Aku pun bersusah payah mencari perut buncit palsu agar kedua mertuaku tak curiga.
Untunglah, ketika tiba masa dimana Ibu hamil melahirkan suamiku masih belum tersadar. Bukan maksudku senang melihatnya terbaring lemah, hanya saja aku tak ingin diceraikan olehnya.
Dengan sengaja aku memilih untuk tinggal bersama kedua orang tuaku saat menjelang lahiran. Mertuaku tentu saja setuju karena mereka tahu bahwa putra mereka baik mereka sendiri tak dapat menjagaku.
Aku bekerja sama dengan Dokter agar menutup mulut tentang ini semua. Awalnya ia tak mau, namun karena aku terus memohon sampai ia pun mau membantuku.
Kudengar dari beberapa suster yang mengatakan bahwa ada seorang anak yang juga baru lahir, namun Ibunya meninggalkannya setelah melahirkan. Dan mereka juga tak tahu keluarga dari si Ibu, karena memang semasa hidupnya ia hidup sebatang kara.
Tentu saja tak aku sia-siakan kesempatan ini. Tanpa banyak berpikir aku pun mengadopsi anak perempuan cantik tersebut tanpa sepengetahuan suami maupun mertuaku.
Orang tuaku sendiri juga tak aku beri tahu. Mereka akan merasa sangat merasa bersalah dan semua rencana yang aku susun secara matang-matang akan gagal total.
Selang satu bulan aku melahirkan, Mas Fahmi pun menampakkan perubahan dan berangsur membaik. Ia begitu senang mendengar bahwa aku telah memberinya keturunan.
Karena memiliki semangat untuk sembuh dan selalu berpikir positif, dalam jangka waktu tiga bulan ia pun sembuh total. Aku begitu bahagia menjalani kehidupanku saat itu. Suami yang sangat mencintaiku dan seorang bayi kecil yang Mas Fahmi beri nama Farah menjadi pelengkap kebahagiaanku.
Setelan tiga tahun lamanya aku menjalani pernikahan bahagia ini, aku mendengar kabar buruk tentang seseorang yang dulu pernah singgah di hatiku bahkan mungkin masih ada hingga kini.
__ADS_1
Pikiranku berkecamuk tatkala mendengarnya terpuruk bahkan depresi. Aku memutuskan untuk melihatnya secara langsung untuk membuktikan semuanya.
Benar saja, bahwa kabar tersebut memang benar adanya. Entah karena kasihan atau memang perasaan cintaku yang masih ada menuntunku untuk menemui dan mendampingi Bembi.
Ia begitu senang mendengarnya, meski ia yang terkadang tiba-tiba mengamuk namun aku memahaminya. Perasaan nyaman pun kembali menghampiriku ketika bersamanya, namun suatu ketika Mas Fahmi menyadari aku yang berubah membuatku terkejut dan gugup.
Aku memberinya alasan bahwa selama ini aku menghabiskan waktuku untuk membentuk tubuhku. Memang dahulu aku pernah mengatakan padanya bahwa menjadi model adalah impianku.
Karena rasa cinta Mas Fahmi yang begitu besar untukku dengan senang hati ia mewujudkan mimpiku. Akhirnya impian kecilku pun tercapai, dengan ini juga aku bisa mencari alasan agar dapat selalu mendampingi Bembi.
Perlahan, perhatianku kepada keluarga berubah. Itu karena aku yang sudah lelah dengan profesiku menjadi model dan selalu bersama Bembi.
Suamiku tak pernah protes atau marah saat aku selalu pulang larut malam. Terbesit rasa bersalah padanya karena aku yang sangat sering berbohong padanya, namun rasa cintaku yang masih ada untuk Bembi dan semakin besar akhir-akhir ini membuatku tak peduli.
***
"Hallo Rayn ada apa?" Tanyaku pada Rayn.
"Maaf Nyonya mengganggu waktunya, saya ingin menjelaskan keadaan Tuan Fahmi saat ini. Tuan Fahmi sedang berada dalam pengaruh obat kuat. Ada seseorang yang sengaja menebaknya." Ucap Fahmi memberitahu.
"APA?!" Seruku begitu lantang karena terkejut.
"Benar Nyonya, saat ini saya mohon anda datanglah kemari."
"Tapi akan membutuhkan waktu yang lama karena saat ini saya sedang tidak ada di rumah." Rayn terkejut mendengarnya.
"Tapi bagaimana dengan keadaan Tuan Fahmi Nyonya?"
__ADS_1
"Begini saja, kau bawalah Fahmi ke rumah mertuaku. Karena jarak antara rumah mertuaku dengan tempatku saat ini tidak begitu jauh. Dan juga jarak perusahaan dengan rumah mertuaku dekat." Pungkasku memberi saran.
"Baiklah Nyonya, saya akan segera kesana."
Dengan cepat aku pergi menuju tempat yang telah dijanjikan. Cukup lama aku menunggu hingga datanglah Rayn dengan suamiku dengan penampilan yang sangat kacau.
Aku menuntun Mas Fahmi menuju rumah mertuaku. Karena hasrat yang begitu menggebu, suamiku langsung menyerangku. Aku hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan suamiku.
Dering telepon membuatku susah payah menggapai ponselku. Alangkah terkejutnya aku bahwa yang meneleponku dari pihak rumah sakit. Mereka meneleponku karena melihat namaku yang berada paling atas di daftar panggilan.
Mereka memberitahuku bahwa Bembi kecelakaan. Pikiranku benar-benar hanya tertuju pada lelaki yang sangat aku cintai, tanpa mempedulikan Mas Fahmi aku meninggalkannya.
***
Air mataku meluruh melihat Bembi terbaring lemah. Aku berjanji padaku bahwa aku akan selalu ada di sampingnya.
Cukup lama aku menunggunya, ponsel di saku celanaku berdering. Dari mertuaku, aku begitu terkejut mengetahui suamiku telah melakukan hal zina pada wanita lain.
Pikiranku melayang ke beberapa saat yang lalu, ini semua juga salahku sendiri yang meninggalkannya begitu saja. Padahal pengaruh obat kuat dalam diri Mas Fahmi masih menguasainya.
Sakit, begitu sakit yang aku rasakan kini. Entahlah aku sendiri pun tak mengerti ada apa dengan perasaanku. Bukankah di hadapanku kini ada seorang lelaki yang sangat aku cintai. Bahkan juga pernah terbayang olehku bahwa pada akhirnya aku memilihnya.
Dengan berat hati aku pergi ke rumah mertuaku dan meninggalkan Bembi. Hatiku memanas melihat wajah rapuh Mas Fahmi, penampilannya pun kacau membenarkan semua perkataan mertuaku.
Pikiranku juga melayang pada wanita yang telah dihancurkan hidupnya oleh suamiku. Besar kemungkinan bahwa Mas Fahmi akan menikahinya.
Benar saja, setelah beberapa waktu berlalu suamiku meminta izin untuk menikahi wanita lain. Tentu saja aku tak dapat menolak, toh ini semua terjadi karena kecerobohan ku. Dengan berat hati aku menyetujuinya.
__ADS_1
Menyesal yang hanya bisa aku rasakan saat ini.