
Melati terkejut melihat penampilan kusut suaminya. Bahkan wajah suaminya pun belepotan karena air mata.
"Mas kau kenapa?" Tanya nya khawatir.
"Melati.." Fahmi langsung menghambur ke pelukan sang istri.
Istrinya itu memapah suaminya hingga ke rumah. Mereka tak memperhatikan keberadaan Rayn. Melati membawa Fahmi duduk di sebuah sofa ruang tamu.
"Melati di tega mengkhianatiku. Aku sangat membencinya, aku tak ingin melihatnya," racaunya pilu.
Sedangkan Melati hanya tenggelam dalam kebingungannya, ia sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud Mas Fahmi.
Tapi ia tak ingin menanyakan perihal apapun saat ini, dengan lembut ia mengusap punggung suaminya yang tengah memeluknya erat.
Fahmi masih meracau tak jelas, namun perlahan ia mulai merasakan kehadiran tangan yang sedari tadi mengelus bahunya. Ia mendongakkan wajahnya menghadap Melati.
"Jangan pernah tinggalkan aku Melati,..." pintanya.
Melati bingung ingin menjawab apa, melihat keadaan suaminya ia menjadi tak tega jika harus jujur. Namun jika berbohong ia juga pasti akan lebih menyakitinya. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya.
Ia hanya mempu memberikan senyum terindahnya. Seketika Fahmi ikut tersenyum, dalam keadaan sadar ia kembali memeluk istrinya. Untuk sejenak, biarlah ia menikmati waktu bersama sang istri. Bahkan berharap kenyamanan yang ia dapatkan kini akan terus mendampinginya.
***
"Sayang aku harus pulang sekarang." Pinta Sasa pada Bembi.
"Kenapa?, Apa kau tidak nyaman berada di dekatku?" Tanya nya tanpa menjawab permintaan dari wanita yang tengah bersandar di dadanya itu.
"Bukan seperti itu Mas, kau kan tahu di rumah pasti suamiku sedang menungguku." Ucapnya memberi alasan.
"Mengetahui kau tak di rumah, aku yakin dia sedang bersama madumu sayang. Lagipula sebenarnya ada apa denganmu Sa?, Sebenarnya kau itu lebih mencintai aku atau suamimu?"
"Kenapa kau menanyakan hal itu?, Apa kau meragukan aku hm?" Tanpa menjawab Sasa membalikan pertanyaannya, ia mendongak menghadap wajah pria yang dicintainya.
Secepat itu pula, ia merasakan sentuhan lembut di keningnya.
"Aku memang sama sekali tak meragukanmu Sa, tapi jika memang kau mencintaiku kenapa kau masih bersama suamimu hingga sekarang. Bukankah dari awal suamimu menikah lagi, itu menjadi hal yang mudah untukmu agar bisa bersamaku?"
Entahlah Bem, aku pun bingung dengan perasaanku. Denganmu aku merasa nyaman karena aku mencintaimu. Dengan Mas Fahmi aku merasa bahagia karena dicintai olehnya. Tak dapat dipungkiri bahwa aku juga mungkin telah mencintainya. Tapi aku juga tak ingin lepas darimu. Batin Sasa bimbang.
"Sayang kenapa kau diam saja?, Jangan bilang kau memikirkan pria itu saat bersamaku," ujarnya merajuk.
"Tentu tidak sayang, sudahlah bukankan kau duluan yang memulai membahas tentangnya. Kita berpaling saja, apa kau bahagia bersamaku saat ini?" Ungkap Sasa mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku tentu saja merasa bahagia bersamamu. Tapi aku ingin kebahagiaan yang kita rasakan ini menjadi selamanya, tidak seperti sekarang. Maka itu aku juga ingin kepastian darimu sayang."
"Kenapa kau mengatakan hal itu?, Bukankah aku sudah menyerahkan semuanya padamu?"
"Tapi aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya Sa."
__ADS_1
"Beri aku waktu, kau kan tahu bahwa ada Farah di antara aku dan Mas Fahmi."
"Jangan panggil dia Mas, aku tak menyukainya."
"Iya kau kan tahu ada Farah di antara aku dan Fahmi. Harus diputuskan dengan matang-matang."
"Baiklah aku akan menunggunya, tapi aku tidak lama. Sudah cukup aku menunggumu saat ini, atau aku akan berpaling dengan yang lain."
"Itu tidak akan pernah aku biarkan."
Dengan segera, Sasa menyerang Bembi dengan gelisah. Ia merasa sangat cemburu lantaran pria itu sampai menyebut orang lain.
***
"Oh ya Mas, bagaimana dengan Farah? Kau meninggalkannya sendirian di rumah?" Tanya Melati setelah melihat suaminya yang sudah tenang sedari tadi.
"Rayn sedang menjemputnya," jawabnya singkat tanpa melepas pelukan tersebut.
Melati mengangguk, sebenarnya ia sangat ingin menanyakan apa yang telah terjadi dengan Mas Fahmi. Namun semua yang ia ingin ketahui dan katakan hanya sampai kerongkongannya saja.
"Mas apa kau sudah makan?"
Mas Fahmi menggeleng, "Mau aku buatkan sesuatu?"
"Aku akan memakan apapun yang kau buat," ucapnya seraya mengangkat kepalanya.
"Baiklah lepaskan aku dulu ya," pintanya hati-hati.
Melati menghela nafasnya, "Mas tubuhku sudah pegal sedari tadi,"
"Ya sudah tidur saja." Jawabnya yang membuat Melati kesal.
"Ya sudah lepaskan aku!"
"Tarik sofanya, lalu kita tidur bersama di sini." Melati semakin jengah saja dengan sikap Mas Fahmi.
"Mas!, Sepertinya ada apa denganmu hari ini?" Sudah tak dapat menahannya lagi.
Fahmi hanya diam, hatinya sakit mengingat kelakuan sang istri tua. Ia melepaskan pelukan tersebut dan beranjak meninggalkan Melati.
Melati merasa bersalah dibuatnya, "M-mas kau kenapa?, Maafkan aku."
"Siapkan baju dan makanan untukku!" Titahnya Dan segera menghilang di balik dinding.
Dengan hati yang masih diliputi rasa bersalah, Melati menyiapkan apa yang suaminya pinta tadi.
***
Akhirnya setelah bujuk rayu dari Sasa, Bembi mau untuk mengantarkan wanitanya pulang. Namun dalam perjalanan ia hanya terdiam meski Sasa berusaha mengajaknya berbicara.
__ADS_1
"Sayang ayolah, bukankah setiap malam aku menghabiskan waktuku denganmu?"
Sunyi.
"Mas, besok kita bisa bertemu lagi. Minggu besok juga kita akan menghabiskan selama dua hari penuh lagi."
Bembi masih terdiam dan fokus ke arah depan.
Sasa semakin bingung ingin merayu lelaki itu seperti apa, dengan cepat ia menangkup kedua pipi Bembi.
Bembi yang terbuai suasana membalas setiap perlakuan yang Sasa, mereka hanyut dalam larutan penuh kasih sayang itu. Hingga tanpa mereka sadari, ada sebuah truk yang mengemudi dengan mata ngantuk.
Pria 31 tahun yang hanya meladeni sang kekasih terbelalak saat menoleh dan mendapati sebuah truk yang kian mendekat. Tak ingin terjadi sesuatu pada pengemudi truk tersebut, ia memilih banting setir karena melihat ke arah samping yang terlihat sepi.
Namun sayang, ia tak terlalu memperhatikan adanya sebuah pohon besar.
Criiitt....Bruuggh!!!! Kepala Sasa terbentur pada dashboard mobil begitu juga dengan Bembi. Namun ia masih menahannya dengan tangannya sendiri hingga keadaannya tak terlalu parah. Darah segar mengalir dari kepala Sasa. Kesadarannya hilang setelah merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya.
Orang-orang yang melihat kejadian tersebut langsung menghampiri tempat kejadian. Ada yang reflek menolong mereka dan ada pula yang mengambil gawainya untuk mengambil momen tersebut.
***
Dering dari ponsel milik Fahmi berbunyi, ia menghentikan aktivitasnya yang tengah mengeringkan rambut.
Ia menjadi sangat malas melihat siapa nama kontak yang tertera, namun karena ponsel yang terus berdering membuatnya jengah dan langsung menggeser ikon hijau.
"Halo apa benar ini dengan Pak Fahmi?" Dahinya mengernyit mendengar suara asing, ia kembali menilik ponselnya.
Benar itu adalah nomor istrinya.
"Benar dengan saya sendiri."
"Jadi seperti ini kami dari Rumah Sakit X menyampaikan bahwa atas nama Nona Sasa telah mengalami kecelakaan. Kami mengharap kehadiran Bapak untuk segera kemari dan menemui korban. Karena nama yang andalah sedari tadi disebutkan oleh beliau"
Fahmi terbelalak mendengarnya, sekali lagi ia memeriksa ponselnya.
"Baiklah terimakasih, dengan segera saya akan ke sana." Ucapnya khawatir dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Mas kenapa kau terlihat sangat buru-buru, bahkan kau juga tak memakai pakaian yang telah aku siapkan?" Tanya Melati yang melihat suaminya dengan wajah cemas keluar dari kamarnya.
"Melati Sasa kecelakaan, aku akan pergi ke Rumah Sakit."
"Apa?!, Ya Allah Mas, apa aku boleh ikut?"
"Tidak Mel, aku tak ingin kau kenapa-kenapa. Lagipula nanti Farah akan ke sini, kau jagalan rumah ya."
"Baiklah Mas kalau begitu," pasrahnya.
"Ya sudah aku pergi."
__ADS_1
Melati meraih tangan suaminya dan menciumnya, yang dibalas oleh Fahmi dengan mencium keningnya.