
"Mas aku duluan yah." Pamit Sasa, ia beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan semuanya.
"Apa mau aku antar." Tawar Fahmi pada istrinya.
"Tidak perlu mas, lagipula kau harus mengantar Farah," tolak halus Sasa.
Fahmi menghela, "Baiklah." Pasrahnya. Ia melirik ke arah putri serta istri mudanya.
"Mel, apa kau tidak melakukan apapun hari ini. Maksudku seperti kuliah atau bekerja seperti itu?" Tanya nya.
"Tidak ada. Mungkin aku akan seharian di rumah ini. Lagipula aku juga sudah lulus untuk kuliah." Melati mendongakkan wajahnya, menghentikan aktivitasnya yang tengah menyuapi Farah.
"Kau mau menemaniku untuk mendaftarkan Farah ke sekolahnya. Ini hari pertamanya masuk sekolah." Pintanya memelas.
"Baiklah aku akan menemanimu, dan juga mempersiapkan putri kecil ini." Ucapnya gemas dengan mencubit kecil pipi gembul Farah.
Fahmi terkekeh melihatnya. Dalam hatinya juga bersyukur, dengan Sasa ia jarang sekali untuk sekedar kumpul keluarga.
Seperti yang telah dibicarakan oleh Fahmi dan Melati tadi, saat ini Melati tengah mempersiapkan segala keperluan Farah di hari pertama sekolahnya.
"Bun atu tak suta dikucir sepeyti ini. Atu lebih suta ditepan." (Bun, aku tak suka dikucir seperti ini. Aku lebih suka dikepang), Protes Farah pada Melati yang tengah mengucir rambutnya.
Melati menundukkan wajahnya menatap putrinya. "Benarkah tapi kenapa?, Dengan kau dikucir kau terlihat sangat cantik."
"Tida Bun, jita sudah nanti siang atan teyasa panas." (Tidak Bun, jika sudah nanti siang akan terasa panas)
"Begitu ya, yasudah Bunda kepang saja rambutmu."
Farah tersenyum dan mengangguk senang.
"Ayah!" Seru Farah pada Ayahnya yang tengah menunggunya di ruang tamu. Ia nampak fokus pada benda pipih miliknya.
Fahmi menoleh dan alangkah takjubnya ia dengan penampilan putrinya yang terlihat sangat cantik. Dengan seragam rapi yang melekat pada tubuhnya dan rambut yang dikepang satu dengan poni tipis di depannya. Tak lupa Melati menyusul di belakangnya dengan menenteng tas kecil milik putri sambungnya.
Dengan segera Fahmi menggendong Farah. "Cantik dan wanginya putri Ayah."
Farah terkekeh kegelian karena Ayahnya terus menciumi wajahnya. "Ayah udah geli..,"
"Kau sudah siap tuan putri?" Tanya nya dengan berjalan ke arah mobilnya. Diikuti Melati dari belakang.
"Sudah Yah, Bunda bilan Fala batalan punya banak temen." (Sudah Yah, Bunda bilang Farah bakalan punya banyak teman) Ujar Farah dengan semangat. Caranya berbicara membuat orang-orang disekitarnya merasa gemas padanya.
__ADS_1
"Kau benar sayang, Ayah juga dulu seperti itu." Fahmi mendudukkan putrinya di kursi depan.
"Ayah Fala inin dipantu ama Bunda." (Ayah Farah ingin dipangku sama Bunda) Rengeknya pada sang Ayah.
"Baiklah, di depan atau di belakang?"
Farah tidak menjawab hanya saja ia menunjuk tempatnya sekarang ia berada.
"Baiklah, Melati kau mau kan memangku Melati di depan." Fahmi memandang Melati dengan memasang wajah memohon.
"Iya," jawabnya singkat dan langsung duduk di depan dengan memangku Farah.
Fahmi tersenyum dan menutup pintu mobilnya, dan memutari mobil tersebut untuk duduk di kursi kemudi.
Baru kali ini Fahmi melihat Farah yang begitu cerewetnya bercerita. Bahkan senyumnya pun tak pernah luntur, ia juga melihat Melati yang dengan antusiasnya menanggapi celotehan yang keluar dari mulut Farah.
***
Farah melongo tatkala melihat tempat sekolahnya yang begitu ramai. Ternyata banyak juga yang sepertinya, dirinya yang agak malu-malu terus saja menempel di pelukan Bunda-nya.
Fahmi mengajak putrinya menuju ruang PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru), memang ada salah satu guru yang ia kenal. Dan guru itulah yang merekomendasikan putrinya untuk sekolah di tempat yang ia datangi sekarang.
Tak lama datanglah Fahmi menghampiri keduanya, Farah yang sedari tadi cerewet sekarang begitu pendiam dan pemalu.
"Sayang ayo kita lihat kelasmu." Ajak Fahmi berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Farah.
Farah menggigit jarinya, ia sebenarnya sedikit takut. "Apa setelah atu masut Ayah atan peygi meninggaltan atu sendiyi." (Apa setelah aku masuk Ayah akan pergi meninggalkan aku sendiri), ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ini hari pertamamu sayang. Jika kau mau Bunda akan menunggumu di luar." Ujar Melati sembari memeluk dan menghapus air mata yang telah menetes itu.
"Tapi atu tatut Bunda, dulu aja Bagas (tetangga yang sekarang telah pindah ke kota B) peynah main te yumah dia natalin Fala." (Tapi aku takut Bunda, dulu saja Bagas pernah main ke rumah dia nakalin Farah)
Melati menatap Mas Fahmi dengan bertanya-tanya,
"Sayang, itukan Bagas dulu. Sekarang teman Farah tidak hanya satu. Dan ada yang perempuan loh, coba saja kamu nanti kenalan dengan salah satu di antara mereka(menunjuk segerombolan orang tua dan anak-anaknya), pasti bikin kamu seneng deh." Bujuk Fahmi dengan lembut.
Farah mengikuti arah tangan yang ditunjuk oleh Ayahnya, ia memang melihat beberapa anak seusianya yang dengan wajah girangnya dapat bersekolah di tempat ini. Seketika kedua bibirnya terangkat sedikit.
Ia mendongakkan wajahnya menatap Bundanya yang tengah tersenyum padanya. Melati menganggukkan wajahnya dan bersama dengan Fahmi mereka menggandeng tangan Farah menuntunnya menuju kelas Farah.
"Hallo Assalamu'alaikum.." Ucap Melati dengan berjongkok, ia menirukan suaranya seperti anak kecil.
__ADS_1
Anak-anak yang tengah berkumpul itu menoleh dan menjawab dengan serempak salam Melati.
Melati dan Farah memang telah memasuki ruang kelas Farah. Sedangkan Fahmi, ia tengah menunggu di luar. Farah masih menyembunyikan wajahnya di balik tubuh sang Bunda.
"Sayang ayo lihat ini teman-temanmu, mereka sangat baik." Bujuk Farah dengan menarik pelan tangan Farah.
"Hallo semuanya, namaku Farah." Melati memperkenalkan anaknya Farah pada anak-anak seusia Farah. Karena sedari tadi, Farah hanya diam dengan menundukkan kepalanya.
Salah satu di antara mereka mendongakkan wajahnya menatap Ibunya, ia meminta persetujuan Ibunya untuk menyalami tangan milik Farah. Melati yang melihat wanita yang sedikit lebih tua darinya melemparkan senyumnya yang juga dibalas ramah oleh wanita tersebut.
"Hallo namaku Vina." Ucap anaknya dengan senyum yang manis.
Kring kring kring, bel tanda masuk berbunyi. Melati menatap wajah anaknya yang terlihat khawatir.
"Sayang sekarang Bunda keluar dulu ya. Hari ini Bunda akan menunggu Farah di luar."
"Bunda.." Rengeknya.
Dapat Melati lihat Ibu yang tadi memperkenalkan anaknya membujuk anaknya untuk mendekati Farah. Gadis kecil yang bernama Vina mendekati Farah. "Faya, kamu tenang saja. Sekalang kita teman, aku Vina bakal temenin kamu di sini."
Farah menatap Vina yang tengah tersenyum manis padanya, lalu juga memandang Bundanya. Melati yang mengetahui hal tersebut dengan segera menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Iya setayang tita teman." (Iya, sekarang kita teman). Ucap Farah dengan membalas uluran tangan Vina. Mereka duduk berdua di meja yang sama.
Melati melemparkan senyumnya pada Ibunya Vina. Dan dibalas anggukan serta senyuman pula.
Fahmi yang tengah menatap gadget-nya, tak menyadari Melati yang telah keluar untuk menghampirinya.
"Loh mas, kenapa kau masih di sini?, Bukankah kau seharusnya pergi ke kantor?" Tanya Melati heran.
"Eh tidak Melati, hari ini putriku tengah sekolah di hari pertamanya. Aku ingin menunggunya."
"Tidak perlu Mas, ada aku di sini. Sebaiknya kau pergi saja, aku takut pekerjaanmu akan menumpuk nantinya."
"Baiklah, aku pergi. Jaga diri kalian di sini, aku akan menjemput kalian nanti." Pamit Fahmi, beberapa langkah Fahmi pergi ia mendengar Melati yang memanggil namanya.
Fahmi terpaku yang melihat Melati yang mencium punggung tangannya.
"Hati-hati Mas." Ucap Melati dengan tersenyum.
"I-iya," Balas Fahmi dengan gugup.
__ADS_1