Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
Murung


__ADS_3

"Kak boleh minta tolong tidak?" Ucapnya ragu.


"Apa?" Alif masih fokus pada ponselnya tanpa melirik Melati.


"Tolong bantu menyelesaikan tugas ini ya.., please." Memasang wajah menggemaskan.


Alif tak mampu menolak. Dengan berat hati ia pun mengangguk. "Ya sudah mana sini?"


Wajah sumringah dapat terlihat dengan jelas di wajah Melati. Dengan semangat ia mengambil buku-bukunya.


Alif benar-benar tak percaya dengan tingkah Melati. Bagaimana mungkin ia mengerjakan tugas 8 hingga 10 mapel sekaligus.


"Kok bisa sebanyak ini..?!" Tanya Alif bersungut kesal.


"Eee.. anu.." Melati memegang tengkuknya kikuk. Namun seketika raut wajahnya berubah sedikit sendu mengingat kembali apa yang tengah melanda batinnya saat ini.


Alif yang melihatnya menjadi merasa bersalah. Dalam sekejap ia tau apa yang tengah adiknya itu pikirkan.


"Ya udah ayo Kakak ajari tapi cuma satu soal ya," Alif merangkul bahu adiknya. "Tapi cuma satu soal terus seterusnya kerjakan sendiri. Kalo masih bingung tanya saja."


Melati tersenyum mendengarnya. Ia pun mengangguk dan mulai membuka bukunya. Menunjukkan tugas-tugas yang ia punya.


***


Alif mematung melihat kemesraan Ayah dan Ibu sambungnya. Meski ia telah mengetahui semuanya, namun tak dapat dipungkiri bahwa hatinya merasa sakit melihat pemandangan dihadapannya. Bagaimana Ayahnya dengan jahilnya mengganggu Ibu sambungnya saat tengah memasak sarapan.


Memori-memori tentang Bundanya Sharah masih melekat erat di ulu hatinya. Bulir-bulir bening di matanya mulai menetes. Dengan cepat ia mengusapnya kasar.


Ia melangkahkan kakinya berbalik menuju kamarnya. Ia sebenarnya memang telah sangat lapar, namun melihat keadaan di dapur membuatnya kehilangan ***** makannya. Alif lebih memilih untuk mempersiapkan kebutuhan sekolahnya.


"Tunggu Nak.." Panggil Ikhsan pada putranya yang tengah tergesa-gesa menuju pintu keluar rumahnya.


Alif menghentikan langkahnya. Beralih menatap kedua insan di hadapannya.

__ADS_1


"Sarapan dulu Nak,.." Tutur lembut Ikhsan.


"Emm-.." Ucapan Alif terpotong kala mendengar langkah kaki dari arah tangga. Ia mengalihkan perhatiannya pada Melati.


"Kak aku tunggu depan." Ujar Melati tanpa melihat ke arah Ikhsan dan Mina. Lalu melanjutkan langkahnya.


"Melati,..! Ayo sarapan dulu Nak.." Suara Ikhsan menghentikan langkahnya. Melati menghela nafas lalu berbalik menatap Ayahnya.


"Tidak mau" jawabnya datar. Lalu berlalu begitu saja.


Alif yang melihat keadaan di rumahnya pagi-pagi begini menjadi sangat bimbang. Ia sendiri juga merasa khawatir pada Melati takutnya nanti sakit jika tak pergi sarapan. Apalagi ini hari Senin, ia harus mengikuti upacara di Sekolahnya. Kantin masih pagi-pagi begini mana buka. Ia menatap Ayahnya.


"Maafkan Melati ya Yah,"


"Iya Nak tidak masalah kok. Sarapan kamu dan Melati di buatkan bekal saja ya Al, kan kamu harus berangkat sekarang sama Melati." Ikhsan berusaha tersenyum.


"Iya Yah." Alif membenarkan perkataan Ayahnya. Toh juga ia menghawatirkan keadaan Melati.


Ikhsan memberi isyarat pada Mina untuk di buatkan bekal. Mina pun mengangguk dan mulai mengerjakan yang diperintahkan suaminya.


Alif pergi menyusul Melati yang tengah menunggunya di depan rumahnya. Sebelumnya ia pergi dahulu ke bagasi dan mulai pergi ke sekolah dengan mengendarai motornya.


***


Di sekolah teman-teman Melati terus melihatnya murung seharian ini. Mereka memang mengetahui bahwa Melati telah kehilangan Bundanya, namun bukankah beberapa hari terakhir ini Melati telah nampak seperti biasa. Lantas ada apa dengan hari ini. Bahkan ia tampak lebih diam dari hari pertama sekolah setelah ditinggalkan Bundanya.


"Mel.." Sapa lembut teman Melati yang bernama Elisa.


"Hmm.."Jawab Melati malas bahkan tak melirik temannya.


"Kenapa si hari ini?" Tanya Elisa hati-hati, sebab sebenarnya sudah dari tadi ia berusaha mengajak Melati berbicara namun tetap saja Melati enggan menanggapi.


"Loe kan punya gue sahabat loe, ya kali aja gue bisa bantuin dengan loe cerita ke gue. Jangan pernah ngerasa sendiri..." Bujuk Elisa.

__ADS_1


"Hmmffs.." Melati menarik nafas panjang. Ia mulai melirik teman sebangkunya itu. Sekarang memanglah tengah jam pelajaran ke dua jadi kelas lumayan sepi. Hanya beberapa saja yang tengah menyantap bekal yang telah mereka siapkan.


"Loe juga pucet banget, dieemmm mulu, daritadi juga belum makan. Apa jangan-jangan loe juga belum sarapan?" Celoteh Elisa yang membuat Melati jengah.


"Ga papa, saya cuma males aja hari ini,.."


Hening.


Kruuuk... kruuuk..., Ya ampun Melati merutuki keadaan perutnya yang tak bisa diajak kerja sama.


"Haa..haa..ha..., Ya ampun sok sok jual mahal. Sepandai-pandainya tupai melompat ya pasti pergi melompat.." Cerocos Elisa tak jelas.


"Apaan sih kamu, ga jelas banget..." Mendengus kesal.


"Iya ya deh maaf, ya udah mau gue beliin ga?, Mumpung jamnya masih lumayan.."Melirik jam di tangannya.


Melati mendesah kasar, sebenernya ia juga sudah dibawakan bekal tadi oleh Kakaknya. Bukan masalah tak enaknya, namun siapa yang menyiapkan bekal itu yang ia tak suka. Tapi Melati juga bukan tipe orang yang suka membuang-buang makanan.


Bagaimanapun itu tetaplah rezeki. Banyak orang di luaran sana yang begitu keras mengais rezeki untuk makan. Baiklah ia akan makan makanan, lain kali ia lebih memilih ditambah saja uang jajannya. Ia masih tak mau memakan makanan wanita itu (Ibu sambungnya).


"Ngga perlu El, saya juga sudah membawa bekal dari rumah.." Tolak halus Melati.


"Ouh ya udah, gue tinggal dulu aja yah. Tapi loe tungguin gue dulu makannya, janji ga lama.." Elisa melenggang pergi meninggalkan Melati. Sedang Melati geleng-geleng kepala melihat Elisa.


Ternyata cukup banyak juga yang dibeli Elisa, cilok, lontong, otak-otak bahkan gorengan pun ada, tak lupa juga dengan minuman sekitar ada tiga jenis. Melati geleng-geleng saja melihatnya. Belum makan saja ia sudah merasa kenyang melihat pesanan Elisa. Pantas saja badannya agak lebih besar darinya. Padahal tingginya sama.


"Kamu yakin El, makan segitu banyaknya?" Tanya Melati sembari membuka bekal makanannya.


"Iya dong Mel, gue juga kan dari pagi tadi nungguin loe disisni. Ampe malah tidur tadi." Jawab santai Elisa, namun membuat Melati tak enak.


"Maaf ya El, lagian juga kamu tadi harusnya ga nungguin saya.."


"Udah ga papa kok. Ya udahlah kita makan aja dulu ya.." Mulai memasukkan cilok ke dalam mulutnya dengan tusuk lidi.

__ADS_1


Melati juga demikian. Mereka tak berbicara saat makan, diantara keduanya fokus pada makanan masing-masing. Memang Melati akui masakan Ibu Sambungnya sangat lezat. Ia yang notabenenya kelaparan pun menghabiskannya tanpa sisa.


"Tadi aja, sok-sokan ga makan, males katanya. Sekarang aja makanannya dah abis duluan..." Kesal Elisa, jika seperti ini ia jadi tak memiliki teman makan. Apalagi juga teman sekelas lainnya yang juga berada di kelas, telah menutup bekalnya masing-masing.


__ADS_2