Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 77


__ADS_3

Melati dapat bernafas lega, lamaran yang diajukan oleh Kakaknya untuk Kak Lulu diterima dengan baik. Kebahagiaan pun menyelimuti kekediaman Ikhsan.


Setelah ini mereka tinggal fokus ke pernikahan putra sulung mereka. Awalnya Lulu merasa insecure karena statusnya yang janda bahkan memiliki buntut dan pangkat sosial mereka yang berbeda juga.


Namun dengan Mina yang meyakinkan dirinya bahwa hal itu sama sekali tidak dipermasalahkan dan mereka menerima Lulu apa adanya, maka luluhlah hati Lulu.


Saat ini Melati pun telah kembali lagi ke rumahnya bersama sang suami. Karena memang jarak tanggal pernikahan Kakaknya yang masih jauh, jadi ia merasa masih bisa bersantai.


"Mel," panggil Fahmi duduk di samping istrinya.


"Iya Mas." Jawab Melati tersenyum menoleh lalu kembali fokus ke arah televisi.


"Maaf."


Sontak Melati kembali menoleh dan mengernyitkan dahinya. "Maaf untuk apa Mas?"


"Untuk semuanya, maaf Mas harus mengubur dalam-dalam impianmu dalam hal pernikahan." Lirihnya merasa bersalah.


"Tidak perlu Mas, kau tetaplah lelaki yang terbaik untuk setelah Ayah. Karena kau benar-benar laki-laki yang bertanggung jawab, sabar menghadapi tingkahku dulu. Lalu untuk apa kita mempermasalahkan hal yang sudah berlalu."


"Tapi tetap saja Mel-"


"Mas sudahlah aku tak ingin membahas yang sudah berlalu itu. Diantara kita ada Farah dan Aisyah. Merekalah yang saat ini harus kita perhatikan."


Fahmi sedikit menaikan sudut bibirnya, dalam hatinya tidak henti ia bersyukur. Dibalik ini semua, ia benar-benar mendapatkan anugerah yang sangat berharga.


"Oh ya Mas, bagaimana dengan restoranmu itu?" Tanya Melati mengalihkan pembicaraan.


"Oh untuk itu, Alhamdulillah sudah selesai untuk tempatnya dan beberapa karyawan. Tinggal menunggu kapan waktu yang pas untuk membuka tempat itu. Doakan saja ya Mel, semoga usaha kita kali ini lancar."


"Iya Mas sudah pasti, aku akan mendukung dan mendoakanmu selalu." Ucap Melati yakin.


***


Hari ini dengan senang ia ingin mengajak Melati untuk pembukaan tempat usahanya. Melati dengan senang hati mengikuti ajakan suaminya.


Dan sengaja pagi ini ia tengah menyiapkan makanan kesukaan suami serta anak-anaknya.


"Bismillah ya sayang, semoga lancar dan berkah." Ujar Fahmi melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


Melati menoleh dan tersenyum, "Iya Mas, semoga saja ya."


Sedang asyik bercengkrama dengan istrinya, Fahmi merasakan getaran di sakunya. Dengan tanpa melepas tangan satunya ia mengambil ponselnya tersebut.


"Hallo Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"..........."


"Apa?!" Fahmi tersentak mendengar kabar yang baru ia dengar.


Melati pun tak kalah terkejutnya, sebenarnya ia tak dengar kabar yang didengar Mas Fahmi. Hanya saja ia terkejut karena suara dari suaminya.


".........."


"Baiklah aku akan segera ke sana Ray."


Pip. Fahmi memutuskan sambungan teleponnya.


"Ada apa Mas?" Tanya Melati cemas melihat wajah sendu suaminya.


"Tempat itu terbakar hangus Mel." Terangnya terbata.


Sontak Melati menutup mulutnya, ia benar-benar tak menyangka hal ini akan terjadi. "Mas-"


"Kau di rumah saja ya sayang. Biar aku yang mengurus ini semua. Kau jagalah anak-anak." Titah Fahmi cepat.


"Baiklah Mas," pasrah Melati.


Tanpa sarapan Fahmi segera menuju tempat lokasi. Tempat yang baru saja ia bangun, kini hangus terbakar. Banyak juga orang-orang yang ingin melihat kejadian tersebut.


Tepukan di bahunya membuat perhatiannya teralih.


Fahmi berusaha tersenyum tipis. Para karyawan yang baru itu juga merasakan sedih. Namun mereka mengerti, pemilik dari tempat usaha itu juga pasti lebih sedih.


"Maafkan saya ya, kalian harus seperti ini." Ucap Fahmi merasa bersalah pada karyawannya.


Mereka terlihat menggeleng dan tersenyum tipis, "Tidak apa Pak,"


Rayn hanya bisa menghela nafasnya panjang dan memandang sendu tempat yang telah dilalap habis oleh api.


Jauh dari tempat mereka, ada seseorang yang tengah tersenyum puas. Salah satu sudut bibirnya terangkat sempurna.


Bagaimana Mas, ini belum apa-apa. Dan kau Rayn asisten sialan, ku pastikan kau akan mendapatkan ganjaran lebih dari ini. Batinnya licik.


Flashback


"Tuan, Tuan Fahmi telah merencanakan untuk membuka tempat usahanya pada hari esok." Lapor seorang bawahan pada atasannya.


"Apa? Cepat sekali. Tunjukan foto-fotonya!" Titah Tuan Besar itu.


"Ini Tuan." Bodyguard tersebut menyerahkan beberapa lembar foto yang tadi diambilnya.

__ADS_1


Tuan Besar itu mengamati lamat-lamat lembar demi lembar yang disodorkan kepadanya. Salah satu sudut bibirnya terangkat dan hatinya merasa puas.


"Papa!!" Panggil putri kesayangannya dari jauh.


"Iya sayang, di sini." Sahutnya.


Putri emasnya itu nampak sangat kesal. "Papa harus berapa lama lagi aku menunggu?!" Sungutnya.


"Baiklah putri Papa ini seperti sudah tidak sabaran ya. Bagaimana jika besok pagi sayang? Lihat!" Menunjukkan beberapa lembar foto yang telah ia amati tadi.


Anak tunggalnya itu tersenyum, "Baiklah Papa, biar aku sendiri yang turun tangan dalam hal ini."


"Tidak mungkin sayang, bagaimana jika nanti kau terluka. Tidak Papa tidak akan mengizinkannya!" Tolak Tuan Besar itu cepat.


"Pah tapi-"


"Tidak ada tapi-tapian sayang. Biar para bawahan Papa saja yang bertindak. Kau hanya tinggal duduk manis saja."


"Pah kumohon. Biarkan aku ikut dengan mereka." Rengeknya seperti anak kecil. Karena biasanya, dengan menunjukkan puppy eyes miliknya. Ayahnya pasti akan mengabulkan, semua permintaannya. Apapun itu.


Akhirnya Ayahnya itu pun luluh dan mengizinkannya.


"Baiklah sayang, terserah kau saja." Pasrahnya malas.


"Aaaaaaa, terimakasih Papa-ku. Kau memang Papa terhebat." Terangnya bangga dan memeluk tubuh Ayahnya.


"Iya sayang, apapun akan Papa lakukan demi kebahagiaanmu. Apapun sayang, apapun..."


Tuan Besar itu memang sangat menyayangi putrinya, seluruh hidupnya hanya untuk kebahagiaan putrinya saja. Maklum saja, dia adalah satu-satunya hal yang istri tercintanya itu tinggalkan.


Pagi-pagi sekali, putrinya itu beserta para bawahannya pergi ke tempat lokasi.


Wanita 27 tahun itu pun mulai merencanakan untuk menghancurkan tempat usaha lelaki yang sangat ingin ia miliki. Dengan licik, ia menyuruh para bawahan Ayahnya untuk menghancurkan terlebih dahulu CCTV yang menyebar di area sekitar tempat tujuan.


Permainan mereka juga sangat bersih, hingga tak meninggalkan jejak sedikit pun. Mereka juga sengaja membuat sumber api di tempat-tempat yang tersembunyi bahkan sulit dijangkau.


Mereka juga sangat terpukau dengan putri Tuan mereka yang dengan sangat lincahnya ikut dalam melaksanakan tugasnya.


Tak menunggu lama, mereka segera pergi setelah menyelesaikan misi mereka. Karena juga melihat waktu yang sebentar lagi matahari terbit.


Bahkan orang-orang juga sudah ada yang memulai aktivitas paginya. Dengan mengendap-endap mereka menjauh dari tempat itu dan berpencar pastinya.


Tak lama, mereka juga melihat kobaran api yang kian menjalar dan ingin ******* habis tempat itu. Orang-orang yang berlalu lalang, sangat panik. Dan ada beberapa di antaranya yang hanya menonton bahkan memvideokan kejadian tersebut.


Ada juga yang langsung menelpon Pemadam kebakaran karena memang kobaran api yang begitu besar. Mereka juga menakutkan kobaran tersebut akan merambat ke tempat yang lainnya.

__ADS_1


Flashback end


__ADS_2