Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 83


__ADS_3

Fahmi mengerutkan dahinya, ia merasa tak menyembunyikan apapun.


"Tidak sayang, memangnya ada apa? Jika ada sesuatu, tanyakan saja." Ujarnya.


Melati tersenyum miris namun segera ia tunjukkan wajah yang berbeda. "Tidak Mas, mungkin aku hanya kelelahan." Elaknya.


Fahmi mengeratkan pelukannya, ia juga mendekatkan wajahnya pada sang istri.


"Mas sebentar lagi akan ada Farah." Ucap Melati seraya berusaha melepaskan pelukan Mas Fahmi. Namun suaminya itu justru lebih mengeratkan pelukannya.


"Ayah!, Bunda!" Melati memejamkan matanya lega, akhirnya tanpa disuruh pelukan itu melonggar.


"Kenapa Ayah dan Bunda terlihat sangat dekat?" Tanya Farah polos.


"Tadi mata Bunda berdebu sayang. Jadi Bunda meminta Ayah untuk meniupi mata Bunda." Jawab Melati.


"Ouh begitu, ya sudah hari ini Bunda masak apa?"


Melati menggandengnya tangan anaknya menuju ruang makan. "Kau lihatlah sayang, Bunda memasak makanan kesukaanmu."


Farah terlonjak senang melihat meja makan yang begitu banyak lauk. Tidak biasanya Bunda-nya seperti ini.


"Waw Bunda ini sangat banyak. Dan enak-enak, kau memang the best." Puji Farah dengan mengacungkan kedua jari jempolnya.


"Tentu sayang, Bunda." Ucap Melati membanggakan diri.


Fahmi memperhatikan keduanya senang, inilah yang membuatnya tenang dan damai setelah seharian berkutat dengan huruf dan angka. Melati mengambilkan nasi untuk keduanya dan menayangkan ingin makanan apa. Ia begitu telaten melayani keluarganya.


***

__ADS_1


"Sayang, aku ingin kita semua menghabiskan waktu bersama pekan ini." Ucap Fahmi menatap wajah istrinya. Saat ini ia tengah bermanja-manja dengan Melati.


"Em, aku juga sangat mau untuk itu Mas." Sahut Melati sembari mengelus lembut rambut sang suami. Inilah rutinitas mereka setiap malam. Sebelum tidur mereka akan menghabiskan waktu di balkon dengan Fahmi yang meletakkan kepalanya di paha sang istri. Mereka saling menceritakan kegiatan mereka pada siang hari yang membuat mereka jenuh.


"Baiklah Minggu depan kita harus liburan,"


"Iya Mas, nanti juga aku akan menyiapkan kebutuhan anak-anak juga."


Muka Fahmi berubah mendengar anak-anak. Niatnya ia hanya ingin menghabiskan waktu dengan Melati. Lagipula semenjak pernikahan mereka tidak pernah berbulan madu. Ia langsung bangkit dan duduk di sebelah istrinya.


"Sayang aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersamamu." Ungkapnya memelas. Ia meraih kedua tangan istrinya, "Dengan anak-anak kita bisa liburan di lain hari. Semenjak pernikahan kita tidak pernah berbulan madu kan? Aku ingin kau merilekskan tubuhmu sejenak dan bersenang-senang bersamaku."


Melati menghembuskan nafasnya pasrah. "Tapi bagaimana dengan anak-anak?"


"Bukankah mereka memiliki kakek dan nenek. Kita bisa menitipkannya pada Ayah dan Ibuku atau Ayah dan Ibumu." Celoteh Fahmi.


"Baiklah, kita bisa bicarakan ini dengan keluargamu. Bukan maksud apa, hanya saja keluargaku tengah menyiapkan pernikahan Kak Alif." Ujar Melati.


"Aku sangat mau Mas," jawab Melati tersenyum. Sontak Fahmi langsung menghambur ke pelukan istrinya.


"Oh ya sayang, apa kau ada pikiran untuk memberikan Aish adik?" Tanya Fahmi sembari mengelus lembut perut istrinya.


"Apa? Adik? Mas Aish saja masih membutuhkan ASI. Dan kau dengan mudahnya bertanya seperti itu?" Heran Melati.


"Tapi usianya sudah hampir satu tahun. Kau mau yah berhenti mengonsumsi pil KB." Pinta Fahmi.


"Bukan maksud apa Mas. Kau kan tahu, dengan adanya Aish terkadang aku menghiraukan Farah. Aku tahu dengan Farah yang akhir-akhir ini jarang bermanja padaku. Itu karena dia selalu melihatku yang tengah mengurus Farah. Padahal harusnya aku menemaninya, mendengarkan bagaimana sekolahnya. Dengan aku bekerja juga semakin membuatku tak menghabiskan waktuku dengan Farah.


Meski ia tak pernah marah atau cemburu, namun aku tahu ia selalu menyembunyikan itu semua. Tiap malam aku mengecek kamarnya, dan tak jarang aku mendengar tangisannya yang ditahan. Dan asal kau tahu saja Mas, bahkan ketika ia melaksanakan sholat Isya'. Ia sering mengadu keluh kesahnya di atas sajadahnya. Aku benar-benar bukan Ibu yang adil." Terang Melati sendu.

__ADS_1


"Kau adalah wanita terbaik untukku dan anak-anak Mel. Mungkin karena memang waktumu yang sekarang lebih terkuras ke pekerjaanmu sekarang. Tapi apapun itu, aku tetap bersyukur setidaknya kau tidak pernah melupakan melupakan Farah."


"Tentu sampai kapanpun aku tak pernah melupakan Farah, bagiku Farah maupun Aish tetaplah kedua putriku yang sangat aku sayangi dan aku banggakan." Tutur Melati halus.


"Baiklah untuk sekarang-sekarang aku tak akan meminta kau berhenti meminum pil KB. Tapi kau tetap ingin memiliki anak lagi kan Melati?"


"Jika memang dikasih nantinya, pasti aku akan sangat bersyukur Mas."


"Kaulah wanita hebatku Mel." Pungkas Fahmi memeluk tubuh istrinya, dibanding beberapa bulan terakhir. Kini tubuh itu terlibat berisi namun ideal. Tidak kurus dan tidak gemuk.


Di dalam pelukan suaminya, Melati memikirkan hal yang tadi siang ia lihat. Apakah harus ia tanyakan, namun ia takut jika nantinya Mas Fahmi akan salah paham. Tapi menyimpan pikiran buruk bahkan kecurigaan juga membuat hubungan keduanya tak baik. Apalagi jika sampai tidak saling percaya.


"Mas, apakah kau sangat mencintaiku?" Tanya Melati mendongakkan wajahnya.


"Tentu sayang, bahkan aku ungkapan aku mencintaimu sudah menjadi makananmu sehari-hari. Tiap malam, pagi, dan siang, bahkan ketika kita jauh pun hanya kau yang aku pikirkan." Ungkap Fahmi jujur.


"Bagaimana jika kau bertemu dengan seorang wanita yang lebih baik dariku. Kau kan tahu di atas langit masih ada langit."


"Kau ini berbicara apa Melati. Tentu saja dengan membandingkanmu dengan wanita lain tak pernah terpikirkan olehku. Jika ia pun, kau tetaplah yang terbaik untukku.


Jika ada seseorang yang lebih baik darimu maka kau tetaplah ratu di hatiku. Karena memang hanya kau takdirku, tidak peduli sebagaimana sempurnanya wanita lain." Jelas Fahmi semakin mengeratkan pelukannya.


"Mas apa kau tak ingin mengatakan apapun padaku?" Lagi-lagi Melati mendongak untuk menatap wajah Mas Fahmi.


"Apa ada sesuatu di hatimu? Tanyakan saja Mel, aku tidak memintamu untuk percaya padaku. Tapi setidaknya kita saling terbuka, dan jangan menyimpan sesuatu sendiri. Jika aku salah tegurlah aku."


"Jika aku akhir-akhir ini bertemu dengan teman laki-laki ku apakah aku harus memberitahunya padamu?"


Fahmi menjauhkan dirinya dari tubuh sang istri dan menatap Melati dengan serius. "Aku tahu bahwa kau bukanlah wanita yang kenal dengan banyak pria dan tidak terlalu dekat dengan mereka. Tapi akhir-akhir ini kau bertemu seseorang? Siapa dia?"

__ADS_1


"Aku hanya bertanya jika Mas, apa aku harus memberitahunya padamu?"


Suaminya itu terlihat menghembuskan nafasnya panjang. "Jujur sebenarnya aku cemburu jika kau bertemu dengan seseorang Mel. Tapi aku sangat mempercayaimu, dan tidak masalah jika kau tidak ingin memberitahuku. Namun aku lebih senang jika kau memberitahu aku tanpa diminta."


__ADS_2