Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 36


__ADS_3

"Nak." Panggil Mita dengan bergetar. Ia sendiri sudah sangat memahami isi hati sang menantu. Dengan lembut ia merangkul bahu manantunya itu.


Fahmi menundukan kepalanya, ia sangat malu pada ibu dari anaknya itu. Ia sangat sadar perbuatannya sangat membuat Sasa terluka.


"Sa--", belum selesai Fahmi berucap Sasa mengangkat salah satu tangannya.


Sasa memejamkan matanya, "Sebaiknya kau obati dulu lukamu Mas." Ujarnya dingin tanpa menoleh sedikitpun pada suaminya.


Fahmi semakin menundukkan kepalanya. Rasa penyesalan, malu dan jijik pada dirinya sendiri. Ia sendiri masih belum menyangka dengan apa yang diperbuatnya.


Mita membawa Sasa duduk di sofa. Ia mendekati putranya, melanjutkan mengobati luka di wajah dan beberapa bagian di tubuh Fahmi.


"Shh..," Fahmi meringis menahan perih. Dengan telaten Mita meniupi luka yang tengah ia beri obat merah. Sedangkan Faris sedari tadi hanya diam dan memijit pelipisnya.


Sasa melihat keadaan tubuh suaminya yang sangat kusut dan kacau. Namun pikirannya sedang tidak berada di tempat itu. Entah apa yang sedang ia pikirkan, hanya ia yang tahu.


Mita dan Fahmi menghembuskan nafas panjang mereka. Pria tertua di rumah itu menatap anak dan menantunya bergantian. "Nak kalian berbicaralah dulu, cobalah untuk berusaha berbicara dengan kepala dingin."


Ia merangkul bahu istrinya, tentu ia tahu bahwa Fahmi mendengar apa yang ia bicarakan dengan Tuan Ikhsan tadi. Ia akan membiarkan putranya memberi pengertian kepada istrinya.


Fahmi yang sedari tadi menunduk kini mengangkat wajahnya. Ia beranjak dan berjongkok di hadapan sang istri. Menggenggam erat tangan Sasa dan memberinya kecupan lembut. Bahkan ia sempat menunduk dan mengeluarkan air matanya.


"Maaf.." ucapnya lirih dengan bahu terguncang.


Sasa memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia menghembuskan nafas kasar. Tak tahu ingin berkata apa. Hanya kekecewaan dan amarah yang saat ini menyelimuti dirinya.


"Katakanlah sesuatu Sa, jangan diamkan aku seperti ini. Marahlah padaku, pukulah aku, hina aku, umpat aku, apapun lakukanlah yang kau mau saat ini Sa kumohon. Tapi jangan diam seperti ini." Pinta Fahmi.


Sasa hanya menggeleng, bahkan ia sama sekali tak mengeluarkan air mata. Entah karena kekecewaan yang begitu dalam atau hal lain.

__ADS_1


"Sa aku sendiri tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri. Aku bahkan tidak mengingat apapun. Semua begitu tiba-tiba Sa, percayalah padaku. Tak pernah terlintas di pikiranku untuk menghianatimu Sa." Fahmi semakin terisak dalam tangisnya.


Ibu dari anaknya itu melepaskan genggaman erat tangannya yang sedari tadi di pegang oleh Fahmi. Ia beranjak dari duduknya dan berlalu begitu saja.


"Sayang kumohon.." Fahmi mencekal tangan milik Sasa.


"Kumohon Mas lepaskan aku saat ini. Aku sudah sangat sesak sedari tadi." Tegas Sasa melepas kasar cekalan tangan Fahmi. Ia langsung berlari menuju mobilnya. Fahmi tentu tak tinggal diam, ia mencari kunci mobilnya dan mengikuti kemanapun Sasa pergi.


***


Mina begitu terpukul saat melihat keadaan putri sambungnya. Tak pernah ia sangka bahwa Melati akan bernasib sama sepertinya. Dekapannya tak pernah terlepas dari tubuh Melati. Ditemani oleh kedua sahabat putrinya tentunya.


Setelah Melati terlelap, ia pun melirik kedua gadis di sampingnya. Perlahan ia lepas pelukannya dengan Melati. Ia mengajak keduanya untuk berbicara dengannya. Sebenarnya ia sendiri juga sangat kecewa dengan sahabat putrinya itu.


"Katakan semua yang telah terjadi. Dan kenapa bisa sampai menimpa putriku?, Bukankah kalian juga ada di sana?." Tanya Mina tajam pada Aaz dan Maira.


"Kenapa kalian diam saja?, Apakah kalian bersalah dalam hal ini?" Tegasnya sekali lagi.


Mereka berpandangan, saling melempar untuk menjawab pertanyaan dari Mina dengan gerakan kepalanya. Namun masih belum ada yang berani untuk membuka mulut.


Mina membuang nafas panjang. Ia sadar perilakunya sekarang tengah membuat keduanya takut. Namun apa mau dikata kekecewaan sulit untuk ditutupi.


"Kami tidak mungkin bertanya pada putri kami. Kalianlah yang tahu selain dia dan Kakakmu Maira. Jadi beritahu kami apa yang terjadi." Ucap Mina dengan nada yang lebih rendah dari sebelumnya.


Aaz menghembuskan nafasnya pelan, "Sebenarnya ketika kejadian itu berlangsung Melati hanya sendirian di rumah. K-kami berada di luar." Ujar Aaz dengan memejamkan mata dan bergetar.


"APA!!?" Mina sangat terkejut mendengar penuturan Aaz. "Bisa-bisanya kalian meninggalkan putriku sendirian di rumah itu!?" Kembali menaikkan nadanya.


Tubuh mereka semakin menegang mendengar bentakan dari Mina. Meski mereka membayangkan kemarahan dari keluarga Ikhsan sedari tadi, namun ketika menghadapinya seperti mereka tak tahu harus seperti apa.

__ADS_1


"M-maaf tapi, k-kami ingin mengajaknya tetapi kami melihatnya tengah sibuk dengan aktivitasnya. Dan kami pun sempat mengajaknya, dan ia menolak ajakan kami." Ucap Maira dengan gemetar.


Mina memegang pelipisnya, ia masih tidak percaya dengan apa yanga ada di hadapannya kini. "Lalu seberapa lama kalian pergi, kenapa kalian belum ke rumah kalian saat semuanya sedang terjadi?"


Maira menyenggol lengan Aaz, ia meminta Aaz untuk menjawabnya. "Maaf tapi ketika kami ingin kembali ke rumah, kami melihat adanya kecelakaan. Karena cukup lama kami melihat korban tidak ada yang membawa mereka ke rumah sakit, jadi kami menolongnya terlebih dahulu."


Mina semakin kalut dalam pikirannya. Ingin menyalahkan kedua gadis di depannya pun tak ada alasan. Mereka tetap tidak mengetahui bahwa semua akan terjadi.


Ceklek. Pintu terbuka, mereka mengalihkan pandangannya pada arah pintu. Tampaklah wajah Ayah dari Melati dan Kakaknya. Penampilan mereka sangat kusut dan letih.


Alif melayangkan tatapan tajam pada Aaz dan Maira. Sedangkan Ikhsan melangkahkan kakinya menuju tempat sang anak.


Air matanya meluruh melihat keadaan Melati, dengan lembut ia mengusap lembut rambut panjang milik Melati. Bisa ia rasakan bagaimana sakitnya Ayah dari istrinya dahulu, kejadian tentang masa lalu kembali datang di pikirannya. Perasaannya bimbang saat ini, entah bagaimana ia akan menghadapi semuanya nanti.


Mina menghampiri suaminya, memberikannya sentuhan kasih sayang dan cinta untuk menguatkannya. Kau tidak sendiri, itulah arti bahasa tubuhnya. Ikhsan memegang tangan lembut di bahunya. Sedangkan Alif mengajak Aaz dan Maira untuk ikut bersamanya.


***


Melati mengerjapkan matanya, ia dapati sebuah lengan di pinggangnya. Ia tahu milik siapa itu, Ibu sambungnya Mina. Ia juga melihat kehadiran kedua sahabatnya di ruangan itu. Mereka sama-sama tidur di lantai beralaskan kasur lantai.


Maniknya mengedarkan pandangannya mencari keberadaan jam. Jam di dinding itu menunjukkan pukul 05.12, langit masih gelap dan ada waktu untuk melaksanakan shalat Subuh. Dengan perlahan ia memindahkan tangan sang Ibu. Dan tertatih-tatih serta menahan sakitnya beranjak untuk melaksanakan kewajibannya.


Gemercik air yang berasal dari kamar mandi membuat Mina tersadar, begitu juga dengan kedua sahabat Melati. Mereka saling pandang, lalu melirik jam dinding.


Aaz dan Maira membereskan tempat mereka yang sebelumnya untuk tidur. Mina telah menawarkan mereka untuk tidur di kamar lain namun mereka kekeh untuk selalu berada di samping Melati.


Keadaan di antara mereka masih sangat canggung, mereka pun memilih menunggu Melati.


Ceklek. Pintu terbuka, dan nampaklah Melati dengan wajah yang basah karena telah mengambil wudhunya. Ia memandang kedua sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2