
"Mas Fahmi." Racau Luna lirih.
Angga yang mendengarnya hanya bisa menahan perih di hatinya, dan tetap fokus pada jalan. Ia mengemudikan dengan jauh lebih tenang dari saat ia pergi ke club malam itu.
Mengapa kau sudah begitu tergila-gila dengan pria yang hanya bertemu denganmu dua tahun yang lalu. Tidakkah kau lihat aku yang menemanimu dari kecil? Apa kau benar-benar tak dapat melihat semua yang aku rasakan selama ini Lun?. Ujar Angga dalam hati dan mencengkeram kuat kemudi mobil tersebut.
Cukup lama mereka dalam perjalanan, akhirnya Angga pun sampai. Ia menggendong Luna hingga ke kamarnya.
"Mas Fahmi aku sangat mencintaimu." Lagi-lagi Angga harus menahan lara mendengar racauan Luna.
Bahkan kau masih mengingatnya meski keadaanmu seperti ini Luna? Kau benar-benar menyakitiku.
Angga menyelimuti tubuh Luna dan mengusap lembut pucuk rambut Luna. Tatkala ia ingin pergi Luna mencekal tangannya, "Jangan tinggalkan aku." Cicitnya.
Pria dua puluh sembilan tahun itu menghembuskan nafasnya panjang dan berbalik. Namun dahinya mengernyit mendapati tubuh Luna yang menggigil. Tak menunggu lama, Angga segera mengecek suhu tubuh Luna.
"Sst, panas sekali." Ucapnya terkejut dan langsung menyiapkan baskom.
Perlahan ia mengompres dahi Luna dan menyelimuti tubuh Luna hingga ke leher. Di rumah ini, Tuan Yovindra memang telah menyiapkan tempat tidur untuknya, namun melihat keadaan Luna membuatnya tak tega meninggalkannya sendirian.
Akhirnya ia memilih untuk tidur di sofa yang berhadapan langsung dengan Luna. Ia merebahkan dirinya dan menatap langit-langit. Memori kebersamaan ya bersama Luna selama inilah yang mengantarkannya menuju alam mimpi.
~•~
Luna mengerjapkan matanya tatkala merasakan cahaya matahari masuk ke celah-celah jendela kamarnya. Dan merasakan agak dingin di keningnya. Segera ia singkirkan dari dahinya.
"Apa ini? Handuk basah? Siapa yang melakukannya?" Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benaknya. Kemudian ia mengedarkan pandangannya ke arah meja di sampingnya. Nampak sebuah baskom yang ternyata belum Angga ambil lagi kemarin.
Ia melihat ke arah bawah selimut guna mengecek keadaan pakaiannya, ternyata masih lengkap sama seperti ia terakhir ketika ia berada di Club malam.
Maniknya juga menatap ke arah sofa yang di atasnya terlihat seorang pria yang tertidur memunggungi dirinya. Dari arah belakang sudah Luna kenali siapa dia. Tak menunggu lama, ia menghampiri pria tersebut.
"Angga? Apa kau yang melakukan itu semua? Terimakasih Angga, kau selalu ada untukku. Aku sangat menyayangimu." Ujarnya membelai wajah Angga.
Sebenarnya Luna sendiri tak mengetahui apa perasaan yang ia simpan untuk Angga. Yang pasti ia begitu nyaman dan senang, pikirannya selalu meyakinkan bahwa Angga sudah seperti Kakaknya, dan hatinya pun hanya untuk Fahmi.
__ADS_1
Perasaannya pada Fahmi memang tak dapat ia sangkal, namun untuk Angga ia benar-benar tak menyadari apapun. Mungkinkah ia juga memiliki rasa untuk Angga? Apakah karena rasa cintanya kepada Fahmi yang membuatnya menyangkal semua yang ia rasakan pada Angga? Entahlah ia sendiri pun tak tahu.
Memikirkan itu semua membuat Luna pusing dan memilih untuk
pergi ke kamar mandi. Tubuhnya pun juga terasa berat dan tidak enak sekali.
Angga terbangun dari tidurnya, dan melihat ranjang tempat tidur di hadapannya kosong. Telinganya mendengar suara gemericik dari kamar mandi.
"Jadi dia sudah bangun?" Gumamnya dan beranjak keluar dari kamar tersebut.
Ia bersiap-siap untuk kembali ke rumahnya, karena ini adalah hari libur jadi ia bisa istirahat sesuka hatinya. Tidur di sofa membuatnya tidak begitu nyaman.
"Dimana Angga?" Tanya Luna memeriksa kamarnya.
"Apa dia sudah kembali?" Ia memilih untuk pergi ke kamar Angga yang berada tepat di lantai bawah dengan masih mengenakan handuk kimononya.
"Angga!!!" Serunya, dan mendapati Angga yang tengah membuat kopi di dapur.
"Ya ampun Luna, mengapa kau keluar dengan berpakaian seperti itu?" Tanya Angga terkejut.
"Meski ini rumahmu, jangan pernah keluar dengan keadaan seperti ini. Banyak orang yang bekerja di rumahmu." Ucap Angga kesal.
"Kenapa? Bahkan aku juga sering berpakaian yang lebih pendek dari ini."
Angga hanya menggeleng dan keluar dari kamar itu. Namun sebelum itu, Luna mencekal tangan Angga.
"Ada apa?" Tanya Angga malas.
"Aku ingin berbicara padamu." Jawab Luna dan menarik tangan Angga untuk duduk di sofa.
"Apa kau akan seperti itu terus? Cepatlah ganti pakaianmu." Pungkas Angga membuang muka.
"Untuk apa? Toh kau juga tak akan macam-macam padaku."
Mendengarnya Angga menoleh ke wajah Luna dan mendekatinya, "Kau yakin aku tidak akan macan-macam. Bagaimana pun aku adalah pria dewasa Luna."
__ADS_1
"Angga ada apa denganmu? Sudah baik-baik, kau tunggu sebentar." Luna segera berlari menuju walk in closet.
"Kau memang tak pernah berubah Luna."
Tak lama Luna datang dengan pakaian yang sebenarnya tidak ada bedanya dengan yang tadi. Ia hanya memakai hot pants dan blouse berwarna merah.
Luna berjalan menuju balkon, ia memberi kode pada Angga untuk mengikutinya.
"Angga bukankah sudah lama kita tidak bersama seperti ini. Aku yang jarang curhat padamu dan kau yang sibuk dengan pekerjaanmu." Tutur Luna memandang ke arah luar.
Kau sendiri lah yang sibuk Luna, sibuk mengejar cinta Fahmi.
"Kenapa kau harus pergi ke club kemarin malam?" Tanya Angga tanpa menatap Luna.
Luna menatap sekilas wajah Angga, ia menghembuskan nafasnya. "Aku tidak tahu, kemarin aku bertemu dengan istri Mas Fahmi. Dia mengatakan bahwa dia sedang hamil. Aku semakin sakit saja, dengan ini harapanku bersama Mas Fahmi semakin kecil Ngga."
Angga menatap wajah Luna, "Mengapa kau begitu tertarik dengan Fahmi?"
"Aku juga tidak tahu, entah kenapa perasaan ini muncul begitu saja saat aku melihatnya. Tapi Ngga, salahkah aku yang mencintainya dan menginginkannya?"
"Perasaanmu memang tidak salah jika muncul, yang salah adalah egomu yang sangat menginginkannya. Kau tak pernah melihat bahwa Fahmi sudah memiliki seorang istri dan anak. Kau sendiri sudah berkali-kali melakukan hal gila namun tak ada yang berhasil bukan?
Seharusnya dengan ini kau tahu bahwa Fahmi memang tidak ditakdirkan untukmu. Luka yang kau rasakan karena Fahmi yang acuh padamu, seharusnya dapat menyadarkanmu dari semuanya Lun."
"Tapi...."
"Tapi, tapi, tapi. Tapi apa? Yang namanya cinta tak dapat dipaksakan Luna. Seperti halnya Papamu, dia sangat mencintai almarhum istrinya. Meski sudah sangat lama Mama-mu meninggalkannya namun hatinya tak dapat berpaling. Ia lebih memilih untuk mengurusmu hingga sekarang Luna.
Wajahmu yang mirip dengan Nyonya besar membuatnya merasa berkhianat dengan istrinya jika dia sampai bersanding dengan wanita lain. Kau sendiri juga tak menyukai bukan jika Papamu menikah dengan yang lain.
Melihat itu, tidakkah kau pikir dengan istri Fahmi dan kedua anaknya bahkan sekarang Melati pun tengah mengandung. Perempuan pula, sama sepertimu yang menjadikan Papamu cinta pertama. Seperti itu pula mereka Luna.
Kumohon setelah ini, cobalah untuk menurunkan egomu sedikit saja. Pikirkan bagaimana perasaan istri dan anak-anak Fahmi. Dan coba bukalah hatimu untuk orang lain." Terang Angga dan tanpa mendengar jawaban Luna ia pergi meninggalkannya. Biarkan untuk saat ini Luna, merenungi semua kesalahannya.
Tes. Air mata Luna meluruh tanpa ia suruh. Mendengar tentang anak-anak Fahmi entah kenapa membuatnya begitu sesak.
__ADS_1