
Fahmi melingkarkan tangannya ke pinggang sang istri. Melati yang terkejut menoleh dan tersenyum manis. Namun ia tetap melanjutkan kegiatannya yang sedang memasak untuk sarapan.
"Sedang membuat apa Bun?" Tanya Fahmi menyenderkan kepalanya di bahu Melati.
"Ikan goreng dan sayur asam." Jawab Melati santai.
Fahmi menganggukkan kepalanya, ia terus saja menatap Melati yang tengah berkutat dengan bahan-bahan masakan. Sebenarnya Melati tidak nyaman dengan posisi ini, karena membuatnya susah bergerak.
"Apa kau tidak ingin berangkat ke kantor Mas? Lihatlah jam di dinding," tunjuk Melati ke arah dinding.
"Em," Fahmi berpura-pura berpikir. "Aku ingin di rumah saja hati ini. Dan menghabiskan waktuku bersama istri dan anak-anakku."
"Hm tumben, ya sudah terserah kau saja. Tapi Mas, bisakah kau duduk saja di sampingku. Aku sudah untuk bergerak."
Meski dongkol, Fahmi tetap menuruti permintaan istrinya itu. Ternyata meski dengan penampilan yang agak acak-acakan wajahnya tetap terlihat cantik.
"Oh ya Mas, kenapa Maira tidak kelihatan pagi ini?" Tanya Melati setelah selesai memasak dan menata makanan di meja.
Beberapa hari ini memang Maira sengaja menginap di rumah ini, untuk membantu Melati mengurus anak-anak. Apalagi Farah yang memang belum sepenuhnya sembuh. Ditambah Bi Marni yang tengah pulang kampung.
"Dia sudah pulang tadi malam Mel, ada sesuatu yang mengharuskan ia pulang." Jawab Fahmi santai.
"Ouh," Melati mengangguk. Lalu dirinya berlalu dari tempat itu untuk membangunkan Farah.
"Pagi putri Ayah." Sapa Fahmi tersenyum cerah pada putrinya yang masih berwajah bantal.
"Pagi juga Ayah," sahutnya malas. Lalu mendudukkan dirinya di kursi.
***
"Hallo Assalamu'alaikum," ucap Fahmi setelah mengangkat telepon.
"Wa'alaikumsalam, maaf Tuan. Mohon maaf Tuan, tapi bisakah anda beritahu dimana anda sekarang? Kenapa tidak pergi ke kantor?" Tanya orang yang berada di sebrang sana. Ternyata orang yang menelpon Fahmi adalah Rayn asistennya.
"Maaf Rayn, sebenarnya saya sedang berada di rumah. Saya hanya ingin bersantai hari ini." Jawab Fahmi.
"Oouh maaf kalau begitu Tuan. Tapi Tuan, bisakah sekarang anda lekas pergi ke sini? Para investor dan pemegang saham semuanya telah berkumpul menanti kehadiran anda."
"Loh memangnya ada apa Rayn?"
"Emmm, itu Tuan. Maaf tapi berita tentang kehidupan pribadi anda telah menyebar luas."
"APA?!"
__ADS_1
Sontak Melati yang tengah menyusui Aish di samping suaminya terkejut mendengar nada tinggi dari Mas Fahmi.
"....."
"Baiklah saya akan segera ke sana. Assalamu'alaikum,"
"....."
"Ada apa Mas?" Melati memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Mas Fahmi yang terlihat gusar dan gugup.
"Ada masalah di kantor Mel, jadi aku harus pergi. Kau tidak apa-apa kan?"
"Tentu aku tidak apa-apa Mas. Silahkan pergilah, aku akan menjaga anak-anak."
Melati menurunkan Aisyah di ranjang dan beranjak.
"Biar aku siapkan dahulu ya Mas semuanya."
Fahmi mengangguk dan beralih menghampiri putrinya.
"Anak Ayah sudah mulai aktif yah, sangat cantik seperti Bundamu." Seolah mengerti apa yang dikatakan oleh Ayahnya, matanya membulat dan tersenyum. Tak lupa tangannya bergerak menggapai wajah Ayahnya dan kakinya menendang-nendang sekitar.
Fahmi semakin gemas saja, ia ciumi seluruh wajah Aisyah.
"Mas ayo bersiap-siap. Aku sudah menyiapkan semuanya." Ujar Melati menghampiri suami dan putrinya.
***
Seperti yang sudah diduga oleh Rayn, kedatangan para investor dan pemegang saham adalah untuk menarik saham yang telah mereka tanamkan. Dan ini semua adalah penyebab dari berita skandal yang menimpa atasannya.
Entah sudah se-frustasi apa Tuan Fahmi itu. Perusahaannya terancam gulung tikar, bahkan tidak ada seorang pun yang ingin mendengarkan penjelasannya.
"Tuan, banyak sekali karyawan yang menggantungkan hidup mereka di Perusahaan ini. Menurut saya sebaiknya Perusahaan ini kita lelang, agar mereka tidak kehilangan pekerjaan mereka."
Fahmi memikirkan perkataan yang dilontarkan oleh asistennya. Dalam hatinya ia pun membenarkan perkataan tersebut. Namun ia juga memikirkan bagaimana dengan keluarganya.
"Baiklah biar nanti aku pikirkan Rayn."
Rayn mengangguk dan meninggalkan ruangan milik atasannya itu.
Di sisi lain, salah satu sudut tercipta di wajah seorang pria paruh baya. Dengan menegak satu gelas wiski, ia tersenyum puas melihat skandal yang menimpa pemilik FAF Group.
"Papa!" Seru seorang wanita yang ia yakini adalah putrinya sendiri.
__ADS_1
"Iya sayang." Jawabnya lembut.
"Papa aku sangat senang," ucap putrinya itu menghambur ke pelukannya.
"Apapun akan Papa lakukan untukmu sayang." Balasnya tak kalah erat.
"Papa setelah ini, Papa sudah berjanji akan bertemu dengan Mas Fahmi kan Pah." Rengek wanita tersebut kepada Ayahnya.
"Tentu sayang, Papa sudah berjanji padamu. Kau tenang saja ya, apa yang kau inginkan selama ini pasti akan segera terjadi." Ujarnya mengelus lembut rambut sang anak.
"Terimakasih banyak Papa, aku sangat menyayanginya."
"Papa juga sangat menyayangimu sayang."
Ayah dan anak itu tersenyum smirk menatap televisi yang tengah mengabarkan berita tentang Tuan Fahmi. Bersama-sama mereka menegak wine yang berada di ruangan tersebut.
***
Melati menoleh tatkala mendengar suara pintu terbuka. Ia mengernyit menatap sang suami yang masuk tanpa mengucap salam.
"Mas," lirihnya.
Fahmi menoleh dan tersenyum, yang juga dibalas senyuman manis dari Melati.
"Ada apa Mas? Tumben tidak mengucapkan salam." Ujar Melati, meski Mas Fahmi terlihat seperti biasanya tak dapat disangkal bahwa aura yang dibawa Fahmi saat ini berbeda.
"Eh maaf sayang, Assalamu'alaikum."
Melati tersenyum tipis, "Wa'alaikumsalam." Lalu mengambil alih tas kerja suaminya dan melepaskan dasi.
"Mel, aku sangat lapar hari ini. Kau masak apa?"
"Maaf Mas, aku pikir kau pulang seperti biasanya. Jadi aku belum memasak, apa tidak apa jika kau menunggu aku memasak dahulu?"
"Tentu sayang,"
Melati mengangguk dan menyiapkan terlebih dahulu untuk suaminya membersihkan dirinya. Lalu pergi memasak. Untunglah putri bungsunya tengah tertidur, jadi tidak masalah jika ditinggal.
Karena hari yang sudah masuk waktu Ashar, Melati mengajak suaminya melaksanakan shalat terlebih dahulu sebelum makan. Sejenak Fahmi merasakan kedamaian dan ketenangan.
Dipandanginya wajah sang istri yang sangat cantik berbalut mukena. Dengan senang hati ia mengerahkan tangannya, dan Melati dengan patuh mencium punggung tangan suaminya. Dan seketika sentuhan lembut penuh kasih sayang pun mendarat di keningnya.
Kemudian mereka beranjak dari tempat itu dan bersama-sama pergi ke ruang makan. Keduanya tersenyum hangat melihat putri sulung mereka tengah berbicara dengan adiknya.
__ADS_1
"Dede Aish, jadi anak yang baik-baik ya. Kakak, Ayah dan Bunda sangat menyayangimu. Dede tahu, kadang Kakak melihat Ayah atau Bunda yang tengah menangis diam-diam.
Makanya kita jadi anak yang baik-baik ya, agar Ayah dan Bunda bangga. Dan biar Ayah dan Bunda tidak sedih lagi. Kakak juga kadang ikut sedih loh. Kakak sayang Aish." Tutur lembut Farah dengan suara yang masih cadel.