
"Cepat katakan apa maumu wanita sialan?!!" Ketus Luna pada wanita di hadapannya.
"Tidak ada, hanya ingin kau tahu diri saja." Jawab Melati santai.
Braak.
Luna menggebrak meja dengan kuat hingga beberapa orang yang tengah menikmati makanan mereka tersedak dan mengarah kepadanya. Namun Luna tak peduli, dirinya tak terima dikatakan seperti itu oleh Melati.
"Apa maksudmu? Kaulah wanita tidak tahu diri itu. Aku adalah Tuan putri Yovindra, aku wanita berkelas dan mahal. Siapapun yang melihatku pasti akan mengejarku dengan susah payah. Apapun yang aku inginkan pastilah tercapai." Ungkapnya sombong.
"Tapi sayang, kau melakukan segala cara untuk menyerahkan dirimu secara cuma-cuma pada pria beristri. Bukankah kau itu wanita yang sangat murah? Ck..,ck..,ck..," Decik Melati santai.
Amarah dalam diri Luna semakin berkobar saja. "Kau...!" Hardiknya ingin mendekati Melati untuk memberinya pelajaran.
"Inikah cara wanita berkelas menyelesaikan masalah? Sungguh kau ingin melawanku yang hanya wanita biasa. Kupikir seseorang yang bisa membuatmu marah adalah wanita yang sederajat denganmu." Ujar Melati dengan tersenyum. Membuat Luna semakin mendidih, namun mendengar pernyataan dari Melati membuatnya terdiam.
"Cih," Luna menyunggingkan senyumnya. "Kau pikir kau siapa? Kau mengakui bahwa kau hanya wanita biasa bukan? Dan lihatlah aku, apa yang aku tidak punya-"
"Cinta, kau tidak memiliki cinta yang kau inginkan. Hingga kau berusaha untuk merebut cinta dari seorang wanita biasa seperti aku. Tapi sayang kau sama sekali tak dapat menggapai hal tersebut." Potong Melati cepat namun santai. Sedari tadi, ia sama sekali tak menunjukkan ekspresi marah atau sedih. Hanya wajah ramah seperti biasanya.
"Kau benar-benar wanita tidak tahu diri. Ingat ya aku akan memiliki apapun yang aku mau. Dan antara kau dan aku sama sekali tak dapat di sandingkan. Jelas aku lebih baik darimu. Lihatlah dirimu yang penampilannya benar-benar murahan dan aku yakin kau menutupi tubuhmu rapat karena cacat bukan. Cih," Luna berdecih membuang muka. "Aku yakin lambat laun cinta Mas Fahmi akan luntur padamu dan berpaling padaku. Yang tak akan pernah luntur kecantikannya dan yang pasti tidak membuatnya malu ketika dia mengenalkan aku pada orang lain sebagai istrinya, karena tubuhku yang sempurna ini serta dihiasi dengan aksesoris yang branded." Lanjutnya membanggakan diri.
"Aku adalah seorang muslimah. Dan muslimah sejati itu memahalkan harga dirinya bukan harga pakaiannya. Kau sendiri mengatakan tentang mahal dan murah. Sekarang aku tanya, bagaimanakah perlakuan antara aksesoris emas permata dan aksesoris yang kau petik dari taman.
Jelas pemilik dari barang-barang mahal pasti akan menjaganya dengan ketat dan yang tempatnya pun tertutup. Tidak sembarang orang dapat menyentuhnya. Dan lihatlah bunga-bunga yang ada di taman. Tempat mereka sangat terbuka, dan dapat disentuh seenaknya saja. Mereka indah namun orang-orang tentu saja akan memilih emas jika diberi pilihan. Mereka melihat bunga hanya untuk memanjakan mata mereka.
__ADS_1
Sekarang coba kau pikir, siapakah yang dimaksud dengan emas dan bunga. Mas Fahmi adalah pemilik dari tubuhku ini, karena itu ia menjagaku dengan ketat dan tak menginginkan siapapun melihat miliknya. Dan kau sendiri? Bagaimana dengan dirimu?" Tanya Melati tersenyum.
"Kau...!" Tunjuk Luna namun kembali menurunkannya. "Kau lihat saja, aku pasti akan mendapatkan suamimu itu. Kau bisa lihat sendiri kan, sampai saat ini suamimu masih belum mendapatkan pekerjaan. Bukankah aku sangat mudah mengabulkannya dan membuatnya jatuh di pelukanku saat itu?" Tanya Luna tersenyum senang.
Tanpa ia duga, Melati justru juga tersenyum menanggapinya. "Selama ini semesta sangat merestui kami, karena itu dalam keadaan apapun kami tetap bersama. Dan untuk masalah materi, Tuhan adalah Pemilik dari segala-galanya. Semua yang dimiliki oleh manusia telah Dia atur. Lalu untuk apa kau mengkhawatirkannya. Selama aku dan suamiku diberi kenikmatan berupa jasmani yang sempurna untuk apa kami mengeluh?"
Luna semakin mengepal kedua tangannya.
"Dan asal kau tahu saja Nona Luna Alura Yovindra. Saat ini kami kembali diberi amanah berupa makhluk yang tengah bersemayam di rahimku. Kehadirannya sudah tentu akan semakin sulit membuatmu untuk masuk ke dalam kehidupan kami.
Ini semua terjadi, karena memang Tuhan yang mentakdirkan kami untuk bersama. Jadi kuharap jadilah wanita yang memahalkan harga dirimu dengan tidak mengejar-ngejar lelaki yang telah dimiliki oleh perempuan lain. Permisi dan Assalamu'alaikum." Pamit Melati tersenyum ramah dan melenggang pergi dari tempat itu.
Luna mengepalkan tangannya dan menatap tajam punggung Melati. "Wanita itu, harusnya dia sadar di mana tempatnya." Geramnya.
***
"Luna aku ada dimana? Mengapa sampai saat ini kau belum juga pulang?" Lirihnya risau dan terus melakukan kegiatannya seperti tadi.
Tuan Yovindra sedang tidak ada di rumah karena harus menghadiri acaranya pribadi. Memang ketika saat-saat seperti itu, ia meminta Angga untuk menjaga putrinya.
Angga beberapa kali mendial nomor telepon Luna, namun sang empu sama sekali tak mengangkat teleponnya.
Sekitar satu setengah jam Angga menunggu, akhirnya ia merasakan getaran di sakunya. Dengan cepat ia mengambil ponselnya.
Ia mendesah kecewa ternyata bukan nomor Luna yang terpampang. Tak mempedulikannya ia memilih untuk mengambil kunci mobilnya, guna mencari keberadaan Luna.
__ADS_1
Selama perjalanan handphone-nya terus berdering hingga membuatnya jengah dan mengangkat teleponnya. "Hallo, ada apa?" Tanya nya tanpa basa-basi.
"Kau ini darimana saja sih Angga? Kau tahu aku melihat Luna ada di sini. Maksudku club di tempat X, kau cepatlah kemari! Sebelum ia benar-benar kehilangan kesadarannya dan dimanfaatkan oleh pria nakal!" Seru Riski, salah satu temannya.
"Apa?!" Angga langsung menginjak pedal rem mobilnya. "Kenapa bisa dia ada di sana?" Tanya nya khawatir.
"Mana aku tahu, memangnya siapa aku? Sudahlah tidak perlu banyak omong seperti ini. Sebaiknya kau lekas kemari dan bawa dia!"
Tuut.
"Dasar Riski sialan. Belum juga aku berbicara, seenaknya saja dia menutup teleponnya. Ck," umpat Angga. Kemudian mengemudikan ke tempat yang saat ini Luna berada.
Dalam waktu tiga puluh menit, Angga pun sampai di Club X. Seketika pendengarannya disambut oleh musik yang berdentum dengan keras. Banyak para wanita berpakaian seksi mendekatinya, namun ia sama sekali tak menghiraukannya.
Satu nama yang saat ini ia pikirkan, Luna. Matanya terus mencari-cari ke seluruh arah, berharap dapat melihat wanita yang ia khawatirkan sedari tadi.
Matanya mendapati sosok pria yang tadi menelponnya, tak menunggu lama ia menghampiri Riski.
"Hei, dimana Luna?" Tanya Angga langsung.
"Eh kau sudah sampai ternyata." Ujar Riski tersenyum aneh, ternyata tubuhnya sudah mulai hilang kesadarannya.
"Sudahlah tidak perlu banyak omong. Cepat katakan dimana Luna?"
Riski dengan lemah menunjuk ke suatu arah. Tempat itu ternyata tak begitu ramai seperti tempat utama. Nampaklah, Luna yang sudah mabuk sedang didekati oleh seorang pria.
__ADS_1
Melihatnya, Angga begitu geram dan tanpa basa-basi menghajar pria itu. Pria itu langsung runtuh pertahanannya karena tubuhnya yang ringan. Orang lain tak mempedulikan keributan yang mereka buat, mereka lebih memilih sibuk dengan kesenangan mereka.
Dengan cepat, Angga membopong tubuh Luna dan segera pergi dari tempat itu.