Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 58


__ADS_3

Melati dan Fahmi memutuskan untuk pergi ke taman terdekat di tempat itu. Karena yang memang hari ini adalah hari libur, suasana di taman itu begitu ramai.


"Eh Bunda lihat itu Mawar.." Tunjuk Farah pada seorang anak kecil yang seusia dengannya.


"Mawar?, Siapa dia?, Yang mana sayang?" Jelas Melati bingung, arah yang ditunjukkan Farah adalah tempat yang kebetulan banyak sekali anak-anak.


"Itu Bunda, dia adalah temanku di sekolah. Ayo kita ke sana Bun." Ajak Farah menarik tangan Melati.


"Iya sayang, tapi bisakah kita pelan-pelan saja." Pinta Melati memohon, keadaannya yang tengah hamil membuatnya cepat lelah. Fahmi yang melihatnya tentu tak tinggal diam, ia langsung meraih kedua bahu istrinya.


"Hai Mawar..." Sapanya pada gadis kecil berkepang satu.


"Eh Farah, kau di sini juga?" Tanya Mawar girang.


"Iya dan apa itu di tanganmu?" Tunjuknya pada paper bag di tangan sang teman.


"Ouh ini buku dan pewarna. Aku ingin menggambar di sini. Kau mau?, Ayo kita duduk di sini." Mawar mengajak Farah duduk di tempat yang telah keluarga Mawar gelar dengan tikar.


"Bunda aku ikut Mawar yah." Izinnya pada Melati.


"Iya sayang, yang penting jangan terlalu jauh yah."


"Baik Bunda, aku pergi ya Ayah."


Fahmi mengangguk, ia dan Melati memilih untuk duduk di kursi yang tak terlalu jauh dari tempat Farah. Seketika pandangannya mendapati orang tua Mawar yang tersenyum padanya. Ia pun membalas senyum tersebut.


"Mel apa kau haus?" Tanya Fahmi melihat Melati yang tengah mengelap wajahnya.


"Lumayan Mas,"


"Baiklah kau menunggu sendirian di sini tak apa kan?,"


"Iya Mas, lagipula juga tak mungkin aku ikut denganmu."


"Ya sudah, tunggu sebentar yah." Melati mengangguk.


Tanpa sengaja, setelah Fahmi membeli minuman serta makanan ringan maniknya mendapati seseorang yang sepertinya ia kenal.


Karena penasaran, ia pun mengikutinya. Hatinya bergejolak geram tatkala melihat wanita yang dicintainya bergelayut manja di lengan lelaki lain.


Ia melirik ke arah taman di mana istrinya tengah menunggunya sendirian. Beberapa kali ia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah karena kepanasan. Melihatnya Fahmi tak tega.


Untunglah wanita yang sangat ia kenal itu berjalan menuju restoran yang terdekat dengan taman itu, karena tak ingin meninggalkan istri muda terlalu lama ia mendial nomor asistennya.


"Assalamu'alaikum, maaf Tuan ada apa gerangan menelpon saya?"


"Wa'alaikumsalam, begini Rayn tidak sengaja saya melihat istri saya bersama dengan pria lain. Kau datanglah ke alamat yang nanti saya share. Ikuti dia dan selidiki siapa sebenarnya pria yang bersamanya."


"Baik dengan segera saya menuju lokasi."

__ADS_1


"Bagus ya sudah saya tutup dulu. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam." Tuut, Fahmi memutuskan sambungan teleponnya.


Aku tak mengerti apa maksudmu Sasa, semoga apa yang kupikirkan saat ini tidaklah benar. Gumamnya dalam hati geram, ia memegang erat ponselnya.


Sebenarnya sangat ingin ia mengikuti istrinya dan melihat semuanya secara langsung. Namun mengingat, ia juga sedang bersama bumil dan putrinya membuat ia memutuskan untuk menyerahkan semua pada sang asisten.


Tak lama datanglah Rayn, ia langsung mencari keberadaan sang bos.


"Maaf Tuan?," Tanya nya pada seorang lelaki yang menggunakan topi dan masker. Seringnya ia bekerja dengan bosnya, membuat ia tahu siapa bosnya meski memakai penutup seperti itu. Ia sendiri juga memakai hoddie berwarna putih dan memakai penutup kepala dan masker sama seperti bosnya.


"Hai Rayn, kau cukup pintar juga ya." Pujinya bangga melihat penampilan Rayn, ia menepuk bahu asistennya itu.


"Iya Tuan jadi bagaimana-"


"Kau lihat itu." Menunjuk ke arah meja yang dekat dengan jendela. Dapat Rayn lihat istri dari Tuannya beradegan mesra dengan pria lain.


"Aku telah merekam dan mengambil gambarnya, setelah ini kuharap kau tahu apa yang harus kau lakukan"


"Baik Tuan, saya mengerti."


"Bagus."


Fahmi mengangguk dan melenggang pergi dari tempat itu.


"Mas sebenarnya apa saja yang kau beli?, Kenapa lama sekali?" Tanya Melati dengan wajah dongkolnya.


"Maaf Melati, tadi sempat bertemu dengan teman lama." Jawabnya nyengir kuda.


Melati menghela nafasnya, "Hm." Langsung saja ia menyerubut kantong plastik yang dibawa suaminya.


"Kau marah?"


"Tidak."


"Apa kau sangat lapar?"


"Tidak."


"Tapi kenapa makanmu banyak sekali dan sangat cepat pula?, Pelan-pelan saja, nanti tersedak."


Melati tak menghiraukan titah suaminya.


Uhuk, uhuk, nah kan. Kenapa pula tak mendengarkan suami.


Dengan cepat, Fahmi membukakan minuman yang tadi dibelinya. Melati menerima minuman yang disodorkan oleh suaminya. Mas Fahmi menepuk pelan punggung bumil itu.


"Lihatlah, kualat kan." Ejeknya menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


"Iya iya, lagipula ini semua salahmu yang meninggalkan aku terlalu lama. Sendirian pula." Dengusnya.


"Apa kau sudah merindukanku hm?," Salah Melati juga yang memancing suaminya untuk menggoda, bingung juga kan sekarang bersikap.


"Em, i-itu aku hanya bosan saja sendirian di sini. Apa kau tidak kasihan pada bumil ini?,"


"Hm.." jawab Fahmi yang membuat Melati semakin kesal saja. Fahmi terkekeh melihat wajah kusut istrinya. Dirinya semakin gemas saja dengan Melati.


"Ayah, Bunda...!" Panggil Farah yang membuat keduanya menoleh ke sumber suara.


"Iya sayang." Jawab Melati dan Fahmi secara bersamaan.


"Lihatlah bagus tidak gambarku?" Menunjukkan hasil karya yang ia buat secara bersamaan dengan temannya tadi.


"Wah tentu saja sangat bagus sayang. Kau sangat berbakat." Puji Melati dengan bangga. Padahal jika di teliti gambarnya tidaklah berbentuk. Hanya lingkaran besar dan beberapa warna lain yang membentuk mata hidung dan mulut.


Farah memilih untuk menggambar beruang Teddy-nya.


"Yeiy Farah gitu loh." Ucapnya percaya diri.


Kruuuk kruuuk kruuuk. Melati dan Fahmi berpandangan dan seketika mencari arah sumber suara.


"Itu dari perutku Bunda.." Jujurnya malu yang membuat kedua orang tuanya terkekeh.


"Ya sudah ayo kita pergi cari makan." Ajak Fahmi.


"Ayo Yah, Bun," Ajak Farah antusias.


Farah digandeng oleh kedua orang tuanya. Dengan Melati yang berada di sisi kanan dan Fahmi yang berada di sisi kiri. Mereka saling melempar canda tawa. Orang-orang yang melihat mereka pun gemas, dan bagi yang masih belum menikah banyak diantara mereka yang memimpikan keluarga seperti itu.


Padahal nyatanya, Melati akan meminta suaminya menalaknya setelah masa nifas. Atau jika tidak, ia sendiri yang akan mengajukan surat cerai.


"Ayah ayo kita ke sana." Tunjuk Farah ke arah restoran yang tadi sempat Fahmi kunjungi.


"Tidak Nak jangan, kita cari ke restoran yang lain saja Yah. Ayo kita naik mobil saja." Tolak halus Fahmi.


Maaf Nak, Ayah hanya tak ingin Bunda-mu Sasa mengacaukan kebersamaan kita. Lanjutnya dalam hati.


Farah dan Melati akhirnya menuruti permintaan Fahmi.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang menatap mereka dengan tangan yang mengepal. Dia adalah Sasa, istri pertama dari Fahmi.


Bembi yang sedang bersama Sasa merasa heran dengan wajah Sasa yang menyorot ke suatu arah dengan penuh amarah.


"Sayang kau kenapa?" Tanya lembut dengan menyentuh tangan Sasa.


"Eh tidak sayang,"


Bembi hanya menggeleng menanggapi, mereka melanjutkan acara makan mereka yang sempat terhenti.

__ADS_1


__ADS_2