
"Apa kau benar baik-baik saja. Wajahmu agak pucat." Ikhsan memegang dahi Mina, mengecek suhu tubuh istrinya.
"Aku baik-baik saja Yah." Mina tersenyum dan menyentuh tangan suaminya, menurunkan dari dahinya.
"Ibu sebaiknya kau jujur. Apakah Ibu sakit?" Ikut Alif menimpali yang juga khawatir dengan keadaan Ibu sambungnya.
"Ibu..-" Belum sempat Mina menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba ia merasa perutnya seakan diaduk isinya. Perutnya seakan mendorongnya untuk mengeluarkan sesuatu.
Seluruh anggota keluarga yang tadi berkumpul sangat panik dengan Mina. Mereka pun menyusul untuk melihat keadaan wanita 34 tahun itu.
"Jangan mendekat mas, aku sedang muntah-muntah." Ucap Mina disela-sela memuntahkan cairan bening.
Namun Ikhsan tak menggubris perkataan istrinya itu, ia justru memijit tengkuk istrinya.
Sedangkan anak-anak mereka menunggu keduanya di luar. Mereka juga sangat mengkhawatirkan keadaan Mina.
"Kak Ibu kenapa?" Tanya Husein pada Alif.
"Entahlah Dek, Kakak juga tidak tahu. Kita do'akan saja semoga Ibu baik-baik saja." Jawab Alif pada adiknya.
Cukup lama Ikhsan dan Mina berada di dalam. Melati, Alif dan Husein dengan segera menghampiri Mina yang tengah dipapah oleh Ayah mereka. Melati juga langsung memegang bahu Mina.
"Ibu kenapa wajahmu kelihatan pucat?" Tanya Husein melihat keadaan Ibunya.
"Ibu baik-baik saja Nak." Jawab Mina berusaha tersenyum dengan bibirnya yang terlihat putih.
"Apa Ibu akan tetap keras kepala mengatakan bahwa kau baik-baik saja?" Ujar kesal Melati yang melihat Ibu sambungnya yang masih mengeyel.
"Maafkan Ibu Nak." Ucap Mina merasa tak enak. Namun hatinya juga sedikit senang karena Melati ternyata mengkhawatirkannya.
"Sudahlah Bu, tak perlu minta maaf. Sekarang lebih baik kau istirahat."
Ikhsan dan Melati menuntun Mina menuju tempat tidur sang empu. Meski sakit namun Mina sangat bersyukur saat ini, ia sangat senang melihat keluarganya yang perhatian padanya.
"Oh ya, apa kau sudah makan Bu?" Tanya Alif.
Mina tak mau berbohong lagi, ia tak ingin kena semprot anaknya. Namun ia juga tak bisa menjawab. Lama ia terdiam terdengar suara aneh yang entah berasal dari mana.
__ADS_1
Kruuk, kruuk, Mina menundukkan wajahnya malu. Ia juga sangat kesal dengan perutnya sendiri yang tak bisa diajak kompromi.
Sedangkan yang lainnya tergelak mendengarnya. Ikhsan menggeleng melihat tingkah istrinya itu. Ia pun memandang Melati.
"Melati apa kau bisa membawakan makanan untuk Ibumu sayang?" Titah Ikhsan pada putrinya.
"Tentu Yah kenapa tidak, baiklah tunggu sebentar ya."
Ikhsan mengangguk. Lalu anak bungsunya duduk di samping istrinya. "Mana yang sakit Bu?, Biar aku pijiti."
Mina tersenyum dan mengelus lembut rambut Husein. Ia tak menjawab pertanyaan anaknya itu.
"Apa kau sudah lapar Nak?"
Husein menggeleng, tanpa disuruh ia memijit kaki Ibunya itu. Bahkan ia sempat menciumnya, karena seketika ia mengingat perkataan Ibu Gurunya.
Ikhsan terharu melihatnya, ia juga melirik Alif yang mulai berkaca-kaca. Tentu saja Alif mengingat mendiang Ibu kandungnya. Perbuatan yang dilakukan Husein tidaklah jauh dari dirinya sendiri. Namun ia berusaha memalingkan wajahnya dan mengusap diam-diam kedua sudut matanya.
"Ehm, oh ya Yah aku ada urusan sebentar. Tidak apa kan aku tinggal?"
Alif mengangguk dan melenggang pergi meninggalkan ruangan itu. Sebenarnya ia hanya rindu dan ingin bernostalgia mengenang Ibunya Sarah.
Meski ia telah mengikhlaskan kepergiannya, namun tidak dapat dipungkiri setiap ia melihat kedekatan Mina dan Husein membuatnya mengingat kenangan indah bersama Ibunya.
Namun ia tidak boleh larut dalam kesedihan, diambilnya air wudhu dan mulai menghadiahkannya dengan mengirimkannya ayat-ayat yang telah Allah turunkan. Dengan membaca Al-Qur'an juga membuatnya tenang.
"Ibu, maaf aku hanya bisa membawakanmu nasi goreng. Aku tidak melihat adanya bahan-bahan sayur atau daging untuk aku masak." Melati masuk dan langsung duduk di samping Mina.
"Tidak apa Nak. Justru Ibu sangat menyukai nasi goreng buatanmu. Kau dulu sering membuatnya, Ibu merindukan ini Nak."
"Kak aku ingin menyuapi Ibu." Ucap Husein mengehentikan kegiatan memijit Mina dan beralih duduk di sampingnya.
"Tentu saja. Ini," Melati menyerahkan nampan yang di atasnya terdapat nasi goreng buatannya.
***
Pagi-pagi buta Mina tak henti-hentinya mengeluarkan cairan yang berasal dari perutnya. Sayup-sayup Ikhsan mendengar rintihan seseorang, ia mengerjapkan matanya dan tangannya terulur ke samping untuk mencari keberadaan sang istri.
__ADS_1
Merasa ada seseorang di kamar mandi, ia pun melangkahkan kakinya. Dilihatnya sang istri yang berpeluh terduduk di atas kloset. Ia pun berjongkok dan memegang tangan Mina.
"Apa yang kau rasakan saat ini hm?" Tanya lembut Ikhsan.
Mina menggeleng lemas untuk sekedar berbicara. Bahkan ia langsung menghambur memeluk tubuh Ikhsan. Dengan lembut Ikhsan mengelus rambut panjang Mina. Ia menuntunnya menuju tempat tidur mereka.
Pria 47 tahun itu melirik jam yang bertengger di dindingnya. Jam menunjukan waktu yang sebentar lagi memasuki waktu subuh.
"Kau mau aku buatkan teh jahe hangat?"
Wajah Mina sangatlah pucat, entah apa yang ia inginkan saat ini. Yang pasti ia ingin selalu berada di samping suaminya.
"Mas bisakah kau duduk di sampingku sini." Menepuk tempat sampingnya dan Ikhsan pun menuruti.
"Mas usap perutku." Titah manja Mina, ia juga langsung bersandar di dada Ikhsan. Hal itu tentu saja membuat Ikhsan terkejut, meski mereka memang sering menghabiskan waktu bersama. Namun tidak biasanya Mina bertingkah manja seperti ini.
"Baiklah tapi kau jangan tertidur lagi ya, lihat sebentar lagi subuh." Ikhsan menuruti permintaan istrinya. Bagaimanapun ia tak kuasa menolak permintaannya.
Lama Ikhsan berfikir dengan keadaan istrinya. Beberapa hari terakhir ini ia sendiri memang sering melihat wajah pucat istrinya. Dan juga muntah-muntah, serta sekarang sangat manja seperti ini.
Pikirannya juga tertuju pada masa periode istrinya. Memang ia tak ingat betul kapan tanggal terakhir istrinya datang bulan, namun sekarang bisa ia rasakan bahwa sudah hampir dua bulan istrinya tak lagi mendapati tamu bulannya itu.
"Dek,"
"Hm,"
"Kapan terakhir kali kamu datang bulan?" Tanya lembut Ikhsan,. sesekali ia mencium pucuk kepala Mina.
Mina yang mendengar pertanyaan suaminya langsung mengangkat kepalanya. Dibalas senyuman manis dari istrinya. Matanya menghadap ke atas dan kesana-kemari. Berpikir tentang pertanyaan yang telah dilontarkan Ikhsan.
"Tunggu seperti sudah dua bulan ini aku tidak mendapati tamu bulananku mas."
Ikhsan semakin mendekatkan diri pada Mina. Ia menyentuh perut rata Mina dan seketika berbinar wajahnya.
"Apa mungkin?-"
Tak ada lagi yang dapat mereka utarakan, hanya air mata yang menghiasi wajah keduanya serta senyuman yang semakin mengambang lebar. Seketika mereka pun berpelukan.
__ADS_1