Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 44


__ADS_3

Setelah pernikahan yang tak diinginkannya terjadi, Melati hanya bisa berdiam diri di tempatnya saat ini. Tempat di mana ia akan mengarungi bahtera rumah tangga bersama sang suami dan madunya. Namun ia sama sekali belum melihat wajah suaminya hari ini. Meski saat pernikahan dilangsungkan dan berada di sampingnya.


Ceklek. Pintu terbuka dan nampaklah wajah letih suaminya. Ia hanya melirik sekilas lalu berpaling ke arah luar jendela. Melati mendengar suara langkah kaki yang kian mendekat ke arahnya. Namun tak ia hiraukan.


Pria itu duduk berhadapan Melati. Ia terlihat berkali-kali menarik nafas panjang.


"Maaf.." ucapnya lirih memandang sendu wajah Melati yang sembab.


Melati mendongakkan wajahnya, ia menatap intens pria yang telah menjadi suaminya itu. Sejenak ia kembali mengingat percakapan dengan Kakaknya Alif dulu.


"Kau mau dimadu?"


"Yang penting suamiku mau diracun."


Ia tersenyum miris, di depannya kini ada suaminya yang telah menjadikannya madu. Akankah ia melakukan yang telah ia ucapkan dulu. Air matanya yang tadi sempat berhenti kini kembali meluruh. Namun tanpa suara, wajahnya pun datar.


Sedari tadi ia berusaha untuk berhenti menangis namun air matanya selalu saja mengalir.


Fahmi yang melihatnya semakin merasa bersalah. Ia beranjak dan berjongkok di hadapan Melati.


"Melati kumohon maafkan aku. Karena perbuatan be*a*ku membuatmu masuk ke pernikahan ini. Namun semuanya sudah terjadi dan harus terjadi. Kumohon maafkan aku Melati." Gumamnya ingin menyentuh tangan Melati.


Namun dengan cepat Melati menghindar. Ia memandang ke arah lain dan menghapus kasar pipinya.


"Kumohon Melati berbicaralah. Kau istriku sekarang, kau berhak mengeluarkan yang kau pendam padaku. Hukum aku, marahi aku, hina aku, pukul aku dan lakukanlah apapun yang membuat hatimu sedikit tenang. Tapi kumohon jangan diam seperti ini." Pintanya dengan mata yang berkaca-kaca.


Melati masih tak bergeming. Ia masih bertahan dengan sikap diamnya. Sungguh sebenarnya hatinya hanya lelah dengan yang semua terjadi. Namun seketika ia melihat wajah suaminya yang juga tengah menatapnya sendu.


Bisa ia lihat dengan jelas ketulusan di mata itu. Tiba-tiba pikirannya melayang pada saat ia berbincang dengan Ibu sambungnya sebelum pernikahan terjadi.


Flashback


"Nak meski pernikahan ini sama sekali tak kau inginkan. Namun dengan adanya pernikahan ini statusmu telah berubah menjadi seorang istri. Bagaimanapun suamimu, kau tetap harus menjalankan kewajiban mu terhadap suamimu.


Patuh dan taat lah pada suamimu Nak, layani dia dengan baik, izinlah jika kau ingin melakukan sesuatu hal bahkan puasa Sunnah sekalipun. Karena kau miliknya dan dia adalah milik Ibunya. Jaga kehormatan dan harta suamimu kala ia tak berada di rumah. Dan-" ucap Mina menggantung kala Melati memotong pembicaraannya.


"Tapi itu semua terlalu berat untuk aku lakukan Bu. Dengan senang hati jika dia pria yang aku inginkan dan aku cintai. Semua yang terjadi begitu pahit bagiku." Isak Melati lirih.


"Pahit?, Kau tengah merasakan sakit yang sangat sekarang?, Hatimu begitu rapuh sekarang?.."


Melati hanya memejamkan mata beriringan dengan jatuhnya air mata.

__ADS_1


"Nak kau tahu bagaimana proses orang yang sedang sakit di rumah sakit agar segera sembuh?" Tanya nya. Melati masih bungkam enggan untuk berbicara.


"Semakin besar rasa sakitnya semakin besar pula biaya yang dikeluarkan, semakin banyak benda-benda aneh yang bila dipasangkan begitu sakit menempel pada tubuhnya, dan mungkin banyak juga obat yang harus ia minum. Dan apakah obatnya juga terasa manis, enak?


Tidak kan, namun dengan usaha dan ikhlas dengan semua pengobatan itu kemungkinan besar ia akan sembuh. Dan orang-orang yang berada di sampingnya pun ikut ikhtiar. Karena mereka juga menaruh harapan padanya untuk sembuh.


Nak, janganlah kau berpikir bahwa kau sendiri. Jika memang benar-benar tidak ada manusia yang menemanimu tenanglah bahwa Allah selalu bersama kita. Jika kadang hidup kita yang selalu merasa tak sesuai dengan yang kita harapkan, mungkin saja karena diri kita sendiri yang terlalu sombong tak meminta semuanya pada Allah.


Sayang, dengarkanlah jika kau terus ikhtiar dan ikhlas menjalani semua yakinlah bahwa sesuatu saat kau pasti akan merasakan kedamaian dan kebahagiaan. Tak peduli seberapa badai menerjang, petir bergemuruh begitu keras. Pasti itu semua akan sirna (menyentuh dagu Melati dan menghapus air matanya),


Jangan pernah lupa untuk selalu berdoa dan memohon pada Allah. Mungkin dengan ini Tuhan menginginkan agar kamu menjadi perempuan yang manja dengan-Nya. Perempuan yang sedikit-sedikit mengadu, dan meminta ini dan itu."


Melati sedikit menarik kedua sudut bibirnya dan menghambur ke pelukannya. Dengan sabar Mina mengelus punggung putrinya itu. Ia melirik ke arah MUA yang sedari tadi menunggu Melati. Karena sedari tadi Melati mengeluarkan air mata hingga jika dimulai untuk menaburkan berbagai macam riasan di wajahnya akan sulit.


Flashback end


Melati menghembuskan nafasnya pelan. Lalu memegang kedua bahu milik Fahmi.


"Kau tidak seharusnya seperti ini Mas." Menuntunnya agar duduk di sampingnya.


"Kau suamiku sekarang, menyesal pun sudah tiada guna." Lanjutnya dengan memasang senyum tipis.


Fahmi terbelalak melihat sikap Melati. Ia kira akan ada banyak cacian dan hinaan mendarat di ulu hatinya. Dan sekarang ia justru melihat wajah Melati yang tersenyum meski tak terlalu lebar.


Melati menghembuskan nafasnya, dengan ragu ia kembali menatap wajah pria di hadapannya itu.


"Bolehkah aku mengatakan sesuatu?"


"Tentu saja, katakanlah.."


"Kita memang telah menjadi suami istri dan memang sudah seharusnya kita menjalani ini semua. Tapi Mas, mungkin aku tidak akan bisa menjadi istrimu seutuhnya dan selamanya."


Fahmi tersentak mendengarnya. Meski ia mendengar dengan jelas, dalam hatinya ia terus menampik kenyataan yang disimpulkan oleh pikirannya.


"A-apa maksudmu?"


"Aku minta maaf Mas, tapi mungkin kedepannya aku mampu untuk menjalankan tugasku sebagai istri seperti menyiapkan makanan dan baju, membersikan rumah dan yang lain. Namun untuk melayanimu itu tidak akan terjadi."


Bibir pria 33 tahun itu sedikit melengkung, ia dapat memahami perasaan Melati. Toh ia juga bukan tipe lelaki yang akan menyentuh wanita yang belum dicintainya. Saat itu ia dalam keadaan tak sadar, namun penyesalan yang ada dihatinya tak pernah mau beranjak pergi.


"Kau tenang saja, aku tak akan melakukannya."

__ADS_1


"Ia Mas, dan satu lagi tadi. Bahwa mungkin setelah masa nifasku selesai, aku tak akan menjadi istrimu lagi."


Deg. Fahmi terbelalak mendengar penuturan Melati. Ia memang telah menerima pernikahan ini, tapi untuk mengakhirinya sama sekali tak pernah terlintas di pikirannya.


"M-maaf tapi Mas, bukan maksudku untuk mempermainkan pernikahan ini. Namun setiap wanita memiliki impian bukan?, Aku tidak ingin selamanya hidup berbagi, apalagi ini adalah suamiku. Tak masalah jika aku hidup sendiri selamanya, daripada aku harus menekan keinginanku memilikimu seutuhnya.


Seiring berjalannya waktu, bisa saja bukan jika perasaan cinta akan tumbuh di antara kita. Hal itu pasti akan lebih menyakitkan bagiku saat aku melihatmu bersamanya.


Sangat mustahil jika pada akhirnya nanti kau akan menjadi milikku. Karena istri pertamamu lebih berhak atas dirimu Mas." Ungkap Melati dengan menatap intens Fahmi yang tengah terpaku di depannya.


Fahmi mengedarkan pandangannya ke arah lain. Senyum yang tadi sempat terukir tiba-tiba menghilang. Entah apa yang ia rasakan saat ia melihat Melati siang lalu saat pernikahan. Hatinya berdegup kencang.


Dan saat ini, hatinya begitu sakit mendengar pernyataan Melati. Ia menatap wajah ayu di hadapannya, memang tidak ada yang salah dengan keinginan Melati. Namun keinginan yang diinginkan oleh istrinya itu begitu berat untuknya. Entahlah ia tak tahu mengapa.


"Baiklah Melati, aku menghargai keinginanmu." Ujarnya tersenyum paksa.


Sejenak mereka terdiam. Dan Fahmi melirik selimut dan bantal di samping Melati. Kemudian ia melirik ke arah tempat tidur.


"Apa kau yang mengambil selimut itu." Menunjuk arah samping Melati.


Melati mengangguk. Fahmi menghela nafasnya, "Kau ingin tidur di sofa ini?"


Melati kembali mengangguk.


"Tidurlah di sana, biar aku yang tidur di sini. Kau seorang wanita, tak mungkin bagiku untuk membiarkanmu tidur dengan tidak nyaman seperti itu."


"Tidak, kau suamiku. Aku tak ingin membuatmu lelah dan sakit saat kau terbangun."


Fahmi menggeleng. "Tidurlah kumohon."


Melati mengedarkan pandangannya, ia tampak tengah mencari akal.


"Bagiamana kau tidur di kamar istri pertamamu?" Ujar Melati dengan menahan sesak di dadanya. Lihat baru di awal saja ia sudah merasakan rasanya berbagi. Meski hatinya belum mencintai Fahmi, namun tetap saja rasanya sakit jika miliknya harus dibagi seperti ini.


"Kau mengusirku?" Fahmi menaikkan sebelah alisnya.


"Tidak. Bukan itu maksudmu, hanya saja bukankah tidak salah jika kau tidur di kamar istrimu?"


"Kau juga istriku."


"Tetapi jika di sini kau harus tidur di tempat yang tidak nyaman." Lirihnya menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan pergi ke kamar Sasa. Jika kau membutuhkan sesuatu, kau tahu sendiri bahwa kamarku berada di samping kamar ini. Silahkan ketuk saja kapanpun kau mau." Ucap Fahmi beranjak dari sofa dan meninggalkan Melati sendirian di kamar itu.


Tinggalah sendiri Melati di sini. Malam yang seharusnya sangat indah bagi para pengantin baru menjadi sangat menyesakkan baginya.


__ADS_2