Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 52


__ADS_3

Dering telepon milik Maira membuat perhatian ketiganya teralihkan. Maira memasang senyumnya tak enak.


"Aku pamit sebentar yah." Pamitnya pada kedua sahabatnya.


Aaz dan Melati mengangguk dan tersenyum menanggapi. Kemudian keduanya melanjutkan perbincangan mereka. Pembicaraan yang dibicarakan pun seperti urusan-urusan perempuan pada umumnya.


Tak lama, terdengar suara notifikasi dari ponsel milik Aaz. Dengan masih mendengarkan penuturan Melati, ia membuka aplikasi pengirim pesan tersebut.


Apa kau boleh meninggalkan Melati sebentar. Kakak ingin berbicara dengannya sebentar. ~ Kak Azein.


Aaz melirik sebentar ke arah Melati, ia melemparkan senyumnya.


Baiklah. ~ Aaz.


"Oh ya Melati, aku harus pergi sebentar ya. Kau jangan pergi dahulu, karena aku akan kembali lagi." Ucap Aaz.


"Baik, pergilah. Aku akan menunggumu di sini." Jawab Melati tersenyum.


Aaz mengangguk, ia pun meninggalkan Melati sendirian di tempat itu.


Azein yang melihat dari jauh, tersenyum tipis melihat Melati yang hanya sendirian. Ia pun bergegas menghampiri wanita pujaannya itu.


Ia tahu bahwa Melati telah bersuami, tak pernah terbesit di pikirannya untuk merebut Melati dari suaminya. Hanya saja rasa cinta dan rindu di hatinya tak dapat lagi ia bendung saat ini. Biarlah mereka menghabiskan waktu bersama meski sebentar.


"Ehm, Mela.." Melati menoleh dan terkejut melihat ternyata yang memanggilnya adalah Azein.


"Eh iya Kak," jawab Melati kikuk.


"Mengapa kau sendirian saja di sini?" Tanya Azein pura-pura. Padahal ia sendiri yang membuat kenapa Melati menjadi sendirian seperti ini.


"Entahlah Kak, Maira sedang mengangkat telepon tadi dan Aaz dia tak tahu pergi kemana." Jawabnya masih canggung.


"Ouh begitu, jadi bagaimana kabarmu Mel? Dan bahagia?," Azein kembali melontarkan pertanyaan.


"Alhamdulillah baik Kak." Melati tersenyum.


Terang saja, melihat senyum Melati untuk kedua kalinya ia merasa sakit. Namun apa mau dikata, ia hanya bisa pasrah.


Azein ikut tersenyum, maniknya beralih memperhatikan perut Melati.

__ADS_1


Itukah buah hatimu bersama dia Mel?, Sungguh sebenarnya jauh dalam lubuk hatiku perasaanku padamu masih sangat kuat hingga kini Mel. Namun kenyataan di depanku, benar-benar membuatku tak berdaya.


Kenapa takdir tak mengantarkan mu ke pelukanku Mel?, Dan apa itu, apakah kau benar-benar merasa bahagia saat ini? Meski awalnya kau begitu kecewa dengan lelaki itu. Batin Azein memandang sendu wajah Melati.


"Oh ya Mel, apa ini calon keponakanku? Berapa usianya kini?" Tanya Azein berusaha menutupi sesak di dadanya dengan senyuman.


"Ouh lima bulan Kak," jawabnya.


"Syukurlah dia baik-baik saja kan, dan tidak menyusahkanmu?"


"Tentu saja tidak Kak, justru aku sangat senang dia berada di rahimku sekarang. Aku dan Mas Fahmi begitu menantikannya."


Mendengar nama pria lain dengan sebutan 'Mas', Melati sukses menambah luka di hati Azein. Namun Azein berusaha untuk tetap tersenyum, seolah ia juga sangat antusias dengan kehadiran janin di rahim Melati.


Tap tap tap, terdengar suara langkah cepat seseorang menghampiri keduanya yang tengah bercengkrama ria itu. Matanya merah dan tangannya terkepal kuat.


Sejenak ia berhenti, ia memandangi lelaki yang tengah bersama istrinya. Usianya pun sangat terlihat lebih muda darinya, seketika ia menarik nafas panjang. Ia tak ingin menunjukkan emosi pada pria tersebut.


"Sayang kenapa kau berada di sini?, Kau tahu aku sedari tadi mencari mu dan juga Ayah Ibu.." Ucap Fahmi dengan mesra dan tangannya bertengger santai di bahu sang istri. Menunjukkan bahwa wanita di sampingnya kini adalah miliknya.


Terang saja, hal itu membuat Melati gugup. Sedangkan Azein yang melihatnya hanya bisa menahan cemburunya di dalam dada.


"Ouh apakah sudah selesai sayang?" Menekankan di setiap kata-katanya.


"I-iya Mas," jawab Melati.


"Baiklah ayo kita pergi sekarang, sudah kubilang kan tadi orang tua kita telah menunggu kita."


"Iya mas, ya sudah Kak Azein aku pergi dahulu yah." Pamit Melati pada pria yang sedari tadi bungkam setelah kedatangan suaminya.


"Iya Mel, pergilah aku juga harus menemui adikku." Bohong Azein, sebenarnya ia hanya beralasan. Ia hanya tak mau terlihat miris oleh lelaki yang tengah berada sangat dekat dengan Melati.


Melati mengangguk dan mengajak Mas Fahmi pergi dari tempat itu.


Akhirnya Melati berada di penghujung acara, manik Fahmi tak pernah lepas dari istrinya begitu juga genggamannya. Untunglah tinggal menunggu do'a. Ia hanya tak suka istrinya berdekatan dengan pria lain.


***


"Bun besok-besok jika ada acara di rumah Nenek aku ikut yah." Pinta Farah antusias.

__ADS_1


"Tentu saja Nak, apakah kau merasa sangat senang di sana?" Melati melirik ke arah putrinya yang duduk di pangkuan sang Ayah yang tengah menyetir mobil menuju ke kediaman mereka.


"Iya Bun, di sana orangnya sangat ramai. Aku juga sangat senang berada di sana. Banyak teman Bun." Celoteh Farah dengan lucu, membuat orang lain yang mendengarnya terkekeh.


Farah terus saja bercerita yang mengundang gelak tawa dari orang tuanya. Fahmi merasa sangat bahagia, ia menginginkan kebersamaan seperti ini selamanya.


Melihat senyum dan tawa Melati yang sangat jarang ia dapati. Seketika matanya menyorot ke arah perut buncit Melati, ingin sekali ia mengelus dan merasakan pertumbuhan si kecil. Ia juga membayangkan bagaimana setelah Melati melahirkan anaknya.


***


Seperti biasa setiap malam Melati akan menemani Farah hingga tertidur. Sebenarnya tubuhnya cukup letih, namun dengan sang anak ia rela melakukan apapun.


Fahmi melihat wajah lusuh Melati sekembalinya dari kamar putrinya. Terbersit rasa iba, ia pun menghampirinya.


"Mel," panggilnya lembut, ia tak ingin mengejutkan Melati.


"Iya Mas." Melati menoleh.


Fahmi tersenyum, "Ayo ikut aku sebentar saja." Ajaknya hingga menuju ruang keluarga.


Melati mendelik melihat Fahmi yang mengangkat kakinya hingga berada di atas paha milik suaminya.


"Mas apa yang sedang kau lakukan?"


"Aku hanya ingin memijitmu. Aku tau kau sangat lelah." Jawab Fahmi santai.


"Tapi Mas, aku juga tahu kau lebih lelah dariku. Biarkan saja ya.." Tolak halus Melati.


"Melati kumohon, kau juga istriku. Aku juga ingin menjadi suami yang adil. Meski aku tahu kau selalu menolakku, tapi aku tahu dalam hatimu kau juga menginginkan perhatian." Ucap Fahmi meyakinkan.


Melati menghembuskan nafas pelan, "Baiklah." Pasrahnya.


Suaminya tersenyum, ia mulai memijit kaki isterinya. Sentuhan dari Fahmi, membuat Melati nyaman. Karena rasa letihnya, matanya ingin sekali menutup. Ia pun menuruti keinginan tubuhnya dan nafasnya mulai teratur.


Fahmi yang melihat istrinya tertidur pun mendekatkan tubuhnya. Ia mendekatkan wajahnya ke perut milik Melati. Tangannya terulur untuk mengelus perlahan bukit itu.


Ada ketenangan yang menghantam jiwanya, mungkin sang janin tahu Ayahnya hingga ia menyambut kedatangan sang Ayah. Mata Fahmi berbinar merasakan gerakan sang janin.


Nak baik-baiklah di sana yah. Ayah tahu, Bunda-mu sudah sangat letih karena semua yang telah terjadi. Ujarnya dalam hati dan mencium perut Melati.

__ADS_1


Tanpa ia sadari kejadian tersebut telah terekam di memori Sasa. Dengan segera, Sasa menghampiri suami serta madunya itu.


__ADS_2