Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 59


__ADS_3

Mata Rayn terbelalak melihat istri bosnya memasuki sebuah kamar bersama lelaki lain di hotel. Memang dari awal ia merasa curiga ketika ia terus mengikuti Sasa dan Bembi ke arah sebuah hotel.


Namun ia juga tak mengira bahwa hubungan mereka akan sejauh itu. Tidak, mungkin saja kebetulan Sasa memang ada suatu keperluan. Itulah yang selalu ia tekankan dalam pikirannya. Meski keduanya memang berlaku seperti sepasang kekasih sedari tadi.


Seorang petugas hotel terheran melihat seseorang di balik sebuah dinding. Ia menjadi curiga, jika memang orang itu menginap di sini lantas kenapa tidak langsung masuk saja.


"Maaf Pak?" Tegurnya hingga membuat Rayn terkejut.


"Eh iya Mas ada apa ya?" Tanya Rayn setelah mengelus dadanya.


"Ini Pak, anda siapa ya? Apa anda salah satu orang yang menyewa di sini pak?"


Rayn gelagapan dibuatnya. Ia mengusap tengkuknya yang tidak terasa gatal. "Eh itu Mas sebenarnya saya ingin mengunjungi salah satu teman saya. Maaf kalau saya mengganggu."


"Ouh ya sudah, memangnya temannya Bapak itu berapa nomor kamarnya? Nanti bisa saya tunjukkan."


"Tidak Pak tidak perlu. Saya sudah tahu kok, ya sudah saya pergi ya Pak." Dengan tergesa Rayn segera berlalu dari tempat itu.


Ia pergi menuju lantai bawah untuk membooking salah satu kamar di hotel itu. Rayn juga dengan sengaja memesan kamar yang masih satu lantai dengan kamar Sasa. Agar memudahkannya menjalankan tugas dari Tuan Fahmi.


Tak lupa ia meletakkan sebuah kamera tersembunyi. Ia memasangnya di sebuah dinding tepat di depan kamar milik Sasa.


Setelahnya ia merilekskan tubuhnya terlebih dahulu. Seharusnya ia sedang istirahat atau sekedar liburan hari ini. Namun karena tugas yang secara tiba-tiba diberikan oleh bosnya membuat ia hanya bisa mengerjakannya.


Sejenak ia menatap langit-langit kamar tersebut. Eh, masih ada satu hal yang belum ia lakukan. Ia mengambil gawai di saku hoddie-nya.


Ia menghubungi salah satu bawahannya dan mengirimkan foto lelaki yang tadi bersama Sasa. Biarlah untuk mencari informasi tentang lelaki tersebut ia mempercayakan semuanya pada bawahannya. Sudah cukup lelah untuknya hari ini.


***


"Mas bukankah ini sudah malam?, Kenapa kau tidak kembali ke rumah?" Tanya Melati heran yang melihat suaminya bersantai di depan tv. Ia baru saja menidurkan Farah.


"Bukankah ini rumahku?" Tanpa menjawab, Fahmi kembali melemparkan pertanyaan.


"Maksudku ke rumah Mbak Sasa." Ucapnya mendaratkan tubuhnya di sofa yang tidak sama dengan Mas Fahmi.


"Aku akan kembali besok setelah pulang kerja." Jawabnya santai.


"Tapi kan malam ini adalah waktumu untuk Mbak Sasa Mas."

__ADS_1


"Dia tak kembali malam ini."


"Kenapa?"


"Karena baru saja ia mengirimkan pesan, ia sedang liburan dengan temannya."


Melati mengangguk, ia melirik ke arah tv yang sedang menyala itu. Melihat iklan sebuah makanan, ia menjadi menginginkannya. Dengan ragu ia memanggil suaminya.


"Mas,"


"Hm." Jawabnya tanpa menoleh.


"Mau itu." Tunjuknya ke sebuah produk yang sedang di iklankan.


Sontak Fahmi langsung menatapnya, alisnya terangkat sebelah.


"Kenapa kau tiba-tiba menginginkan itu."


"Apakah salah?, Kelihatannya sangat enak Mas." Tanpa ia sadari, ia berbicara dengan nada yang manja.


Kedua sudut bibir Fahmi terangkat, "Baiklah aku akan mencarinya malam ini juga." Beranjak dari duduknya dan mencari kunci mobil.


"Malam-malam begini?, Tidak kau sedang hamil. Nanti kalau kau masuk angin bagaimana?" Tolak Fahmi halus.


"Tapi aku sangat ingin ikut Mas, apa aku terlalu merepotkanmu bila ikut hingga kau tak mau aku ikuti?" Ujarnya kesal.


Fahmi menghela nafasnya pelan, "Baiklah ayo kita pergi sekarang. Tapi kau harus memakai jaket yah," titahnya.


Melati tersenyum, "Iya Mas."


Seperti yang telah diperintahkan Melati pun menyusul suaminya yang sudah menunggunya di mobil dengan memakai jaket.


Fahmi mulai menancapkan gasnya dan berlalu dari rumah minimalis itu.


"Berhenti Mas," dengan cepat Fahmi menghentikan mobilnya. Ia terheran dengan istrinya yang tiba-tiba meminta berhenti. Padahal mereka masih jauh dari tempat tujuan mereka dari awal.


"Aku sudah sangat rindu dengan martabak, kita turun dulu ya sebentar." Pintanya dengan wajah memelas.


"Kau mau yang rasa apa?"

__ADS_1


"Coklat dan kacang"


"Baiklah tunggu sebentar yah, ingat jangan turun ke manapun sebelum aku kembali."


Melati mengangguk, cukup lama ia menunggu akhirnya senyum pun terbit di bibirnya. Ia puas dengan bawaan dari suaminya.


"Terimakasih Mas,"


Mereka melanjutkan untuk pergi menuju salah satu supermarket terdekat. Namun selama perjalanan, Fahmi dibuat pasrah oleh istrinya, setiap ia melihat pedagang kaki lima atau di jalanan tiba-tiba saja ia meminta berhenti.


Dan tentu saja Fahmi harus menurutinya, sungguh baru kali ini si bumil begitu manja dan merepotkan nya. Namun demi calon ibu dari anaknya ia rela melakukan apapun.


Bi Marni yang mendengar deru mobil di luar segera membukakan gerbang rumah tersebut. Dahinya mengkerut melihat majikannya yang membawa banyak sekali belanjaan.


Bukankah tadi Nona mudanya hanya pamit untuk membeli satu jenis makanan? Ah, baru ia ingat ini semua pasti keinginan dari si bumil.


"Sini Tuan biar saya saja." Ucapnya menawarkan diri, ia cukup kasihan melihat wajah lelah Tuannya yang juga menenteng banyak makanan.


"Tidak perlu Bi, sudah Bibi istirahat saja. Saya tahu Bibi juga lelah." Tolak halus Fahmi.


"Ya sudah Tuan, saya permisi ya mau tutup gerbangnya.


Fahmi mengangguk, bersama istrinya ia berjalan menuju rumah.


"Makasih banyak ya Mas," ujarnya tersenyum senang.


"Iya Mel, ya sudah kau tunggu sebentar. Aku ambilkan dulu piringnya."


Dengan sigap Bi Marni yang juga sedang melewati mereka membantu Tuan Fahmi untuk menata makanan di meja.


"Kau yakin menginginkan ini semua?" Tanya nya tidak yakin. Tentu saja, bahkan ketika disajikan hampir semua makanan tersebut memenuhi meja.


Melati yang juga melihat jumlah makan yang sangat banyak entah kenapa menjadi hilang ***** makannya. Tadi saja, ketika ia melihat satu persatu pedagang yang menjual makanan tersebut hanya itu yang ia inginkan, padahal saat itu sudah banyak yang ia beli di pedagang sebelumnya.


"Em aku juga tidak tahu Mas, tiba-tiba saja aku tidak ingin makan." Pungkas Melati yang membuat Fahmi melongo. Sudah jauh-jauh mereka pergi, dan ia juga sendiri yang bolak balik mengikuti kemauan istri namun saat sudah sampai ia sama sekali tak mau.


Bi Marni hanya terkekeh melihat wajah frustasi namun berusaha ditahan oleh Tuannya.


"Tapi Mel, jika kau tidak mau lalu siapa yang harus menghabiskan ini semua. Kumohon setidaknya kau coba dulu yah, dilihat dari makanannya sepertinya sangat enak rasanya. Sayang Mel," melas Fahmi.

__ADS_1


Melati menghela, benar juga yang dikatakan Fahmi. Ia merutuki dirinya sendiri yang kenapa harus meminta ini dan itu ketika melihatnya.


__ADS_2