Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 53


__ADS_3

"Apa-apaan kau ini Mas?!" Hardiknya lantang.


Sontak Melati segera tersadar dari tidurnya. Fahmi pun segera menjauh dari sang istri muda.


Dari sudut ruangan tersebut, seseorang tengah tersenyum sinis memandang Melati. Yah, dia adalah Elisa. Dialah yang membuat Sasa pulang lebih awal dari biasanya.


Melihat Kakak Ipar yang mengajak sahabatnya pergi membuat ia mengirimkan pesan kepada Kakaknya.


"Sayang kau pulang lebih awal?" Tanya nya gugup.


"Kenapa?!, Apa sekarang kau tak lagi mengharapkan ku Mas?, Kau tak mencintaiku lagi kah?, Kau sudah mulai mencintainya kah?, Kau sudah bosan denganku kan Mas?" Cecar Sasa dengan pertanyaan bertubi-tubi.


"Tidak Sa, kenapa kau mengatakan hal itu?, Aku hanya--"


"Selalu hanya, hanya dan hanya di setiap kali kau kepergok dengannya!, Kau benar-benar menyakitiku Mas!, Kau benar-benar jahat Mas!" Sergah Sasa dengan memukul dada bidang suaminya.


Fahmi berusaha menenangkan istri pertamanya dengan memeluk erat. "Sayang kumohon sudahlah maafkan aku. Sayang aku hanya ingin menjadi suami yang adil pada istri-istriku. Bukankah kau telah mengijinkan ku untuk menikahi Melati?"


Sasa hanya terdiam dan berhenti memukuli suaminya. Namun isakan kecil terdengar jelas oleh Fahmi.


Fahmi menghela nafasnya, ia melirik ke arah Melati yang hanya terdiam dan menunduk. Memang benar, apa yang selalu ditakutkan sekarang terjadi.


Istri mudanya itu, dengan pelan meninggalkan ruangan tersebut. Dapat Fahmi lihat Melati yang mengusap air matanya.


Ia menjadi merasa sangat bersalah. Dengan lembut ia usap punggung istri pertamanya.


"Ya sudah kau baru pulang sudah langsung marah-marah. Aku tahu kau lelah, apa kau sudah makan?"

__ADS_1


Sasa mengangguk, ia masih memeluk erat suaminya.


"Ya sudah kita langsung istirahat saja. Aku tak ingin kau kenapa-kenapa."


Pasangan suami-istri tersebut langsung menuju tempat istirahat mereka. Sasa menatap langit-langit kamarnya, memikirkan semua yang terjadi. Lalu melirik sekilas wajah damai suaminya yang telah terlelap.


POV Sasa


Hatiku menghangat tatkala menatap pria yang sangat aku cintai tengah berlutut di hadapanku dengan sekuntum mawar. Meski cara ia menyatakan cintanya bisa dibilang biasa dan sederhana namun tak aku pedulikan.


Aku mencintainya tulus dan bukan karena apapun. Dengan penuh keyakinan aku menerima cintanya. Hatiku semakin senang ketika ia akan melamar ku begitu Aku dan dia selesai kuliah.


Umur kami memang sama hanya terpaut beberapa bulan. Bembi, yah satu nama yang saat ini ada di hatiku sejak aku SMA. Dia adalah cinta pertamaku, aku yang notabenenya seorang perempuan tak berani untuk menyatakan cintaku dahulu.


Aku hanya bisa memendam perasaanku hingga kini. Betapa bahagianya aku ternyata cintaku terbalaskan meski harus menunggu lama.


Ayahku menjelaskan bahwa aku harus menikah dengan pria pilihannya untuk balas budi. Memang beberapa bulan ini, kesehatan Ayahku menurun sehingga harus mendapatkan perawatan intensif dan kami tak memiliki biaya.


Ibuku berusaha mencari dana untuk itu. Dan bertemulah ia dengan Tuan Faris. Ibuku akan melakukan apapun jika Tuan Faris bersedia untuk meminjamkannya uang.


Tuan Faris bersedia untuk memberikan dana cuma-cuma dengan syarat menikahkan putri mereka dengan putranya. Dengan banyak pertimbangan dari Ibu maupun Ayah mereka akhirnya menyetujuinya. Toh yang mereka tahu memang putra dari Tuan Faris adalah lelaki yang baik.


Dengan berat hati, aku menyetujui pernikahan tersebut dan memutuskan hubunganku dengan Bembi. Namun Bembi yang sudah terlanjur mencintaiku ia tak kuasa untuk melepasku dengan pria lain.


Hingga terjadilah sesuatu hal yang membuatku harus menerima kehadiran sebuah janin di rahimku. Yah janin yang kini berada di rahimku adalah hasil dari benih yang telah Aku dan Bembi tanamkan.


Bembi begitu senang mendapati kabar tersebut, dengan inilah akan lebih memudahkan ia berjuang mendapatkan ku. Namun melihat Ayahku yang semakin buruk keadaannya dan biaya yang lebih membuatku bimbang.

__ADS_1


Di satu sisi ada seorang lelaki yang telah bersedia untuk membantu Ayahku, namun di satu sisi ada lelaki yang sangat aku cintai.


Ibuku juga menjelaskan bahwa aku harus tetap menerima perjodohan ini. Karena jika tidak, maka keluargaku harus mengganti semua uang yang telah didapatkan. Bahkan jika aku menolak, Tuan Faris akan berusaha membuat seluruh keluarga tidak diterima di tempat manapun.


Akhirnya, tanpa sepengetahuan Bembi aku berusaha menggugurkan kandunganku. Aku memblokir semua kontak dan sosial medianya. Beberapa kali ia datang menemuiku, dengan cepat pula aku menghindarinya.


Aku hanya tak ingin ia semakin terluka. Biarlah dia menemukan wanita lain yang lebih dariku.


Selang beberapa bulan, pernikahan yang sama sekali tak aku inginkan pun terjadi. Bisa aku lihat perawakan pria yang telah menjadi suamiku. Tubuhnya tegap dan sangat tampan. Usianya juga masih muda yaitu 22 tahun berbeda denganku yang telah berusia 25 tahun.


Memang untuk seorang pria, menikah di usia seperti itu masihlah terlalu muda. Namun aku tak ingin menanyakannya. Bisa saja kan karena perjodohan ini membuatnya mau tak mau harus menikah.


Suamiku Fahmi memang terlihat menerima semua pernikahan ini. Ia juga memperlakukan aku dengan baik, bahkan seperti wanita yang telah dicintainya dengan sangat dalam. Namun tetap saja, hanya ada satu nama yang ada di hatiku. Bembi.


Aku tahu bahwa suamiku sangat kecewa ketika mendapati aku yang sudah tak lagi virgin. Namun kulihat ia dengan sekuat hati untuk tetap menghargai aku sebagai wanita. Perlakuannya pun sangat lembut.


Aku memang tersentuh dengan semua perlakuannya namun tetap pemilik hatiku masih orang lain. Lambat laun aku mulai melupakan pria yang bernama Bembi. Aku memantapkan hatiku untuk mencintai suamiku sepenuhnya.


Kehidupan yang kami jalani pun begitu bahagia. Aku bersyukur meski perjodohan dengan suamiku awalnya tak didasari cinta, Mas Fahmi selalu berusaha setia. Dengan gesit ia selalu menyingkirkan orang ketiga yang hadir dalam pernikahan ini.


Hingga enam tahun lamanya pernikahan kami tetap harmonis. Namun tidak dengan hubunganku dengan mertuaku. Yah, kerena selama ini aku masih belum dikaruniai seorang anak.


Terbesit penyesalan ketika aku memikirkan soal anak. Aku teringat bagaimana teganya aku menyingkirkan janin yang pernah hadir dalam rahimku.


Air mataku meluruh mengingatnya, tak ku sangka ternyata Mas Fahmi telah memperhatikanku sedari tadi. Namun hatiku lega, ternyata ia mengira bahwa aku bersedih karena perkataan dari mertuaku yang selalu memojokkan ku.


Sebenarnya aku juga bingung kenapa aku masih belum diberi keturunan. Aku memutuskan untuk memeriksakan diriku ke Dokter ketika suamiku bekerja.

__ADS_1


Begitu terkejutnya aku saat Dokter mengatakan bahwa aku divonis susah untuk mendapatkan keturunan. Ini terjadi karena ada beberapa bagian di rahimku yang rusak.


__ADS_2