Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 26


__ADS_3

Azein mengikuti setiap langkah yang dibuat Melati. Terkadang pandangannya mengarah ke wajah Melati yang sedikit terkena noda. Membuat wajahnya semakin lucu dan imut. Tak jarang ia tergelak melihat wajah Melati.


Dari kejauhan Aaz melihat interaksi antara Kakaknya dan Melati. Melihat wajah Azein yang sepertinya senang berdekatan dengan Melati membuatnya mengurungkan niat untuk pergi ke tempat mereka.


Ia pun berbalik dan kebetulan bel rumahnya berbunyi. Dengan segera ia menuju pintu dan membukanya. Nampaklah sahabat karibnya selain Melati. Yah, dia adalah Huamira.


"Assalamu'alaikum," Senyum terukir indah di wajah Maira.


"Wa'alaikumsalam. Ayo masuk," Balas ramah Aaz.


"Apa Melati ada di sini?" Tanya Maira.


"Iya apa Melati memberitahumu?" Aaz mengajak Maira berjalan menuju tempat Melati dan Azein.


"Iya, dia memintaku untuk kesini. Maaf tidak memberitahumu."


"Hei kenapa kau meminta maaf. Harusnya aku yang karena lupa mengajakmu."


Maira tersenyum, "Iya tidak masalah."


Namun sebelumnya Aaz mengajak Maira dahulu ke arah dapur untuk mengambil nampan.


"Oh ya Kak, aku minta maaf karena waktu itu aku salah mengambil belanjaanku jadi tertukar." Melati mengangkat wajahnya menatap Azein.


"Iya tidak masalah. Sebelum aku pulang aku sempat mampir dulu ke supermarket lagi. Jadi aku membelinya lagi."


Melati melebarkan matanya. "Benarkah?, Katakan berapa yang harus aku ganti?!"


Azein menggeleng dan tersenyum pada Melati. "Tidak perlu, kau tahu karena belanjaanmu itu. Ibuku membuatkan aku makanan kesukaanku."


"Oh ya?, Tapi Kak aku merasa bersalah karena itu. Bisakah kau sebutkan berapa yang harus aku bayar."


Azein menggeleng melihat tingkah Melati. "Untuk apa membayarnya. Bukankah belanjaanku untukmu dan belanjaanmu untukku?, Kita impas karena itu."


"Tapi karena hal itu kau harus membeli lagi yang kau butuhkan sebelumnya."


"Tidak perlu kubilang." Tegas Azein.


Melati tak mendengarkan Azein, ia mengambil tasnya dan membukanya. Ternyata ia mengambil sebuah cek di tasnya. Dan memberikannya pada Azein.


"Tulis berapapun yang harus aku ganti."


Dasar keras kepala. Azein lagi-lagi menggeleng dan menghela nafas panjang. Ia tak bergeming dari duduknya dan tangannya terus membentuk tanah liat.

__ADS_1


Tangan Melati masih berada di tempatnya. Ia masih menunggu Azein mengambilnya.


"Kak kenapa kau tak mengambilnya?!" Ujar kesal Melati yang sudah terasa pegal tangannya.


"Terserah. Aku tidak akan mengambilnya."


"Aku tidak ingin berhutang padamu!"


Azein menghentikan aktivitasnya dan menatap wajah Melati.


"Bagaimana kau menggantinya dengan mengajarkan aku piano?, Aku pernah mendengar Aaz bahwa kau sangat pandai bermain piano." Tersenyum samar.


"Apa kau gila?"


"Ya aku memang berniat untuk les piano. Daripada aku gunakan uangku untuk ikut les piano. Lebih baik kau mengajarkanku secara percuma-cuma."


Melati berfikir untuk ini. Sebenarnya ia sangat malas jika haru berlama-lama dengan Azein. Tapi ia juga tidak ingin memiliki hutang budi pada pria di hadapannya ini.


"Baiklah aku akan mengajarimu."


Azein tersenyum senang. Sebenarnya ia hanya beralasan saja karena hal ini membuatnya semakin dekat dengan Melati. Ia tak tahu apa perasaan yang ia simpan untuk Melati. Yang jelas ia merasa nyaman, meski terkadang sikap Melati yang cuek dan ketus.


"Wah Kak bagus sekali ini. Apa kau yang membuatnya?" Aaz datang bersama Maira di sampingnya. Dengan nampan di tangannya.


"Tentu saja aku, bukankah aku sangat pandai karena ini adalah kali pertama aku membuatnya?" Azein membusungkan dadanya dan tersenyum bangga.


Melati menatap jengah tingkah Azein. "Hei, itukan juga karena aku yang mengajarimu. Lihat, punyaku lebih rapi dan bagus darimu."


Aaz tergelak melihat wajah merah Kakaknya. Sedangkan Maira justru terpesona dengan wajah tampan Azein.


"Inilah yang membuatku sangat senang mengajakmu membuat ini Mel." Aaz merangkul bahu Melati dan diikuti Maira yang duduk di samping Aaz.


Azein semakin tak karuan berada di antara para gadis. Ia pun berdiri hendak meninggalkan mereka.


"Kau mau kemana Kak?" Tanya Aaz.


"Kau lihat kan tubuhku?, Sangat kotor karena tanah." Azein melangkahkan kakinya menuju belakang rumahnya.


"Akhirnya kau sampai juga Ra." Ujar senang Maira. Ia memang sengaja mengajak Maira karena tak suka bertamu di rumah orang sendirian. Apalagi karena ada lelaki seperti Azein.


"Iya Mel. Oh ya Az boleh aku tahu mengapa kau sangat menyukai kerajinan dari tanah liat ini?" Maira menatap Aaz.


"Entahlah dari dulu aku sangat suka bermain tanah liat. Bahkan Ayahku juga sering ikut bergabung. Dialah yang mengajarkan aku membuat bermacam-macam bentuk tanah liat. Sampai sekarang aku menyukainya dan membuatnya untuk sekedar mengisi waktu luang" ujar Aaz dengan membawa patung tanah liat tersebut ke tempat yang panas untuk dijemur.

__ADS_1


"Oh ya Mel, apakah tanah liat yang tadi kau buat ada sisanya. Aku juga ingin membuatnya." Ucap Maira pada Melati.


"Tentu bahkan masih sangat banyak. Jika kau mau aku akan membuatnya lagi dan kau ikuti aku yah." Melati menunjukkan ember kecil yang berisi tanah liat.


"Baiklah terimakasil Mel." Maira tersenyum senang dan mulai mengambil segumpal tanah liat. Aaz yang melihatnya pun juga ikut membuat bersama kedua sahabatnya itu.


***


Melati menghentikan aktivitas menulisnya, ia mengedarkan pandangannya mencari suara tanda notifikasi yang berasal dari ponselnya.


Assalamu'alaikum. ~ +62X


Melati mengernyitkan dahinya. Memang tak jarang ia mendapatkan pesan dari nomor yang tak dikenal. Namun melihat orang yang mengirimkannya pesan itu mengucapkan salam ia pun menanggapinya.


Wa'alaikumsalam. Bolehkah aku tahu siapa namamu?,~ Melati.


Aku Azein Kakaknya Aaz. Kau ingat sekarang?. ~ +62X


Melati membolakan matanya dan melihat foto profil nomor tersebut. Dari awal memang foto itu diambil dari arah samping dengan menggunakan kaos pendek dan topi hitam. Jadi Melati masih tidak ngeh bahwa itu adalah Azein. Namun lama ia perhatikan memang ia sadari bahwa itu adalah Azein.


Deg. Tiba-tiba jantung Melati berpacu dengan kencang. Kumis tipis dengan hidung bangir membuat Azein terlihat Tampan. Satu kata yang berada di pikiran Melati saat melihatnya.


Melati segera menggeleng dan mulai mengetik pesan dari Azein.


Iya, ada apa kau mengirimkanku pesan?. ~ Melati.


Apa kau tidak ingat dengan apa yang kita bicarakan tadi siang?, Bukankah kau bersedia untuk mengajari aku piano sebagai ganti rugi?. ~ +62X


Melati mengernyit dan mulai mengingat-ingat apa yang telah terjadi di rumah Aaz lepas. Ia pun menepuk jidatnya, sekarang baru ia menyesali perkataannya sendiri. Salah ia sendiri yang mengiyakan saja persyaratan dari Azein. Namun sekarang apa boleh buat, yang ada ia harus bertanggung jawab bagaimanapun juga.


Baiklah. Aku mengingatnya, dan sekarang terserah kapan waktu yang kau inginkan untuk belajar piano denganku. ~ Melati.


Bagaimana mulai lusa besok setelah kau kuliah?. ~ +62X


Melati tampak memikirkan waktu yang diajukan oleh Azein. Memang tidak ada kegiatan apapun di waktu itu selain menulis. Akhirnya Melati pun menyetujuinya.


Baiklah, aku bersedia di waktu itu. ~ Melati.


Bagus kau tidak perlu khawatir untuk piano dan tempat. Aku telah menyiapkan semuanya. ~ +62X


Iya iya. ~ Melati.


Baiklah. Assalamu'alaikum, dan Selamat Malam ;). ~ +62X

__ADS_1


Melati membuka matanya lebar-lebar seketika melihat pesan terakhir dari Azein. Namun ia pun tak memperdulikannya dan memilih untuk melanjutkan mencari inspirasi untuk melanjutkan karya tulisnya.


__ADS_2