Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 76


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," ucapnya memasuki rumah yang sudah lama tidak ia datangi.


"Wa'alaikumsalam." Terdengar seseorang menjawab salam dari Melati dan mendekati arah pintu.


Melati memasang senyum manisnya dengan hormat mencium punggung tangan pria paruh baya yang ia panggil Ayah itu.


"Assalamu'alaikum cucu Kakek," ujarnya gemas pada anak kecil yang berada dalam gendongan putrinya.


"Wa'alaikumsalam Kakek," jawab Melati menirukan suara anak kecil sembari menyerahkan putrinya pada sang Ayah.


"Bagaimana kabarmu Yah?" Tanya Melati sopan.


"Alhamdulillah baik Nak, ayo masuk." Ajak Ikhsan dan memasuki rumah tersebut.


Mina menyambut hangat putri tirinya itu. "Bagaimana kabarmu Nak?" Merengkuh tubuh Melati yang sedikit gemukan.


"Baik Bu," jawab Melati dan membalas pelukan erat dari Ibunya.


"Oh ya dimana Kakak Bu?" Tak dapat dipungkiri, ia pun sebenarnya sudah sangat rindu pada Kakaknya Alif.


"Ada di atas Nak, dari tadi Kakakmu itu terlihat sangat gugup." Kekeh Mina dengan memandang ke arah atas.


"Baiklah Bu, aku akan menemuinya dahulu."


Melati meninggalkan kedua orang tuanya dengan putrinya, dan berjalan menuju kamar Kakaknya.


Tok tok tok.


Ceklek. Nampaklah Kakaknya yang memandangnya malas dan kesal.


"Ada apa?" Tanya Alif menahan emosi. Sedari tadi memang ia tengah merangkai kata untuk meng-khitbah Lulu, wanita pujaannya.


"Apa kau tak merindukanku?" Tak peduli ia sudah menjadi Ibu, yang pasti sifat manjanya pada sang Kakak tak mampu ia kendalikan.


"Iya iya aku sangat merindukan adikku," pungkasnya seraya menarik menenggelamkan wajah Melati di ketiaknya.


"Astaghfirullah Kak, baru juga ketemu kau sudah membuatku benar-benar pengap. Inikah caramu menyambutku." Sergahnya kesal dan merapihkan hijab yang berantakan karena ulah jahil Kak Alif.


"Benarkah? Sudahlah kau pergi saja dulu. Tunggu aku di gazebo." Titahnya menutup pintu.


"Ish dia ini." Gerutunya dan berlalu dari tempat itu.


Ia menghirup dalam-dalam udara di sekitar rumahnya itu. Nyatanya ia sangatlah merindukan suasana rumah tersebut.


Tuk. Melati menolehkan kepalanya ke belakang karena merasa ada seseorang yang menimpuk kepalanya dengan sesuatu.

__ADS_1


Ia mendengus mendapati Kakaknya yang tengah memandangnya dengan wajah yang sangat menyebalkan. Tak mempedulikan Kakaknya ia pun berjalan menuju gazebo dan duduk di sana. Tak lupa juga minuman serta makanan ringan yang tadi ia siapkan.


"Jadi apa kau benar-benar sudah yakin ingin menikah dengan Kak Lulu?" Tanya Melati menyelidik.


"Iya, lagipula sudah lama aku mencintainya." Jawab Alif santai dan meminum kopi.


"Hm aku juga sangat menyukainya." Sahut Melati.


Lama mereka bercakap tentang kehidupan pribadi mereka dan banyak lagi. Terdengar deru mobil mendekat ke arah rumah tersebut.


Ting tong,


Sontak Mina dan Ikhsan yang mendengar segera membuka pintu, senyum mereka terukir tatkala melihat kedatangan menantunya.


"Assalamu'alaikum Yah, Bu." Ucapnya sopan, dan diikuti putrinya Farah.


"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka bersamaan, dengan gemas Mina memeluk tubuh kecil Farah.


"Hai Nenek," sapanya senang. Ia begitu bahagia mendengar akan pergi ke rumah Kakeknya tadi, karena memang suasana orang-orang yang berada di sini yang sangat menyenangkan dan ramai pula.


Fahmi ikut tersenyum, hatinya bahagia meskipun putrinya tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga ini. Farah begitu dilimpahi banyak kasih sayang.


"Nak Fahmi ayo masuk," ajak Ikhsan pada menantunya.


"Iya Yah,"


"Di sedang bersama Kakaknya di gazebo." Ujar Ikhsan memberi tahu.


"Baiklah, Fahmi pamit undur diri ya Yah."


"Iya Nak, silahkan."


Fahmi berjalan menuju tempat yang telah diberitahukan oleh mertuanya, hatinya juga tersentuh hangat melihat Melati yang begitu manja pada Kakak iparnya. Tak dapat dipungkiri, ia pun sebenarnya ingin Melati juga berlaku demikian padanya.


Melati berkerut dahi menatap Kakaknya yang terlihat sedang fokus pada satu arah, matanya pun mengikuti arah pandangan Kak Alif. Alangkah terkejutnya mendapati sang suami yang tengah berjalan ke arah mereka berdua.


"Mas," ucapnya.


"Iya Mel, Hai Kak." Meski usia Fahmi lebih tua, namun Alif tetaplah Kakak dari istrinya. Ia tak enak jika tak mengikuti panggilan seperti yang istrinya lakukan.


Alif mengangguk menanggapi, hatinya sedikit demi sedikit mulai dapat menerima adik iparnya itu.


"Apa aku mengganggu di sini?" Tanya nya tersenyum ramah.


"Oh tentu tidak, silahkan saja bergabung bersama kami di sini." Jawab Alif tak kalah ramah.

__ADS_1


"Oh ya, sepertinya tadi kalian terlihat begitu serius. Apa ada sesuatu?"


"Em iya Mas, sedari tadi kami sedang membicarakan tentang niat Kak Alif yang ingin mengkhitbah seseorang dan persiapan pernikahan." Sahut Melati menjawab pertanyaan Mas Fahmi.


Fahmi mengangguk, "Kapan acaranya?"


"Dua hari lagi, mungkin aku juga akan menginap di sini Mas. Aku tahu, tidak mungkin kan Ibu menyiapkan hantaran dan yang lainnya sendiri."


"Iya Mel aku mengerti, dulu saja ketika aku ingin melamar Sasa seluruh keluargaku begitu repot dan banyak." Pungkas Fahmi dengan antusias tanpa sadar.


Melati merasa terhenyak, tak terasa matanya memanas bahkan mengembun. Hatinya terasa sakit melihat Mas Fahmi yang masih mengingat mantan Kakak madunya. Memang melupakan itu tidaklah mudah, namun melihat raut senang di wajah sang suami. Membuatnya memiliki pikiran bahwa suaminya masih memiliki rasa pada Mba Sasa.


Ia juga mengingat bagaimana pernikahannya dulu. Tidak ada acara lamaran atau pesta pernikahan. Jauh dalam lubuk hatinya, sedari ia mengetahui tentang pernikahan dan lain-lain ia juga memiliki keinginan agar diperlakukan istimewa.


Namun nahas, semua angan-angan itu hanya terkepung dalam harapan tanpa kenyataan. Bahkan pernikahan yang terjadi pun karena sebuah kehilafan seseorang.


Alif yang menyadari perubahan raut wajah Melati segera mengelus lembut bahu adiknya. Dan Fahmi pun menyadari hal tersebut, ia merutuki lidahnya yang tak dapat diajak kerja sama. Perasaan bersalah dan menyesal menyelimuti hati dan pikirannya.


Bahkan di depan Kakak iparnya, ia berani menyakiti wanita sabar itu.


"M-melati bukan maksudku-"


"Tidak apa Mas." Potong Melati.


"Melati kumohon..."


Alif yang merasa bahwa hal ini hanya perlu diselesaikan oleh pasangan suami-istri tersebut memilih untuk meninggalkan mereka berdua.


"Mel-"


"Sudahlah Mas, aku tahu kau mengatakan itu karena reflek. Aku memakluminya dan mungkin juga masih ada rasa di hatimu untuk Mbak Sasa. Kau dan dia kan sudah menjalani hidup bersama dalam waktu yang panjang. Dan untuk semua yang terjadi, tak ada yang perlu disesali." Ucap Melati berusaha tersenyum.


"Tidak Mel, kau salah paham." Tutur Fahmi lembut.


"Tidak bagaimana Mas? Sudahlah kita tak perlu lagi membahas tentang ini. Kakakku sedang bahagia saat ini, aku tak ingin merusak suasana hatinya." Melati menggeleng pelan.


Fahmi meraih kedua tangan istrinya, "Mel, biar bagaimanapun kita harus menjelaskan kesalahan pahaman ini. Kita selesaikan saat ini juga, aku tak ingin kau memikirkan ini dan menjadi beban di hatimu."


Melati memandang ke arah lain.


"Mel perasaanku pada Sasa sudah lenyap ketika aku mengetahuinya telah berkhianat. Kau benar aku mengatakan ini hanya reflek. Ingat menghilangkan perasaan bukan berarti melupakan kenangan.


Hanya kau yang aku cintai saat ini, dan aku juga minta maaf atas semua yang menimpa hidupmu karena aku. Menikah karena keadaan, mengubur dalam-dalam segala keinginanmu. Aku paham apa yang kau rasakan, seandainya saja dulu aku-"


"Mas cukup, tidak perlu berandai-andai. Aku sudah memaafkanmu dari jauh hari bahkan bulan. Cukup saat ini, kita fokus pada rumah tangga kita dan putri kita."

__ADS_1


"Terimakasih Mel, kau benar-benar wanita hebatku." Ujar Fahmi bangga seraya memeluk tubuh istrinya.


__ADS_2