Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 75


__ADS_3

"Papa kau yang terbaik!" Puji seorang wanita pada Ayahnya dengan bangga.


"Iya sayang, apapun akan Ayah lakukan demi putri Papa yang sangat cantik ini." Sahut sang Ayah dengan gemas mencubit kedua pipi putrinya. Yang membuat sang putri mendengus.


"Aku sudah besar Papa. Jangan melakukan hal demikian lagi." Ujarnya bersungut.


"Baiklah sayang, terserah kau saja." Pasrah Ayahnya dan kembali fokus pada sebuah layar di depannya. Ternyata, ia tengah menonton berita tentang kehidupan mantan pemilik perusahaan yang beberapa waktu lalu ia beli.


"Kapan Papa akan melakukannya?" Tanya gadis itu manja dan duduk di samping Ayahnya.


"Kau tenanglah dulu sayang. Biarkan dia usaha dulu, setelah itu kita hancurkan lagi. Dan setelah itu, kau memiliki banyak waktu untuk memilikinya." Pungkas pria paruh baya itu santai.


"Baiklah Pah, aku akan mengikuti alurnya saja."


Senyum smirk lagi-lagi terbit dari wajah mereka tatkala memandang kehancuran dari orang yang saat ini masih sangat panas beritanya.


***


Fahmi berangkat menuju lokasi yang akan menjadi tempat usahanya bersama Rayn. Dengan semangat membara ia akan melakukan segala hal untuk masa depan keluarganya.


Meski dari keluarganya sendiri memang sudah memiliki materi yang berkecukupan, namun ia tahu jika ia kembali berkecimpung di dunia bisnis Ayahnya hanya akan membuat perusahaan itu juga dawn.


Rayn terlihat sedang menunggu kedatangannya, Fahmi pun dengan segera menghampiri Rayn.


"Rayn," panggilnya tersenyum.


"Iya Tuan." Sahut Rayn menoleh.


"Rayn sudah kubilang jangan panggil aku Tuan. Kita kawan sekarang." Kekeh Fahmi merangkul bahu Rayn.


"Ouh Iya, maaf Mas." Balas Rayn kikuk, ia masih sungkan dengan pria yang selama ini menjadi atasannya. Ia lebih memilih untuk memanggil Fahmi dengan sebutan 'Mas' saja, toh juga usia Fahmi jauh lebih tua darinya.


Ia tak enak jika memanggil seseorang yang lebih tua dengan namanya.


"Baiklah Ray terserah kau saja." Ujar Fahmi tersenyum.

__ADS_1


"Iya Mas, bagiamana jika kita langsung masuk saja. Untuk mengecek dan desain apa yang paling cocok untuk tempat ini." Ajak Rayn.


"Em iya ayo."


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh. Tak terasa, air matanya meluruh karena mengingat memori kebersamaan dengan pria tersebut.


"Maafkan aku Mas, jika saja malam itu aku tak meninggalkanmu mungkin sampai saat ini citramu masih bagus. Dan jika saja aku melupakan masa laluku dengannya saat ini aku pasti bersamamu." Gumamnya penuh penyesalan.


Memang berita tentang Fahmi sedang hangat-hangatnya dibicarakan saat ini. Tentu saja hal itu tak luput dari telinga Sasa. Awalnya ia shock bagaimana kehidupan pribadi mereka bisa tersebar luas.


Ia sangat menyayangkan hal itu terjadi, bahkan banyak orang yang memandangnya iba karena mengiranya adalah korban. Padahal itu semua terjadi karena keegoisannya.


Saat ini Sasa tengah berada di sebuah minimarket yang letaknya tak jauh dari tempat usaha Mas Fahmi. Maka dari itu ia dapat melihat dengan jelas mantan suaminya itu. Hatinya meringis sakit melihat keadaan Mas Fahmi yang kurus dan tirus. Jauh dalam lubuk hatinya ia sangat merindukan kelembutan dan kesabaran Mas Fahmi.


Namun semuanya tak dapat diulang, menyesal pun sudah tiada guna. Bahkan sekarang lengkap sudah penderitaannya, lelaki yang selama ini ia puja dan cintai. Harus terbaring lemah di brangkar rumah sakit.


Keadaannya pun tengah koma, hal ini terjadi karena Bembi yang merupakan seorang alkoholik. Jika sedang tidak bersama dengan Sasa, ia hanya menghabiskan waktunya dengan meminum.


Semoga kau bahagia dengan kehidupan barumu Mas. Lirih batinnya sesekali mengusap lelehan di pipinya dan segera berlalu dari tempat itu.


Jauh dari tempat itu juga ada juga orang lain yang tengah memperhatikan Fahmi dan tempat usahanya.


***


Siang ini Melati berniat untuk pergi ke rumah Ayahnya. Hal ini lantaran kemarin malam, Kakaknya mengirimnya pesan tentang pernikahannya dengan Lulu.


Cukup lama mereka meyakinkan hati dan saling mengenal lebih jauh akhirnya perasaan di antara keduanya kian tumbuh dan kuat.


Melati jelas begitu senang mendengarnya, dengan segera ia mempersiapkan diri dan anaknya. Ah, kenapa ia melupakan putri sulungnya.


Jika ia berada di rumah Ayahnya siapa yang akan menjemputnya.


"Apa aku meminta Kak Alif saja ya untuk menjemput Farah? Baiklah seperti itu saja." Gumamnya sembari membereskan kamar Aisyah.


"Loh Non mau pergi kemana?" Tanya Bi Marni.

__ADS_1


"Ke rumah Ayah Bi, oh ya kalau Mas Fahmi pulang bilang saja saya tidak di rumah ya Bi." Jawab Melati.


"Baik Non hati-hati ya."


"Iya Bi makasih ya."


Di rumah itu tidak ada supir atau penjaga. Orang luar yang berada di rumahnya hanyalah Bi Marni sebagai ART. Tentu saja, lantaran keadaan ekonomi Fahmi yang saat ini tengah krisis. Jadilah Melati mengendarai sendiri mobil yang berada di rumah itu.


Drt, drt. Dering telepon dari sakunya memecahkan fokusnya dari menyetir.


"Hallo Assalamu'alaikum," ucapnya setelah mengangkat telepon tersebut.


"Wa'alaikumsalam, kau ada di mana Mel? Belum berangkat?" Tanya dari orang yang berada di sebrang sana. Yang ternyata adalah Kakaknya.


"Aku sudah berangkat Kak. Dan sekarang masih dalam perjalanan." Jawab Melati dan melirik ke arah anaknya yang berada dalam pangkuannya.


"Ouh baiklah kalau begitu. Hati-hati ya."


"Iya Kak. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam.


Melati memutuskan dahulu sambungan telepon tersebut. Ia beralih mencari nama suaminya. Biar bagaimanapun ia harus meminta izin terlebih dahulu.


Assalamu'alaikum Mas, maaf yah aku pergi dahulu baru izin. Hari ini aku pergi ke rumah Ayah untuk membahas pernikahan Kakakku. Jadi aku mohon maafkan aku ya, dan kumohon ridho-i aku yang pergi tanpa izin terlebih dahulu Mas. ~ Melati.


Tak lama setelahnya, Melati kembali merasakan getaran yang berasal dari ponselnya.


Wa'alaikumsalam, Ya Allah Mel. Kenapa kau tidak bilang terlebih dahulu. Kau pasti kerepotan karena harus membawa Aish juga. Tapi karena kau sudah pergi ya sudahlah aku izinkan. Yang pasti lain kali jangan diulangi lagi. Dan untuk Farah nanti biar aku saja yang jemput dan menyusulmu, toh hari ini aku tak terlalu sibuk. ~ Fahmi.


Iya Mas maaf ya, terimakasih atas izinnya. ~ Melati.


Merasa tidak ada lagi jawaban dari suaminya Melati kembali fokus pada kegiatannya.


Sekitar 30 menit lamanya Melati menyetir akhirnya ia sudah dapat melihat rumah milik Ayahnya.

__ADS_1


Tin tin tin. Tak menunggu lama, sang penjaga rumah tersebut langsung keluar dan membuka gerbang rumah Tuannya.


Dengan sopan ia menunduk dan mempersilahkan nona mudanya untuk masuk.


__ADS_2