Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 65


__ADS_3

Normal POV


"Tidak Melati?!"


Wajah Fahmi memucat melihat istrinya yang terlihat memejamkan matanya. Nafasnya tercekat, darahnya seakan berhenti mengalir, jantungnya seolah berhenti berdenyut. Tidak,


"Dokter ada apa dengan istriku?!"


"Apa yang telah kau lakukan pada istriku?"


"Melati.." tangisnya tak dapat ia bendung. Ia peluk erat tubuh istrinya.


"Pak saya mohon keluar sebentar Pak," pinta sang Dokter.


"Kau pikir aku akan mampu meninggalkan istriku sekarang?,"


"Pak kami mohon kerjasamanya. Ini semua demi istri anda. Suster,"


"Ayo Pak," ajak salah satu Suster.


"Tidak aku tidak bisa,"


"Pak kami tahu anda sangat khawatir dengan keadaan istri anda. Tapi kami berjanji akan berusaha semaksimal mungkin."


Dengan berat hati Fahmi meninggalkan istrinya. Ia menghampiri gadis kecil yang masih merah tersebut. Dengan berderai air mata ia mengadzani putrinya.


"Nak," seru Faris pada putranya.


Sontak Fahmi menghambur ke pelukan Ayahnya. "Ayah, Melati Yah."


"Kita do'akan saja yang terbaik Nak," ujar Faris berusaha menenangkan Fahmi.


Tak lama kedua orang tua Melati pun datang, mereka langsung saja menghampiri besannya.


"Faris bagaimana putriku?" Tanya Ikhsan cemas dan khawatir.


Faris menggeleng, ia sendiri tidak tahu bagaimana keadaan menantunya.


"Kita berdo'a saja Mas semoga Melati baik-baik saja." Dengan lembut Mina mengelus punggung suaminya. Ikhsan memegang tangan yang menyentuhnya, ia mengangguk.


Baik suami, orang tua dan mertua semua hanya bisa memasrahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa. Mereka juga berdo'a semoga Dokter dapat menangani orang yang mereka sayangi itu.

__ADS_1


Ceklek.


"Dok bagiamana dengan keadaan istri saya?" Cecar Fahmi tak sabaran. Kekhawatiran yang ia rasakan sama sekali tak pudar sedari tadi.


Dokter itu tersenyum, "Pasien baik-baik saja, ia hanya kelelahan karena telah melahirkan."


Semua menghembuskan nafas lega. Lisan mereka tiada henti melafadzkan kata syukur.


"Boleh kami masuk Dok,"


"Tentu, silahkan Pak." Ujar Dokter sopan, ia memberi jalan kepada keluarga pasiennya untuk masuk.


Dengan perasaan diliputi rasa bahagia mereka melihat keadaan Melati. Terutama Mina Dan Ikhsan, tak mau didahului oleh sang menantu mereka langsung memeluk tubuh putri mereka.


"Selamat Nak kau telah menyandang gelas Ibu," pungkas Mina penuh haru.


Melati melukiskan senyumnya. Ia juga sangat bersyukur dapat melewati semuanya. Putrinya terlahir dengan sempurna, dan wajahnya pun sangat cantik. Dengan sayang ia membelai wajah sang anak.


Mata Ikhsan berkaca-kaca, serasa baru kemarin ia menemani istrinya Sarah berjuang melahirkan Melati. Kini putrinya telah memberinya cucu.


"Cucu Kakek," cicitnya. Melati tersenyum, ia memberikan ruang untuk Ayahnya menggendong putrinya.


Hal sama terjadi pada kedua mertuanya, suasana haru melingkupi ruangan putih abu tersebut.


"Baik Yah,"


Dengan sopan Fahmi mengambil alih putrinya dari Ayah mertuanya. Sejenak ia pandangi tubuh mungil nan cantik itu, senyum terukir indah di bibirnya.


"Ayah akan menamaimu Aisyah Zara Al-Farisi...."


"Nama yang bagus Yah, Aish.." panggil Melati tersenyum pada putriku yang berada digendongan Ayahnya.


"Nama yang cantik seperti bayinya," sahut Ayah mertuanya.


Ruangan itu benar-benar berkabut kebahagiaan saat ini. Mereka juga bercengkrama dengan cucu mereka seolah Aisyah dapat menanggapi mereka. Tak jarang Aisyah membuka mulutnya dan bergerak membuat siapa saja gemas padanya.


***


Belum 40 hari ternyata masa nifas Melati telah usai. Ia teringat akan niatnya selama ini, namun mengingat betapa dekat hubungan Aisyah dan Fahmi ia menjadi bimbang. Di keluarga ini juga baik dirinya atau Aisyah mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari suami dan mertuanya. Hanya hubungannya dengan sang madu lah yang tidak akur.


Sebenarnya bukan tidak akur, tapi karena Sasa saja yang tidak ingin mengakrabkan diri dengannya. Hal ini juga yang memikirkan kemana arah pernikahannya nanti. Terang saja, ia sendiri telah memiliki ketertarikan pada pesona suaminya.

__ADS_1


Namun mengingat bahwa ia bukanlah milik seutuhnya membuatnya sakit terutama saat melihat kebersamaan dengan madunya. Apalagi Sasa yang terkadang mengunjungi kekediamannya bersama Mas Fahmi. Dengan alasan ingin bertemu dengan Aisyah, Sasa kadang sengaja memanas-manasi dirinya.


Tidak, setiap wanita memiliki impian. Dan ia tak mau seumur hidup harus hidup berbagi. Berpura-pura bersikap ikhlas dan sabar padahal batinnya tersiksa. Sudah cukup selama hampir satu tahun dia bertahan. Malam ini ia akan berniat membicarakan semuanya dengan Mas Fahmi. Ia hanya ingin menyelesaikan semuanya secara kekeluargaan dan bagaimanapun Mas Fahmi tetaplah Ayah putrinya.


"M-mas..," ucapnya ragu. Ia meremas ujung hijabnya untuk sedikit mengurangi kegugupannya.


Fahmi yang tengah memperhatikan laptopnya menolehkan wajah. "Iya Mel," sahutnya lembut.


Degup jantung Melati semakin berpacu dengan kencang. Untaian kata yang telah ia rancang dari kemarin seakan buyar entah kemana.


Cukup lama ia menarik dan membuang nafas, ia memberanikan diri untuk menatap wajah pria yang berstatus suaminya. "Ehm, jadi seperti ini Mas. Apakah kau masih ingat pembicaraan kita di malam pertama kita dahulu?"


Fahmi langsung menghentikan aktivitasnya. Ia menatap intens wajah wanita yang melahirkan putrinya, jakunnya terlihat naik turun pertanda ia sedang tegang dan gugup saat ini. Tentu ia ingat, bahkan sangat ingat.


"Memangnya ada apa?" Tanya nya lemas.


Melati semakin menundukkan wajahnya, "M-masa nifasku telah selesai beberapa hari yang lalu. Dan a-aku..., Kau.. tentu ingat bukan dengan semuanya." Memejamkan matanya, jujur mengucapkan hal itu membuatnya sangat sesak.


Demikian pula dengan Fahmi, ia memalingkan wajahnya menghindari tatapan mata yang rapuh itu. Ia juga cukup tahu bahwa selama ini, hidup dengannya membuat Melati tak begitu bahagia. Namun ia akan mengakhiri segalanya, hatinya memilih untuk hidup bersama Melati dan melepaskan Sasa.


"Boleh aku tahu, apa yang membuatmu tak dapat hidup bersamaku selamanya? Apa selama ini tidak adakah namaku yang menempati ruang di hatimu?," Lirihnya.


Dengan ragu Melati menjawab, "Kau pasti tahu bahwa setiap wanita tidak ada yang menginginkan untuk hidup berbagi bahkan suaminya sendiri. Aku hanya tak ingin selamanya harus menahan sesak saat melihatmu bersama dengan yang lain." Terserah kegetiran di setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.


"Apa kau akan tetap bersamaku jika memang aku hanya milikmu?"


Istrinya itu mendongakkan wajahnya tak percaya. Seketika ia menggelengkan kepalanya lemah.


"Kenapa?"


"Jangan buat aku menjadi perebut kebahagiaan wanita lain. Sesama wanita tentu aku tahu bagaimana rasanya menjadi dia. Aku hanya ingin hidup bahagia dan tenang tanpa merusak kebahagiaan wanita lain. Belum lagi nanti aku tak tahu bagaimana menghadapi sangsi sosial. Selama aku menjadi istrimu bukankah kau tahu sendiri dengan apa yang menimpaku?"


"Tidakkah kau memikirkan Aisyah?, bahkan dia masih kecil."


"Kau masih sangat bisa bertemu dengannya Mas, aku tak akan pernah memisahkan seorang anak dan Ayah bukan."


Fahmi menghela nafas lelah, apakah ia harus jujur akan niatnya yang akan menceraikan Sasa. Baiklah dia harus menjelaskan semuanya.


"Mel aku-"


"Oee..," mendengar anaknya menangis dengan segera Melati menemuinya. Bahkan ia sama sekali tak mempedulikan Mas Fahmi.

__ADS_1


"Akan menceraikan Sasa dan hidup bersamamu selamanya." Lanjut Fahmi memandang Melati yang kian menghilang.


__ADS_2