Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 11


__ADS_3

"Assalamu'alaikum.." ucapnya. Sontak semua orang menoleh ke arahnya, ada yang menjawab salam dan ada yang tidak hanya sekedar ingin melihat siapa yang datang ke kelas mereka.


Semua orang begitu terkejut melihat penampilan baru Melati. Tak terkecuali teman-teman satu gengnya. Raut wajah mereka tak jauh berbeda dari para anak-anak sekolah yang tadi ada di luar kelas.


Melati tersenyum menghampiri teman-temannya. Yang duduk di belakang kelas. Itu karena agar guru tak terlalu memperhatikan mereka saat mereka tengah bermain-main.


Melati yang sebenarnya adalah anak yang rajin dalam belajar sebenarnya berat hati ketika mereka memilih tempat duduk itu. Namun karena tak ingin persahabatan mereka renggang jadi ia menuruti kemauan mereka.


"Pagi El, Az, Ros,.." sapanya lalu duduk di samping Elisa karena emang ia duduk di samping Elisa.


"Pagi," jawab Aaz, namun Elisa dan Rosé hanya mengangguk dan tersenyum entah apa artinya.


"Kamu hari ini beda banget Mel, ada apa?" Tanya Aaz antusias. Dari ketiga temannya ini, Aaz lah yang memang sedikit memiliki kelembutan. Bahkan ketika tragedi membully ia jarang ada di antara mereka.


"Emang salah ya, saya berpenampilan seperti ini?" Tanya Melati.


"Em engga kok, justru tambah cantik." Ucap Aaz terkekeh. Sedangkan Elisa dan Rosé hanya diam memperhatikan kedua temannya.


Suasana menjadi hening seketika. Melati yang bingung ingin berbicara apa begitu juga Aaz, karena sedari tadi hanya mereka berdua yang mengobrol namun tidak dengan Elisa dan Rosé.


Namun tiba-tiba Elisa berbicara sesuatu yang membuat Melati terkejut.


"Az, loe pindah gih kesini. Biar gue duduk di belakang sama Rosé." Titahnya dingin.


"Eh, tapi kenapa El." Melati menahan lengannya Elisa yang tengah menyentuh tasnya. Elisa hanya memandangnya dingin.

__ADS_1


"Udahlah El, gapapa juga kan. Atau emang loe yang ngga mau duduk bareng Aaz?!" Ikut Rosé angkat bicara.


"Tapi.." belum selesai Melati berbicara Elisa telah beranjak dari duduknya dan berdiri di samping Aaz.


Aaz yang melihat itu hanya menghela. Ia pun mengambil tasnya dan duduk di samping Melati. Ia memasang senyum terindahnya kepada Melati dan Melati membalasnya dengan sedikit kikuk.


Tak lama seorang guru yang memang sudah jadwalnya masuk setelah bel tanda masuk berbunyi. Selama pelajaran berlangsung, antara Melati dan kawan-kawannya hanya terdiam tak seperti biasanya. Sampai bel istirahat pun berbunyi.


Sungguh aneh, Elisa dan Rosé bergegas pergi menuju kantin tanpa mengajak Melati. Aaz yang melihatnya jadi tak enak hati. Ia ingin mengajak Melati namun mendapat tatapan tajam dari Rosé ia jadi mengurungkan niatnya. Melati tersenyum.


Tak apa-apa, pergilah. Begitulah arti pandangan Melati pada Aaz. Lalu Aaz pun mengangguk dan meninggalkan Melati sendirian di kelas itu.


Kepergian ketiga temannya, Melati hanya bisa menghela nafas panjang. Inilah yang ia takuti. Bahkan kedua temannya sangat dingin dan seperti tak ingin memandangnya.


Namun, karena sekarang mereka sudah lengser diganti oleh adik kelas mereka membuat keduanya tak sedekat dahulu. Ya tentunya karena Melati selalu bersama dengan ketiga temannya yang saat ini tengah tak bersamanya. Lagipula dari dahulu juga ia dan Humaira hanya dekat saat tengah menjalankan progam kerja mereka selama menjadi anggota OSIS.


"Sendirian aja Mel," tanya gadis yang kerap disapa Maira itu. Ia juga sama-sama berhijab seperti Melati. Maira tidaklah mendapat hinaan atau bully karena memang ia memiliki latarbelakang keluarga yang cukup berada.


"Eh, iya ini Ra. Kamu juga kenapa sendirian aja?"


"Aku kan emang sering sendirian aja Mel."


"Ouh iya juga ya. Maksudku kamu kan biasanya juga sering ke perpustakaan gitu kalo jam istirahat kaya gini." Ucap Melati. Maira memang terkenal dengan kerajinannya dalam belajar. Maka tak heran ia selalu mendapat rangking pertama di sekolahnya. Dan di urutan kedua ada Melati tentunya.


"Itu.., ya memang sih sebenarnya aku mau kesana niatnya. Tapi karena aku ngeliat kamu sendiri ya gimana ya?,"

__ADS_1


Dari awal Maira melihat raut wajah para teman-teman Melati ketika melihat penampilan Melati. Mereka memang sedikit berbeda. Dan ia juga melihat wajah ketidaknyamanan Melati saat berada di situasi saat itu, jadi ia bisa merasakan apa yang dirasakan Melati. Lagi pula ia juga melihat Melati duduk sendirian dengan wajah sedih ia jadi tak tega. Hingga ia berniat mengajaknya pergi.


"Gimana apanya?" Tanya Melati bingung.


"Em, kamu mau gak ikut aku ke perpustakaan."


"Emm baikah saya ikut kamu." Ujar Melati tersenyum dan membereskan dulu mejanya yang lumayan berantakan karena beberapa alat tulis bercecer di sana.


Sekali lagi, para murid lain yang melihat Melati dan Humaira berjalan keluar menuju perpustakaan menjadi bahan pembicaraan.


Ada yang memuji dua siswi yang berhijab itu bak bidadari dan ada pula yang mencibir. Ketidakbersamaan Melati dengan Elisa, Rosé dan Aaz membuat desas-desus yang menyatakan Melati telah keluar dari gang-nya. Ada yang mengatakan karena penampilan baru Melati dan juga diperkuat dengan kebersamaan Melati dengan Humaira.


Melati yang memang sudah biasa di tatap seperti itu biasa saja. Ia tetap bercakap-cakap dengan teman disampingnya.


Dari jauh sebrang sana tepatnya kantin, Elisa, Rosé dan Aaz juga melihat kebersamaan Melati dengan Maira. Mereka mengepalkan tangan mereka selain Aaz. Akankah itu yang menyebabkan Melati berubah.


"Kalian lihat Melati, dengan mudahnya meninggalkan kita. Dan bahkan sudah memiliki teman baru. Dia benar-benar melupakan kita." Ujar Rosé dengan menahan amarah.


"Iya loe bener banget. Ngga inget apa kalo dulunya waktu dia terpuruk karena Bundanya meninggal kita yang selalu ada buat dia. Dia bener-bener kaya plaster. Deketin kalo lagi butuh doang." Sahut Elisa yang juga geram dengan sikap Melati.


"Mungkin karena sekarang dia udah naik pangkat lebih tinggi kali jadi dia kaya gitu." Lanjutnya.


Ya, memang setelah Mina melahirkan Husein, keluarga Mina mengangkat Ayah Melati yaitu Ikhsan menjadi pemimpin perusahaan. Dan tentu saja teman-teman Melati mengetahuinya.


Sadar gak sih kalian, kalo kalian sendiri yang berubah sama Melati. Bahkan kalian sendiri yang ninggalin Melati. Aku itu justru sebenarnya bangga sama Melati, jika biasanya orang yang semakin kaya materinya maka dia akan semakin melunjak dan angkuh. Namun tidak dengan Melati, dia justru berpenampilan sederhana dan merubah sikapnya menjadi sangat ramah. Bahkan aku sendiri adem ngeliatnya. Ucap Aaz yang hanya mampu ia katakan dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2