Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
Tak Sadar


__ADS_3

Melati mendongakkan wajahnya menatap ke arah pria yang memanggil namanya. Jujur selama ini, ia jarang bahkan hampir tak pernah melihat wajah Ayahnya. Hingga ia tak melihat wajah sendu sang Ayah yang mendapat sikap acuh darinya.


Baru saat ini ia menyadari hal itu. Terbesit rasa bersalah dalam dirinya. Ia juga sebenarnya tak tega melihat keadaannya saat ini. Lagipula selama ini juga ia sangat menyayanginya dan tak pernah sedikitpun berlaku kasar bahkan membentaknya.


"Iya Yah.." Ucapnya sedikit tersenyum yang hampir tak terlihat. Namun tentu saja Ikhsan dapat melihatnya. Matanya memerah menahan gejolak dalam dadanya itu. Sungguh ia sangat merindukan putri yang sangat ia sayangi memanggilnya Ayah dengan lembut seperti tadi. Ia juga sangat merindukan tingkah manja sang anak.


"Kemari duduk Nak.." Menepuk kursi yang berada di sebelah kirinya, sebab yang di kanannya sudah ada sang istri Mina.


Melati menuruti perintah Ayahnya dan sekali lagi ia tersenyum meski sekilas. Tak sengaja matanya juga bertabrakan dengan pandangan Mina sang Ibu Sambung. Namun ia cepat memalingkan wajahnya dan raut wajahnya berubah menjadi dingin.


"Nak kamu mau makan apa sayang?" Ikhsan mengusap lembut rambut Melati yang tergerai indah itu.


Melati tersenyum dan melihat ke arah meja yang di atasnya tertata rapih menu makanan yang memang menggiurkan. Kemudian Melati mengambil sendiri makanan yang ingin ia makan.


"Ayah juga makan dong Yah" Melati tersenyum manis pada Ayahnya. Ikhsan benar-benar merindukan suasana saat ini.


Seketika suasana hening. Mereka semua merasa bingung ada apa dengan Melati saat ini. Namun mereka juga sedikit senang akan perubahan Melati. Berharap kedepannya agar terus seperti ini meski Melati masih bersikap agak dingin.


"Apa kalian tidak lapar?, Kenapa kalian terus melihatku seperti itu dan sama sekali belum mengambil lauk?" Tanya Melati melirik ke Ayah dan Kakaknya tanpa melihat ke arah Mina sedikit pun.


Sontak Ikhsan dan Alif pun kaget dan mereka tersenyum canggung pada Melati. Lalu Alif juga melakukan hal sama seperti Melati. Dan untuk Ikhsan seperti biasa, Mina selalu melayaninya dengan baik.


Dan Melati pun melihatnya, dadanya tiba-tiba saja berdenyut sakit. Ia masih mengingat dengan jelas bahwa Bundanya Sharah juga melakukan hal sama. Entah kenapa ia masih belum rela atas kehilangannya namun bahkan saat ini Ayahnya telah mengganti sang Bunda tercinta.


Wajahnya jadi tampak murung, namun ia masih menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Seakan tak merasakan apa-apa yang ia masukan sendiri makanannya bahkan sambal yang rasanya sangat pedas pun hambar bagi Melati.

__ADS_1


Seluruh anggota keluarga yang melihatnya begitu ngilu melihatnya. Bahkan Melati sama sekali berekspresi seperti orang yang kepedasan. Ikhsan sangat khawatir melihat putrinya yang bahkan menambah sambal lagi. Mungkin memang mulut Melati bisa menahan pedasnya sambal. Namun apakah lambungnya bisa menahan perih yang luar biasa nanti.


"Sayang sudah cukup yah, Ayah takut dengan lambung kamu.." Ikhsan menahan tangan Melati yang ingin mengambil sambal lagi.


Melati menoleh pada Ayahnya, seakan baru sadar apa yang ia lakukan mata dan wajahnya memerah. Ia benar-benar merasa seakan dilemparkan kelautan sambal, sekujur tubuhnya meremang. Keringat mengucur deras menelusuri dahinya.


"Aaaa..........!!!" Teriaknya, ia benar-benar merasa kalut saat ini. Seluruh keluarga panik dan juga heran. Bukankah tadi ia baik-baik saja, bahkan terlihat menikmati makanannya.


Melati langsung beranjak dari duduknya dan pergi mencari air, dilihatnya kamar mandi terdekat yang memang berada di samping dapur. Membuka pintu dengan tergesa dan mencelupkan kepalanya ke dalam bak air.


Ikhsan dan Alif langsung menghampiri Melati. Dan Mina sendiri mencari yoghurt atau susu untuk menangkal pedas Melati. Melati benar-benar lemas tak berdaya, seluruh rambutnya basah dan menetes ke bajunya.


Ia terduduk di lantai kamar mandi itu dan hanya bisa menangis. Sudah cukup tenaga yang ia keluarkan untuk berteriak. Pedasnya cabai yang berada di mulut Melati masih belum hilang. Kepalanya berdenyut-denyut menahan rasa itu.


Mina tak berani untuk menyerahkannya sendiri kepada Melati. Ia lebih memilih untuk menyerahkannya pada Alif. Dan Alif pun menerimanya.


Alif duduk di samping kiri Melati sebab di samping kanannya terdapat Ayahnya yang baru saja mendudukkan dirinya di samping Melati.


"Minum ini dek, pelan-pelan saja.." Alif menyodorkan gelas susu itu ke Melati, Melati meneguknya hingga tandas. Terlihat nafasnya mulai sedikit teratur namun masih bisa dilihat juga ia masih menahan rasa pedas itu.


Mina memberikan botol minuman yang ia bawa, dan Ikhsan menuangkan kembali susu itu kedalam gelas yang tadi Melati pakai.


Dengan telaten ia meminumkan susu itu dan menyeka air mata dan keringat yang sudah sedari tadi tercampur di wajah Melati.


Melati menyenderkan kepalanya pada sofa, ia menatap langit-langit ruangan itu. Tubuhnya lemas dan tak berdaya. Ikhsan dengan sabar mengelus pucuk kepala sang empu. Ia juga mendekapnya erat.

__ADS_1


Seketika Melati merasakan hangat dan nyaman pada pelukan sang Ayah. Ia juga sangat merindukan kebersamaan bersama Ayahnya.


"Apa sudah tidak terasa pedas Melati?" Tanya lembut Alif. Ia juga turut mengelus punggung adiknya.


"Iya Kak" Melati menoleh dan tersenyum padanya.


"Ya sudah kamu ganti baju kamu gih, nanti masuk angin." Lanjutnya.


Melati tersenyum dan beranjak meninggalkan ruangan itu. Ia menoleh sebentar ke arah Mina, ia juga tadi melihat raut kekhawatiran dari wajah itu. Entahlah apa yang saat ini Melati rasakan.


Ada pikiran yang mengatakan bahwa memang Mina tulus mengkhawatirkannya. Namun pikiran yang lain meyakinkan bahwa Mina hanya tengah mencari perhatian ke seluruh keluarganya. Melati hanya menggeleng dan melanjutkan langkahnya.


Ikhsan dan seluruh anggota keluarga yang lainnya kembali ke ruang makan. Mereka juga melihat ternyata makanan yang berada di piring Melati masihlah banyak. Tadi ia hanya sedikit memasukkan nasinya kedalam mulutnya. Hanya tadi ia melebihkan sambalnya saja.


Sontak Ikhsan memandang istrinya, memberinya kode untuk menyiapkan kembali makanan untuk Melati. Dan Mina dengan senang hati melakukannya.


Melati mengentikan aktivitas mengeringkan rambutnya ketika mendengar suara ketukan pintu. Ia meletakkan hairdryer-nya dan dengan segera membuka pintu.


"Eh Kak Alif, ada apa?" Tampak Alif tengah berdiri di depan pintu kamarnya dan membawa nampan berisi makanan dan minuman.


"Ini makanan buat kamu. Kakak tau sebenarnya kamu masih lapar kan?, Jadi ini makan saja. Toh juga tadi yang kamu banyakin makannya sambalnya"


"Iya Kak makasih banyak ya, tiap hari aku direpotin sama Kakak." Melati menerima nampan itu dan melangkah menuju sofa di rumahnya.


Sedangkan Alif, ia langsung pergi ke kamarnya. Sebab ia sendiri ingin mengerjakan tugasnya. Apalagi ia sudah kelas dua belas, jadi ia harus belajar lebih giat sebab dalam waktu dekat ini ia akan menghadapi ujian.

__ADS_1


__ADS_2