
"Nona bukankah sedari awal, anda telah berniat untuk berbelanja. Lalu pilih saja mana yang anda suka, tidak perlu mengajak saya masuk." Ujar Fahmi kesal lantaran wanita manja itu selalu merengek agar menemaninya.
"Tidak, pokoknya kau harus ikut masuk. Aku tidak bisa jika memilihnya sendiri, makanya kau ku ajak agar aku dapat meminta saran padamu. Atau aku telpon Papa." Kekehnya.
"Baiklah," pasrah Fahmi. Ia memberikan jalan untuk Nona muda itu.
"Kenapa kau jalan di belakangku?"
"Agar saya tidak menghalangi pandangan anda," jawabnya ketus.
"Tidak mau," tolak gadis itu, ia pun berdiri di samping Fahmi.
"Nona,"
"Ayo cepatlah jangan hanya berdiri seperti itu." Menarik tangan Fahmi.
"Baik-baik, tapi lepaskanlah dulu tangan saya!"
Wanita itu pun menuruti, ia mengajak Fahmi ke tempat pakaian dan aksesoris. Fahmi berdiri tak jauh dari Nona mudanya. Sedari tadi ia menggerutu kesal namun hanya bisa ia ungkapkan dalam hati.
Seandainya saja kau bukan putri atasanku, sudah dari tadi aku menurunkan mu Luna!. Pungkasnya dalam hati.
Yah, wanita yang saat ini sedang Fahmi temani adalah Luna Alura Yovindra. Putri dari Tuan Harry Yovindra. Sang mantan sekretarisnya dulu.
Seorang wanita yang menjebaknya dengan obat kuat. Awal dimana ia mendapatkan kemalangan bertubi-tubi. Membuatnya mengkhianati istri pertamanya. Membuatnya menghancurkan hidup seorang perempuan. Membuatnya kehilangan perusahaan nya.
Dan mirisnya sekarang ia tak dapat melakukan apapun, bahkan harus menuruti semua permintaan wanita yang sangat ia benci itu.
"Mas bagaimana dengan pakaian ini?" Luna datang dengan mengenakan pakaian yang sebelumnya telah ia pilih. Sebuah gaun selutut berwarna merah muda dengan dihiasi beberapa pernak-pernik di ujung gaunnya.
"Bagus." Jawab Fahmi datar, ia hanya dapat mengeraskan rahangnya tanpa meledak mendengar Luna memanggilnya Mas.
"Mas, aku bertanya dengan benar. Bagus atau tidak? Apa ini pas di tubuhku?" Gerutu Luna.
Fahmi berusaha mengubah air mukanya. "Tentu saja pakaian apapun itu bagus jika melekat pada tubuhmu Nona. Karena tubuhmu sendiri itu sudah indah dari dulu."
Maafkan aku Melati, bukan maksudku mengujinya. Itu semua hanyalah bualan. Bagiku kau tidak ada tandingannya dari segi keindahan apapun.
__ADS_1
Sontak Luna tersipu mendengarnya, "Namun aku juga menyukai gaun yang lain, baiklah aku akan membeli yang ini. Tapi juga memilih yang lain lagi."
Fahmi hanya mengangguk dan menarik nafasnya dalam-dalam. Tak peduli dengan luasnya tempat ini, ia begitu merasa sesak.
Luna kembali dengan gaun yang berbeda. Warna yang ini lebih gelap dari yang sebelumnya. Ukurannya pun sama, hanya yang ini memiliki model kerah sabrina dan polos.
"Kalau yang ini bagaimana?" Tanya nya antusias.
"Sudah ku katakan Nona, baju apapun pasti bagus jika kau yang mengenakannya." Jawab Fahmi sabar.
Luna memberengut. "Hanya itu yang kau jawab dari tadi. Jangan-jangan bahkan dari yang pertama sebenarnya jelek."
"Tidak Nona, baiklah pakaian yang tadi kau terlihat sangat cantik dan tampak muda. Untuk yang ini kau terlihat dewasa dan elegan." Jawabnya tak sungguh hati.
Senyum Luna tercetak jelas seketika. "Baiklah aku akan memilih keduanya. Sekarang ayo kita pergi untuk mencari tas."
"Baik Nona,"
Sama seperti sebelumnya, Fahmi menunggu terlebih dahulu sang tuan putri tersebut mencari-cari pilihannya. Cukup lama keduanya di Mal tersebut hingga sudah masuk waktu sholat.
"Nona, bisakah kita berhenti dahulu. Lihat, sudah waktunya sholat. Sebaiknya kita cari mushola sekarang." Ajak Fahmi menghentikan kegiatan Luna.
"Baiklah ayo Mas." Luna mengikuti langkah Fahmi.
***
"Anak Bunda jangan rewel ya sayang. Kau harus menurut dengan Nenek." Ujar Melati pada buah hatinya.
Aisyah memberikan reaksi tersenyum dan bergerak girang. Membuat Melati tak ingin melepaskan putrinya. Sedang Bi Marni ikut tersenyum dan tergelak melihat wajah Aisyah.
"Doakan Melati agar lancar ya Bi." Pinta Melati memandang Bi Marni.
"Sudah tentu Non, ya sudah gih berangkat atuh Non. Itu Non Maira dan Non Aaz sudah menunggu di luar."
"Iya Bi, tolong jaga Aish ya." Melati mencium punggung tangan Bi Marni.
Seolah mengerti bahwa Bunda-nya akan pergi, Aisyah tiba-tiba menangis. Membuat Melati mengentikan langkahnya dan berbalik.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" Tanya Melati cemas. Ia segera mengambil alih putrinya itu. Dan menepuk-nepuk bagian belakang Aisyah.
"Bunda mau cari rezeki sayang, kau do'akan Bunda ya. Jangan rewel seperti ini." Tuturnya lembut. Ia pun segera menyusui putrinya.
Tak lama Aisyah yang mungkin merasa kenyang pun anteng. Ia menatap Bunda-nya. Melati segera menciumi wajah putrinya gemas. Dan menyerahkannya pada Bi Marni.
"Maaf yah lama, soalnya Aish sempat rewel tadi." Kata Melati merasa bersalah pada kedua temannya.
"Tidak masalah Mel, namanya juga Aish yang sudah terbiasa dengan Bunda-nya." Sahut Maira.
"Iya juga, lalu bagaimana jika nanti dia rewel lagi. Pasti Bi Marni kerepotan." Tukas Melati cemas.
"Bi Marni pasti sudah memiliki pengalaman dalam mengurus bayi Mel. Aku yakin pasti beliau mampu menenangkan putrimu." Ucap Aaz sembari fokus menyetir.
Melati pun mengangguk dan mengirimkan pesan pada kedua karyawannya.
Di hari pertama ini, Melati ditemani kedua temannya memulai aktivitas mereka dengan mengadon kue. Tak lupa juga, ada dua karyawan Melati yang kemarin sudah bergabung.
Beberapa hari yang lalu, Maira mendapati kedua teman kuliahnya yang tengah mencari pekerjaan. Nasywa dan Lia namanya. Mereka berdua sengaja memilih kuliah malam agar siangnya dapat bekerja.
Ini semua dilakukan agar tidak terlalu membebankan biaya kuliah mereka kepada orang tua. Maira pun merekomendasikan keduanya di tempat Melati ini, dan dengan senang hati keduanya menyetujui.
Meski semalam Melati sudah membuatnya dan membawanya kemari, namun karena di hari pertama ini sudah ada yang pesan membuatnya memutuskan demikian.
"Bismillah ya Mel, semoga usahamu ini lancar." Ucap Aaz menyemangati Melati.
"Iya Az, terimakasih yah. Kalian benar-benar sahabatku yang terbaik." Jawab Melati.
Aaz mengangguk dan memeriksa jam di tangannya.
"Em maaf Mel, setengah jam lagi aku ada jam kuliah. Apa tidak apa jika saat ini aku pergi?" Tanya Aaz hati-hati.
"Tentu saja tidak apa Az, lagipula ada Lia dan Nasywa di sini. Kau tidak perlu khawatir." Jawab Melati tersenyum.
"Baiklah Mel, maaf yah aku harus pergi. Aku juga akan sering-sering ke sini." Ungkap Aaz tak enak hati.
"Iya tenang saja. Sudah ayo pergi, nanti terlambat loh."
__ADS_1
Aaz pun memeluk sahabatnya dan pergi dari tempat itu. Kini di tempat itu hanya ada Melati dan kedua karyawannya. Karena Maira pun sudah pergi sebelum Aaz karena ia juga masih kuliah.