Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 71


__ADS_3

"Hm beginilah anak muda jaman sekarang kalau sudah bertemu. Ibu tidak kalian pedulikan." Dengus Mina pura-pura kesal.


Sontak kedua wanita satu generasi itu tertawa, "Maaf Bu, kami hanya senang saja karena sudah lama tak bertemu."


Mina menggeleng dan tersenyum kecil. "Oh ya Mel, bukankah hari ini kau ingin pergi menjenguk putrimu?"


"Niatnya memang begitu Bu, tapi aku bingung Aisyah dengan siapa. Ibu sendiri kan harus mengurus Aidan."


"Kau seperti sama siapa saja Mel, ada aku di sini." Ujar Alif yang tiba-tiba muncul membuat ketiganya menoleh ke arahnya.


"Memangnya Kakak bisa mengurus bayi?" Tanya Melati ragu.


"Tentu saja, kenapa tidak? Bahkan usia Kakakmu lebih tua darimu. Lagipula ada Lulu, kau mau kan Lu menemaniku bersama keponakanku?" Alif memandang ke arah Lulu.


"Iya Al tentu saja." Jawabnya tersenyum.


Memang semenjak Lulu resmi bercerai dengan suaminya hubungannya dengan Alif semakin dekat saja. Bahkan Alif sendiri telah menyatakan cintanya. Namun hingga sekarang Lulu masih belum memberikan jawabannya.


Ia masih trauma dan fokus pada putrinya. Meski demikian, Alif sudah tak sungkan-sungkan bertemu dan bermain dengan Lulu dan Asyifa. Alif tahu mungkin Lulu masih membutuhkan waktu untuk semuanya.


Mina yang sudah mengetahui semua tentu sangat mendukung hubungan keduanya. Apalagi sekarang Lulu sudah berhijab dan pandai dalam urusan rumah tangga. Alif juga meminta bantuan pada Ibu sambungnya agar keduanya menjadi lebih dekat. Serta meyakinkan hati Lulu bahwa dialah pria yang tepat untuk Lulu.


"Tuh kan Melati, sudah kau tidak perlu khawatir." Ujar Alif santai.


"Baiklah Kak, terimakasih ya kalian mau aku repotkan seperti ini."


"Tidak usah sungkan Melati, sebentar lagi juga dia akan menjadi Kakak iparmu."


Sontak wajah Lulu memerah, sejujurnya jauh dalam lubuk hatinya rasa cinta telah hadir untuk Alif. Namun melihat latar belakang keluarga Alif serta dirinya membuatnya merasa bak langit dan bumi.


Pernah ia mengatakan bahwa dirinya tak pantas untuk Alif, karena melihat statusnya yang janda anak satu dan Alif yang masih perjaka. Namun Alif sama sekali tak mempermasalahkan hal tersebut.


Lulu tetap kekeh dengan pendiriannya, tapi lambat laun melihat perjuangan Alif yang selalu merebut hatinya membuat ia bimbang. Ia bertekad untuk meminta waktu untuk membuat dirinya pantas untuk Alif.


Merubah sikap dan penampilannya, berusaha membangun karir dan semua hal yang dapat membuatnya pantas bersanding dengan Alif. Dengan sabar Alif mengiyakan dan menunggu Lulu hingga siap.


"Oh ya Bu, kalian sedang membuat kue?" Tanya Melati menilik bahan-bahan yang berada di atas meja.

__ADS_1


"Iya sayang, mungkin kau juga ingin membawakan untuk Farah?"


"Baiklah Bu, sebelum pergi aku membuatkan kue juga untuknya."


***


Mata Farah berbinar melihat suara pintu terbuka yang ternyata Bunda yang dirindukannya hadir. Melati memberikan senyum indahnya dan langsung menghampiri sang anak.


"Sayang," ucapnya membelai lembut kepala putrinya.


"Bunda..," lirihnya, senyum pun terbit meski sedikit.


"Iya Farah, mana yang sakit Nak?"


Farah menggeleng kecil, hanya ini yang ia inginkan. Tidurnya semalam sama sekali tak nyenyak karena tak melihat Bunda-nya. Dan merasakan belaian yang sangat ia rindukan.


"Bunda membawakanmu kue, ini buatan Bunda dan Nenek loh. Kau mau kan?" Ungkapnya dengan menunjukkan paper bag yang tadi ia bawa.


"Iya Bunda, aku menyukai apapun yang kau buat untukku." Balasnya senang.


"Tapi sebelumnya kau makan dulu buburnya ya sayang. Kemudian minum obatnya, agar cepat sembuh dan dapat bermain lagi dengan Bunda dan Dede Aish."


"Sayang kau harus mau makan, ingat agar cepat pulang dan bermain dengan Dede Aish. Kau tahu, Dede Aish sangat merindukanmu." Ujarnya mengulang kembali perkataannya.


"Baiklah Bunda," pasrahnya.


Fahmi tersenyum haru menatap keakraban keduanya. Ia juga lega, akhirnya Farah mau untuk memakan sarapannya.


***


Seminggu sudah Farah berada di rumah sakit, hari ini ia telah diizinkan untuk pulang. Kepulangannya pun disambut antusias oleh semua keluarganya, bahkan keluarga dari Bunda Melati hadir di rumahnya.


Sebenarnya Farah terheran karena tak mendapati Bunda Sasa beserta keluarga darinya, namun ia sama sekali tak berani untuk bertanya. Semua orang yang berada di rumah itu pun sama sekali tak menyinggung tentang Bunda Sasa.


Jadilah ia hanya diam dan bermain bersama adiknya Aish. Ada juga Husein dan Aidan. Rumah yang dahulu sepi sekarang menjadi sangat ramai. Ia menjadi semakin senang saja.


Humaira menghampiri Melati yang tengah menyiapkan makanan ringan untuk anak-anak kecil.

__ADS_1


"Hai Mel, bagaimana kabarmu?" Tanya Humaira senang melihat Melati. Nyatanya ia dan Aaz sungguh merindukan sahabat mereka yang satu ini.


"Aku sangat baik Mai, kau sendiri bagaimana? Dan yah, bagaimana kuliahmu?" Melirik sebentar lalu kembali fokus ke aktivitasnya.


"Syukurlah, aku juga baik. Dan untuk kuliahku mungkin baru tahun depan aku lulus. Aku sedikit lelet untuk mengurus skripsi." Ungkap Maira sedikit malas tentang kuliahnya.


"Loh kenapa?" Dahi Melati mengernyit, pasalnya dari dahulu nilainya dengan Maira tidaklah terlalu jauh.


"Entahlah Mel, aku sendiri tak tahu. Bahkan setelah ini aku juga bingung akan kerja dimana dan menjadi apa."


"Bukankah ada perusahaan Ayahmu dan Kakakmu. Kenapa kau tidak terjun saja ke sana. Toh jurusanmu memang seharusnya ke sana."


"Iya, hanya saja dalam waktu dekat ini aku masih sedikit malas." Malas karena dari kemarin Kak Azein tak ada kabar setelah memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Lanjutnya dalam hati.


Memang hubungan antara Azein dan Humaira sudah lumayan dekat. Sama seperti halnya Melati yang dahulu dekat dengan Azein karena Aaz, Humaira pun dekat dengan Azein karena sahabatnya.


Namun, karena Azein yang memilih untuk melanjutkan pendidikannya membuat Maira murung. Azein tahu tentang perasaan Maira padanya, tak dapat dipungkiri bahwa sampai saat ini nama Melati masih bersemayam di hatinya.


Karena itu ia memilih sementara untuk menjauh dari Humaira. Ia membutuhkan waktu untuk menghilangkan rasa di hatinya tanpa melupakan. Juga memantapkan hatinya, bahwa cintanya akan berlabuh untuk Maira.


"Terserah kau saja, yang pasti kau tidak boleh menyesal dengan keputusanmu kelak."


"Iya Mel, do'akan saja ya. Semoga aku sukses."


"Tentu Mai,"


"Oh ya kau sendiri tak ingin melanjutkan kuliahmu atau bekerja?"


Melati terkekeh mendengar pernyataan yang terlontar dari mulut sahabatnya.


"Dengan statusku yang telah bersuami dan memiliki dua putri apa mungkin aku akan melanjutkan kuliahku. Aku hanya ingin fokus pada kedua putriku." Lirihnya.


Maira menjadi merasa bersalah, ia merutuki mulutnya yang tak dapat direm.


"Mel aku-"


"Sudahlah Mel tidak apa. Ini semua memang sudah menjadi jalanku."

__ADS_1


"Kau wanita yang hebat Mela."


Melati tersenyum. Setelahnya mereka memutuskan untuk bergabung dengan yang lainnya.


__ADS_2