
Fahmi tersenyum akhirnya Melati menuruti permintaannya. Ia melirik Bi Marni, dengan melemparkan senyumnya ia mengajak wanita paruh baya itu untuk ikut gabung bersama istrinya.
Dari awal ia sudah yakin pasti dengan makanan sebanyak itu, istrinya tak akan mampu menghabiskannya.
"Mas jangan hanya melihatku seperti itu. Kau ikutlah makan Mas," pintanya dengan menyodorkan sesuap makanan yang tengah dimakannya.
Hap, dengan antusias Fahmi menerima suapan tersebut. Bi Marni yang melihatnya juga ikut tersenyum.
Banyak makanan yang berakhir menempati lemari es. Untunglah saat itu memang isi kulkas tak terlalu banyak. Hingga masih banyak ruang untuk menyimpan makanan.
"Ya sudah langsung tidur ya saat ini. Lihat sudah malam," tunjuk Fahmi pada sebuah jam dinding.
"Tapi Mas aku masih ingin menonton film. Aku menunggu kelanjutan episode-nya dari kemarin." Rengek Melati manja.
"Apa dari kemarin?, Itu artinya kau sering begadang?" Tanya Fahmi dengan sedikit menaikan nadanya. Tentu ia khawatir dengan keadaan Melati.
"Eh itu?," Melati gelagapan dibuatnya.
"Mas kumohon, aku sangat ingin menonton film itu. Sayang kalau hari ini dilewatkan. Lagipula jika siang aku selalu tidur, kan tidak ada pekerjaan."
"Baiklah tapi akan aku temani." Pasrahnya.
Mereka menuju ruang tv meninggalkan Bi Marni yang tengah mencuci piring.
Cukup lama ia menemani sang istri, tiba-tiba bahunya seperti tertimpa sesuatu. Ia tersenyum tatkala melihat wajah damai istrinya, nafasnya pun terasa teratur.
Karena ia sendiri yang memang sudah mengantuk ia memutuskan untuk mematikan televisi tersebut dan menggendong Melati menuju kamarnya.
Di usapnya lembut wajah Melati dan melihatnya intens.
Entah bagaimana perasaanku padamu saat ini Mel, tapi yang pasti aku merasa sangat nyaman denganmu. Aku pun berharap semoga pernikahan kita langgeng. Ingin sekali Fahmi merebahkan dirinya di samping istri, namun ia tak mau ketika bangun Melati melihatnya. Bagaimanapun ia harus menjaga perasaannya, terutama ia juga tak mau istrinya justru membencinya karena hal ini.
***
Hati Fahmi merasa bahagia melihat pakaian kerjanya yang telah disiapkan oleh Melati.
"Mel bisakah kau bantu aku memasangkan dasi?" Seru Fahmi dari kamarnya pada sang istri yang terlihat tengah menyiapkan sarapan. Ia memang memilih kamar di lantai bawah.
"Tentu saja Mas, Bi Marni aku tinggal sebentar ya," pamitnya pada Bi Marni.
"Iya Non." Jawabnya.
__ADS_1
Melati berjalan menuju kamar suaminya, ia melihat Mas Fahmi yang terlihat kesusahan memasangkan dasi.
"Apa kau suka pilihanku Mas?" Tanya Melati di sela-sela memasangkan dasi suaminya.
"Tentu Mel, kau sangat pandai memilih pakaian untukku."
Melati tersenyum, baru kali ini Fahmi melihat senyum istrinya dengan jarak yang begitu dekat. Senyumnya yang sangat manis membuat kecantikan di wajah tersebut bertambah.
"Sudah Mas," ucapnya menepuk bahu suaminya.
"Terimakasih Mel." Ujarnya tulus.
"Ya sudah aku langsung pergi ya Mas, aku juga harus melihat Farah."
"Iya Mel," Melati berlalu dari kamar tersebut dan menuju kamar putrinya.
Dengan putri sambung mu pun kau sangat perhatian Mel. Bahkan istriku pertamaku Sasa sangat jarang memperhatikan bahkan melihat perkembangan Farah. Sanggupkah nantinya aku melepaskanmu?. Gumam Fahmi melihat Melati yang kian menjauh.
***
"Siapa lelaki itu Rayn?" Tanya Fahmi pada asistennya yang telah berdiri di hadapannya. Rayn juga terlihat membawa berkas di tangannya.
"Semua yang ingin anda ketahui ada di sini tuan." Ujarnya menyodorkan sebuah berkas pada Tuan Fahmi.
"Jadi sampai saat ini mereka masih berhubungan?" Tanya nya dengan hati yang sesak.
Rayn menjadi gugup, akankah ia menyerahkan CCTV yang sempat ia pasang?.
"I-iya Tuan."
"Kau pasti mengambil gambar mereka kan?" Berusaha agar nampak biasa saja di hadapan sang asisten.
"Iya Tuan," jawabnya. Dengan ragu ia menyerahkan satu lagi berkas-berkas yang berisi foto dan CCTV.
Mata Fahmi memerah, ia mencengkram kuat semua bukti-bukti perselingkuhan istrinya.
"Tinggalkan aku Rayn," titahnya tegas tak mau dibantah.
"Tapi Tuan,"
"Cepat tinggalkan ruangan ini Rayn." Bentaknya.
__ADS_1
Ray terkesiap, dengan segera ia meninggalkan ruangan tersebut.
Ruangan yang tadinya sangat rapi, berubah bak kapal pecah karena perbuatan Fahmi. Ia sungguh merasakan sakit yang teramat dan kecewa. Dengan segenap hati ia mencintai istrinya, ia tahu bahwa ia telah berbuat sesuatu yang sangat menyakiti hati istrinya.
Namun apa daya kejadian itu pun berawal dari sekertaris sialannya itu dan semua telah terjadi. Yang paling membuatnya sakit ialah, bahkan Sasa telah bermain dengan pria lain bahkan sebelum ia menikahi Melati.
Entah apa kekurangan dan kesalahannya hingga istrinya tega berbuat seperti itu. Bukankah cinta, kasih sayang dan kehidupan layak telah ia berikan. Bahkan mereka pun sudah dikaruniai anak. Tidakkah Sasa memikirkan perasaan sang anak.
Ia memandang pilu foto pernikahan keduanya yang selalu tersimpan di meja kerjanya,.
Tidakkah kau mencintaiku sedikitpun Sa?, Apa baiknya lelaki itu?, Bahkan kau mulai tak memperdulikan aku dan anakmu akhir-akhir ini. Aku tahu aku telah menyakitimu dengan menikah dengan Melati, tapi bukankah aku lebih mementingkan dirimu? Tubuhnya melorot dan ia menyandarkan kepalanya di meja kerjanya.
Terdengar isakan kecil dari mulutnya. Rayn sang asisten yang khawatir dengan keadaan bosnya tak serta merta dapat meninggalkan tempat itu. Ia menunggu hingga tak terdengar lagi kegaduhan dari ruangan atasannya.
Merasa sudah mulai tenang. Rayn pun memberanikan diri untuk masuk ke ruangan itu. Banyak sekali benda-benda mewah yang pecah dan berserakan di lantai dan lupa pula dengan berkas-berkas yang berhamburan entah berada di mana saja. Ia menilik Tuannya yang tengah terisak, penampilannya pun terlihat sangat kacau.
"Dia telah menghianatiku Rayn, kenapa aku harus mendapatkan wanita seperti dia Rayn?, Apa aku lelaki yang sangat buruk hingga dia pergi bersama pria lain?" Racaunya semakin pilu.
Rayn hanya bisa mendengarkan, ia membawa tubuh yang hatinya tengah rapuh itu ke ruangan pribadi milik Tuannya.
"Sasa aku sangat mencintaimu, kenapa kau harus bersama pria itu?" Ujarnya masih dengan berlinang air mata.
"Istirahatlah Tuan, saya akan membatalkan meeting pada hari ini."
Fahmi tak menanggapinya sama sekali. Ia masih terjerat dalam kesedihannya. Sedari tadi ia hanya menyebutkan nama Sasa.
Rayn menghela nafas berat, ia keluar dan memandangi ruangan bak telah dilanda tsunami itu. Dengan segera ia memanggil seorang OB untuk membereskan tempat itu. Namun sebelumnya ia sembunyikan dahulu berkas-berkas yang telah membuat Tuannya kacau.
***
"Tuan apa yang anda lakukan?!" Tanya Rayn yang sedikit geram dengan tingkah Tuannya yang terlihat masuk menuju sebuah club.
"Apa aku hanya butuh ketenangan Rayn, kenapa kau harus menghentikan aku?!" Bentak Fahmi.
"Tapi dengan tidak memasuki tempat ini Tuan. Anda adalah peminum yang buruk, apa anda ingin mengulangi hal yang sama?"
Fahmi tertegun, ia mengingat malam dimana ia merenggut paksa kehormatan Melati karena alkohol.
"Lalu aku harus kemana Rayn?, Aku sama sekali tak ingin melihat istriku itu."
"Anda bisa pergi ke rumah Nona Melati Tuan."
__ADS_1
Fahmi melemah, "Bawa aku ke sana." Titahnya.