
Byur..., Air mengalir begitu derasnya menerpa wajah Lulu. Dengan gelagapan ia pun terbangun dari tidurnya. Dapat ia lihat langsung dengan jelas wajah cantik dan seksi namun dengan wajah garang di hadapannya.
Ia menatap acuh wanita di depannya. Bahkan ia dapat berdiri dengan tegak. Siska yang melihat tingkah Lulu pun menjadi heran dan amarah di dadanya tentu membuncah.
"Dasar gadis sialan!, Kau bahkan masih tertidur saat aku sudah terbangun. Cepat buatkan aku dan suamiku sarapan. Ingat saja jika sampai kau membuat suamiku terlambat datang bekerja!" Ucapnya dengan nada sombong lalu melenggang pergi begitu saja dari Lulu.
Sudah tentu Lulu tahu kemana madunya pergi itu. Dengan melihat pakaian tidur yang masih melekat di tubuhnya serta beberapa jejak cinta di bagian tubuhnya membuatnya yakin tentang apa yang ada di benaknya.
Lulu yang memang tidak ingin membuat keributan setelah ini pun langsung pergi menuju kamar mandi di sebelah dapur rumah itu. Dengan gesit ia meracik bumbu masakan sehingga membuat perut yang mencium baunya meronta-ronta untuk di isi makanannya.
Sang raja dan ratu di rumah itu pun turun dan dengan kemesraan tentunya. Jika biasanya Lulu akan merasa sakit dan cemburu tentu tidak dengan hari ini. Entah apa yang ia pikirkan saat ini, namun tak ada orang yang dapat menebak isi di dalam otaknya.
Dengan angkuh Siska pun duduk bersamaan dengan suaminya. Tentu saja setelah itu Lulu harus melayani kedunya. Seperti menaruh nasi serta lauk di piring pasangan suami-istri itu.
Karena melihat keadaan dapur yang masih berantakan membuatnya langsung membereskan semuanya. Tentu pemandangan itu membuat Zahdan maupun Siska terganggu karena pusing melihat Lulu yang mondar mandir kesana kemari.
"Hei wanita sialan!, Bisa tidak kau diam dahulu. Kau tidak tahu bahwa kau telah mengganggu kami menyantap sarapan kami pagi ini!" Ujar Siska dengan melayangkan sendok ke arah Lulu yang menganai tengkuk Lulu.
Sedangkan Zahdan hanya diam saja melihatnya. Kejadian kemarin masih membuatnya kesal dan sebenarnya juga malu karena sama sekali tak digubris Lulu.
Lulu membalikkan badannya. Untuk pertama kalinya ia dengan berani ia menatap remeh Siska. Bahkan ia menyunggingkan senyumnya.
Sontak Siska dan Zahdan yang melihatnya pun terkejut dan kaget. Amarah diantara keduanya membuncah terutama Siska.
Plak. Tanpa ba-bi-bu ia menghampiri Lulu dan melayangkan tamparan keras pada pipi Lulu.
__ADS_1
Plak. Suara tamparan keras kembali terdengar yang membuat semua orang terkejut. Karena tamparan tersebut bukan dilayangkan kepada Lulu namun Siska yang mendapat kekerasan itu.
"Berani-beraninya kau menyentuh cucu menantuku wanita j*****!!" Suara dari Tuan Besar Mahendra begitu memekik pendengaran bagi orang di sekitarnya. Meski tubuh yang telah dimakan usia, tak membuat tenaganya juga menghilang. Ia akan menunjukan kegarangannya pada siapapun yang melawannya.
Zahdan yang melihat hal itu pun menjadi sangat terkejut dan wajahnya mendadak pucat pasi. Keringat dingin mengucur deras di dahinya. Sungguh kelicikan bahkan kekejaman musuh lebih baik ia pilih untuk dihadapi dari pada kemarahan dari Kakeknya sendiri.
***
Flashback
Zahdan yang dengan perasaan kesal dan malu meninggalkan begitu saja tanpa memperhatikan sebuah benda yang bertengger di saku atas baju milik Lulu.
Memang di saat insiden Lulu yang ditampar oleh Zahdan di tempat umum. Zahdan sempat berpaling celingukan mencari istri tercintanya. Karena melihat keberadaan Lulu membuatnya melupakan Siska.
Memang selama ia hidup di apartemen milik Alif, Alif telah membelikannya sebuah ponsel. Lulu pun menerimanya dengan perasaan yang tidak enak karena ia memang sudah sangat sering merepotkannya.
Lulu ingat betul dengan nomor ponsel milik asisten Tuan Besar Mahendra. Namun ia tak berani mengirimkannya pesan. Meski Kakek suaminya sangat menyayanginya bak cucu sendiri namun tak dapat dipungkiri bahwa perasaan takut akan Tuan Besar Mahendra ada di hati kecilnya.
Ia ingin sekali meminta bantuan pada orang yang menurutnya masih memiliki hati itu. Lulu ingin mengadukan atas semua yang dilakukan cucu kandungnya padanya. Ia juga ingin dikabulkan gugatan cerainya. Namun ia tidak berani lantaran ia tak memiliki bukti apa-apa.
Ia takut jika Tuan Besar Mahendra akan menganggapnya sebagai penghianat yang hanya mengincar harta gono-gini. Karena setahunya cucunya itu sangat menyayangi Lulu. Tentu saja Zahdan melakukannya hanya di depan beliau.
Dengan di bertemukannya kembali dengan Zahdan membuat Lulu menyusun rencana. Tak apa ia merasakan rasa sakit itu kembali, karena yah rasa sakit yang ia derita saat ini akan sirna.
Wajah lebam yang berada di wajah Lulu membuat Mahendra naik pitam. Ia sendiri telah melihat rekaman video yang telah dikirimkan oleh Lulu lewat anak buahnya. Sunggu ia tak menyangka cucunya bisa berbuah serendah ini.
__ADS_1
Bahkan Zahdan lebih mencintai Siska seorang wanita yang tidak jelas asal-usulnya. Ia juga sangat geram dengan Siska yang ternyata juga menghianati Zahdan. Tentu ia mendapatkan segala bukti perselingkuhan dari anak buahnya yang telah dikirimkan oleh Lulu. Lulu memang sempat melihat Siska yang menggandeng seorang pria dengan mesra.
Flashback end
"Kau buka matamu lebar-lebar Zahdan!" Mahendra melempar beberapa foto Siska di depan wajah Zahdan.
Tentu Zahdan sangat terkejut melihatnya. Ia menatap nyalang Siska yang sudah entah sepucat apa. Dengan tangan yang mengepal dan akal yang mendidih ia menghampiri Siska untuk memberinya pelajaran.
Namun belum sempat ia melayangkan tangannya, sebuah cekakan erat menahan tangannya. Ia lihat wajah merah padam Kakeknya. Ia juga menyunggingkan senyumnya.
"Apa?!, Apa kau baru sadar bahwa kau sangat bodoh saat ini?!. Kau lihat dia (menunjuk ke arah Lulu) semua yang terjadi adalah benih yang telah kau taburkan selama ini!" Mahendra menghempaskan tangan Zahdan kasar.
Tubuh Zahdan lemas, ia seakan tak memiliki kekuatan sama sekali untuk menopang tubuhnya. Tubuhnya ambruk namun masih sadar. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan meneteskan air matanya.
Ia akan berusaha membuat bahagia kepada siapapun yang ia sayangi dan cintai seperti Ayah dan Kakeknya yang menyayangi istrinya. Namun cintanya mendarat di tempat yang salah.
Justru seorang wanita yang sama sekali tak berdosa padanya ia perlakukan layaknya seekor hewan. Bahkan ia sendiri menjulukinya dengan peliharaannya. Tidak, seekor peliharaan masih bisa disayangi oleh pemiliknya. Entah apa julukan apa yang pas untuk Lulu.
Lulu yang melihat suaminya terpuruk hanya menatapnya datar. Tak ada apapun yang dirasakan sekarang olehnya. Karena memang dari awal ia tak mencintai pria itu. Namun ia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
Perlakuan Zahdan yang sama sekali tak menganggapnya seorang istri bahkan tak menghargainya membuat hatinya sekaan mati. Tak ada sedikitpun rasa iba untuk suaminya itu.
Merasa tujuannya sudah tercapai yaitu berpisah dengan Zahdan membuatnya merasa tak penting berada di tempat itu. Memang Kakek mertuanya telah mendaftarkan gugatan cerai mereka. Hanya tinggal menunggu kapan datangnya dan dengan senang hati Lulu menandatanganinya.
"Kek," panggilnya lembut. "Bolehkah aku pergi saat ini, aku benar-benar merindukan putriku." Lulu tersenyum tulus pada Mahendra. Sebenarnya perkataannya hanya alasan agar ia dapat segera keluar dari rumah ini.
__ADS_1