Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 49


__ADS_3

Melati yang telah tersadar langsung melepaskan diri dari pelukan suaminya.


"Maaf Mas aku tidak bermaksud--"


"Tidak Mel, aku sendiri kan yang bilang. Aku akan selalu ada untukmu sekarang." Potong Fahmi menghentikan perkataan Melati.


"Oh ya Mas, kenapa kau tidak pergi ke kantor?" Tanya Melati mengalihkan pembicaraan.


Fahmi tersentak, ia sendiri baru ingat tentang pekerjaannya. "Eh itu,.. aku akan berangkat sekarang." Jawabnya kikuk.


"Ya sudah, kau baik-baik saja di rumah sendirian?"


"Tentu saja Mas. Kau berangkatlah."


Fahmi mengangguk dan melenggang pergi meninggalkan Melati.


Melati menghembuskan nafasnya panjang.


***


Tak terasa, sekarang usia pernikahan Melati dan Fahmi sudah hampir lima bulan. Dan selama itu juga hubungan antara Melati dan suaminya lumayan dekat. Namun tetap saja Melati berusaha untuk tidak menyimpan rasa pada Mas Fahmi. Meski sebenarnya ia sendiri memang memiliki ketertarikan.


Untuk Sasa ia sama sekali tak peduli dan tak pernah menganggap keberadaan madunya. Hanya saja ia akan merasa sangat marah jika madunya berada di dekat suaminya. Hubungannya dengan Farah juga semakin menjauh, bukan karena Farah yang menjauhinya namun karena memang Sasa yang tidak memiliki waktu untuknya.


Jika dulu Farah akan kesepian maka tidak dengan saat ini. Masih ada Melati yang menemaninya dan memanjakannya. Farah pun sangat senang dengan Melati.


Hari ini Melati sangat senang mendengar bahwa adik dari madunya yaitu Elisa akan menginap beberapa hari di rumah itu. Ia berniat untuk memperbaiki hubungan persahabatan mereka. Sudah sekian lama ia menantikan hal ini.


Ting tong. Suara bel pintu berbunyi tanda ada seseorang yang tengah menunggu si Tuan rumah membukakan pintu.


"Iya sebentar." Jawab Melati dengan sedikit meninggikan suaranya.


Alangkah terkejutnya Melati melihat kehadiran sahabat yang dirindukannya. Begitu juga dengan Elisa. Ia memang sudah mengetahui pernikahan kakak iparnya dengan sahabatnya. Rasa kebencian di hatinya semakin membuncah.


Baguslah jika Melati berada di rumah Kakaknya. Banyak sekali rencana licik bersemayam di pikirannya. Ia pikir Kakak iparnya akan memisahkan kedua istrinya.


Tak terlalu lama menunggu, Melati langsung memeluk erat tubuh Elisa. Yang ditolak mentah-mentah oleh Elisa. Tubuh Melati terhuyung ke belakang karena dorongan dari Elisa.


"Dimana Kakakku?" Tanya Elisa ketus.


"Dia sedang tidak di rumah," lirih Melati. Ia sebenarnya kecewa dengan sikap Elisa, namun ia berusaha menahannya.

__ADS_1


"Ya sudah minggir." Elisa menyingkirkan tubuh Melati dengan sedikit kasar. Bagaimanapun perut Melati terlihat buncit. Ia hanya tak ingin disalahkan karena keadaan Melati nanti.


Elisa langsung pergi ke kamarnya seperti biasanya ketika ia menginap di sini. Melati hanya menghela melihat tingkah ketus Elisa. Ia memilih untuk melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


***


Tut tut tut. Dering telepon menghentikan aktivitas Melati yang tengah menulis novelnya. Inilah yang ia lakukan saat di rumah, karena memang ia tak memiliki pekerjaan. Lagipula ia juga dilarang keluar rumah karena kandungannya.


"Hallo Assalamu'alaikum," ucapnya setelah menggeser tombol hijau.


"........"


"Apa?!" Melati menutup mulutnya karena terkejut.


"........"


"Aku akan segera ke sana Kak."


"......."


"Baiklah Wa'alaikumsalam."


Tok tok tok. Melati mengetuk pintu kerja milik Mas Fahmi.


Ceklek. Pintu terbuka dan nampak lah seorang lelaki dengan kacamata bertengger manis di hidungnya tengah menatap dengan serius laptopnya.


"Ada apa Melati?" Fahmi terheran melihat wajah Melati yang memasang wajah cemas.


"Kak, aku ingin meminta izin untuk pergi ke rumah sakit."


Fahmi langsung menghentikan kegiatannya dan menatap intens wajah Melati.


"Ada apa?, Apa kau sakit?," Tanya Fahmi cemas dan langsung menghampiri Melati.


"Ti-tidak," Melati sangat gugup tatkala melihat Mas Fahmi yang begitu dekat dengannya. Bahkan ia bisa merasa hembusan nafas milik suaminya itu.


"Aku ingin ke sana karena malam ini Ibuku akan melahirkan. Beberapa kali ia merasakan kontraksi." Masih dengan kegugupannya.


Fahmi langsung menghela nafasnya, "Baiklah, aku juga akan ikut denganmu. Tak mungkin aku membiarkan istriku yang tengah mengandung ini pergi sendirian bukan?" Tanya Melati yang terkesan memerintah.


"Iya baiklah, tapi bagaimana dengan Farah dan Kak Sasa?"

__ADS_1


"Sasa masih belum pulang. Dan untuk Farah kan sekarang ada Elisa. Aku akan memintanya untuk menemani Farah."


Melati mengangguk, Fahmi langsung menggandeng tangan Melati menuju kamar putrinya. Terang saja, hal itu membuat Melati semakin gugup.


"Sayang..," panggil Fahmi dengan lembut.


Farah langsung menghentikan aktivitas menggambarnya dan langsung tersenyum melihat kehadiran kedua orang tuanya.


"Hai Ayah dan Bunda," ujarnya langsung menghambur ke pelukan Ayahnya manja.


"Nak Ayah dan Bunda ada urusan sebentar. Kau tidak apa-apa kan sayang. Lagipula kau tidak sendirian di sini, ada Aunty Elisa di sini." Fahmi mengelus lembut pucuk kepala sang anak.


Melati melihat perubahan raut wajah putrinya, namun masih berusaha tersenyum.


Tentu saja Farah sedih, karena hal ini membuatnya mengingat saat-saat di mana Bundanya Melati belum ada di rumah itu. Ia sangat sering merasakan kesepian karena sibuknya pekerjaan kedua orang tuanya.


"Baiklah Ayah, tentu saja aku tidak apa. Ayah benar, masih ada Aunty Elisa dan Kak Anggi (Baby sitter-nya)" Ujarnya dengan suara cadelnya.


"Terimakasih sayang. Lagipula Ayah dan Bunda tak akan lama," Ucap Melati turut angkat bicara.


"Tentu Bun, tapi Yah apa aku boleh tahu kemana Ayah dan Bunda akan pergi?"


Fahmi langsung tersenyum. "Kau tahu nenek Mina kan sayang?, Waktu itu kau melihat perutnya yang buncit, hari ini ia akan melahirkan. Jadi Ayah dan Bunda harus pergi ke sana"


"Oh ya, apa aku boleh melihatnya nanti Yah?"


"Tentu saja sayang, nanti pasti Ayah akan mengajakmu untuk melihatnya."


"Yeey, terimakasih Yah." Ungkap girang Farah.


"Ya sudah ya sayang, Ayah dan Bunda haru segera ke sana. Takut Kakek dan Nenek menunggu terlalu menunggu lama. Kau tidak apa kan sayang, Ayah janji akan memfoto baby-nya." Tutur lembut Fahmi hati-hati.


"Iya Ayah, aku juga harus melanjutkan tugasku. Lihat..." Tunjuknya mengarah kepada meja belajarnya.


Fahmi dan Melati langsung tersenyum bangga. "Ya sudah Ayah dan Bunda pamit yah. Tidak boleh tidur di atas jam sembilan"


Farah mengangguk.


Pasangan suami-istri itu keluar dan melihat Elisa yang tengah menonton tv. Mereka juga tak lupa pamit dan memberitahu Elisa. Elisa hanya menanggapinya dengan tersenyum. Namun ia menatap tajam wajah Melati.


Pintar sekali kau mengambil kesempatan Melati. Saat ini aku memang membiarkanmu pergi dengan Mas Fahmi saat Kakakku tak ada. Namun lihat saja kedepannya, bahkan sedetikpun kau tak akan dapat berada di dekat Kakak iparku. Batinnya geram menatap Melati yang tengah digandeng oleh Maf Fahmi.

__ADS_1


__ADS_2