Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 90


__ADS_3

"Maaf sebelumnya Nona, tapi saya duga saat ini anda tengah mengandung. Karena melihat bagaimana sikap anda akhir-akhir ini dan detak jantung anda yang dua kali lipat dari biasanya membuat saya menduga bahwa anda memang benar hamil." Terang Daniel memberitahu.


Pasangan suami-istri tersebut begitu terkejut mendengar pernyataan sang Dokter terutama Fahmi yang juga diliputi rasa senang.


"Kau sedang tidak berbohong kan Daniel?" Tanya Fahmi memastikan.


"Apa kau melihat raut wajahku yang berbohong? Kau memang tak pernah berubah dan selalu menyebalkan." Gerutu Daniel kesal.


Fahmi tak menghiraukan Daniel, ia lebih memilih untuk menatao istrinya. Sungguh perasaan bahagia kini tengah menyelimuti hatinya.


"Terimakasih sayang, kau selalu saja memberiku kejutan. Aku sangat mencintaimu." Ungkapnya memeluk erat sang istri.


Melati yang juga senang pun membalas pelukan suaminya. Mereka sama sekali tak mempedulikan keberadaan Dokter tampan nan muda itu.


"Aku juga sangat mencintaimu Mas." Sahut Melati dalam pelukan suaminya.


"Ehm..," dehem Daniel sengaja mengeraskan suaranya. Daniel sendiri adalah pejuang LDR. Sama-sama memiliki karier yang bagus membuat mereka sering terpisah. Melihat pasangan suami-istri tersebut tentu saja membuatnya cemburu.


"Eh Daniel ternyata kau masih di sini." Ucap Fahmi tanpa merasa bersalah dan tetap memeluk istrinya dari samping.


"Iya, tapi itu baru dugaanku sob. Kalian bisa memastikannya dengan membeli testpack atau langsung pergi menemui Dokter kandungan." Ujar Daniel.


"Iya baiklah terimakasih, sebaiknya sekarang kau langsung pulang saja. Aku harus menemani istriku." Pungkas Fahmi lagi-lagi tanpa dosa.


"Cih, sudahlah kau jaga baik-baik istrimu itu. Wanita yang hamil muda rawan mengalami keguguran. Dan juga kadang membutuhkan perhatian ekstra."


"Iya-iya aku tahu, ini juga bukan pertama kali istriku mengandung."


Daniel berdecih dan menggeleng, "Ya sudah aku pergi sob."


"Terimakasih Dokter." Ujar Melati dengan tersenyum. Membuat Fahmi menatap kesal arah Daniel.


Sedangkan sahabatnya sama sekali tak mempedulikannya, ia tetap tersenyum ramah pada istri sahabatnya. "Iya sama-sama Nona. Baiklah saya pamit undur diri. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam." Jawab Fahmi datar.

__ADS_1


Lagi-lagi Daniel hanya menggeleng dan meninggalkan kekediaman Fahmi.


"Sayang seharusnya kau tak perlu tersenyum padanya." Sungut Fahmi kesal.


"Apa? Mas sebagian seorang pasien memang sudah sewajarnya seperti itu kan. Kau ini ada-ada saja Mas."


"Hm iya-iya baiklah. Yang penting kau adalah milikku dan sedang mengandung buah hatiku."


"Oh iya Mas, tapi sebenarnya aku masih sedikit ragu sih Mas. Kau kan tahu selama ini aku mengonsumsi pil KB." Menatap suaminya intens.


"Mungkin saja kau tidak teratur sayang. Apa kau tidak senang mendengar bahwa kau sedang mengandung?" Tanya Fahmi agak cemberut.


"Tidak bukan seperti itu Mas. Tentu saja aku sangat senang, banyak wanita pejuang dua garis merah di luaran sana. Dan aku sangat bersyukur diberi amanah lagi oleh Tuhan." Kilah Melati menenangkan Mas Fahmi


Fahmi segera tersenyum. "Iya sayang, semoga saja kau benar positif yah."


"Iya Mas," Melati kembali merengkuh tubuh Mas Fahmi. "Oh ya Mas, kau tidak berangkat kerja hari ini?" Lanjutnya bertanya.


"Em aku akan mengajukan cuti untuk hari ini sayang. Aku tidak bisa membiarkanmu yang sedang sakit seperti ini di rumah. Apalagi juga kau harus mengurus anak-anak."


"Tidak sayang, sekali tidak tetaplah tidak. Lagipula aku juga ingin langsung memeriksakan dirimu ke Dokter. Aku ingin memastikan bahwa kau benar-benar hamil."


"Baiklah terserah kau saja sayang."


***


Ternyata memang benar adanya bahwa Melati tengah mengandung. Dokter mengatakan bahwa usia kandungan Melati sudah lima bulan. Baik Melati atau Fahmi tiada henti mengucap kalimat syukur.


Di tengah perjalanan menuju tempat parkir, Fahmi melihat seseorang yang sepertinya ia kenal. Ia terlihat begitu kacau. Merasa penasaran ia pun berniat menghampiri pria tersebut.


"Sayang aku ingin menemui seseorang sebentar boleh?" Tanya Fahmi pada istrinya.


"Tentu Mas kenapa tidak." Jawab Melati tersenyum. Lalu Fahmi berjalan menuju arah pria yang ia lihat dan Melati mengikuti saja kemana suaminya melangkah.


"Bi..," Panggil Fahmi memegang bahu Bembi yang tengah menangkupkan wajahnya.

__ADS_1


"Kau? Fahmi, kenapa kau ada di sini?" Tanya Bembi heran.


"Aku memeriksakan kandungan istriku Melati. Kau sendiri sedang apa di sini?"


Bembi terdiam namun seketika ia tersenyum, "Selamat untuk kalian berdua, aku ikut senang mendengar kalian yang akan memiliki momongan kembali."


"Iya terimakasih, tapi kau belum menjawab pertanyaan dariku Bi."


"Ah itu....,"


Fahmi dan Melati saling pandang dan masih menunggu jawaban dari Bembi.


"Sebenarnya aku tengah menunggu Sasa." Lirihnya. Membuat pasangan suami-istri itu kembali memandang satu sama lain.


"Ada apa dengannya?"


"Sebenarnya ia mengidap penyakit kanker rahim dan baru kemarin ia juga dinyatakan terkena HIV." Cicitnya.


Sontak Melati menutup mulutnya terkejut begitu pun Fahmi. "T-tapi mengapa ia bisa sampai seperti itu dan HIV?"


"Aku juga awalnya begitu terkejut. Sebelumnya aku memang sempat meninggalkannya beberapa saat karena urusan bisnis. Namun sebelum itu ia baik-baik saja. Bahkan seharusnya kami melangsungkan pernikahan pada bulan ini." Terang Bembi.


"Maaf sebelumnya tapi, kalian belum menikah?"


"Iya selama ini kami masih harus berjuang mendapatkan restu dari orang tuaku. Jadi baru bulan ini kami akan menikah. Tapi aku tak pernah menyangka hal ini akan terjadi, saat aku baru pulang dari perjalanan bisnisku. Sasa memberitahukan semuanya, dari ia yang terkadang pergi ke club saat aku tak di sampingnya hingga membuatnya berhubungan dengan orang yang tak ia kenal.


Awalnya aku sangat kecewa karena merasa dikhianati, namun aku tahu bahwa itu terjadi karena ia yang berada dalam pengaruh alkohol. Dan karena ini, ia sempat memintaku untuk tidak melanjutkan pernikahan kami. Tapi aku tetap ingin menikahinya, bagaimanapun aku sangat mencintainya dan menerimanya apa adanya. Tak peduli dengan penyakit yang ia derita, aku akan tetap menemaninya. Meski aku harus menghabiskan sisa usiaku hanya dengan merawatnya aku tidak peduli. Yang pasti aku senang bila dapat terus bersamanya." Tutur Bembi panjang lebar.


Baik Fahmi ataupun Melati ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Bembi. Bagaimanapun Sasa pernah hidup bersama mereka.


"Aku turut prihatin dengan keadaanmu, tapi aku yakin kalian pasti bisa melewati ini semua." Ujar Fahmi menepuk bahu Bembi.


"Mungkin ini semua adalah karma untuk kamu Fah, seberapapun besar cinta kami namun tetap saja perbuatan kami salah. Lihatlah dulu saat Sasa menjadi istrimu, aku begitu dibutakan oleh cinta hingga tak mempedulikan status Sasa hingga terus berhubungan dengannya.


Namun sekarang ketika Sasa hanya tinggal berjalan untuk berada di pelukanku sepenuhnya. Ia justru harus merasakan sakit dari penyakit yang ia derita." Cicit Bembi merasa bersalah.

__ADS_1


__ADS_2