Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 30


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," ucap Melati saat sampai di apartemen tersebut.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Lulu dari dalam dan segera membukakan pintu.


"Alhamdulillah Mel kau pulang juga akhirnya." Lanjut Lulu.


"Iya Kak,"


Mereka masuk dan Melati langsung menuju kamarnya. Sebab ia sudah cukup kedinginan, apalagi bajunya sempat basah karena saat menunggu bersama sahabatnya tadi, mobil melintas cukup kencang hingga membuat air yang menggenang terciprat ke arahnya.


Cukup lama ia berendam untuk merilekskan tubuhnya ia pun beranjak. Dan melakukan perawatan rutinnya.


Dering ponselnya membuatnya berhenti dari aktivitasnya. Tertera nama Ayahnya di layar ponselnya.


"Hallo Assalamu'alaikum Yah,"


"....."


"Ada apa Yah?"


"....."


"Tentu saja Yah mau kenapa tidak?"


"....."


"Tentu bisa Yah. Aku akan membuatnya sekarang juga."


"...."


"Iya Yah."


"....."


"Baiklah, iya. Assalamu'alaikum."


"....."


Sambungan telepon itu pun terputus dan Melati dengan cepat menyelesaikan kegiatannya tadi. Langkahnya membawa kakinya menuju dapur. Ia ingin membuat sesuatu.


***


"Dek, kau makan sekarang Yah. Kasihan dengan Dede bayinya", mengelus lembut perut isterinya.


"Tidak mau Mas, jika kau memaksanya seperti tadi maka akan aku muntahkan. Mas ini bukan keinginanku."


Ikhsan menghela nafasnya dan memijit pelipisnya, sedari tadi ia dibuat pusing tujuh keliling dengan keadaan Mina. Isterinya itu selalu mengutarakan apa yang ada di pikirannya, entah itu makanan, barang dan lainnya. Namun ketika semua sudah ada di hadapannya, dalam sekejap ia sudah menolaknya bahkan tidak disentuh sama sekali.


"Baiklah saat ini kau menginginkan apa?" Tanya Ikhsan yang tengah menahan kedongkolannya.


"Masakan Melati, yah aku sangat menginginkannya. Kemarin saja nasi goreng buatannya sangat menggiurkan untukku." Jawab Mina tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Kau yakin?" Ikhsan memastikan.


"Iya,"


"Baiklah aku akan menelponya." Pasrah Ikhsan. Ia pun mendial nomor putrinya dan tak lama terdengar dari ponselnya bahwa yang berada disebrang sana menjawab teleponnya.


"....."


"Wa'alaikumsalam Nak."


"....."


"Jadi seperti ini Nak, kau tahu sendirikan bagaimana keadaan Ibumu sendiri sekarang. Sedari tadi Ayah telah menawarkan semua yang dia mau tapi kemudian dia menolaknya. Ayah khawatir karena sedari tadi Ibumu itu tidak mau makan. Jadi Nak jika kau tidak keberatan, maukah kau membuatkannya makanan karena sekarang itu yang dia inginkan."


"....."


"Kau bisa membuatnya? Nanti Kakakmu Alif akan menjemputmu."

__ADS_1


"....."


"Baiklah terimakasih banyak Nak."


"....."


"Ya sudah Ayah tutup dulu, Ibumu sudah memanggil Ayah lagi."


"....."


"Wa'alaikumsalam."


Ikhsan memutuskan sambungan teleponnya. Ia pun berdiri dan pergi menghampiri Mina. "Dia akan datang kesini, apa kau senang?"


"Terimakasih Mas." Ucap Mina memeluk erat tubuh Ikhsan.


Ikhsan pun membalas tak kalah eratnya.


***


"Kau sedang membuat apa Mel? Apa kau lapar? Kenapa tidak bilang padaku?" Lulu menghampiri Melati yang tengah berkutat di dapur.


"Aku ingin membuat rendang Kak, Ibuku sangat menginginkan masakanku."


"Ibumu?, Memintamu?, Apa dia?"


"Yah Ibuku tengah mengandung, jadi ada saja yang dinginkan oleh bumil kan."


"Ouh seperti itu toh. Mau aku bantu.."


"Tentu saja, kemarin lusa kau juga yang membuatnya dan itu sangat enak."


"Baiklah.."


Melati dan Lulu akhirnya membuat bersama makanan yang diinginkan oleh Mina. Tak lama bel pintu berbunyi, entah siapa yang datang sore-sore begini.


"Aku buka pintu dulu ya Kak." Ucap Melati sembari meletakan alat-alat masak.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam.." jawab Melati mengeraskan suaranya. Sebab sedari tadi orang yang berada di luar terus memencet bel.


Ceklek. Nampaklah Alif dengan jaket Hoodie-nya


"Ouh ayo masuk."


"Apa kau sudah membuatnya?" Tanya Alif yang tengah berjalan di belakang Melati.


"Aku sedang membuatnya, sebentar lagi selesai." Ucap santai Melati lalu meninggalkan Alif di ruang tamu.


Alif mengangguk dan mengambil gawainya. Tak lama Melati dan Lulu dengan Melati menenteng rantang plastik di tangannya.


"Sudah?" Tanya Alif menatap Melati dan tersenyum pada Lulu. Lulu pun membalasnya dengan senyuman pula.


"Iya Kak,"


"Ya sudah kita berangkat sekarang?"


"Iya, dan terimakasih yah Kak kau sudah membantuku."


"Apa kau juga membantu Melati?" Tanya Alif pada Lulu.


"Iya," jawab Lulu.


Alif pun tersenyum, "Terimakasih yah, apa Melati tidak merepotkanmu?"


"Tentu tidak Al, justru dia sangat lihai dalam memasak."


"Pasti enak karena kau membantunya."

__ADS_1


"Jadi jika Kak Lulu tidak membantuku makanannya jadi tidak enak begitu?" Gerutu Melati karena ucapan Kakaknya.


Alif hanya mengendikkan kedua bahunya dan memasukan tangannya pada saku celananya. Kemudian mendahului keluar dari apartemen itu.


"Menyebalkan." Dengus Melati menatap Kakaknya yang sok keren itu.


"Sudahlah Melati Kakakmu hanya bercanda." Ujar Lulu memegang bahu Melati dan mengelusnya.


"Tapi tetap saja Kak." Adu Melati dengan memajukan bibirnya beberapa mili.


Lulu tergelak melihat ekspresi wajah Melati, itu benar-benar terlihat imut seperti anak kecil. "Sudah Melati, sebaiknya kau ikuti itu Kakakmu. Bukankah Ibumu sudah menunggu terlalu lama?"


"Iya Kak kau benar. Tapi apa kau baik-baik saja sendirian?"


"Tentu saja baik-baik saja, lagipula aku juga sudah terbiasa. Dan lagian masih ada Asyifa di sini."


"Ya sudah aku pergi dulu ya Kak." Pamit Melati.


"Iya." Lulu mengantarkan Melati sampai depan pintu.


"Assalamu'alaikum Kak." Ucap Melati meninggalkan apartemen itu.


"Wa'alaikumsalam."


***


Husein bergegas berlari ke arah pintu saat mendengar seseorang mengucapkan salam, tak lupa ia menjawab salamnya.


"Dek dimana Ibu?" Tanya Melati.


"Sedang berada di kamar Kak. Sedari tadi Ibu muntah-muntah." Jawab Husein menggandeng Kakaknya dan mengajaknya menuju kamar sang Ibu.


Melati mengangguk dan sesampainya di depan pintu.


Tok tok tok. "Yah ini Melati."


Ceklek. Pintu terbuka dan Ikhsan langsung tersenyum melihat keberadaan putrinya.


"Ayo masuk Nak."


"Bu aku membuatkanmu rendang, apa kau menyukainya?" Ujar Melati dan duduk di samping sang Bumil.


"Tentu Nak, Ibu sangat menyukai apapun yang kau masak."


Dengan antusias Mina menerima makanan yang dibawa oleh Melati, ia memang sudah lapar sedari tadi. Namun entah berapa banyak makanan juga yang ia makan berakhir muntah-muntah. Mencium aroma sedap dari rendang yang dibawa oleh Melati membuat perutnya meronta-ronta untuk diisi.


"Wah Kak, aromanya saja sudah sangat menggiurkan seperti ini." Puji Husein pada Melati.


"Tentu saja," ucap Melati membanggakan diri.


"Oh ya jika kau menginginkannya, aku telah membawakan juga untuk yang lainnya. Kau bisa pergi ke dapur. Tadi dibawa oleh Kak Alif."


"Wah hore, Kakak tahu saja aku belum makan sedari tadi." Husein beranjak dari duduknya dan berlari menyusul Kakak sulungnya di dapur.


"Bagaimana Ibu apa masakanku enak?" Tanya Melati yang melihat Mina selesai mengunyah suapan pertama tadi.


"Iya Nak masakanmu sangat enak dan Ibu juga sangat menyukainya." Jawab Mina tersenyum dan sangat menikmati makanannya.


"Benarkan Bu?, Dari tadi Ayah memberimu makanan apapun kau selalu menolaknya." Ucap Ikhsan terheran-heran melihat tingkah Mina. Namun dalam hati ia bersyukur, karena akhirnya perut Mina terisi.


"Benar Yah. Apa kau mau mencicipinya ini sangat enak." Ujar Mina menyodorkan sesendok makanan yang berada di hadapannya.


Ikhsan menerima suapan dari Mina, Melati yang melihatnya tersenyum jika orang tuanya bahagia. Namun dengan ini ia juga sebenarnya membuatnya mengingat Bundanya Sharah.


"Wah benar sangat enak. Melati Ayah sangat bangga padamu dan Ayah yakin mertuamu nanti pasti akan sangat menyayangimu."


Melati terkekeh mendengarnya, "Baiklah Ayah Ibu nikmati saja makanannya, Melati pergi dulu ya."


"Iya sayang, terimakasih ya kau sudah mau membuatkan rendang ini untuk Ibu."

__ADS_1


Melati mengagguk dan berlalu dari Ayah dan Ibunya. Ia menghampiri keduanya saudaranya di dapur. Sebenarnya ia sendiri belum makan, ia sengaja membawakan lebih karena ingin makan bersama keluarganya. Ia sudah sangat rindu suasana seperti ini.


__ADS_2