
Maaf kalo masih ada typo.
-SELAMAT MEMBACA-
....
"Sial, lagi mabuk tapi otaknya waras buat ngunciin pintu." batin Bunga
Rain berjalan mendekati Bunga, sedangkan Bunga mundur menjauhi Rain.
"Bunga, ayo sini sayang. ayo" Rayu Rain
"Bunga lagi pusing kak. Bunga mau keluar, di mana kunci nya" tanya Bunga.
Rain tidak terlalu mabuk. karena dia tidak terlalu banyak minum. dia memang sengaja sembunyikan kuncinya. Rain ingin sejenak menghilangkan masalahnya, dan yah, dengan Bunga, ia bisa sejenak melupakan Nala, dengan Bunga, maksudnya bercinta melampiaskan kemarahan dan juga hasratnya.
"ambil sendiri sayang. ada sini" Rain menyuruh Bunga mengambil kuncinya sendiri sembari menunjuk saku celananya.
__ADS_1
Bunga juga sudah mengerti, dalam keadaan seperti ini Rain pasti meminta hak nya. walaupun Bunga tau ia sebagai Pelarian tetapi ia dengan senang hati melayani Rain. namun sekarang, Bunga tidak punya tenaga untuk melakukan itu, ia lelah.
"ayolah. ke sini sayang." Rain menjeda kata-kata nya" kenapa? gak mau? masak gak mau? ayo kesini" Rain menyatukan giginya hingga bunyi gigi terdengar.
Bunga menggelengkan kepala nya.
"ckk" Rain berdecak malas.
"yasudah, aku mau kamu layanin aku. kyak biasanya." ucap Rain berjalan menghampiri Bunga.
"gak mau tau. ini kan yang selama ini kamu mau? Menggodaku dengan tubuhmu? " marah Rain.
Bunga tertawa sinis dalam hati. bukannya dulu mereka melakukan nya suka sama suka? kenapa Ia selalu saja di salahkan. mereka dengan sadar melakukan semua itu, menjalin hubungan diam-diam di belakang Nala. nah, kini giliran ketahuan dan Nala meninggalkan Rain, kenapa harus Dia yang di salahkan?
"kamu sadar gak kak. kamu juga salah, kamu yang tergoda sama aku. kenapa kamu selalu hanya menyalahkan aku. kenapa kak?" teriak Bunga.
"yah, aku marah. aku salahin kamu. ciba kalo saja kamu gak datang, coba kalo aja kamu gak muncul, pasti Aku sama Nala baik-baik saja. pasti saat ini aku bersama dengan Nala, bukan sama kamu, dan Nala juga tidak bersama Axel. ini semua salah kamu Bunga" Ucap Rain tidak kalah besarnya.
__ADS_1
"kalo bukan karena aku juga, Nala pasti akan ninggalin Kak Rain. kakak gak sadar, kalo sebelum aku datang, kakak udah khianati Nala sama kak Tessa kan?" Bunga Tidak mau mengalah, ia terus membela dirinya. ucapannya menyulut emosi di dalam diri Rain.
"diam" bentak Rain.
Plakkkk
sebuah tamparan mendarat di Pipi mulus Bunga membuat Bunga mundur beberapa langkah. pipi nya yang sakit, belum ada sedikit darah yang rasakan di bibirnya.
"tega kamu kak" ucap Bunga sendu sambil menangis. Rain tidak mempedulikan tangisan Bunga. dulu sewaktu berselingkuh dan Nala belum mengetahui semua nya, Rain sangat lemah melihat tangisan Bunga, Rain akan luluh saat Bunga mengeluarkan air mata dari mata Indah nya. namun sekarang tidak lagi. rasa suka nya pada Bunga, rasa tidak tega nya pada Bunga kini sirna sudah.
Rain menarik tangan Bunga. membawa tubuh nya mendekati tempat tidur. Rain mendudukan Bunga di tempat tidur.
"Berhentilah menangis sayang. ayo kita bersenang-senang."
Bunga berhenti menangis. ia menatap Rain yang wajah nya sudah di tutupi kabut gairah. Bunga yang awalnya menolak, terpaksa harus melayani Rain. walaupun dalam teriakan Rain Nama Bunga di sebut bergantian dengan nama Nala, Bunga hanya pasrah. yah beginilah kehidupan mereka. tidak ada kebahagiaan sama sekali.
Bersambung....
__ADS_1