
Maaf kalo masih ada typo.
-Selamat Membaca-
.....
“Rian bisa jelaskan Om. Foto itu tidak seperti pada kenyataannya Om. Rain dulu mengira Yang menolong Rain itu Nala, padahal Rain salah, ternyata itu Bunga. Rain dulu berjanji bahwa Rain akan menjaga dan melindungi penolong Rain itu, namun Rain kira Nala adalah penolong Rain. Rain ingin menjaga Nala, waktu itu Rain pas pertama kali menemui Nala yang Rain kira adalah orang yang dulu membantu Rain, Rain langsung suka sama Nala om. Rain cinta Sama Nala, ternyata saat kedatangan Bunga ke Indonesia, Rain baru tau kalo Nala bukanlah gadis kecil waktu itu. tapi Bunga. Karna Rain sudah berjanji bahwa akan menjaga Bunga, makanya hubungan kami hanya sebatas itu saja Om, tidak lebih. Semua ini hanya Rekayasa saja Om.” Jelas Rain panjang lebar agar ayah Ivan mempercayainya.
“apa bukti yang ada di tangan saya juga merupakan kesalapahaman tuan Rain?”
Suara dari arah pintu membuat semua orang yang ada di situ berbalik arah ke arahnya.
Rain membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang sedang di lihatnya skarang.
“Tessa, Axel?” kaget Rain.
“kak Axel, Mba Tessa?” ucap Nala menganga.
“nak Axel?” ucap Bu Nola dan ayah Ivan.
Sedangkan Rio diam saja, karna ia sudah tau kedatangan Axel dan Tessa.
“ngapain kalian kesini?” sinis Rain. Gurat ketakutan mulai terlihat di wajahnya.
Axel dan Tessa berjalan mendekat ke arah sofa yang di duduki mereka.
“gue membawa bukti yang lo ingin” balas Axel tersenyum licik.
“bukti apa maksud loe Axel. Jadi skarang kalian bekerja sama untuk membuat rencana ini ia?” marah Rain.
__ADS_1
“eitts tenang bro. Jangan marah-marah” potong Rio.
“kalo ia emang kenapa bro?” ucap Axel santai.
“dasar bajingan, pengkhianat kalian” marah Rain berjalan mendekat ke arah Axel, ia hendak memukul Axel tapi di halangi oleh Rio.
“cukup. Ada bukti apa lagi nak Axel. Dan siapa perempuan hamil yang sedang kamu bawa ini nak Axel” ucap ayah Ivan menengahi agar tidak terjadi perkelahian di rumahnya.
“dia mantan kekasih Rain, selain Bunga, orang ini juga selingkuhan Rain om”
Duar....
Bagai di sambar petir, ayah Ivan dan ibu Nola tidak bisa mempercayai apa yang terjadi. Tidak mungkin Rain seperti ini. Mereka kaget mendengar itu.
“ap-apa anak yang kamu kandung itu adalah anak dari Rain?” tanya ayah Ivan.
Ayah Ivan langsung terduduk di sofa mendengar semua itu, tapi ia masih terlihat menormalkan kondisi tubuhnya. Bertahanlah sedikit lagi, gumamnya pada diri sendiri.
“saya Tessa om, tante. Saya mantan kekasih Rain, saya dan Rain memulai hubungan diam-diam sejak kemunculan saya kembali waktu itu. hubungan kami berlanjut dan makin dekat sejak Rain bertugas ke luar kota. Saya mengandung anaknya Rain, tapi dengan tega Rain menyembunyikan saya agar saya tidak membocorkan semuanya pad Nala” jelas Tessa lantang.
Ayah Ivan dan bu Nola yang mendengar penjelasan Tessa melihat ke arah Rain dengan tatapan yang begitu menjijikan.
“tidak. Mereka bohong om tante, mereka semua menjebak Rain om.” Ucap rain tidak trima. Ayah Ivan dan bu Nola hanya diam saja. Bu Nola sudah menangis ia menatap sendu ke arah anaknay. Rain beralih menatap Axel” Ini semua pasti Rekayasa loe kan Axel karna loe mencintai Nala kan? Dan loe imgin menjebak gue agar hubungan gue dan Nala hancur kan? ApA jangan-jangan loe yang hamilin Tessa?” marah Rain.
“cukup kak. Cukup. Mau mengelak apa lagi kak. Aku yang liat dengan mata kepala aku Dan mendengar dengan telinga ku sendiri. Jadi Jangan kakak membalikan fakta” potong Nala karna tidak tahan melihat keegoisan Rain.
Axel pun berjalan ke arah Nala.
“gue memang mencintai Nala asal loe tau Rain. Bukan hanya mencintai tapi SANGAT SANGAT MENCINTAINYA” tekan Axel” loe tau cewk yang dulu gue cerita yang namanya Nara kan? Dia Nala. Gadis kecil gue yang sudah lama hidup di Hati gue. Gue sempat down waktu itu saat tau kalo Nala dan loe memiliki hubungan. Karna gue begitu mencintainya gue rela dia sama loe asalkan dia selalu bahagia, walau gue sakit di sini karna melihat dia bahagia bersama orang lain dan bukan bersama gue”
__ADS_1
“namun pada kenyataannya dugaan gue salah. Dia tidak bahagia bersama loe. Karena loe mengkhianatinya. Dari situ gue mulai cari cara agar memutuskan hubungan kalian. Namun gue kecelekaan dan di bawa ke Singapura. Saat bangun dari koma kalian sudah bertunangan, gue gak nyerah, gue begitu takut memberitahukan semuanya pada Nala karena ragu pasti dia tidak mempercayai gue. Tapi Tuhan masih berpihak pada gue, dengan sendirinya dia mengetahui hubungan loe sama sahabatnya sendiri. Dan apa loe bilang tadi gue menghamili Tessa? Gak salah loe. Gue gini-gini masih perja*a loh asal loe tau. Gue punya bukti kok kalo loe yang menghamili Tessa, dan mungkin juga tidak lama lagi Bunga juga bakalan mengandung anak loe, feeling gue aja sih, gue berharap loe gak lupa make pengam*n atau ngasih obat pencegah kehamilan buat si Bunga itu, karena kalian kan sering skali melakukannya” ucap Lanjut Axel.
Wajah Rain terlihat memerah. Ia begitu marah. Rain mengepalkan tangannya membentuk kepalan.
Bugh...
Satu tinjuan dari Rain mengenai wajah Axel. Axel yang tidak menyadari hal itu karna sedang melihat ke arah Nala pun mau tidak mau menerima tinjuan itu.
“cih. Dasar banci loe Rain” Axel berdecih mengejek Rain.
“apa-apaan loe ngarang cerita sampe sejauh itu Axel. Teman makan teman loe Axel. Dasar pengkhianat” marah Rain. Ternyata masih belum menyerah juga si Rain.
“gue punya bukti terakhir. Sebenarnya sih gue gak mau menunjukannya, karena menurut gue loe pasti bakalan malu, gimana kalo gue nunjukinnya pas semuanya berkumpul, papa dan mama loe serta adik loe skalian. Tapi loe pasti akan malu nanti sih” ejek Axel. Ia ingin melihat seberapa keras kepala sahabatnya ini, oh bukan sahabat melainkan mantan sahabatnya.
“bukti apa yang loe miliki, apa lagi rekayasa yang mau loe nunjukin hah?” bentak Rain.
“tunggu dulu, sedikit lagi gue lagi menunggu kedatangan tiga keluarga sekaligus.” Jawab Axel enteng.
“tiga keluarga? Maksud loe?” tanya Rain.
“ia, tiga keluarga. Penasaran? Hah itu pasti mereka” ucap Axel karena mendengar bunyi kendaraan memasuki halaman rumah kaluarga pujaan hatinya.
Sedangkan yang lain tampak bingung, kecuali Rio pastinya.
‘slamat siang semuanya” suara besar milik seorang pria paruh baya melengking dari arah pintu.
Semuanya menoleh ke sumber suara dengan terkejut pasalnya benar apa yang di katakan Axel, bahwa akan datang tiga keluarga, dan inilah mereka.
Bersambung....
__ADS_1