
Maaf kalo masih ada typo.
-Selamat Membaca-
.....
Axel memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk UGD. Dia berlari memanggil petugas medis di situ, petugas laki-laki dengan cepat mendorong brankar menuju mobil Axel.
Pak Ivan segera di bawa dan di larikan ke UGD. Sementara pak Ivan di tangani, di luar UGD Nala memeluk ibunya sambil menangis.
“Nala takut bu. Nala takut ayah kenapa-napa bu” ucap Nala sesenggukan.
“ibu juga takut sayang. Tapi kita harus kuat. Kita harus yakin kalo ayah bakalan baik-baik saja. Kita berdoa agar ayah di dalam juga kuat sayang untuk menghadapi penyakitnya itu” balas bu Nola.
Sedangkan Axel, ia tidak duduk jauh dari mereka, ia dari tadi mendengar semua ucapan mereka. Ia begitu merasa bersalah. Harusnya ia memikirkan lagi, tapi karena ia juga tidak bisa melihat Nala tersiksa saat masih dengan Rain, makanya ia mengiyakan saja perkataan Nala waktu itu. karena ia panik mendengar Nala menangis saat menelponenya, jadi pikirannya hanya tertuju pada Nala, tanpa memikirkan kondisi pak Ivan.
“maafin Axel tante. Semuanya karna saya. Andai saja saya dan Rio tidak muncul, mungkin kondisi Om Ivan masih baik-baik saja.” Ucap Axel.
“tidak nak. Jangan minta maaf. Andai kamu tidak muncul pasti ayah Nala masih mempercayai Rain. Trima kasih karena kamu sudah datang untuk bela-belain Nala. Kita berdoa saja semoga papa Ivan baik-baik saja.” Balas Bu Nola.
“jangan berterima kasih pada saya bu. Saya melakukan semuanya karna saya sangat mencintai putri kalian Nala bu” jawab Axel.
“sejak kapan kamu mencintai anak kami Nala?” tanya bu Nola. Karena saat Axel berbicara di rumahnya ia mungkin tidak sepenuhnya mendengar. Ia khawatir akan keadaan suaminya.
“sejak dulu bu. Kira-kira kurang lebih delapan tahun bu. Saya mencintai anak ibu saat Nala masih kira-kira sepuluh tahunan bu” jawab Axel.
Bu Nola kaget. Ia tidak menyangka Axel mencintai anaknya sedari anaknya masih belia. Ia salut dengan kesetiaan Axel. Ia yakin bahwa jika Nala suatu saat menerima Axel, Nala bakalan bahagia kelak. Tidak tau saja bahwa Axel dan Nala sudah berpacaran.
“trima kasih skali lagi nak Axel, karena sudah begitu mencintai Nala. Andai dulu kamu yang datang duluan, semuanya tidak bakalan terjadi seperti ini” ucap bu Nola lagi.
“ia bu, sa...” ucapan Axel terputus karena dokter keluar dari UGD.
“dokter, gimana keadaan suami saya?” tanya bu Nola. Dokter itu memang dokter khusus yang selama ini memantau keadaan pak Ivan.
“bu. Maaf tapi kondisi pak Ivan tidak baik-baik saja”
Duarrrr.
__ADS_1
Nala, bu Nola dan Axel sontak lemas mendengar penjelasan dokter.
“kita harus segera melakukan operasi bu. Jadi ibu tolong menandatangani persetujuan tindakan operasi secepatnya. Ayo ikut saya bu” jelas dokter lagi.
Bu Nola dengan lemas mengikuti dokter. Sedangkan Nala sudah terduduk lemas di kursi tunggu. Axel mendekati Nala dan dengan segera memeluk kekasihnya itu. hatinya perih melihat kondisi kekasihnya seperti ini.
“menangislah kalo kamu ingin menangis sayang.” Ucap Axel pada Nala.
“ayah kak. Ayah...hikkss..hikss..hikss”
“kamu harus tenang yah. Yakin bahwa Tuhan bersama ayah kamu. ayah pasti akan baik-baik saja sayang.” Hanya kata-kata ini yang bisa Axel bilang ke Nala. Karena ia juga begitu takut jika sesuatu yang lebih parah terjadi pada pak Ivan.
Axel sedang menghibur Nala, bu Nola datang dengan dokter. Bebarapa saat kemudian petugas keluar dan mendorong brankar pak Ivan menuju ruang operasi. Nala berdiri dan menghampiri pak Ivan.
“ayah” ucap Nala dan bu Nola bersamaan.
Mereka mengikuti brankar pak Ivan hingga tiba di ruang operasi. Pak ivan di dorong ke dalam, sedangkan dengan was-was, takut dan cemas Nala dan bu Nola menunggu di luar.
Tak lama setelah pak Ivan masuk ke ruangan operasi, keluarga Rain, keluarga Axel dan keluarga Bunga datang. Mereka semua ada dalam kecemasan, selain Bunga. Bunga seperti tidak merasa bersalah sama sekali.
Tok tok tokk
Rain membuka kaca jendela mobil. Ia melihat Rio dengan wajah datar.
“lebih baik loe pulang dan Renungan semuanya. Percuma loe di sini. Karena loe tidak di butuhkan Rain.” Ucap Rio. Sebenarnya Rio juga tidak tega berbicara seperti itu pada Rain karena bagaimanapun juga sebelum insiden ini terjadi mereka semua adalah sahabat baik. Tapi itu satu-satunya jalan bagi Rio untuk mengusir Rain karna kalo Rain tetap di sini akan semakin menambah masalah.
Rain mengiyakan semua omongan Rio tanpa membantah sedikit pun. Rain hendak menyalakan mesin mobil dan pergi dari situ, namun sebelum pergi Bella dan Juan datang menghampiri keduanya.
“keluar bajingan” teriak Bella sambil menarik hendak membuka pintu mobil. Rain seperti orang pasrah, mengikutinya, ia membuka pintu dan keluar dari mobil.
Buk...
Buk..
Dua pukulan dari Juan membuat Rain terhempas ke mobilnya. Rain tidak membalas sedikitpun ia mengakui ia salah, ia seperti tidak ada tenaga untuk membalas.
“bajingan. Apa kurangnya Nala ha?” dasar otak anda Cuma mengingat hal-hal yang keji dan mesum. Kalo gue tau akan seperti ini jadinya, dulu gue gak bakalan biarin Nala sama loe. Pergi dari sini” marah Juan pada Rain.
__ADS_1
Juan dan Bella hendak masuk ke dalam rumah sakit dengan Rio, namun Juan berbalik lagi dan meninju wajah Rain sekali lagi.
“tadi itu pukulan untuk Nala yang kamu khianati. Dan ini karna kamu Om Ivan kambuh lagi sakitnya”
Buk...
Bukk..
Wajah Rain berdarah. Namun tidak ada yang mau menolongnya. Mereka pergi meninggalkannya begitu saja.
Ternyata yang bikin Rio tidak menyusul Axel ke dalam karena ia menghubungi Bella dan Juan, dan memberitahukan keadaan Nala dan Pak Ivan. Makanya Bella dan Juan segera datang setelah di beritahu Rio.
Mereka bertiga bergegas menuju tempat dimana Nala dan Axel berada. Dari kejauhan Bella yang melihat Bunga yang duduk santai tanpa rasa bersalah pun menggeram kesal. Dengan emosi yang tidak bisa Bella kontrol, ia dengan segera berlari ke arah Bunga dan menariknya bangun.
“dasar tidak tau malu”
Plak...
“dasar jala*g”
Plak..
“dasar murah*n”
Plak...
Tiga tamparan mendarat di pipi kiri Bunga hingga Bunga terjatuh kepalanya terbentur tembok dan seketika pingsan.
“Bunga” teriak mamanya Bunga. Papa dan mamanya Bunga mendekat ke arahnya. Kebetulan ada petugas lewat, Bunga pun di bawa oleh petugas ke UGD, karena melihat Bunga pingsan di tambah pipinya bengkak, ada darah yang keluar dari hidung dan sudut bibirnya.
“apa yang kamu lakukan pada anak saya” teriak mamanya Bunga.
“saya menamparnya tante. Anak seperti itu harus di ajarin seperti itu tante, biar kapok”
Ingin membantah ucapan Bella lagi namun apa yang Bella katakan tidak salah. Mamanya Bunga pun menyusul suaminya dan Bunga yang sudah duluan ke UGD.
Bersambung....
__ADS_1