
-SELAMAT MEMBACA-
.......
Singapura
Hari berganti hari, setaip ada waktu Nala tetap akan menyempatkan diri untuk datang ke rumah Axel. Seperti saat ini. Axel, Nala dan Rio sedang bercengkrama di ruang tamu. Menurut pantauan Nala, Axel sekarang sudah lebih segar dari pertama kali ia datang jenguk.
“Na. Aku bosan terus makan makanan yang itu-itu terus.” Ucap Axel yang geli sendiri dengan omongan yang sedikit melow.
“kak Axel, makanan itu sudah di sarankan oleh dokter sampai kak Axel benar-benar pulih” bantah Nala
“tapi kata dokter tadi, aku sudah bisa makan makanan lain selain itu. Bahkan mie pun sudah bisa loh.” Ucap Axel. Axel pengen makan makanan yang di masakan oleh Nala. Axel tau, Nala hanya bisa memasak Mie sama telur doang. Bahkan menurut info yang Axel dapat, pernah sekali Nala menggoreng telur dan telurnya menjadi telur bakar, saking angusnya. Dari kejadian itu, beberapa kali Nala mencoba di bantu sama bibi di rumahnya, Nala berhasil menggoreng telurnya. Sebenarnya Nala juga pengen sesekali membantu sang bibi di dapur, tapi di larang oleh orang tuanya karna tidak mau Nala kenapa-kenapa saking sayangnya mereka kepada Nala. Padahal Cuma membantu loh. Mereka tidak mau terjadi hal-hal yang bisa membuat Nala sakit. Seumur hidupnya pun Nala tidak pernah turun tangan membantu mencuci piring. Menggoreng telur dan memasak mie itupun Nala lakukan saat tidak ada orang tuanya di rumah. Itupun harus memelas peda sang bibi. Kata sang Ayah sih, ngapain capek-capek ngurusin dapur kalo udah ada bibi. Ayah bekerja keras buat kamu sama ibu. Mencoba menuhin semua kebutuhan kamu. kamu bidadari kami, ayah sama ibu tidak mau kamu kenapa-kenapa. padahal menurut Nala itu juga salah sih, sebagai seorang perempuan dia harus tau masak, karna kelak setelah menikah setidaknya sesekali ia akan memasak untuk suami dan anak-anaknya.
“benaran yah kak Rio, kalo kak Axel sudah bisa makan makanan lain, terutama mie.” Tanya Nala
“ia. Kata dokter boleh kok, yang penting jangan keseringan aja” ucap Rio
“oh. Okok. Kalo gitu Nala ke dapur dulu yah.” Kata Nala. Sebelum beranjak Axel berkata
“Nala, bisakah dengan telur goreng?” tanya Axel
__ADS_1
Nala tersenyum. “Bisa kak, di tunggu yah” ucap Nala. Axel sangat senang.
Nala beranjak ke dapur, ternyata sudah ada bibi di situ, Nala mengutarakan maksudnya ke dapur, bibi menunjukan alat dan bahan yang akan di pakai Nala.
Sedangkan di ruang tamu, Axel menyuruh Rio menemaninya ke meja makan, karena ia akan duduk di situ sambil melihat Nala memasak.
Axel dan Rio duduk di meja makan, sementara bercerita, Axel terus fokus memandang Nala dan bergumam” gak sabar setiap hari kita seperti ini, bahagia rasanya.” Sambil tersenyum. Rio yang mendengar sontak memukul ringan kepala Axel, Axel yang terkejut pun mengumpat Rio kesal.
“jangan menghayal melulu loe” ejek Rio
“apa sih loe, ganggu kesenangan orang aja.” Kata rain kesal
“loe muji Nala di depan gue, loe menyukai Nala juga?” tanya nya dengan melotot” hapus perasaan itu kalo emang ia” sambungnya. Kurang asem emang ni si Axel.
Rio tak kalah melototnya juga dari Axel. Rio akui Nala memang sempurna, hanya saja ia sudah melabuhkan hatinya untuk orang lain, dan itu tidak bisa di ganggu gugat kecuali maut dan Tuhan.
“gila loe yah, kalo gue emang suka sama Nala gue gak akan repot-repot bantuin loe kayak gini, sampe pake bohongan-bohongan segala lagi” ucap Rio tak kalah kesalnya.
“bohongan apaan kak Rio” Nala tiba-tiba muncul di meja makan.
“mampus gue” batin Axel dan Rio. Axel cepat-cepat mencari ide.
__ADS_1
“oh itu, Rio ni, di bohongin sama partner kerjanya. Jadi rugi besar kan dia. Yang sabar yah Bro” ucap Axel mengelus dadanya.
Rio pun mengikuti maunya Axel. “Ia Nala. Aku ruginya banyak banget. Pokoknya, kalo pulang dari sini akan ku balas mereka” tekan Rio sambil memandang tajam ke arah Axel yang di balas senyum manis oleh Axel. Ih jijik gue lihat senyum loe kayak gitu. Batin Rio
“oh kirain apaan. Semoga masalah kak Rio cepat selesai yah.” Ucap Nala dan di aminkan oleh Axel maupun Rio” oh ia kak. Ini sudah jadi, mie sama telur gorengnya. Ayo coba.”
Nala menyodorkan semangkuk mie dan telur goreng kepada Axel dan kembali lagi ke dapur. Nala balik lagi ke meja makan dengan satu mangkuk di tangan kirinya dan telur goreng di diatas piring di tangan satunya dan memberikannya kepada Rio. Rio pun senang. Tidak menyangka Nala mau masak untuknya juga. Sontak Axel berhenti memasukan mie ke dalam mulutnya dan beralih menatap Rio dan Nala.
“Nala, kamu kenapa masakin buat Rio juga, yang minta kan aku” Axel tidak terima, Rio mencicipi masakan Nala.
“skalian kak. Kak Rio kan yang selama ini bantuin kak Axel, apa salahnya, Nala buat mie juga untuk kak Rio.”
“lain kali, kamu hanya boleh memasaknya untuk aku. Kalo Rio, biar bibi saja yang masakin.” Nala terkekeh. Nala merasa Axel sudah mulai posesif padanya, padahal kan mereka gak ada hubungan apa-apa.
“ia kak.” Nala mengalah.
Selama setiap hari berdekatan dengan Axel, Nala jadi tau bagaimana sifat asli Axel dan Rio. Ternyata kalo sama orang yang dekat dengan mereka, beginilah sifat mereka. Nala merasa sangat bahagia manakala Axel seperti itu padanya. Nala pikir ia pelan-pelan akan membuka hati untuk kak Axel. Yah, sehabis mereka makan, Nala akan memeberi jawabannya kepada kak Axel, tapi bagaimana dengan kak Rain. Bagaimana kalo kak Rain tau. Nala masih berperan dengan pikirannya. Baiklah, ia akan mencoba mencari solusinya bersama kak Axel, ia tak mau menutupi apapun dari kak Axel jika ingin memulai hubungan dengannya.
Tanpa Nala ketahui, Axel sudah mengetahui segala yang terjadi diantara Rain, Nala dan Bunga. Axel hanya ingin mendengar Nala mengatakan perasaannya juga, karena beberapa minggu kebersamaan mereka ini, Axel meyakini bahwa Nala pun sudah memiliki perasaan yang sama padanya, hanya saja Nala masih malu mengungkapkannya. Axel pun tidak memaksa, pikirnya masih ada banyak waktu buat ia dan Nala. asalkan Nala tetap bersama dengannya seperti ini Axel sudah sangat bersyukur. Setiap hari bisa melihat Nala, mengobrol dengannya, tertawa bersamanya, memeluknya, hingga sampai pada saat ini, Axel bisa merasakan masakannya, walaupun mie dan telur goreng, itu sudah cukup membahagiakan buat Axel. Nikmat mana lagi yang kau dustakan, begitulah batin Axel.
BERSAMBUNG......
__ADS_1